NovelToon NovelToon
THE SEER'S VISION..Pacarku Sang Peramal

THE SEER'S VISION..Pacarku Sang Peramal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Nia Rmdhn

Rian, cowok populer ber-skill indigo, effort banget ngejagain Arini yang amat dicintainya lewat penglihatan masa depan yang nggak pernah fail.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nia Rmdhn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lintas Benua, Satu Firasat

Langit di atas kampus Arini mendadak berubah keruh, seolah-olah tinta abu-abu baru saja tumpah ke hamparan biru. Arini masih membereskan buku-bukunya di perpustakaan saat ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah notifikasi muncul—satu nama yang selalu berhasil membuat ritme jantungnya berantakan.

Rian.

"Arini, nanti ke kampus bawa payung atau jas hujan ya? Prediksi aku, di luar negeri sana bakal hujan deras hari ini," tulis Rian di kolom chat.

Arini mengerutkan kening, lalu terkekeh pelan. Ia menoleh ke arah jendela besar yang masih menampilkan sisa-sisa cahaya matahari yang tipis. Jarinya lincah menari di atas layar, membalas dengan nada bercanda.

"Rian, kamu lucu banget sih? Masa iya kamu sampai bisa nerawang cuaca lintas benua gini? Emang boleh se-Indigo itu? Haha," balas Arini.

Tak butuh waktu lama bagi Rian untuk membalas. "Udah, Rin... nurut aja ya? Firasat aku jarang banget meleset kalau itu menyangkut kamu. Please bawa ya, aku nggak tenang."

Senyum Arini melembut. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya, mengalahkan suhu pendingin ruangan perpustakaan yang mulai menusuk. "Iya, iya, aku bawa nih sekarang. Makasih ya... jujur aku ngerasa tetep dijagain sama kamu meskipun jarak kita jauh begini."

"Aku akan selalu jagain kamu, Rin. Bahkan dari pertama kali aku kirim jadwal pas SMA itu ke kamu, itu sudah jadi janji aku ke diri sendiri," sahut Rian, kalimatnya terasa begitu tulus meski hanya lewat teks.

Arini tertawa kecil, pipinya merona tanpa bisa ia cegah. "Tanggung jawab, Rian! Aku jadi makin rindu sama kamu kalau kamu begini terus. Yaudah, kalau gitu aku jalan ya?"

"Kamu hati-hati ya di jalan, keep safe."

Arini memasukkan ponselnya ke dalam tas, lalu menyampirkan tas tersebut di bahunya. Saat ia melangkah keluar dari gedung perpustakaan, rintik pertama mulai jatuh. Hanya dalam hitungan detik, hujan turun dengan intensitas yang luar biasa, membuat mahasiswa lain berlarian mencari tempat berteduh dengan panik.

Di tengah itu, Arini hanya berdiri tenang di bawah teras gedung, lalu perlahan membuka payung lipatnya. Ia berjalan menembus hujan dengan senyum yang tidak luntur.

Dalam hatinya, Arini berbisik, 'Rian itu bener-bener ibarat superhero jarak jauh ya? Setiap ada apa pun, dia pasti udah kasih tahu aku duluan. Dia bikin aku ngerasa punya pelindung yang nggak kasat mata.'

Ia menatap rintik hujan yang memantul di permukaan payungnya, merasa seolah tangan Rian-lah yang sedang memegang gagang payung itu untuknya.

'Aku beneran seberuntung itu karena bisa kenal kamu, Rian. Kamu bukan cuma pelindung, tapi kamu udah kaya superhero"

setelah selesai kuliah Arini pulang ke apartemennya. Begitu meletakkan tas, Arini langsung menyambar ponselnya. Tak butuh waktu lama Arini video call sampai layar smartphone-nya menampilkan wajah Rian yang tampak lega.

"Arini! Udah sampai?" suara Rian memecah hening, wajahnya yang terpampang di layar video call terlihat sedikit kelelahan, tapi matanya tetap fokus menatap Arini.

Arini menyandarkan punggungnya di kursi belajar, masih dengan sisa-sisa napas yang sedikit terengah. "Baru banget sampai, Rian. Sumpah ya, penglihatan kamu itu really banget! Di sini tadi hujan badai parah, dan cuma aku yang bawa payung gara-gara nurutin omongan kamu. Temen-temen aku pada terjebak di kampus."

Rian terkekeh, suara tawanya yang rendah terdengar merdu lewat speaker ponsel. "Tuh kan, apa aku bilang? Firasat aku kalau soal kamu itu emang ga pernah salah Rin. Dari tadi pagi aku ngerasa nggak tenang, rasanya kayak ada yang ganjel kalau kamu belum bawa payung."

Arini menatap layar, memerhatikan detail wajah Rian yang terpisahkan ribuan kilometer. "Kamu kok bisa se-akurat itu sih? Vibes-nya kayak kita punya koneksi batin tau nggak. Makasih ya udah sesayang ini sama aku, padahal kita jauh banget."

"Bukan soal koneksi aja, Rin," Rian membenarkan posisi duduknya, menatap Arini dengan tatapan yang dalam. "Fokus aku itu cuma kamu. Jadi apa pun yang kira-kira bakal bikin kamu kesulitan, sinyalnya pasti 'nyampe' ke aku duluan. Aku cuma nggak mau kamu sakit di sana sendirian."

Pipi Arini kembali memanas. "Iya, Sayang... aku paham. Aku bakal lebih hati-hati lagi. Tapi jujur, gara-gara kejadian tadi, aku jadi makin rindu sama kamu. Rasanya pengen cepet-cepet pulang."

"Sama, Rin. Aku juga rindu," balas Rian lembut. "Tapi buat sekarang, istirahat dulu ya? Ganti baju, minum yang anget. Aku temenin lewat sini sampai kamu tidur."

Suara ketikan keyboard Rian terdengar samar melalui speaker ponsel Arini. Di sana sudah larut malam, sementara di tempat Arini baru saja petang. Perbedaan zona waktu seringkali menjadi musuh, tapi malam ini, rasanya jarak ribuan kilometer itu terasa dekat.

Rian menghentikan ketikannya sebentar, "Rin," panggil Rian pelan, suaranya sedikit serak karena kantuk namun tetap hangat.

"Iya, Rian? Kenapa?" Arini mendekatkan wajahnya ke layar, memerhatikan mata Rian yang mulai tampak lelah.

"Aku lagi kepikiran sesuatu yang serius," Rian menarik napas panjang, mencoba mengusir ngantuknya "Aku rencana mau mulai cari kerja dari sekarang. Ya, walaupun aku belum lulus kuliah, aku mau mulai freelance atau ambil part-time yang oke buat career path aku nanti."

Arini sedikit terkejut, dia meletakkan gelas cokelatnya. "Kok tiba-tiba banget, Sayang? Kamu nggak capek nanti bagi waktunya sama kuliah? Apalagi kita beda jam gini, waktu istirahat kamu aja udah kepotong buat nemenin aku."

Rian tersenyum tipis, jenis senyum yang selalu berhasil bikin hati Arini berdesir meski hanya lewat kamera "Capek sih pasti, tapi aku punya alasan yang kuat banget. Aku pengen pas nanti kita berdua lulus, aku nggak perlu mulai dari nol lagi. Aku pengen udah punya fondasi yang stabil, punya tabungan yang cukup."

Rian menjeda kalimatnya, menatap Arini tepat di mata lewat kamera. "Aku mau pas kita wisuda nanti, aku bukan cuma bawa bunga buat kamu. Aku mau aku udah punya bekal yang cukup buat datang ke orang tua kamu dan lamar kamu secara resmi. Aku mau kasih kepastian yang nyata buat kamu, bukan cuma janji-janji LDR yang nggak berujung."

Arini terdiam seribu bahasa. Matanya mendadak berkaca-kaca, haru biru menyelimuti perasaannya. "Rian... kamu nggak harus se-ambisius itu buat aku. Aku bakal tetep dukung kamu gimanapun kondisinya, aku bakal tunggu kamu."

"Aku tahu, Rin. Tapi ini bentuk tanggung jawab aku karena aku pilih buat sayang sama kamu," sahut Rian tegas namun lembut. "Aku mau jagain kamu selamanya.

Arini tersenyum di balik matanya yang lembap, jemarinya menyentuh layar ponsel, seolah ingin mengusap pipi Rian. "Makasih ya, Rian. Semangat kamu bener-bener bikin aku makin sayang. Aku bakal temenin kamu dari sekarang sampai titik itu tiba. Kita lalui ini bareng-bareng ya?"

1
Nurdin Hamzah
mantap thor
Nurdin Hamzah
semangat thor 😄 suka banget sama drama percintaan nya🤣
Niarmdhn: tengcu
total 1 replies
saniscara patriawuha.
saya lebih seneng dimsum mentai....
Niarmdhn: boleeee
total 1 replies
saniscara patriawuha.
lanjottttt deuiiii.....
Niarmdhn: gassss
total 1 replies
saniscara patriawuha.
gasssss polllllll mbokk minnn
Niarmdhn: maaciw ganteng 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!