Kai hidup dalam dunia tanpa warna, terperangkap dalam musim dingin abadi di hatinya. Namun, sebuah melodi piano misterius mulai mencairkan es yang membungkus rahasia masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: DI ATAS ABU DAN MEMORI
Pria itu berdiri di pusat reruntuhan yang dulunya adalah ruang kerja ayah Kai. Lampu sorot di sekitarnya menciptakan bayangan panjang yang kontras di atas salju. Saat ia berbalik, Kai merasakan desiran aneh di telinganya—sebuah frekuensi yang tidak harmonis.
"Siapa kau?" Kai melangkah maju, tangannya tetap menggenggam tangan Elara yang dingin.
"Namaku Julian," pria itu menurunkan alat pemindainya. "Aku adalah asisten riset ayahmu sebelum Yudha menghancurkan segalanya. Bedanya, aku tidak melarikan diri ke Oakhaven untuk bersembunyi. Aku tetap di sana, mengumpulkan serpihan yang kau tinggalkan."
Julian memiliki mata yang tampak lelah, namun ada ambisi yang membara di sana. "Kau pikir kau adalah satu-satunya yang berhak atas warisan ini, Kai? Ayahmu menjanjikan dunia yang damai, tapi dia terlalu pengecut untuk mengaktifkan Spektrum Putih. Dia takut pada kesempurnaannya sendiri."
"Ayahku bukan pengecut," desis Kai. "Dia tahu bahwa kedamaian yang dipaksakan lewat frekuensi bukanlah kedamaian. Itu adalah kontrol."
"Dan apa bedanya dengan apa yang kau lakukan di ibu kota?" Julian tertawa sinis. "Kau memberikan 'Malam Biru' pada mereka. Kau memberi mereka candu warna. Spektrum Putih adalah obat yang sesungguhnya. Ia akan menghapus kebencian, ketakutan, dan... perbedaan."
Julian mengangkat sebuah perangkat berbentuk cakram perak. "Aku sudah memiliki formulanya. Aku hanya butuh satu hal yang tersimpan di dalam memori seluler penglihatanmu. Itulah sebabnya kau harus buta warna, Kai. Otakmu menyimpan 'kunci' itu sebagai bentuk kompensasi saraf."
Tiba-tiba, Julian mengaktifkan perangkatnya. Sebuah gelombang suara frekuensi tinggi meledak keluar. Elara berteriak, menutup telinganya karena rasa sakit yang tajam. Kai merasa kepalanya seperti dipukul oleh palu godam tak kasat mata.
"Elara!" Kai mencoba meraihnya, namun ia terjatuh ke lututnya.
Di dunianya yang monokrom, gelombang itu tampak seperti distorsi statis yang mengerikan, mengoyak garis-garis putih energi yang tadi ia lihat.
"Kau melihatnya, bukan?" Julian mendekat. "Garis-garis itu adalah struktur dasar realitas yang ingin dikendalikan ayahmu. Serahkan memorimu, Kai. Biarkan aku menghubungkan saraf optikmu ke mesin ini, dan aku akan memberikan 'kedamaian' pada dunia ini."
Dalam rasa sakit yang luar biasa, Kai teringat pesan terakhir ayahnya: 'Gunakan suaramu untuk mendengar kebenaran.'
Ia menoleh ke arah Elara yang masih meringkuk di salju. "Elara... lawan frekuensi ini... gunakan nada dasar... nada yang kita temukan di teater!"
Elara, dengan sisa kekuatannya, mencoba membuka mulutnya. Awalnya hanya suara napas yang terputus-putus. Namun, ia melihat Kai—ia melihat pria yang telah mengorbankan matanya demi dirinya. Cinta itu berubah menjadi resonansi.
Elara mengeluarkan suara hening yang sangat dalam, sebuah nada rendah yang stabil (drone). Suara itu perlahan-lahan mulai beradu dengan frekuensi tinggi milik Julian.
Zzzzt... Voooom...
Di mata Kai, distorsi statis itu mulai melambat. Garis-garis putih di reruntuhan rumahnya mulai bersinar kembali, kali ini lebih terang. Kai menyadari sesuatu: Spektrum Putih bukan terkubur di bawah tanah, tapi di udara di sekitar mereka, menunggu untuk disinkronkan.
"Jangan coba-mencoba!" Julian panik dan mencoba menaikkan daya perangkatnya.
Namun, Kai sudah berdiri. Ia tidak lagi melihat dengan mata fisik. Ia melihat dengan harmoni. Ia berjalan melewati Julian seolah-olah pria itu tidak ada. Kai melangkah menuju sebuah tiang kayu yang masih berdiri tegak di tengah reruntuhan—bekas tiang penyangga utama rumahnya.
Di tiang itu, terdapat ukiran tangan kecil yang dibuat Kai saat ia masih berusia tujuh tahun.
Kai menempelkan telapak tangannya yang terbakar pada ukiran itu. Saat suara Elara menyentuh nada yang tepat, sebuah cahaya putih yang sangat lembut mulai memancar dari dalam kayu tersebut. Bukan laser, bukan energi listrik, tapi cahaya yang terasa seperti pelukan hangat di pagi hari.
"Ini dia..." bisik Kai. "Spektrum Putih."
Cahaya itu menyebar dengan sangat cepat, menelan reruntuhan, menelan salju, dan menelan Julian yang berteriak karena perangkatnya meledak akibat beban berlebih. Namun, cahaya itu tidak menyakiti. Saat cahaya itu menyentuh Kai dan Elara, rasa sakit di kepala mereka hilang. Rasa dingin di tubuh mereka lenyap.
Julian jatuh terduduk, napasnya tersengal. Matanya yang tadi penuh ambisi kini tampak kosong, lalu perlahan menjadi tenang. Ia menjatuhkan sisa perangkatnya. "Apa... apa yang kurasakan ini?"
"Kau merasakan kedamaian tanpa syarat, Julian," kata Kai pelan. "Bukan karena mesin, tapi karena kau akhirnya berhenti bertarung dengan dirimu sendiri."
Cahaya putih itu memudar, meninggalkan reruntuhan rumah yang kini tampak bersinar dalam keheningan malam. Salju di sekitar mereka tidak lagi terasa membeku, melainkan lembut seperti kapas.
Namun, saat Kai menoleh ke arah Elara, ia menyadari sesuatu yang ajaib. Di tengah dunianya yang monokrom, Elara tidak lagi berwarna abu-abu. Elara bersinar dengan cahaya putih yang paling murni, seolah-olah dia adalah satu-satunya warna yang tersisa di alam semesta.
"Kai..." Elara mendekat, menyentuh pipi Kai. "Kau bisa melihatku?"
"Aku melihatmu sebagai cahaya, Elara," jawab Kai. "Hanya kau."
Malam itu, di atas abu masa lalu, mereka berhasil mengaktifkan prototipe Spektrum Putih yang sesungguhnya. Namun, sinyal cahaya yang melesat ke langit malam itu pasti telah tertangkap oleh satelit di seluruh dunia.
Julian bangkit, wajahnya kini tampak lebih manusiawi. "Kalian harus segera pergi. Cahaya ini... pemerintah tidak akan membiarkannya tinggal di sini. Mereka akan datang dengan kekuatan penuh."
"Ke mana kami harus pergi?" tanya Elara.
Julian menunjuk ke arah puncak gunung yang paling tinggi di Oakhaven, yang selalu tertutup awan. "Ke 'Kuil Suara'. Tempat terakhir yang dirancang ayahmu untuk menyebarkan Spektrum Putih ke seluruh atmosfer. Jika kalian sampai di sana, tidak akan ada lagi yang bisa mencuri cahaya ini."
Kai dan Elara kini membawa harapan terakhir kemanusiaan di bahu mereka, mendaki menuju langit yang tak lagi menjanjikan warna, melainkan kedamaian yang abadi.