aku tak pernah menyangka memiliki kesempatan kedua untuk kembali hidup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWAR MUTAQIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Volume I — The Day the World Fell Chapter 12 — First Failure
Hujan turun tanpa suara.
Bukan hujan air, melainkan debu halus yang jatuh perlahan dari langit kelabu, hasil dari bangunan yang runtuh berjam-jam sebelumnya. Kota Aethoria tidak lagi menangis—ia mengelupas, lapis demi lapis, seolah mencoba melepaskan dirinya sendiri.
Daniel berdiri di antara barisan Hunter yang bersiap berangkat.
Ini bukan misi kecil.
Bukan pengamanan.
Bukan simulasi.
Ini adalah operasi pembersihan distrik selatan—wilayah yang dianggap “masih bisa diselamatkan”, meski laporan menyebutkan aktivitas iblis yang tidak stabil.
“Tujuan utama,” kata komandan lapangan, “mengevakuasi sisa warga sipil dan menghancurkan sarang iblis tingkat rendah. Jangan bermain pahlawan. Jangan berpisah dari unit.”
Daniel mendengar setiap kata.
Namun hatinya tertambat pada satu kalimat yang tidak diucapkan—
Kalau terlambat, mereka mati.
Timnya terdiri dari enam orang. Raven ada di sana, berdiri dua orang di seberangnya. Tatapan mereka bertemu singkat. Tidak ada permusuhan terbuka. Hanya ketegangan yang belum menemukan bentuk.
Mereka bergerak saat fajar belum benar-benar tiba.
Distrik selatan lebih sunyi dari yang Daniel bayangkan.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada ledakan.
Hanya bangunan kosong dan kendaraan terbalik, seperti kota yang ditinggalkan tergesa-gesa oleh penghuninya sendiri.
Daniel berjalan di posisi tengah. Segel Pertama berdenyut pelan—bukan peringatan, melainkan kesadaran akan batas tubuhnya. Ia mengatur napas, menjaga langkah, membaca celah.
Mereka menemukan penyintas pertama di gedung apartemen runtuh sebagian. Seorang pria tua dan dua anak kecil, bersembunyi di balik lemari yang terguling.
Evakuasi berjalan cepat. Terlalu mudah.
“Itu masalahnya,” gumam Raven.
Daniel mengangguk. Ia merasakannya juga.
Bahaya belum muncul—dan itu berarti sedang menunggu.
Mereka menemukannya di gedung kedua.
Sarang iblis.
Bukan besar.
Bukan kuat.
Namun padat.
Makhluk-makhluk itu merayap keluar dari celah gelap, mata kusam mereka menangkap cahaya pagi yang pucat. Bau busuk menyergap hidung, membuat napas sesak.
“Formasi!” teriak komandan tim.
Pertempuran pecah.
Daniel bertahan di garis depan, mengalihkan serangan, membuka ruang bagi rekan-rekannya untuk mengeksekusi. Emergency Step muncul berkali-kali—terkendali, efisien. Reinforced Impact menahan serangan yang seharusnya mematahkan tulangnya.
Namun jumlah mereka terlalu banyak.
Dan di tengah kekacauan itu—
teriakan terdengar dari lantai atas.
“Masih ada orang!”
Daniel menoleh.
Tangga runtuh sebagian. Lantai atas tidak stabil. Protokol jelas: abaikan. Sarang harus dihancurkan terlebih dahulu.
Raven melihat arah pandang Daniel dan berteriak, “Jangan bodoh! Fokus!”
Daniel ragu.
Satu detik.
Dua detik.
Ia mengingat wajah Aurelia.
Ia mengingat anak kecil di tenda medis.
Dan ia membuat pilihan.
“Aku naik,” katanya singkat.
Raven mengumpat keras. “Daniel—!”
Terlambat.
Tangga berderit saat Daniel melompatinya. Setiap langkah terasa seperti menantang kehancuran. Ia menemukan seorang wanita muda terjepit di balik puing, kakinya terluka parah.
“Tenang,” kata Daniel, berlutut. “Aku di sini.”
Segel Pertama berdenyut lebih kuat—bukan untuk menyerang, melainkan menahan tubuhnya tetap berfungsi saat beban puing ditarik.
Ia berhasil mengangkatnya.
Lalu lantai runtuh.
Daniel terjatuh bersama wanita itu ke lantai bawah. Benturan itu menghantam keras, membuat dunia berputar. Rasa sakit meledak di seluruh tubuhnya—namun ia tidak mati.
Wanita itu selamat.
Namun di luar—
teriakan berubah menjadi kekacauan.
Sarang iblis belum dihancurkan.
Formasi pecah.
Satu Hunter terluka parah.
Evakuasi terhenti.
Unit tempur datang terlambat untuk menutup celah yang terbuka.
Operasi dinyatakan gagal sebagian.
Korban jiwa tetap terjadi.
Di titik kumpul, suasana membeku. Tidak ada teriakan. Tidak ada makian. Hanya kelelahan dan kenyataan pahit yang menggantung di udara.
Raven berdiri di depan Daniel.
“Karena kau,” katanya dingin, “kita kehilangan kendali.”
Daniel menatap tanah. Tubuhnya gemetar—bukan karena luka, melainkan karena kesadaran penuh akan akibat pilihannya.
“Aku tahu,” jawabnya pelan.
Komandan tim mendekat. “Kau menyelamatkan satu nyawa,” katanya. “Dan mempertaruhkan lima.”
Daniel mengangguk.
Tidak ada pembelaan.
Tidak ada alasan.
Malam itu, ia duduk sendirian di reruntuhan gedung, menatap kota yang semakin gelap. Segel Pertama terasa berat di dadanya—bukan sebagai kekuatan, melainkan pengingat bahwa bertahan hidup tidak selalu berarti melakukan hal yang benar.
Ia gagal.
Dan untuk pertama kalinya, kegagalan itu bukan karena kelemahan.
Melainkan karena ia masih manusia.