NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Penguasa Langit

Reinkarnasi Penguasa Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Fantasi
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Ranu Wara lahir di tengah kemiskinan Kerajaan Durja sebagai reinkarnasi Dewa Tertinggi, ditandai dengan mata putih perak dan tanda lahir rasi bintang di punggungnya. Sejak bayi, ia telah menunjukkan kekuatan luar biasa dengan memukul mundur gerombolan bandit kejam hanya melalui tekanan aura.

Menginjak usia tujuh tahun, Ranu mulai menyadari jati dirinya dan menggunakan kekuatan batinnya untuk melindungi orang tuanya dari penindasan pendekar asing. Pertemuannya dengan Ki Sastro, seorang pendekar tua misterius, mengungkap nubuat bahwa Kerajaan Durja berada di ambang kehancuran akibat konspirasi racun dan ancaman invasi. Kini, Ranu harus memilih: tetap hidup tenang sebagai anak saudagar miskin atau bangkit memimpin perjuangan demi melindungi keluarga dan tanah kelahirannya dari lautan api peperangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Duel di Alam Bawah Sadar dan Darah di Pulau Tulang

Ruang kesadaran Pangeran Lingga yang biasanya menyerupai sebuah aula pedang yang bersih dan bercahaya, kini telah berubah menjadi rawa-rawa hitam yang membusuk. Di tengah kegelapan itu, proyeksi sukma asli Sang Hyang Wira Candra berdiri dengan jubah cahaya yang berkibar, meskipun redup akibat pengaruh kutukan Lautan Kematian.

Di hadapannya, sosok Amangkrat bermanifestasi sebagai bayangan raksasa dengan seribu tangan, masing-masing memegang belati yang terbuat dari kebencian.

"Kau terlalu naif, Wira Candra!" tawa Amangkrat mengguncang fondasi jiwa Lingga. "Kau membelah sukmamu di tempat yang menolak keberadaan dewa. Di sini, kau hanyalah seberkas cahaya yang menunggu untuk dipadamkan oleh kegelapan abadi!"

"Aku mungkin redup, Amangkrat, tapi cahaya sejati tidak butuh kuantitas untuk melenyapkan bayangan," sahut Ranu dengan suara yang tenang namun berwibawa. "Kau bersembunyi di dalam jiwa pemuda yang tulus ini karena kau takut menghadapiku di alam nyata. Kau tetaplah pengecut yang sama seperti ribuan tahun lalu."

Amangkrat meraung, seribu belatinya melesat menghujam. Namun, Ranu tidak menghindar. Ia justru merentangkan tangannya, membiarkan serangan itu menembus sukmanya. Di dunia nyata, tubuh remaja Ranu yang dipeluk oleh Nara mulai mengeluarkan darah dari mata dan telinganya.

"Ranu! Hentikan! Kau akan hancur!" teriak Nara, air matanya jatuh menyentuh pipi Ranu yang dingin.

Namun di dalam alam bawah sadar, Ranu sedang melakukan teknik terlarang: Pertukaran Sukma. Ia bukan melawan Amangkrat, melainkan menarik seluruh racun kegelapan itu ke dalam dirinya sendiri agar Lingga terbebas.

"Lingga! Bangun!" suara Ranu menggema, bukan di telinga, tapi di inti keberadaan Lingga. "Ingat sumpahmu pada pedang! Ingat matahari Benua Utara yang kau jaga! Jangan biarkan parasit ini memakan kehormatanmu!"

Di tengah rawa hitam itu, sebuah titik cahaya putih kecil mulai muncul. Itu adalah kesadaran Lingga yang tersisa. Titik itu membesar, meledak menjadi ribuan kelopak bunga melati yang harum, menghancurkan bayangan Amangkrat dari dalam.

"TIDAK! ini tidak mungkin!" teriak Amangkrat saat sukmanya terpental keluar dari tubuh Lingga dan terhisap kembali ke pulau tulang di kejauhan.

Mendarat di Pulau Tulang

Kapal kayu jati langit menghantam pantai Pulau Tulang dengan dentuman keras. Pangeran Lingga tersungkur di geladak, napasnya memburu, namun matanya telah kembali jernih. Di sampingnya, sukma Ranu kembali masuk ke dalam tubuh remajanya yang kini tampak sangat rapuh.

"Ranu... maafkan aku..." bisik Lingga sambil berusaha berdiri, meskipun tangannya masih gemetar.

Ranu terbatuk, memuntahkan cairan emas bercampur hitam. "Jangan minta maaf... bersiaplah. Kita sudah sampai di ruang tamu neraka."

Pulau itu benar-benar mengerikan. Tanahnya bukan terbuat dari pasir, melainkan remukan tulang manusia dan hewan yang telah membatu. Di tengah pulau, sebuah piramida raksasa yang terbuat dari tengkorak dewa menjulang tinggi. Di puncaknya, Ki Garna dan Nyai Sumi terikat pada dua tiang batu, dikelilingi oleh lingkaran api ungu.

Di bawah piramida, ribuan Manusia Kerak berdiri membeku seperti patung, dan di tengah mereka, berdiri sosok yang sangat dikenal Ranu: Sang Prahara Abadi yang telah bangkit kembali, namun kali ini ia mengenakan jubah kebesaran dewa milik Amangkrat.

"Selamat datang, anakku yang berbakti," suara Sang Prahara bergema. "Kau tepat waktu. Upacara Pembalikan Takdir akan dimulai saat bulan mencapai puncaknya. Dengan darah kedua orang tuamu, aku akan memutuskan ikatanmu dengan bumi, dan kau akan kembali menjadi dewa tanpa perasaan... yang kemudian akan menjadi makananku!"

Ranu mencoba berdiri, namun kakinya lemas. Nara segera menyangga tubuhnya, sementara Lingga berdiri di depan mereka dengan pedang Candra Kirana yang kini bersinar lebih terang dari sebelumnya karena telah ditempa oleh sukma Ranu.

"Gusti Ranu, istirahatlah sebentar," ucap Lingga dengan nada dingin yang penuh tekad. "Nara, jaga dia. Biarkan aku yang membuka jalan melewati sampah-sampah ini."

Lingga melesat maju. Kali ini, ia bukan lagi pangeran yang ragu. Setiap tebasannya bukan hanya memotong daging, tapi menghancurkan esensi kegelapan. Nara membantu dari belakang, melepaskan anak panah yang meledak menjadi jaring pemurni, mencegah Manusia Kerak untuk bangkit kembali.

Batas Terakhir Sang Anak

Ranu menatap ke puncak piramida. Ia melihat ibunya, Nyai Sumi, yang tampak sangat lemah. Mata mereka bertemu. Meskipun tidak ada suara, Ranu bisa mendengar bisikan hati ibunya: "Lari, Ranu... jangan pedulikan kami..."

Air mata mengalir di pipi Ranu. Kenangan saat Nyai Sumi menyuapinya nasi jagung, saat Ki Garna mengajarinya memperbaiki pagar, semua itu berputar di kepalanya. Mereka adalah alasan mengapa ia mencintai dunia fana ini.

"Amangkrat... Prahara..." desis Ranu. Ia memaksakan dirinya berdiri tegak.

Cahaya di punggungnya tidak lagi biru, emas, atau putih. Kali ini, cahaya itu berwarna Hitam Keperakan—warna dari Bintang Kedelapan yang seharusnya tidak pernah ada. Bintang yang tercipta dari kemarahan seorang dewa yang dipadukan dengan keputusasaan manusia.

"Kalian membuat satu kesalahan besar," ucap Ranu, suaranya kini terdengar seperti ribuan petir yang tertahan. "Kalian mengira aku takut kembali menjadi dewa tanpa perasaan. Padahal, yang seharusnya kalian takuti adalah saat dewa sepertiku mulai merasakan dendam."

Ranu melangkah maju. Setiap langkahnya membuat tengkorak-tengkorak di pulau itu hancur menjadi debu halus. Tekanan energinya begitu besar hingga air laut di sekitar pulau surut sejauh satu mil.

"Lingga, Nara, menjauh dari piramida itu!" teriak Ranu.

Ranu mengangkat tangan kanannya ke langit. Awan hitam Badai Arwah mendadak tersedot ke telapak tangannya, membentuk sebuah pedang panjang yang terbuat dari kegelapan yang dimurnikan.

"Jurus Rahasia Terlarang: Pemutus Silsilah Kematian!"

Ranu tidak menebas musuhnya. Ia menebas udara di depannya. Seketika, ruang dan waktu di Pulau Tulang seolah terhenti. Lingkaran api ungu di puncak piramida padam seketika. Rantai energi yang mengikat Ki Garna dan Nyai Sumi hancur.

Namun, Sang Prahara Abadi hanya tertawa. "Kau menghabiskan sisa energimu hanya untuk melepaskan mereka? Sekarang kau kosong, Wira Candra! Kau mati!"

Sang Prahara menerjang dengan kecepatan cahaya, cakarnya yang beracun diarahkan tepat ke jantung Ranu. Ranu diam, tidak menghindar.

JLEB!

Cakar itu menembus dada Ranu. Nara menjerit histeris. Namun, Ranu justru tersenyum, darah emas mengalir dari mulutnya ke tangan Sang Prahara.

"Aku memang kosong dari energi dewa," bisik Ranu di telinga Sang Prahara. "Tapi tubuh ini penuh dengan racun yang kau tanam sendiri di Lautan Kematian. Dan sekarang... aku akan mengembalikannya padamu."

Ranu memegang lengan Sang Prahara. Tubuh Ranu mulai bersinar terang, namun cahayanya berasal dari dalam sel-sel tubuhnya yang meledak. Ia menggunakan teknik Bom Sukma, mengorbankan wadah fananya untuk menghancurkan musuhnya secara permanen.

"Ranu, JANGAN!" teriak Ki Garna dari kejauhan.

Ledakan cahaya putih yang membutakan menelan seluruh Pulau Tulang. Semuanya lenyap dalam keheningan yang mutlak.

Cahaya memudar. Pulau Tulang kini rata dengan air laut. Lingga, Nara, Ki Garna, dan Nyai Sumi terbangun di atas sisa-sisa kapal jati langit yang terombang-ambing. Namun, Ranu tidak ada di sana. Hanya ada sebuah syal kain biru tua milik Ranu yang mengapung di atas air.

......................

Apakah Sang Hyang Wira Candra benar-benar telah tiada demi menyelamatkan orang tuanya? Ataukah ledakan itu justru membawanya ke tingkat keberadaan yang baru?

......................

1
JUNG KARYA
bantu supportnya kak 🙏
JUNG KARYA
Komentarnya dong kak, juga satu like kalian sangat berarti untuk semangat author ini lho, apalagi kalau mau beri rating di novel ini 😁...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!