NovelToon NovelToon
SILENT PROTOCOL: GHOST IN THE GRID

SILENT PROTOCOL: GHOST IN THE GRID

Status: sedang berlangsung
Genre:Agen Wanita / Identitas Tersembunyi / Action / Fantasi / Cintamanis / Romansa
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: risn_16

Raka adalah seorang "Hantu". Mantan operator elit dari unit rahasia yang keberadaannya tidak pernah diakui oleh negara. Setelah memalsukan kematiannya, ia hidup dalam bayang-bayang sebagai konsultan keamanan independen, memastikan rahasia-rahasia gelap korporasi tetap terkunci rapat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MALAM DI BAWAH BINTANG

19:30 PM. Teras Atas, Analogue Heart.

Langit Mediterania di atas Yunani berubah menjadi kanvas beludru biru tua yang ditaburi ribuan permata perak. Suara ombak yang menghantam karang di bawah tebing terdengar seperti bisikan ritmis yang konstan, menenangkan saraf yang sempat tegang akibat insiden Tragedi Mitologi di toko tadi pagi.

Raka baru saja selesai menyalakan beberapa lilin aromatik di atas meja kayu kecil di teras atas mereka. Ia telah menyiapkan makan malam sederhana ikan panggang dengan bumbu lemon, zaitun, dan anggur putih lokal yang ia beli dari pasar sore tadi. Tidak ada peluru, tidak ada radar, hanya aroma makanan lezat dan suara angin laut.

Liana keluar dari kamar, mengenakan gaun sutra tipis berwarna biru navy yang senada dengan warna langit. Rambutnya dibiarkan terurai, menyentuh bahunya yang telanjang. Ia berhenti di ambang pintu, menatap punggung Raka yang sedang menuangkan anggur ke dalam gelas kristal.

"Kau benar benar ingin menebus dosa kecemburuanmu tadi pagi, ya?" goda Liana sambil berjalan mendekat. Suara tumit sandal tipisnya beradu lembut dengan lantai kayu.

Raka berbalik, matanya sedikit membelalak melihat kecantikan Liana di bawah cahaya lilin. Ia meletakkan botol anggur dan mengulurkan tangannya. "Bukan penebusan dosa, Li. Hanya pengingat. Bahwa aku lebih suka menatapmu di sini daripada melihat pria lain menatapmu di sana."

Liana menyambut tangan Raka, membiarkan pria itu menariknya duduk. "Nikos hanya anak kecil yang tersesat, Raka. Tapi aku akui, melihatmu hampir meledak tadi pagi adalah salah satu momen paling menarik dalam enam bulan terakhir."

Raka duduk di hadapannya, wajahnya terlihat serius namun matanya melembut. "Aku tidak pernah belajar cara berbagi, Liana. Di Unit 09, apa yang kau miliki adalah apa yang harus kau jaga dengan nyawamu. Dan kau... kau adalah segalanya yang kumiliki."

Makan malam berlangsung dengan tenang. Mereka berbicara tentang hal hal kecil tentang Pak Kostas yang mengeluh soal mesin perahunya, atau tentang buku buku baru yang harus dipesan minggu depan. Namun, saat anggur di gelas mereka mulai menipis, suasana berubah menjadi lebih kontemplatif.

Liana menatap Raka, jemarinya memutar mutar kaki gelas kristalnya. "Raka, boleh aku bertanya sesuatu?"

"Apa pun."

"Tadi pagi, saat kau menatap Nikos... aku melihat sesuatu di matamu. Bukan hanya kemarahan. Tapi ketakutan. Apa yang sebenarnya kau takutkan? Kau tahu aku tidak akan ke mana mana."

Raka terdiam cukup lama, matanya menatap api lilin yang menari ditiup angin. Ia menghela napas panjang, sebuah beban seolah terangkat dari pundaknya. "Aku tidak takut kau akan pergi dengan orang seperti dia, Li. Aku takut jika dunia ini melihatmu terlalu jelas, mereka akan menyadari betapa berharganya kau, dan mereka akan mencoba mengambilmu dariku lagi. Seperti yang dilakukan Yudha. Seperti yang dilakukan negara."

Liana meraih tangan Raka di atas meja, menggenggamnya erat. "Kita bukan lagi aset, Raka. Kita bukan lagi properti siapa pun."

"Aku tahu," suara Raka merendah, emosional. "Tapi terkadang, saat aku melihatmu tertawa dengan pelanggan, atau saat kau terlihat begitu bahagia dengan kehidupan normal ini, aku merasa seperti pencuri. Aku merasa aku mencuri kehidupan ini dari takdir yang seharusnya berakhir di Arktik. Aku takut suatu hari nanti, tagihan atas kebahagiaan ini akan datang, dan aku tidak punya apa apa lagi untuk membayarnya selain kehilanganmu."

Liana berdiri, berjalan memutari meja, dan duduk menyamping di pangkuan Raka. Ia menangkup wajah pria itu, memaksa Raka menatap langsung ke matanya yang kini berkaca kaca.

"Dengar aku, Raka Hantu," bisik Liana, suaranya bergetar oleh perasaan. "Tidak ada tagihan. Kebahagiaan ini bukan pinjaman. Ini adalah hasil dari setiap luka yang kita terima, setiap tetes darah yang kita tumpahkan. Kau tidak mencuri apa pun. Kau membangun ini. Kita membangun ini."

Liana mencium kening Raka, lalu turun ke kelopak matanya, dan akhirnya mendarat di bibirnya. Sebuah ciuman yang panjang, dalam, dan penuh dengan kepastian yang menenangkan. Raka melingkarkan lengannya di pinggang Liana, membenamkan wajahnya di ceruk leher wanita itu, menghirup aroma vanila yang selalu membuatnya merasa aman.

Di tengah momen intim itu, Raka teringat sesuatu. Ia melepaskan pelukannya sejenak dan merogoh saku kemejanya. Ia mengeluarkan sebuah kalung perak tua dengan liontin berbentuk kompas kecil yang sudah agak berkarat.

Liana tertegun. "Ini... ini kan milik ibumu?"

Raka mengangguk. "Aku menyimpannya di dalam kompartemen rahasia di tas taktisku selama sepuluh tahun. Aku tidak pernah menunjukkannya padamu karena aku takut jika aku memegang ini, aku akan menjadi lemah. Aku takut kenangan tentang rumah akan membuatku gagal dalam misi."

Raka membuka liontin kompas itu. Di dalamnya bukan berisi jarum penunjuk arah, melainkan sebuah foto mikro yang sudah agak pudar seorang wanita cantik yang sangat mirip dengan Raka, sedang menggendong bayi kecil.

"Ibuku selalu bilang, kompas ini tidak menunjuk ke arah utara," kata Raka pelan, matanya berkaca kaca. "Dia bilang, kompas ini akan selalu menunjuk ke arah di mana hatimu berada. Selama sepuluh tahun, jarumnya seolah patah. Aku tidak tahu ke mana aku harus pulang."

Raka menatap Liana dengan tatapan yang sangat mencintai. "Tapi sekarang, aku tahu. Kompas ini tidak lagi menunjuk ke foto ini. Dia menunjuk padamu. Kau adalah rumahku, Li."

Liana tidak bisa lagi membendung air matanya. Ia memeluk kalung itu di dadanya, lalu memeluk Raka dengan kekuatan yang seolah ingin menyatukan jiwa mereka. "Raka... itu adalah hal terindah yang pernah kau katakan."

Raka memakaikan kalung itu ke leher Liana. Logam dingin itu menyentuh kulit Liana, namun rasanya hangat karena makna di baliknya. "Aku ingin kau menyimpannya. Agar kau tahu, bahkan jika dunia ini menjadi gelap lagi, aku akan selalu menemukan jalan pulang padamu."

Sentuhan emosional itu perlahan berubah menjadi gairah yang lebih dalam. Raka berdiri sambil tetap menggendong Liana, membawa wanita itu ke tepi pagar balkon yang kokoh. Ia mendudukkan Liana di atas pagar lebar tersebut, sementara ia berdiri di antara kedua kaki Liana.

Cahaya bulan menyinari kulit mereka, menciptakan kontras antara kegelapan malam dan putihnya kulit Liana. Raka menatap Liana dengan rasa lapar yang murni bukan lapar karena nafsu belaka, tapi karena kebutuhan untuk terus membuktikan bahwa mereka nyata.

"Malam ini..." gumam Raka, jemarinya menelusuri garis leher gaun Liana. "Aku ingin mencintaimu seolah olah besok adalah misi terakhir kita. Tanpa keraguan. Tanpa bayang bayang."

Liana menarik Raka lebih dekat, kaki kakinya melingkar di pinggang Raka, menarik pria itu masuk ke dalam kehangatannya. "Lakukan, Raka. Jangan biarkan ada satu inci pun dari tubuhku yang meragukan cintamu."

Di bawah kesaksian ribuan bintang Mediterania, mereka bercinta dengan ritme yang lambat namun penuh tenaga. Setiap desahan Liana menyatu dengan suara ombak di bawah tebing. Tidak ada terburu buru, hanya penjelajahan sensorik yang mendalam. Raka mencium setiap jengkal kulit Liana, seolah ia sedang menghafal peta kebahagiaannya.

Sentuhan mereka terasa lebih panas karena kerentanan emosional yang baru saja mereka bagikan. Di sini, di atas tebing yang sunyi, Raka melepaskan sisi prajurit nya sepenuhnya, menjadi seorang pria yang menyerahkan segalanya pada wanita yang ia puja. Liana membalas dengan gairah yang liar namun manis, jemarinya mencengkeram bahu Raka saat ia mencapai puncaknya di bawah langit terbuka.

Setelah gairah mereda, Raka tidak membawa Liana kembali ke dalam. Ia menyelimuti tubuh telanjang mereka dengan kain linen besar yang tadi ia bawa, dan mereka duduk berpelukan di kursi panjang, menatap laut yang kini mulai memantulkan warna perak fajar yang masih jauh.

"Besok kita harus membuka toko pukul delapan pagi," bisik Liana, menyandarkan kepalanya di dada Raka yang bidang.

"Biarkan Pak Kostas menunggu sepuluh menit," jawab Raka santai, mencium puncak kepala Liana. "Aku masih ingin mendengarkan detak jantungmu sedikit lebih lama."

Liana tersenyum, menutup matanya dalam kedamaian yang sempurna. Kompas di lehernya berkilau terkena cahaya bulan, menunjuk tepat ke arah jantung pria yang memeluknya. Malam itu, di bawah bintang Mediterania, mereka bukan lagi hantu masa lalu. Mereka adalah arsitek dari masa depan yang nyata, satu halaman pada satu waktu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!