NovelToon NovelToon
Terpisah Oleh Dinding Agama

Terpisah Oleh Dinding Agama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: abangku_ss

Alek seorang remaja SMA nakal beragama kristen sering bertanya soal kebenaran tentang hidup ini hingga datang seorang yang menjadi jawaban bagi Alek, Masya Khansa azza Nabila menjadi awal perubahan kehidupan Alek cahaya di kegelapan,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon abangku_ss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 18

18: Pertarungan di Atas Langit-Langit (Bagian Satu). Tulisan ini mengeksplorasi setiap detik ketegangan, rasa sakit, dan pergulatan batin dalam ruang operator yang sempit.

BAB 18: Pertarungan di Atas Langit-Langit (Bagian Satu)

Udara di dalam ruang operator multimedia itu terasa mampat, berat oleh aroma debu elektrostatis dan bau hangus dari kabel daya yang baru saja dicabut paksa oleh Alek. Cahaya bulan yang masuk melalui jendela kaca kecil di sudut ruangan memberikan rona keperakan yang dingin pada bilah belati di tangan Bagas. Suara riuh rendah dari aula di bawah—suara kebingungan ratusan orang karena layar yang mendadak mati—terasa sangat jauh, seolah-olah Alek dan Bagas berada di dalam dimensi yang berbeda. Dimensi di mana hanya ada dendam, napas yang memburu, dan kilatan besi tajam.

Bagas tidak menunggu lebih lama. Ketakutannya telah bermutasi menjadi kegilaan yang murni. Dengan teriakan parau yang lebih mirip rintihan binatang terluka daripada tantangan perang, dia menerjang maju.

"MATI LO, LEX!"

Belati itu terayun secara horizontal, sebuah sabetan buta yang mengincar leher Alek. Alek, yang sudah waspada dengan jaket terbelit di lengan kirinya, bergerak dengan refleks jalanan yang tajam. Dia merunduk hingga lututnya menghantam lantai kayu yang keras. Wush! Bilah baja itu membelah udara tepat di atas kepalanya, hanya menyisakan embusan angin dingin yang membuat bulu kuduknya meremang.

Alek tidak membuang momentum. Dari posisi rendah, dia melancarkan serangan balasan. Sebuah pukulan hook kanan melesat menuju ulu hati Bagas. Namun, Bagas yang sedang dalam kondisi frenzy (kesetanan) tidak peduli pada pertahanan. Dia justru menggunakan lututnya untuk menangkis tangan Alek, menyebabkan tulang bertemu tulang dengan bunyi duk yang tumpul.

Alek meringis. Rasa perih menjalar dari punggung tangannya, namun dia segera bangkit berdiri. Keduanya kini kembali berhadapan dalam jarak yang sangat dekat.

Tarian Maut di Ruang Sempit

Ruang operator itu terlalu sempit untuk sebuah perkelahian, apalagi yang melibatkan senjata tajam. Meja kontrol yang dipenuhi peralatan audio dan monitor yang kini gelap gulita menjadi pembatas yang berbahaya. Bagas kembali menyerang, kali ini dengan rentetan tusukan lurus yang cepat namun tidak beraturan.

Alek mundur selangkah demi selangkah, menggunakan jaket di lengannya untuk menangkis setiap ayunan pisau. Sret! Sret! Kain jaket itu mulai robek di beberapa tempat. Alek tahu, jika dia salah langkah sedikit saja, kain itu tidak akan cukup melindunginya.

"Lo selalu ngerasa lebih hebat dari gue, kan?!" teriak Bagas sambil terus menusukkan belatinya. Matanya melotot, urat-urat di lehernya menonjol keluar. "Lo dateng ke sini, jadi pahlawan, dapetin perhatian semua orang... sementara gue cuma bayangan! Gue yang kerjain semua rencana, gue yang mikir, tapi lo yang gagalin gue akan membuat loh menderita karena berani mengkhianati gang karena tu cewek sialan!"

"Khansa nggak pernah minta ini, Gas!" balas Alek sambil menendang sebuah kursi lipat ke arah kaki Bagas untuk menghambat gerakannya.

Bagas tersandung, tapi dia tetap tegak. Dia melompat melewati kursi itu dan berhasil memojokkan Alek ke rak server besi di sudut ruangan. Besi bertemu besi saat Bagas menghantamkan belatinya, menimbulkan percikan api kecil saat ujung pisau itu menggores rak baja.

Alek menangkap pergelangan tangan Bagas yang memegang belati. Keduanya kini beradu kekuatan murni. Napas Bagas yang berbau kopi pahit dan kecemasan menerpa wajah Alek.

"Hapus... dendam lo, Gas! Ini nggak akan nyelesain apa-apa!" geram Alek. Giginya bergemeletuk karena menahan tekanan tangan Bagas yang mencoba mengarahkan ujung pisau itu ke wajahnya.

"Udah telat! Semuanya udah hancur!"

Bagas tiba-tiba melepaskan satu tangannya dari gagang pisau dan melayangkan sundulan kepala (headbutt) yang keras tepat ke dahi Alek. DUAK!

Pandangan Alek seketika berbintang. Dunianya berputar. Rasa hangat mulai mengalir dari dahinya, menetes melewati alis dan masuk ke mata kirinya. Darah. Cengkeraman Alek pada tangan Bagas mengendur sejenak karena rasa pusing yang luar biasa. Bagas menggunakan kesempatan itu untuk menendang tulang rusuk Alek—titik lemah yang memang sudah cedera sejak perkelahian di gerbang Tempo hari.

"Aaakh!" Alek tersungkur ke lantai, memegangi dadanya yang terasa seperti ditusuk seribu jarum. Paru-parunya seolah menolak untuk menghirup oksigen. Dia terbatuk, dan rasa asin darah mulai memenuhi mulutnya.

Antara Hidup dan Mati

Bagas berdiri di atas Alek, napasnya tersengal-sengal. Dia memegang belati itu dengan kedua tangan sekarang, mengangkatnya tinggi-tinggi ke atas kepala. Di bawah cahaya bulan, Bagas tampak seperti malaikat maut yang amatir namun mematikan.

"Semua orang bakal tau kalau lo mati sebagai berandalan yang nyusup ke sini," bisik Bagas dengan suara yang bergetar. "Gue bakal bilang gue cuma ngebela diri."

Alek menatap ke atas. Dalam hitungan detik itu, pikirannya melayang pada Khansa. Dia ingat wajah tenang Khansa di saat kegiatan sosial, ingat suaranya yang lembut saat bicara tentang pengampunan. 'Hidup itu soal bimbingan yang lembut, Mas Alexander.'

"Nggak... gue nggak boleh mati di sini sebagai sampah," batin Alek.

Tepat saat Bagas menghujamkan belatinya ke bawah, Alek menggunakan sisa kekuatannya untuk berguling ke samping. JLEB! Bilah baja itu tertancap dalam ke lantai kayu, hanya beberapa inci dari telinga Alek.

Alek tidak memberikan waktu bagi Bagas untuk mencabut senjatanya. Dia menggunakan kakinya untuk menyapu tumpuan beban Bagas. BRAK! Bagas jatuh tertelungkup. Alek segera melompat ke punggung Bagas, mengunci leher pemuda itu dengan lengannya yang masih terbalut sisa-sisa jaket.

"LEPASIN! LEPASIN GUE!" Bagas meronta-ronta, tangannya masih mencoba mencabut belati yang tertancap di lantai.

"BERHENTI, GAS! CUKUP!" Alek berteriak tepat di telinga Bagas. "Lo mau masuk penjara?! Lo mau hancurin masa depan lo sendiri?!"

Bagas berhasil mencabut belatinya. Dengan gerakan putus asa, dia mengayunkan pisau itu ke belakang, mencoba menusuk apa saja yang ada di punggungnya. Bilah itu menyayat bahu Alek. Alek mengerang kesakitan, tapi dia tidak melepaskan kunciannya. Justru, dia mempererat tekanan pada arteri di leher Bagas.

Dunia di sekitar mereka mulai memudar bagi Bagas. Oksigen yang menuju otaknya menipis. Penglihatannya mulai menggelap di pinggirannya. Namun, dalam sisa kesadarannya, Bagas masih sempat melakukan satu hal: dia menendang meja operator dengan kakinya, menjatuhkan sebuah monitor CRT berat tepat ke arah mereka berdua.

BUM!

Monitor itu menghantam lantai di samping mereka, pecahannya menyambar lengan Alek. Kejutan itu membuat Alek melepaskan kunciannya. Bagas merangkak menjauh, terengah-engah mencari udara, sementara Alek memegangi lengannya yang kini bersimbah darah karena luka sayat dan serpihan kaca.

Puncak Kehancuran

Keduanya kini sama-sama hancur. Alek bersimbah darah dari dahi, bahu, dan lengannya. Wajahnya pucat karena kehilangan banyak darah dan rasa sakit di rusuknya yang tak tertahankan. Bagas tampak lebih buruk secara mental; rambutnya acak-acakan, matanya liar, dan dia terus-menerus bergumam tidak jelas.

Bagas kembali berdiri, menggenggam belatinya yang kini juga sudah berlumuran darah Alek.

"Kenapa... kenapa lo nggak mati aja, Lex?" suara Bagas terdengar patah. Dia mulai menangis, sebuah tangisan frustrasi yang mengerikan untuk didengar. "Kalau lo mati, semuanya bakal lebih gampang buat gue. Gue nggak akan pernah ngerasa segagal ini ini lagi kalau lo nggak ada!"

Alek berdiri dengan goyah, bersandar pada rak besi untuk menjaga keseimbangannya. Dia menatap Bagas dengan rasa kasihan yang mendalam. Dia melihat pantulan dirinya yang lama dalam diri Bagas—seorang yang marah pada dunia karena merasa tidak dihargai.

"Gue nggak pernah ngerasa lebih besar dari lo, Gas. Gue cuma pengen kita berhenti jadi pengecut yang main di belakang," kata Alek, suaranya lemah namun tegas.

Tiba-tiba, terdengar langkah kaki berat yang berlari menaiki tangga kayu. Suara itu keras dan cepat.

"DI SINI! SUARANYA DARI RUANG OPERATOR!" teriak sebuah suara dari luar.

Bagas panik. Dia tahu waktunya sudah habis. Dia melihat ke arah jendela, lalu kembali ke arah Alek. "Kalau gue nggak bisa hancurin dia lewat foto... gue bakal pastiin lo yang hancur!"

Bagas menerjang untuk terakhir kalinya, seluruh berat badannya ia tumpukan pada ujung belati itu. Ini adalah serangan bunuh diri.

Alek tidak menghindar. Dia tahu jika dia menghindar, Bagas mungkin akan menabrak jendela dan jatuh ke bawah, atau mencelakai orang yang baru saja akan masuk. Alek mengangkat kedua tangannya, menangkap pergelangan tangan Bagas tepat di depan dadanya. Ujung pisau itu menyentuh kancing seragam Alek, menekan perlahan ke kulitnya.

"Udah... cukup, Gas," bisik Alek.

Dengan sisa tenaga terakhirnya, Alek memutar pergelangan tangan Bagas dan menggunakan teknik bantingan

Dunia seolah melambat di mata Alek. Ujung belati itu sudah merobek kain seragamnya, memberikan sensasi dingin yang tajam di permukaan kulit dadanya. Berat tubuh Bagas yang menghujam maju dengan seluruh keputusasaan adalah beban yang hampir mustahil ditahan oleh Alek yang sudah kehilangan banyak darah. Dalam insting bertahan hidup yang liar, Alek tahu jika dia tetap diam, jantungnya akan tertembus.

"Udah... cukup, Gas," bisik Alek dengan suara yang nyaris hilang.

Alek mengerahkan sisa tenaga terakhirnya. Dia tidak memukul, dia tidak menendang. Dia hanya memutar pergelangan tangan Bagas dengan sebuah teknik bantingan kasar—gerakan refleks yang sering ia gunakan untuk menjatuhkan lawan di aspal jalanan. Namun, ruangan itu bukan jalanan yang luas. Ruangan itu adalah jebakan maut yang penuh dengan sudut besi dan peralatan berat yang hancur.

KRAK!

Lantai kayu yang licin oleh darah dan serpihan kaca membuat pijakan mereka berdua goyah. Saat Alek memutar tubuh Bagas untuk membantingnya ke samping, kaki Bagas tersangkut tumpukan kabel yang malang melintang. Tubuh Bagas terpelanting dengan sudut yang salah. Alih-alih jatuh ke lantai yang rata, kepala Bagas menghantam sudut tajam dari rak server besi yang berat dengan suara dentuman yang mengerikan.

BUGH!

Suara itu diikuti oleh bunyi krak yang lebih halus—bunyi tulang yang bertemu dengan baja dingin.

Bagas tidak berteriak. Dia tidak merintih. Tubuhnya seketika menjadi lunglai, merosot jatuh ke lantai seperti boneka kain yang talinya diputus. Belati yang tadi ia genggam dengan erat berdenting pelan, terlepas dari jemarinya yang mendadak lemas.

Alek terdiam. Napasnya tersengal-sengal, dadanya naik turun dengan cepat. Dia memegangi dadanya yang tergores, menatap ke arah Bagas yang kini tergeletak diam.

"Gas?" panggil Alek pelan. Suaranya gemetar. "Gas... bangun. Jangan bercanda, Gas."

Alek merangkak mendekat, mengabaikan rasa perih di sekujur tubuhnya. Dia melihat ke arah kepala Bagas. Darah mulai mengalir dengan sangat cepat, jauh lebih banyak dari darah yang keluar dari luka-luka Alek. Darah itu keluar dari bagian belakang kepala Bagas, membasahi lantai kayu dan bercampur dengan debu elektrostatis. Mata Bagas terbuka sedikit, namun tidak ada kehidupan di sana. Tatapannya kosong, menatap langit-langit ruang operator yang gelap.

"Nggak... nggak mungkin," gumam Alek. Tangannya yang gemetar mencoba menyentuh leher Bagas, mencari denyut nadi. Dingin. Alek tidak merasakan apa-apa kecuali getaran dari tangannya sendiri. "Bagas! Bangun, brengsek! Jangan mati! Lo harus denger... gue nggak bermaksud..."

Penyesalan yang Terlambat

Pintu ruang operator akhirnya jebol. Dimas masuk dengan napas memburu, diikuti oleh dua pengurus pesantren dan beberapa santri senior. Senter mereka menyapu ruangan, dan cahaya yang menyilaukan itu menangkap pemandangan yang akan menghantui Alek seumur hidupnya.

Alek sedang bersimpuh di samping tubuh Bagas, tangannya merah oleh darah sahabatnya sendiri. Wajah Alek pucat pasi, air mata mulai mengalir membasahi pipinya yang penuh lebam.

"Dim... Dimas," Alek menoleh ke arah Dimas dengan pandangan kosong. "Gue nggak sengaja, Dim. Gue cuma mau ambil pisaunya. Dia jatuh... dia kena besi itu."

Dimas terpaku. Dia melihat posisi tubuh Bagas yang tidak alami dan genangan darah yang terus meluas. Dia segera mendekat, memeriksa keadaan Bagas dengan panik, namun ekspresi wajah Dimas seketika berubah menjadi ngeri. Dia menatap Alek dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kasihan, takut, dan tidak percaya.

"Alek... dia nggak napas lagi," bisik Dimas.

Dunia Alek runtuh saat itu juga. Suara riuh di aula bawah, suara sirene polisi yang semakin dekat, semuanya seolah tersedot ke dalam lubang hitam yang hampa. Alek menatap tangannya yang berlumuran darah. Darah Bagas.

Dia ingin menyelamatkan Khansa. Dia ingin menjadi pahlawan untuk sekali ini saja. Tapi harganya... harganya adalah nyawa temannya sendiri.

Seorang pengurus pesantren maju, mulutnya komat-kamit membacakan doa sambil gemetar. Khansa muncul di ambang pintu, matanya yang jernih tertutup oleh tangan saat dia melihat pemandangan tragis itu. Isak tangis pelan terdengar dari balik cadarnya.

Alek tidak melawan saat para pengurus pesantren menariknya menjauh dari tubuh Bagas. Dia hanya diam, membiarkan tubuhnya diseret, matanya tetap terpaku pada tubuh Bagas yang kini mulai ditutupi dengan selembar kain putih oleh salah satu ustaz.

Penebusan yang Alek cari kini berubah menjadi kutukan. Dia berhasil melindungi kehormatan Khansa, dia berhasil menghentikan fitnah itu, tapi dia kehilangan jiwanya di dalam ruang sempit itu. Badai di Al-Hikmah telah berakhir, namun badai di dalam hati Alek baru saja dimulai dengan guntur yang paling mematikan.

Alek di giring keluar oleh pengurus pesantren dengan cengkeraman yang kuat, Alek berjalan melewati Khansa ia menunduk tanpa menoleh sedikitpun,

"ini semua demi kamu" gumam Alek saat berjalan melewati Khansa

kening Khansa mengerut maksudnya? Pikir Khansa yang mendengar gumaman Alek

Kadang dalam membela apa yang berharga bagi kita ada harga yang sangat mahal yang harus di bayar

1
Hana Agustina
saranny.. apapum kondisi like n komentar nya.. tlg teteo bwrkarua thor.. krn banyak sekali pelajaran dlm kisah ini, utk sy yg msh tertatih belajar utk perbaiki diri ini.. tetep semangat y thor.. cerita ini indah sekali
Hana Agustina
saya baca tiap kata demi kata sambil menahan haru, tenggorokan sy serasa tertahan krn menahan berbagai macam perasaan.. seolah sy ikut menjadi saksi bgmn perjalanan seorang Alex memcari jati diri nya.. trimakasih thor.. cerotamu ini bener bener a masterpiece buat sy
Hana Agustina
kenapa cerita sebagus ini sepi pembaca.. sy setia nungguin setiap update kamu .. tetep semangat ya sampai selesai..dr cerita ini banyak pembelajaran itk sy belajar
Almun
alur menarik,tulisan rapi,dan cukup detail dalam men deskripsikan. KALIAN HARUS COBA BACA🥳
Alfina Assovah
sumpah..ceritanya bagus banget😍
Almun
Demi apapun kak,aku jatuh cinta sama tulisan kakak.Semoga suatu saat lebih banyak orang yg kenal karya karya kakak.🤍🤍SEMANGAT💪
Hana Agustina
alex... trus semangat ya mencari kebenaran yg hakiki.. sy ikut belajar loh dr kisahmu. kopi ya.. ini buat nemenin kamu
Hana Agustina
indah sekaliii... tiap narasi yg tercipta dr perjalanan alex .. indah sekali... masyaAllah
nabila(khansa?)
awas loh sampe sad ending 😤😤😌
Nazril Ilham: kalau di bikin sad emang kamu mau ngapain aku
total 1 replies
nabila(khansa?)
keren sih cerita kamu👍
Nazril Ilham: mana cerita mu
total 1 replies
Hana Agustina
pantas saja.. cerita yg dipaparkan terasa smp kerelung hati sy..
Hana Agustina
ikut nyesek🥺
Hana Agustina
semangat alex...
Hana Agustina
ya Allah Alex.. 🥺
Hana Agustina
ditunggu upny thor.. saya sukaa banget n penasaran
Hana Agustina
masyaAllah.. indah sekali ceritanyaaaa... 🙏
Cahaya. R. P
seriusan nih sepi banget...?? 0adahal bagus lohh cerita nya
Cahaya. R. P: 🗿🗿 kwkwkw
total 2 replies
Cahaya. R. P
yahh bersambung... sedihh dehh...jangan sampe sad ending donggg ngga tegaa
Cahaya. R. P
akhirnya upload... makasihh author... bagusss bangett ihh😍😍😍
hehe semangat bangg
Cahaya. R. P
kapan lanjut lagi nihh author..??
baguss bangett pliasss cerita nyaaa lanjutt dongg
PAGMA: Peter punk❓😱😱🤩
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!