Menjadi Takara tidaklah mudah. Bagaimana rasanya sahabatmu satu-satunya sekaligus orang yang kamu cintai dalam diam dimiliki oleh jutaan orang di dunia? Dia bersinar terang, terlalu terang hingga Takara tak sanggup melihatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiket 2 Orang
Langkah kaki Jake terasa seberat timah saat ia menyelinap masuk kembali ke dalam dorm. Suasana koridor sangat sunyi, hanya suara dengung mesin pendingin ruangan yang menemani kesendiriannya. Ia melepas topi dan maskernya, membiarkan tubuhnya merosot di balik pintu kamar yang tertutup rapat.
Ia tidak langsung tidur. Kalimat Arlo di balkon tadi terus berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak.
"Itu namanya bukan jagain sahabat, itu namanya egois."
Jake menatap pantulan dirinya di cermin lemari yang buram. Wajahnya tampak kacau. Rambutnya berantakan, matanya merah karena kurang tidur, dan yang paling menyedihkan, ia melihat sosok pria yang kekanak-kanakan.
"Benar," gumam Jake lirih, suaranya pecah di tengah keheningan malam.
Ia menyandarkan kepala ke pintu kayu, menatap langit-langit kamar yang gelap. Selama ini, ia merasa menjadi pahlawan bagi Takara dengan membawanya ke Seoul, memberinya proyek besar, dan menjaganya dari "pria-pria asing". Tapi kenyataannya? Ia hanyalah seorang pencuri waktu.
Ia menuntut Takara untuk selalu ada saat ia senggang, tapi ia sendiri menghilang berhari-hari saat jadwal padat. Ia melarang Takara dekat dengan Arlo, padahal Arlo-lah yang memegang tangga saat Takara naik ke perancah bangunan. Arlo-lah yang membelikan kopi saat Takara pucat karena lembur. Dan Arlo-lah yang bisa diajak jalan-jalan ke Sungai Han tanpa harus memakai masker atau takut tertangkap kamera paparazzi.
"Gue emang egois," bisik Jake lagi.
Ia menyadari bahwa ia ingin memiliki "Takara yang dulu" di Brisbane, sementara Takara yang sekarang adalah seorang wanita karier yang butuh dukungan nyata, bukan sekadar janji manis lewat pesan suara di tengah malam.
Jake merogoh ponselnya, hendak mengirim pesan lagi, namun jemarinya ragu di atas layar. Ia takut setiap kata yang ia ketik hanya akan menambah beban di pundak Takara. Ia melihat jam; sudah pukul 04.30 pagi. Dalam satu setengah jam, manajer akan mengetuk pintu kamarnya untuk memulai jadwal rehearsal konser yang melelahkan.
Ia melempar ponselnya ke atas kasur dan memilih untuk duduk di lantai, memeluk lututnya.
Ada rasa takut yang mendalam menjalar di hatinya. Takut jika suatu saat nanti, Takara benar-benar menyadari bahwa hidupnya jauh lebih tenang dan bahagia tanpa kehadiran Jake yang penuh drama ini. Takut jika posisi "sahabat masa kecil" itu perlahan-lahan digantikan oleh seseorang yang lebih fungsional dan stabil seperti Arlo.
Pukul 06.00 pagi, pintu kamar Jake diketuk dengan pelan tapi tegas. Itu Jungwon.
"Hyung? Kamu sudah bangun? Kita harus berangkat sepuluh menit lagi," suara sang leader terdengar di balik pintu.
Jake berdiri dengan sisa tenaga yang ada. Ia membasuh wajahnya dengan air dingin, mencoba menghapus jejak kegalauan semalam. Ia harus menjadi "Jake ENHYPEN" lagi, idola yang ceria, enerjik, dan sempurna. Namun, di balik senyum profesionalnya nanti, ada lubang besar yang menganga di hatinya.
Hari itu, Takara sama sekali tidak mengirim pesan. Tidak ada laporan proyek, tidak ada ucapan semangat, bahkan tidak ada balasan untuk pesan maaf Jake semalam.
Di lokasi proyek, Takara bekerja dengan sangat diam. Arlo menyadari perubahan suasana hati Takara dan berusaha untuk tidak menyinggung kejadian semalam, namun perhatiannya justru semakin intens.
———
Hari-hari menjelang konser besar di Seoul menjadi masa yang paling sunyi bagi Jake, meskipun ia berada di tengah riuh rendah teriakan staf dan dentuman musik latihan. Seolah ada dinding kaca tebal yang ia bangun sendiri untuk memisahkan dirinya dari Takara.
Jake menepati janjinya pada diri sendiri: berhenti menjadi egois.
Ia tidak lagi mengirim pesan singkat di tengah malam. Ia tidak lagi menelepon hanya untuk mengeluh lelah. Bahkan, ia sengaja tidak menanyakan kabar proyek jembatan kayu itu, takut jika suaranya hanya akan menambah beban pikiran Takara yang sedang berjuang dengan tenggat waktu.
Beberapa kali, saat van hitam yang membawanya melintasi area konstruksi menuju gedung utama agensi, Jake meminta sopir untuk melambat. Dari balik kaca jendela yang gelap pekat, matanya menyisir tumpukan semen dan kerangka besi.
Di sana, ia melihat Takara.
Gadis itu tampak sangat sibuk. Rambutnya diikat asal, wajahnya tertutup masker debu, dan ia sedang berdiskusi sengit dengan Arlo di depan sebuah maket besar. Jake memperhatikan bagaimana Arlo dengan sigap memayungi Takara dari terik matahari pagi menggunakan papan jalan.
Ada rasa perih yang mencubit ulu hati Jake, tapi kali ini ia tidak marah. Ia hanya menghela napas panjang, lalu memalingkan wajah sebelum Takara sempat menoleh ke arah mobilnya.
"Lo kelihatan hebat di sana, Ra. Tanpa gangguan gue, lo bener-bener bersinar sebagai arsitek," batin Jake pahit.
Di ruang tunggu backstage, member lain menyadari perubahan drastis pada Jake. Ia tidak lagi seberisik biasanya. Ia lebih banyak diam di pojok ruangan, membaca skrip konser atau sekadar menatap layar ponselnya yang bersih dari notifikasi nama "Takara".
"Hyung, lo oke?" tanya Sunoo sambil menyodorkan minuman vitamin. "Lo kayak mayat hidup sejak kejadian malam itu."
Jake hanya tersenyum tipis, jenis senyum yang tidak sampai ke mata. "Gue oke. Cuma lagi fokus buat konser. Gue nggak mau ngecewain fans."
Jay, yang duduk tak jauh dari sana, hanya melirik Jake sekilas. Ia tahu Jake sedang melakukan "diet komunikasi" yang menyiksa batinnya sendiri. Jay tahu Jake sedang mencoba memberi ruang pada Takara, tapi cara Jake yang memutus kontak total justru terlihat seperti orang yang sedang menghukum diri sendiri.
———
Pesan singkat itu muncul di layar ponsel Takara tepat saat ia baru saja meletakkan helm proyeknya di meja kantor. Singkat, padat, namun terasa seperti hantaman godam di ulu hatinya.
📲 Jake: Datang ya sama Arlo, biar ada yang jagain lo.
Takara tertegun. Dua lembar tiket fisik VVIP itu sudah tergeletak di meja lobi apartemennya sore tadi, dikirim melalui kurir resmi agensi. Tidak ada hiasan bunga, tidak ada kata-kata manis. Hanya tiket dan pesan yang terasa sangat... dingin. Atau mungkin, Jake sedang mencoba menjadi dewasa dengan cara yang menyakitkan.
"Datang sama Arlo?" gumam Takara lirih. Ia merasa ada nada kepasrahan yang luar biasa dari kalimat Jake. Seolah-olah Jake sedang menyerahkan tugas menjaga Takara kepada pria lain karena ia sadar dirinya tidak bisa diandalkan.
Malam itu, Takara tidak bisa fokus mengerjakan detail interior studio. Ia terus menatap dua tiket di atas mejanya. Arlo, yang kebetulan sedang lewat di depan meja Takara, melihat tiket tersebut.
"Oh, itu tiket konser ENHYPEN besok?" tanya Arlo dengan nada netral, meski matanya berkilat penuh rasa ingin tahu. "Jake yang kasih?"
Takara mengangguk pelan. "Dia bilang... aku harus datang sama kamu. Katanya, biar ada yang jagain aku."
Arlo terdiam sejenak. Ia bisa merasakan ada pertempuran batin di balik kalimat Jake. "Dia beneran bilang gitu? Wow. Itu... sangat tidak terduga untuk orang se-posesif dia." Arlo menyandarkan tubuhnya di pinggiran meja. "Jadi, kamu mau aku nemenin kamu?"
"Aku nggak tahu, Arlo. Kalau aku datang sama kamu, apa Jake nggak bakal makin sakit hati liat kita duduk berdua di barisan depan?" tanya Takara cemas.
"Atau mungkin," sela Arlo lembut, "dia cuma pengen liat kamu bahagia dan aman, meskipun bukan dia yang di sampingmu malam itu. Dia idol, Takara. Dia bakal ada di panggung, ditonton ribuan orang. Dia nggak bisa turun buat mastiin kamu nggak kegencet kerumunan atau pulang kemalaman."
Di saat yang sama, di dalam stadion yang sedang melakukan final soundcheck, Jake berdiri di tengah panggung yang luas. Ia menatap ke arah kursi VVIP yang masih kosong. Ia membayangkan Takara duduk di sana besok, tertawa bersama Arlo, menikmati musiknya sebagai penonton biasa.
Hatinya perih, tapi ada rasa lega yang aneh.
"Kalau lo sama Arlo, gue nggak perlu cemas mikirin lo pulang naik apa. Gue nggak perlu takut lo sendirian di tengah fans yang brutal. Gue bisa fokus jadi 'Jake' yang mereka mau, sementara lo bisa jadi 'Takara' yang bahagia," batin Jake sambil menggenggam mikrofonnya kuat-kuat.