Xing Shenyuan, pangeran kesembilan Dinasti Bintang Agung, dikhianati oleh saudaranya sendiri. Tulang Surgawi miliknya dicabut, basis kultivasinya dihancurkan, dan dia dibuang ke Makam Leluhur yang terlarang untuk menjadi pelayan nisan seumur hidup. Di tengah keputusasaan, sebuah suara kuno bergema di jiwanya. Dengan sistem "Masuk Log" (Sign-In), setiap inci tanah pemakaman menjadi gudang harta karun ilahi.
"Masuk Log di Makam Kaisar Pertama, hadiah: Tubuh Kekacauan Primordial!"
"Masuk Log di Gundukan Pedang Dewa, hadiah: Niat Pedang Penghancur Cakrawala!"
Sepuluh ribu tahun berlalu dalam sekejap mata. Dunia luar telah berganti zaman, kekaisaran runtuh, dan dewa-dewa baru bermunculan , ketika musuh dari langit mencoba mengusik ketenangan makam leluhur nya, xing shenyuan bangkit dari debu hanya satu jentikan jari untuk meratakan seluruh galaksi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3 racun surgawi dan kuali penciptaan
Malam di Makam Bintang Agung memiliki pekat yang berbeda dibandingkan dunia luar. Di sini, kegelapan bukan sekadar ketiadaan cahaya, melainkan manifestasi dari dendam ribuan jiwa yang tertahan. Bagi kultivator biasa, bermalam di sini tanpa perlindungan formasi mantra sama saja dengan bunuh diri; Qi kematian akan merayap masuk ke dalam meridian, membekukan aliran darah, dan meledakkan jantung.
Xing Shenyuan duduk bersila di atas batu nisan tak bernama. Matanya terpejam, napasnya teratur. Di sekeliling tubuhnya, kabut hitam berputar seperti pusaran air kecil yang tersedot masuk ke dalam pori-porinya.
Bagi dunia kultivasi di Benua Awan Azure, jalur bela diri dibagi menjadi tujuh tingkatan utama sebelum seseorang bisa menyentuh ambang batas kedewaan.
Pertama adalah Ranah Pemurnian Qi (Qi Refining), fase awal di mana seorang manusia mulai menyerap energi langit dan bumi untuk membersihkan kotoran tubuh.
Selanjutnya, Ranah Pembentukan Pondasi (Foundation Establishment), saat energi cair memadat menjadi pilar penyangga kehidupan.
Di atasnya, Ranah Inti Emas (Golden Core), tingkatan di mana seorang kultivator bisa terbang tanpa pedang dan memiliki umur hingga 500 tahun.
Kemudian Ranah Jiwa Baru Lahir (Nascent Soul), tahap di mana jiwa bisa keluar dari tubuh dan memanipulasi elemen alam.
Lalu Ranah Transformasi Roh (Spirit Transformation), Ranah Penyatuan Kekosongan (Void Amalgamation), dan puncaknya di dunia fana, Ranah Kesengsaraan (Tribulation).
Xing Shenyuan, mantan jenius yang tulangnya dicabut, seharusnya bahkan tidak bisa menyentuh tingkat pertama Pemurnian Qi seumur hidupnya.
Sebaliknya, saat ia membuka mata, seberkas cahaya keemasan memancar, menembus kegelapan malam.
"Puncak Ranah Pembentukan Pondasi," bisiknya pelan. "Hanya butuh dua hari."
Kecepatan ini mengerikan. Jenius terbaik di sekte besar membutuhkan waktu sepuluh tahun untuk mencapai tahap ini dari nol. Shenyuan hanya perlu bernapas. Tubuh Kekacauan Primordial tidak mengenal hambatan kultivasi; tubuh itu adalah wadah tanpa dasar yang menelan segala jenis energi.
Ia bangkit berdiri. Jubah kasarnya berkibar pelan. Tujuannya malam ini bukan untuk berkultivasi diam, melainkan "panen raya".
Langkahnya seringan kapas saat ia melesat menuju sektor barat kompleks pemakaman. Di sana, tersembunyi di balik dinding kabut ungu yang tebal, terletak Taman Obat Terlarang.
Taman Obat Terlarang adalah warisan dari Selir Racun, seorang ahli alkimia gila dari era Kaisar Ketiga yang terobsesi menciptakan "Pil Keabadian" dari tanaman paling mematikan di dunia. Setelah kematiannya, taman ini disegel karena gas beracun yang dihasilkannya mampu melelehkan Inti Emas seorang kultivator dalam hitungan detik.
Saat Shenyuan tiba di gerbang taman yang sudah lapuk, aroma manis yang memualkan langsung menyerbu indra penciumannya.
Tanaman merambat berduri dengan warna merah darah melilit pilar-pilar gerbang. Tanah di sekitarnya berwarna hitam legam, tidak ada rumput liar yang berani tumbuh. Tulang belulang hewan dan beberapa pencuri makam yang bodoh berserakan di sekitar pintu masuk, menjadi peringatan bisu bagi siapa pun yang bernyali.
Shenyuan tidak berhenti. Ia melangkah masuk menembus kabut ungu itu.
Ssshhhh...
Suara desis terdengar saat kabut beracun itu menyentuh kulitnya. Normalnya, kulit manusia akan melepuh dan dagingnya akan membusuk seketika. Anehnya, kulit Shenyuan justru menyerap kabut itu. Sensasi hangat menjalar di meridiannya.
"Racun Ular Tujuh Langkah, Bunga Bangkai Seribu Tahun... rasanya lumayan," gumam Shenyuan santai, seolah sedang mencicipi teh sore.
Semakin dalam ia masuk, semakin pekat racunnya. Pemandangan di dalam taman itu indah sekaligus mengerikan. Bunga-bunga raksasa dengan kelopak bergigi tajam bergoyang pelan, memancarkan cahaya fosfor yang redup. Jamur-jamur seukuran payung meneteskan cairan hijau yang mendesis saat menyentuh tanah.
Tiba-tiba, tanah di bawah kakinya bergetar hebat.
Dari balik rimbunan pohon Kayu Besi Beracun, sepasang mata merah menyala muncul dalam kegelapan. Sosok raksasa meluncur keluar, menghancurkan bebatuan di jalurnya.
Itu adalah Ular Sanca Sisik Hitam (Black Scaled Python). Panjangnya mencapai tiga puluh meter, dengan sisik setebal perisai baja. Ular ini adalah binatang buas tingkat tinggi, setara dengan kultivator Ranah Inti Emas. Ia adalah penjaga setia taman ini, yang telah bermutasi karena memakan tanaman beracun selama ratusan tahun.
"Hiss!"
Ular itu menegakkan tubuhnya, menatap Shenyuan dengan tatapan merendahkan. Bagi sang ular, manusia kecil ini hanyalah camilan tengah malam yang bodoh. Ia membuka mulutnya lebar-lebar, bersiap menyemburkan kabut asam yang bisa melarutkan logam.
Shenyuan mendongak, menatap mata reptil raksasa itu. Ia tidak menghunus senjata, tidak pula memasang kuda-kuda.
Ia hanya melepaskan sedikit—sangat sedikit—dari Sutra Hati Kaisar Naga yang baru didapatkannya kemarin.
Boom!
Aura seekor Naga Sejati, penguasa segala binatang bersisik, meledak dari tubuh kecil Shenyuan. Bayangan samar seekor naga emas raksasa terbentuk di belakang punggungnya, menatap sang ular dengan keagungan yang menghancurkan jiwa.
Dalam hierarki binatang buas, Naga adalah dewa. Ular hanyalah cacing di hadapan naga.
Seketika itu juga, naluri purba Ular Sanca Sisik Hitam menjerit ketakutan. Niat membunuhnya lenyap tanpa sisa. Tubuh raksasanya gemetar hebat, sisik-sisiknya bergetar menimbulkan suara bergemerincing yang menyedihkan.
Tanpa perlu diserang, ular itu menjatuhkan dirinya ke tanah. Ia menundukkan kepalanya yang besar hingga menyentuh lumpur di depan kaki Shenyuan, mendesis pelan memohon pengampunan.
"Anjing penjaga yang baik," ujar Shenyuan sambil menepuk kepala ular itu. Sisik yang keras itu terasa dingin di telapak tangannya. "Jaga pintu. Jangan biarkan lalat masuk."
Ular itu mengangguk patuh, matanya memancarkan ketundukan mutlak.
Shenyuan melangkah melewati ular yang kini melingkar seperti kucing penurut itu, menuju ke pusat taman. Di sana, terdapat sebuah kolam kecil dengan air berwarna hitam pekat. Di tengah kolam, tumbuh sekuntum bunga teratai berwarna ungu gelap yang memancarkan energi spiritual yang sangat padat.
Teratai Sembilan Racun Netherworld.
Ini adalah bahan utama untuk membuat racun tingkat dewa, atau jika dimurnikan dengan benar, menjadi obat penyembuh jiwa yang luar biasa.
Saat Shenyuan mendekati kolam itu, suara sistem kembali bergema di benaknya.
[Ding! Lokasi terdeteksi: Mata Formasi Taman Obat Terlarang. Persyaratan terpenuhi. Apakah Anda ingin Masuk Log?]
"Masuk Log," perintah Shenyuan.
[Ding! Masuk Log berhasil. Hadiah Tingkat Dewa diperoleh: "Kuali Penciptaan Segala" (Artefak Abadi) dan "Kitab Alkimia Dewa Tanpa Batas" (Pengetahuan).]
Sebuah kuali kecil seukuran telapak tangan muncul di udara, berputar pelan sebelum jatuh ke tangan Shenyuan. Kuali itu terlihat kuno, terbuat dari perunggu hijau dengan ukiran burung feniks dan naga yang tampak hidup. Meski terlihat kecil, Shenyuan bisa merasakan ruang dimensi yang luas di dalamnya.
Bersamaan dengan itu, jutaan resep pil, teknik pemurnian, dan pengetahuan tentang segala jenis tanaman obat di alam semesta membanjiri otaknya. Kitab Alkimia Dewa Tanpa Batas tidak hanya mengajarkan cara membuat obat, tetapi cara memanipulasi esensi kehidupan itu sendiri.
"Sempurna," Shenyuan tersenyum puas. "Dengan kuali ini, aku bisa memurnikan seluruh tanaman di taman ini menjadi pil tanpa perlu memetiknya satu per satu."
Ia melemparkan kuali kecil itu ke udara. Kuali itu membesar seukuran rumah, melayang di atas taman obat. Mulut kuali terbalik, menciptakan gaya hisap yang lembut namun tak tertahankan.
Ribuan tanaman obat di taman itu bergetar. Esensi mereka, berupa butiran-butiran cahaya berwarna-warni, mulai terangkat dari kelopak dan daunnya, melayang masuk ke dalam kuali. Shenyuan tidak mencabut tanamannya hingga mati; ia hanya mengambil esensi murni yang telah mereka kumpulkan selama ratusan tahun, membiarkan akarnya tetap hidup untuk tumbuh kembali.
Di tengah proses pemurnian itu, telinga Shenyuan menangkap suara langkah kaki dari kejauhan.
Bukan satu orang. Tiga orang.
Mereka bergerak cepat dan senyap, menggunakan teknik peringanan tubuh tingkat tinggi. Mereka telah melewati gerbang depan. Ular Sanca Sisik Hitam yang menjaga pintu tidak menyerang mereka—bukan karena ular itu kalah, melainkan karena ketiga orang itu menaburkan bubuk khusus yang menyamarkan keberadaan mereka dari indra penciuman binatang buas.
"Pencuri?" Shenyuan mengerutkan kening. Proses pemurniannya sedang berada di tahap kritis. Ia tidak bisa bergerak dari posisinya saat ini.
Tiga sosok berjubah hitam mendarat di pinggir kolam, tepat di seberang Shenyuan.
Mereka mengenakan topeng wajah hantu. Dari aura Qi mereka yang keruh dan berbau amis, jelas mereka adalah kultivator aliran sesat. Pemimpinnya, seorang pria tua bungkuk dengan tongkat berkepala tengkorak, memancarkan aura Ranah Inti Emas Tahap Awal. Dua pengikutnya berada di Ranah Pembentukan Pondasi Tahap Akhir.
Pria tua itu, Tetua Mo dari Sekte Seribu Racun, terbelalak melihat pemandangan di depannya. Sebuah kuali raksasa melayang di udara, menyedot esensi taman obat yang telah mereka incar selama sepuluh tahun. Dan di bawah kuali itu, duduk seorang pemuda kurus dengan pakaian pelayan lusuh.
"Siapa kau?!" bentak Tetua Mo, suaranya serak seperti gesekan logam berkarat. "Berani sekali kau mencuri harta incaran Sekte Seribu Racun!"
Shenyuan bahkan tidak membuka matanya. Ia sedang fokus mengendalikan api spiritual di dalam kuali. "Mencuri? Ini adalah taman belakang rumahku. Kalianlah tikus yang masuk tanpa izin."
"Bocah sombong!" salah satu pengikut Tetua Mo maju. "Kau hanya sampah tanpa aura kultivasi yang jelas. Mati kau!"
Pengikut itu melemparkan tiga jarum perak yang dilapisi racun kelabang. Jarum-jarum itu melesat secepat kilat mengincar titik vital di leher dan jantung Shenyuan.
Ting! Ting! Ting!
Jarum-jarum itu berhenti tepat tiga inci di depan wajah Shenyuan, seolah menabrak dinding tak terlihat. Kemudian, tanpa peringatan, jarum-jarum itu berbalik arah dengan kecepatan dua kali lipat.
Jleb! Jleb! Jleb!
"Argh!"
Pengikut itu menjerit. Jarumnya sendiri menancap di matanya. Ia jatuh berguling-guling, tubuhnya mulai membiru dan meleleh karena racunnya sendiri.
Tetua Mo dan satu pengikut lainnya mundur selangkah dengan wajah pucat. Mereka tidak melihat Shenyuan menggerakkan jari sedikitpun.
"Kau... kau menyembunyikan kultivasimu!" tuduh Tetua Mo, keringat dingin mulai menetes di balik topengnya. "Siapa kau sebenarnya? Apakah kau salah satu Tetua penjaga makam yang menyamar?"
"Kalian terlalu berisik," ujar Shenyuan datar. "Kalian mengganggu konsentrasiku."
Ia akhirnya membuka mata. Pupil matanya tidak lagi hitam, melainkan berputar dengan pola yin-yang yang memusingkan.
Tetua Mo merasa bahaya yang sangat besar. Ia adalah kultivator Inti Emas, seseorang yang dihormati di dunia persilatan. Ia tidak bisa mundur begitu saja di hadapan bocah ingusan.
"Bunuh dia! Gunakan Formasi Kabut Mayat!" perintah Tetua Mo.
Ia menghentakkan tongkatnya. Tanah retak, dan asap hijau pekat menyembur keluar, membentuk jaring racun yang mengepung Shenyuan. Racun ini adalah kartu as Tetua Mo, mampu membunuh kultivator Inti Emas sekalipun dalam sepuluh napas.
Asap itu menelan tubuh Shenyuan sepenuhnya.
Tetua Mo tertawa licik. "Hahaha! Tidak peduli seberapa hebat teknikmu, tidak ada yang bisa bertahan dari Racun Mayat Sembilan Yin milikku! Tubuhnya akan menjadi genangan air sebentar la—"
Tawanya terhenti di tenggorokan.
Asap hijau itu tidak menyebar. Sebaliknya, asap itu menyusut. Menyusut dengan cepat ke satu titik—hidung Xing Shenyuan.
Shenyuan menarik napas dalam-dalam, menghirup seluruh racun mematikan itu sampai bersih tak bersisa. Ia kemudian menghembuskan napas puas, seolah baru saja menghisap cerutu berkualitas tinggi.
"Rasanya agak pahit," komentar Shenyuan, "Kualitas racunmu buruk. Terlalu banyak campuran tanah."
Tetua Mo gemetar hebat. Kakinya lemas. "Monster... kau monster..."
Ia berbalik hendak melarikan diri. Persetan dengan harta, nyawanya lebih berharga.
"Sudah datang jauh-jauh, kenapa buru-buru pulang?" suara Shenyuan terdengar tepat di telinga Tetua Mo.
Sebelum Tetua Mo sempat bereaksi, sebuah tangan dingin mencengkeram lehernya dari belakang. Cengkeraman itu kuat laksana catut besi. Qi pelindung tubuh Tetua Mo hancur berkeping-keping seketika.
Shenyuan mengangkat tubuh tua itu dengan satu tangan. "Seorang kultivator Inti Emas... tubuhmu adalah pupuk yang bagus untuk teratai di kolam ini."
"Ampun! Tuanku, ampun! Saya memiliki mata tapi tak bisa melihat Gunung Tai! Saya bersedia menjadi budak—"
Krak.
Shenyuan meremukkan leher Tetua Mo tanpa ekspresi. Tidak ada keraguan, tidak ada belas kasihan. Bagi musuh yang datang dengan niat membunuh, kematian adalah satu-satunya hadiah yang pantas.
Ia melemparkan mayat Tetua Mo dan pengikutnya ke dalam kolam Teratai Sembilan Racun Netherworld. Akar-akar teratai itu segera melilit mayat-mayat tersebut, menariknya ke dasar kolam untuk dijadikan nutrisi.
Di udara, Kuali Penciptaan Segala akhirnya berhenti berputar. Tutupnya terbuka, dan sembilan butir pil berwarna ungu melayang turun ke tangan Shenyuan.
Pil Pembersih Jiwa Sembilan Siklus.
Pil ini tidak hanya meningkatkan kultivasi, tetapi juga memperkuat jiwa hingga tahap di mana serangan mental musuh tidak akan berpengaruh. Di dunia luar, satu butir pil ini cukup untuk memicu perang antar negara. Shenyuan baru saja membuat sembilan butir seolah sedang memasak nasi goreng.
Ia menelan satu butir langsung di tempat.
Energi hangat meledak di dalam perutnya. Qi-nya melonjak lagi. Dinding penghalang antara Ranah Pembentukan Pondasi dan Ranah Inti Emas mulai retak.
"Belum waktunya," gumam Shenyuan, menekan paksa terobosannya. Ia ingin membangun pondasi yang lebih kokoh dari siapa pun dalam sejarah. Ia memadatkan energinya berkali-kali lipat, membuat kualitas Qi di tubuhnya sepuluh kali lebih padat daripada kultivator Inti Emas biasa.
Ia menyimpan delapan pil sisanya dan Kuali Penciptaan Segala ke dalam cincin penyimpanan yang ia ambil dari mayat Tetua Mo. Cincin itu penuh dengan batu roh dan bahan-bahan racun.
"Terima kasih atas donasinya, Tetua Mo," ucap Shenyuan pada kolam yang kini tenang kembali.
Shenyuan berjalan keluar dari Taman Obat Terlarang. Ular Sanca Sisik Hitam masih menunggu di gerbang dengan setia.
"Kerja bagus," kata Shenyuan sambil melemparkan sepotong kecil sisa energi pil ke arah ular itu.
Ular itu menelannya dengan rakus. Seketika, tubuhnya bersinar. Tanduk kecil mulai tumbuh di kepalanya. Ia memulai evolusi menjadi Naga Banjir (Flood Dragon). Binatang itu mendesis girang, bersumpah setia pada tuan barunya sampai mati.
Malam kembali sunyi. Xing Shenyuan kembali ke gubuknya di area makam, berbaring di dipan kerasnya seolah tidak terjadi apa-apa. Besok, dia akan kembali menjadi penjaga makam yang menyedihkan.
Akan tetapi, di dalam bayang-bayang, kekuatan yang mampu mengguncang langit sedang tumbuh dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Dan dunia kultivasi yang kejam ini belum siap menghadapi kedatangannya.