Mengisahkan seorang agen kocak tapi cool
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Di Persingkat Saja DPS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Departemen agen rahasia telah bubar
Pagi itu, suasana di ruangan komandan terasa sangat aneh.
Rasanya di sana sangat sunyi dan suram.
Wawan, Raisya dan Lukman yang kala itu sedang berdiri di hadapan komandan mereka hanya bisa diam dan saling menatap dengan penuh kebingungan.
Tatapan mereka seakan mengisyaratkan kalau mereka saling bertanya tentang apa yang terjadi pada komandan mereka.
Setelah beberapa saat, Wawan memberanikan diri untuk bertanya karena ia merasa tak nyaman saling diam di sana.
"Pak!... Ada masalah!?" Tanya Wawan.
Komandan tak langsung menjawab.
Ia diam sejenak sebelum akhirnya menghela nafas panjang.
"Haah....!!" Suara nafasnya itu terasa sangat lelah dan resah.
"Saya tahu harusnya kalian istirahat lebih lama karena kalian baru saja melakukan misi yang melelahkan, tapi...!"
"Situasi kita tidak membiarkan kita untuk istirahat lama-lama!"
"Besok kalian harus berangkat lagi untuk melakukan penangkapan!" Raisya langsung angkat tangan.
Ia bertanya... "Kali ini siapa yang akan kita tangkap!?"
"Ada lima orang yang akan kalian tangkap kali ini, namun. Mereka semua bukan kriminal biasa!" Komandan menyerahkan lima buah dokumen pada anak buahnya itu.
Lima dokumen itu berisikan data dan informasi yang mungkin akan membantu dalam proses penangkapan.
"Orang pertama yang akan kalian tangkap adalah orang ini. Jajang Si Penyelundup senjata api ilegal!" Komandan memperlihatkan foto orang bernama Jajang itu.
"Orang ini adalah orang berbahaya yang biasanya hanya fokus pada penyelundupan informasi!"
"Pengawal yang dia punya sangat banyak dan senjata api yang dia punya juga sangat banyak. Makanya kalian harus hati-hati!"
Wawan angkat tangan untuk mengajukan pertanyaan. "Darimana anda dapat semua informasi ini!?"
"Dari teman lama saya! yang ada di markas pusat!" Jawab komandan.
Lanjut Wawan bertanya. "Lantas. Kalau tahu kalau target punya banyak senjata dan orang kenapa tugas ini malah di serakah pada kita!?"
"Tugas selevel ini seharusnya di kerjakan oleh markas pusat karena mereka punya lebih banyak orang dan senjata daripada kita!" Tampak Lukman dan Raisya sependapat dengan Wawan.
Mendengar pertanyaan itu komandan sejenak terdiam.
Komandan tampak berat untuk mengatakan sesuatu di sini.
Tapi karena situasinya sudah sangat gawat maka ia tak punya pilihan lain selain mengungkapkan kebenaran yang sangat ingin ia sembunyikan.
"Itu karena...!"
"Markas pusat sudah tidak ada lagi!" Wawan, Lukman dan Raisya terlihat sangat terkejut hingga mata mereka terbuka lebar.
"Hah!?"
"Beberapa jam yang lalu markas pusat telah secara resmi di bubarkan karena kurangnya dana dan fasilitas!"
"Sekarang. Para agen negara ini hanya tinggal kita saja!"
"Dan karena itu. Markas pusat juga berpindah
ke tempat ini!" Semua orang tak sanggup menelan informasi yang begitu tiba-tiba itu.
"Ini konyol!!" Ucap Raisya secara tiba-tiba dengan nada yang tinggi.
"Bagaimana bisa markas pusat yang mengendalikan semua agen di negara ini malah di bubarkan!"
"Kalau itu terjadi lalu apa yang akan di lakukan para agen di luar sana!?" Untuk kesekian kalinya komandan menghela nafas.
"Kamu sepertinya tidak benar-benar mengerti dengan apa yang aku katakan!"
"Ketika aku bilang para agen negara ini hanya tinggal kita saja maka itu benar-benar hanya ada kita. Tidak ada yang lain lagi!"
"Kalian sudah tahu bukan. Kalau markas-markas yang tersebar di seluruh negara telah bubar satu demi satu hingga kalian harus melakukan penangkapan seorang diri ke beberapa sektor!?"
Semuanya terdiam seketika.
Mereka tahu kalau soal itu, mereka tahu kalau banyak markas yang telah bubar tapi...
Tidak ada yang berekspektasi kalau semuanya separah ini hingga menyisakan mereka saja.
"Tapi... Aku tidak di beritahu soal ini ketika aku di pindah tugaskan ke sini dari markas pusat!?" Tanya Raisya.
Beda dengan Lukman dan Wawan yang bertugas di markas ini. Raisya adalah agen pindahan yang tidak akan tinggal lama.
Pada akhirnya ia akan kembali ke markas pusat setelah tugasnya di markas itu habis.
Tapi kalau markas pusatnya saja sudah tidak ada, lalu kemana Raisya harus pergi?...
"Saya paham dengan apa yang kalian rasakan sekarang. Tapi inilah kenyataan!"
"Sekarang kita hanya seorang diri tanpa bantuan dari pusat!"
"Mau tidak mau kita harus hadapi ancaman apapun dengan kemampuan kita saja!... " Tiba-tiba saja si wakil komandan datang.
"Pak! Fasilitas yang masih berfungsi dengan baik di kirim ke sini dari markas pusat!"
"Dan ada juga tambahan dua belas personil yang tidak mau pensiun dan masih mau berjuang untuk negara ini yang akan bertugas di sini!" Ucapnya.
Komandan langsung bangun dari tempat duduknya.
"Kalian ikuti aku!" Ucap komandan pada tiga anak buahnya itu.
Mereka pun keluar dan menemui dua belas personil tambahan yang baru datang itu.
Setibanya di luar, di sana terlihat ke dua belas orang itu sedang berdiri tegak layaknya seorang tentara.
Ekspresi mereka semua agak suram karena masih tidak terima kalau markas mereka telah di bubarkan.
Semua orang yang masih bertahan ini adalah orang-orang yang benar-benar memiliki semangat juang yang tinggi untuk negara.
Makanya mereka lebih memilih turun pangkat atau di pindahkan ke markas kecil asalkan mereka masih bisa berjuang demi negara mereka.
Komandan yang berdiri di hadapan dua belas orang itu pun berkata. "Saya tahu apa yang kalian rasakan pada saat ini!"
"Jujur... Saya juga sama kecewanya dengan keputusan ini!"
"Tapi, setidaknya kita semua yang hadir di sini masih memiliki kesempatan untuk berjuang!"
"Saya tahu kalau markas ini kecil dan bobrok, tapi. Saya yakin kalau itu tidak akan mempengaruhi kalian semua!"
"Saya yakin. Setiap orang yang berdiri di sini adalah orang-orang yang tulus ingin berjuang untuk negara kita!"
"Jika tidak. Maka tidak mungkin kalian masih akan berdiri di sini!"
"Saya, dan juga para agen yang ada di markas saya sangat menyambut kalian semua!" Komandan kemudian memberikan hormat pada para anggota baru itu.
Para anggota baru itu langsung mengangkat tangannya dan membalas hormat itu.
Setelah selesai dengan penyambutan itu, semua orang kemudian bergotong royong untuk mengeluarkan barang-barang dari markas pusat.
Ada cukup banyak barang hingga butuh tiga mobil untuk mengangkut semuanya.
Tetangga yang melihat ada banyak sekali barang yang di angkut ke toko fotokopi tentu saja penasaran.
Dari kejauhan tetangga melihat sambil berbisik-bisik.
"Kira-kira. Kenapa ada banyak sekali barang yang di angkut ke sana, ya!?" Tanya seseorang pada temannya.
"Mana ku tahu?!" Jawab si teman.
Orang yang penasaran pun kian bertambah banyak dan beberapa di antaranya menghampiri untuk sekedar melihat dan ikut membantu kalau bisa.
Tetangga yang ada di sekitar toko fotokopi itu sangat berbeda dengan tetangga yang ada di komplek perumahan Wawan.
Orang-orang yang ada di sini baik hati dan tidak akan ragu untuk saling membantu kalau memang di butuhkan.