NovelToon NovelToon
Idol Di Balik Pintu Kosan

Idol Di Balik Pintu Kosan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Amnesia / Idol / Komedi
Popularitas:431
Nilai: 5
Nama Author: PutriBia

Javi, center dari grup LUMINOUS, jatuh dari balkon kosan Aruna saat mencoba kabur dari kejaran fans. Bukannya kabur lagi, Javi malah bangun dengan ingatan yang kosong melompong kecuali satu hal yaitu dia merasa dirinya adalah orang penting yang harus dilayani.
Aruna yang panik dan tidak mau urusan dengan polisi, akhirnya berbohong. Ia mengatakan bahwa Javi adalah sepupunya dari desa yang sedang menumpang hidup untuk jadi asisten pribadinya. Amnesia bagi Javi mungkin membingungkan, tapi bagi Aruna, ini adalah kesempatan emas punya asisten gratis untuk mengerjakan tugas kuliahnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Callingan Dadakan

Serbuan Kepo Mbak Widya Tahap Dua

Tiba-tiba, pintu gerbang terbuka dengan bunyi KREEEET yang dramatis. Mbak Widya muncul membawa piring berisi bakwan hangat.

"LHO! INI MAS TUKANG PLAFON YANG KEMAREN KAN?!" teriak Mbak Widya.

Javier langsung menarik topinya ke bawah.

"Maaf, Bu. Saya bukan tukang plafon. Saya adalah... hantu pohon kamboja yang sedang mencari alamat."

"Hantu pohon kamboja kok pake sepatu sneakers keren banget?!"

Mbak Widya mendekat, matanya menyipit.

"Mas... Mas ini Mas Javier yang di TV itu kan? Yang kemaren bilang es mambo melon?"

Javier panik. Dia melakukan gerakan silat asal-asalan sebagai bentuk pertahanan diri.

"SAYA TIDAK TAHU APA ITU ES MAMBO! SAYA HANYA TAHU FOTOSINTESIS!"

Aruna segera menarik lengan Javier.

"Mbak, ini temen kampus Aruna! Dia lagi riset buat tugas akhir soal... soal pertumbuhan jamur di balik pohon! Udah ya Mbak, dia mau pulang!"

Aruna mendorong Javier menuju motor ojek yang sudah menunggu di ujung gang.

"Pulang, Jang! Jangan ke sini lagi sampe tugas aku beres! Aku nggak mau dapet nilai E gara-gara sibuk ngurusin telepon kaleng!"

Javier naik ke motor ojek, masih memegang ujung benang kasurnya.

"Aruna! Jangan lupa tarik benangnya kalau Anda butuh bantuan sinkronisasi bibir!"

"PULANG GAK?!" teriak Aruna sambil mengangkat penggaris besarnya.

Malam harinya, Aruna duduk di meja gambarnya. Di sudut meja, telepon kaleng pemberian Javi tergeletak kaku. Aruna menatapnya sambil sesekali menguap. Suasana kosan sepi, hanya terdengar suara Mbak Ida yang lagi-lagi dengerin lagu galau.

Aruna teringat ucapan Javi soal frekuensi batin. Dia tahu itu bodoh, dia mahasiswi DKV yang seharusnya percaya pada logika visual dan teknologi digital. Tapi entah kenapa, tangannya terulur menyentuh benang kasur itu.

Dia menarik benang itu pelan.

Tik.

Hanya suara tarikan benang di gelas plastik. Aruna tertawa kecil pada dirinya sendiri.

"Bego banget aku. Mana mungkin sampe ke Men..."

Tiba-tiba, HP-nya di atas meja menyala. Sebuah pesan masuk.

0812-XXXX-XXXX: Sinyal diterima. Getarannya terasa sampai ke ulu hati. Apakah itu kode untuk sinkronisasi tahap lanjut?

Aruna tertegun. Dia melihat ke arah jendela. Apakah Javi benar-benar merasakannya, atau dia hanya kebetulan mengirim pesan di waktu yang sama?

Aruna membalas pesan itu dengan satu kalimat singkat,

Tidur, Jang. Jangan ganggu sinyal kuliah aku.

Dan di apartemen mewahnya, Javier tersenyum lebar sambil memeluk gelas plastik pasangannya, mengabaikan Manajer Han yang sedang marah-marah karena menemukan gulungan benang kasur sepanjang 50 meter di bawah tempat tidur sang idola.

Kehidupan Aruna sedang berada di titik didih. Di tangan kanannya ada tumpukan revisi maket gedung yang lemnya belum kering, di tangan kirinya ada botol kopi instan ketiga untuk hari ini, dan di dalam kepalanya ada suara Ice Prince gadungan yang terus-menerus memanggilnya Majikan.

Namun, di tengah badai tugas yang belum usai, sebuah telepon dari Pusat Kendali Utama alias Ibu kandungnya mengubah segalanya.

"Aruna! Pulang sekarang! Gawat darurat keluarga! Pokoknya penting, menyangkut masa depan!" suara Ibunya di telepon terdengar sangat dramatis.

"Bu, gawat kenapa? Kompor meledak? Bapak kena asam urat lagi?"

Aruna panik sambil menjepit HP di antara telinga dan bahunya.

"Nggak usah banyak tanya! Pokoknya pulang hari ini juga. Ibu sudah masak rendang sama opor kesukaanmu!"

Aruna menghela napas pasrah. Kalau sudah bawa-bawa rendang dan darurat keluarga, Aruna tidak punya pilihan. Pikirannya sudah melayang ke arah yang serius, mungkin Bapaknya mau bagi-bagi warisan tanah, atau mungkin kucing kesayangan mereka hilang.

Sebelum pulang, Aruna harus memberitahu Javier. Jika tidak, pria itu mungkin akan mengerahkan satelit agensi hanya untuk mencari koordinat Aruna di peta buta. Aruna menarik benang pada String-Phone miliknya.

Tik. Tik. Tik.

Hanya dalam hitungan detik, HPnya bergetar gila-gilaan.

Javier Ujang:

Majikan! Sinyal diterima! Apakah ini panggilan darurat untuk sesi sinkronisasi bibir tahap lanjut?

Aruna:

Ujaaaaaang mesum juga ya pikiran kamu sebagai idol!!! aku harus pulang kampung, darurat keluarga. Jangan cari aku, jangan nyamar jadi kondektur bus, dan jangan kirim benang kasur tambahan ke alamat rumahku!

Javier Ujang:

DARURAT?! Aruna, sistem saya mendeteksi getaran kecemasan dalam ketikan Anda. Apakah Anda akan diasingkan ke hutan? Apakah pusat kendali Anda sedang dalam ancaman? Saya tidak bisa membiarkan Anda menghadapi badai sendirian tanpa bantuan asisten kloningan premium!

Aruna:

Cuma pulang kampung, Javi! Udah ya, aku mau naik bus. Bye!

Setelah pesan terakhir Aruna muncul di layar ponselnya, suasana di penthouse mewah itu mendadak berubah dari tenang menjadi seperti zona radiasi tingkat tinggi. Javier membeku di tempat, menatap layar ponsel yang kini gelap seolah-olah baru saja menerima kabar bahwa frekuensi napasnya telah diputus secara sepihak oleh satelit pusat.

"Pulang kampung? Darurat keluarga? Tanpa membawa asisten kloningan premium?!" gumam Javier, suaranya bergetar dengan nada bariton yang sangat dramatis.

"Sistem saya mendeteksi adanya upaya pemutusan sinyal cinta secara paksa! Ini adalah konspirasi pemisahan Majikan dan unit pendukungnya!"

Satya, yang sedang asyik maskeran sambil menonton video kucing, melirik malas tanpa menggerakkan otot wajahnya agar masker tidak retak.

"Apa lagi sih, Javi? Jangan bilang kacamata renang kamu kemasukan semut lagi."

Javier berdiri dengan gerakan robotik yang kaku, lalu menggebrak meja makan marmer mereka hingga gelas jus kale Rian bergetar.

"Satya! Rian! Aruna sedang dalam kondisi Darurat Keluarga! Menurut perhitungan sistem saya, istilah itu biasanya berarti ada kebocoran atap masif, serangan kecoa mutan, atau yang paling parah... Majikan dipaksa makan makanan yang tidak ada es mambo melonnya!"

Rian yang baru keluar dari kamar mandi dengan handuk di kepala langsung berhenti.

"Hyung, darurat keluarga itu hal biasa. Mungkin cuma kangen masakan Ibunya. Kita ada jadwal latihan koreografi jam satu siang, jangan mulai deh!"

"Tidak ada koreografi hari ini!" seru Javier sambil mulai berlari keliling ruang tamu, membongkar lemari penyimpanan alat-alat syuting.

"Di mana caping petani yang saya pakai untuk properti video klip kemarin?! Di mana sarung kotak-kotak yang saya beli dari pedagang asongan waktu itu?! Saya harus segera menuju koordinat Aruna sebelum memori otot saya lupa cara melindungi beliau!"

Manajer Han masuk ke ruangan dengan wajah yang tampak lelah, membawa setumpuk kontrak iklan.

"Javier! Kenapa kamu malah bongkar-bongkar gudang?! Kita harus berangkat ke studio!"

Javier berhenti, menatap Manajer Han dengan tatapan Ice Prince yang sudah bercampur dengan kegilaan Ujang yang sedang error.

"Manajer Han, apakah Anda ingin melihat idola nomor satu Anda ini layu seperti kangkung yang lupa disiram karena kehilangan pusat kendalinya? Aruna sedang butuh bantuan! Jika saya tidak ke sana sekarang, saya akan melakukan aksi mogok menyanyi dan hanya akan mengeluarkan suara beep-boop seperti robot rusak di setiap konser!"

Manajer Han terkesiap, membayangkan bencana finansial agensi.

"Oke! Oke! Jangan berani-berani beep-boop di depan fans! Kita ke sana, tapi kamu harus nyamar total! Jangan sampai ada wartawan yang tahu Javier LUMINOUS lagi operasi intelijen di kampung orang!"

"Rian! Pinjamkan saya tas ranselmu yang paling kumal!" perintah Javier dengan penuh wibawa.

"Saya akan melakukan prosedur infiltrasi pedesaan tingkat tinggi. Target, Menemukan Majikan dan memastikan Darurat Keluarga itu tidak melibatkan hilangnya daster pink kamboja kesayangan beliau!"

Javier segera mengenakan caping petani di atas kepala peraknya, melilitkan sarung di bahu dengan gaya yang lebih mirip model fashion week yang tersesat di sawah, dan tentu saja, memasang kacamata renang birunya tepat di atas caping sebagai sensor navigasi rindu.

1
Indhira Sinta
bagus
falea sezi
/Curse//Curse/ada aj
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!