Di bawah langit London yang selalu kelabu, Juliatte Fontaine hidup dalam jadwal yang diatur ketat. Baginya, keamanan adalah segalanya.
Maka, ketika gerombolan motor The Ravens menderu di depan gerbang sekolah dengan asap knalpot dan aroma pemberontakan, Juliatte hanya merasakan satu hal, kejijikan.
Puncaknya adalah William Wilson. Cowok itu adalah personifikasi dari semua yang Juliatte benci. William adalah alasan adiknya hampir celaka dalam sebuah tawuran antar-geng motor di Camden. Bagi Juliatte, William adalah kriminal, bagi William, Juliatte hanyalah gadis kaca yang akan pecah jika menyentuh realita.
Namun, sebuah insiden memaksa mereka dalam satu situasi pelarian. Juliatte melihat sisi London yang tak pernah ada di buku sejarahnya, dan William menyadari bahwa gadis kaca ini punya api yang lebih besar dari percikan mesin motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kasmaran
Suasana di markas The Ravens malam itu jauh lebih santai. Setelah ketegangan di sekolah dan insiden video call yang membuat telinga William merah, keempat inti geng itu berkumpul di sekitar meja biliar yang dialihfungsikan menjadi meja makan piza darurat.
Jax sedang sibuk membersihkan keyboard mekaniknya, sementara Leo baru saja selesai menceritakan bagaimana ia hampir menabrak tiang listrik karena terpesona melihat spanduk diskon Beli 1 Gratis 1 Sosis Jumbo.
"Tapi serius, Will," Ethan memulai, sambil melempar sepotong pepperoni ke mulutnya. "Kau benar-benar harus melihat wajahmu di layar ponsel Jax semalam. Kau terlihat seperti serigala kelaparan yang baru saja melihat domba pakai baju tidur satin."
"Diam kau, Than," gerutu William, meski ia tak bisa menahan senyum tipisnya.
"Tidak, tidak! Yang paling lucu itu Jax," sela Leo sambil tertawa terbahak-bahak.
"Kalian tahu tidak? Semalam setelah panggilan itu dimatikan, Jax duduk diam selama sepuluh menit menatap layar kosong. Aku tanya, Kau sedang meretas apa, Jax? Dan kalian tahu dia jawab apa?"
William dan Ethan menoleh serempak. Jax mulai terlihat tidak nyaman dan mencoba memasang headphone-nya.
"Dia bilang," Leo melanjutkan dengan nada dramatis, "'Leo, aku baru saja menemukan b*g di sistem hatiku. Sepertinya Sonia baru saja memasukkan ma*ware berbentuk lipstik stroberi ke dalam folder privasiku'."
Tawa William dan Ethan meledak seketika. Markas itu bergetar oleh suara tawa mereka.
"Mal*are berbentuk lipstik?! Astaga, Jax! Kau benar-benar butuh update otak!" seru Ethan sambil memegangi perutnya yang sakit.
"Itu istilah teknis!" bela Jax dengan wajah yang sekarang lebih merah dari saus piza di depan mereka. "Gadis itu... dia tidak logis! Dia bilang dia ingin menghitung berapa banyak sel otakku yang terpakai hanya untuk memikirkannya. Bagaimana cara menjawab pertanyaan seperti itu?!"
William menepuk bahu Jax dengan keras, masih sambil tertawa. "Kau tidak perlu menjawabnya dengan kode, Jax. Kau cukup diam dan biarkan dia memborgol tanganmu. Itu satu-satunya cara sistemmu tidak retak."
"Bicara soal retak," Ethan menimpali dengan nada jahil, "bagaimana dengan Porselen kita, Will? Tadi di koridor dia terlihat seperti ingin membunuhmu dengan tatapan matanya, tapi aku berani taruhan di dalam tasnya dia pasti sedang meremas-remas ujung bukunya karena gugup."
William terdiam sejenak, membayangkan wajah angkuh Juliatte yang selalu gagal menyembunyikan getaran di tangannya.
"Dia hanya sedang melakukan reboot," ujar William pelan, meniru bahasa Jax.
"Dia mencoba kembali ke pengaturan pabrik sebagai Gadis Sempurna Fontaine. Tapi dia lupa satu hal..."
"Apa itu?" tanya Leo penasaran.
"Aku sudah mencuri kuncinya," jawab William dengan seringai penuh kemenangan yang membuat ketiga temannya kembali bersorak riuh.
Malam itu, di tengah kepulan asap rokok dan tawa yang tak kunjung berhenti, keempat pria itu menyadari satu hal, hidup mereka yang liar kini jauh lebih berwarna, bukan karena bensin atau tawuran, tapi karena dua gadis abstrak yang berhasil merusak sistem dingin mereka masing-masing.
.
.
Pagi itu, lapangan olahraga Jude’s High School yang luas menjadi panggung bagi drama yang tak terduga. Sinar matahari menyinari rumput hijau yang masih basah oleh embun, namun suhu di sana mendadak memanas bukan karena olahraga, melainkan karena keberanian seorang siswi kelas sepuluh.
William sedang melakukan pemanasan di pinggir lapangan. Ia hanya mengenakan kaos putih polos yang melekat di tubuhnya karena keringat, memperlihatkan otot bahunya yang kaku. Di sampingnya, Jax sedang berpura-pura melakukan stretching padahal ia hanya sedang mencoba mencari sinyal Wi-Fi yang lebih kuat.
Tiba-tiba, seorang siswi kelas sepuluh dengan wajah merah padam melangkah maju dari kerumunan. Ia memegang sebuah kotak kado berwarna biru muda dengan pita perak yang rapi.
"Kak... Kak William!" serunya, suaranya bergetar namun cukup keras untuk menghentikan aktivitas semua orang, termasuk Juliatte yang sedang duduk di tribun sambil pura-pura membaca buku sosiologi.
William berhenti melakukan push-up, ia bangkit dan menatap gadis itu dengan alis bertaut. "Ya?"
"Aku... aku sudah menyukaimu sejak hari pertama aku masuk sekolah! Tolong terima ini dan jadilah pacarku!" Gadis itu membungkuk sembilan puluh derajat, menyodorkan kado itu ke depan dada William.
Hening sejenak. Namun, keheningan itu tidak bertahan lama karena Trio The Ravens di belakang William mulai beraksi.
Leo adalah yang pertama bereaksi. Ia meletakkan bola basketnya dan berjalan mendekat dengan wajah yang diserius-seriuskan. "Wah, Will! Lihat itu! Biru muda! Itu kode warna untuk cinta yang tulus tapi kemungkinan besar akan ditolak secara tragis!"
Ethan menyusul sambil menyugar rambutnya yang basah. "Tunggu dulu, Dek! Sebelum kau memberikan kado itu pada Kapten kita, apakah kau sudah punya asuransi jantung? Karena pria di depanmu ini tidak punya hati, dia hanya punya tangki bensin di dalam dadanya."
"Betul!" Jax menimpali tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya. "peluangmu diterima adalah 0,001%. Namun, secara estetika, kado itu akan terlihat bagus jika diletakkan di tempat sampah dekat parkiran motor."
Satu lapangan pecah oleh tawa. Siswi itu semakin menunduk, hampir menangis.
William menghela napas, ia melirik ke arah tribun, tepat ke arah Juliatte. Ia melihat Juliatte sedang menatap pemandangan itu dengan dagu yang terangkat, matanya dingin, namun tangannya meremas pinggiran buku sosiologinya begitu kuat hingga kertasnya agak lecek.
"Simpan kadomu, Dek," ujar William pelan, suaranya tegas tapi tidak kasar. "Aku tidak sedang mencari pacar. Apalagi yang masih bau krayon."
"CIEEEE! William menolak demi menjaga perasaan Tuan Putri yang sedang mengintip di tribun!" teriak Ethan sambil menunjuk-nunjuk ke arah Juliatte dengan gerakan yang sangat tidak halus.
Sonia, yang sedang duduk di samping Juliatte, langsung berdiri dan berteriak, "Hei, Anak Kecil! Kado biru itu tidak cocok dengan aura William! William itu seleranya yang mahal, yang kaku, dan yang suka pakai masker lumpur hijau kalau malam! Kau tidak punya kualifikasi itu!"
Juliatte menyikut perut Sonia dengan keras. "Sonia! Diamlah!"
"Kenapa, Jules? Kau cemburu ya melihat ada yang berani menyatakan cinta di depan umum? Kau sendiri kapan? Mau menunggu William berlumuran oli dulu baru kau mau mengaku?" goda Sonia sambil tertawa.
Juliatte berdiri, menutup bukunya dengan dentuman keras. "Aku tidak punya waktu untuk urusan remeh seperti ini."
Ia berjalan pergi meninggalkan lapangan, namun saat melewati William, ia sengaja melangkah sangat dekat. "Kado yang bagus, Wilson. Mungkin itu bisa membantumu belajar cara menjadi manusia yang punya sopan santun sedikit saja," bisik Juliatte sinis sebelum melenggang pergi.
William hanya tertawa rendah melihat punggung Juliatte. Ia menoleh pada teman-temannya yang masih menertawakan siswi kelas sepuluh yang lari terbirit-birit itu.
"Kalian benar-benar berisik," gumam William, namun ia kembali melakukan larinya dengan semangat yang berbeda. Ia tahu, meskipun Juliatte bersikap dingin, api cemburu di mata gadis itu tadi jauh lebih panas daripada sinar matahari pagi ini.
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear😍