"PERINGATAN : Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada." Terimakasih 🙏
Ameera Nafeeza memiliki segalanya yang di ditawarkan dunia. Namun di balik pakaian rancangan desainer dan pesta kaum sosialita, jiwanya terasa hampa.
Hidupnya berubah drastis saat ia menyelamatkan Syifa Azzahra, seorang wanita Muslimah yang taat, dari seorang pencopet jalanan.
Bukannya dompet, Ameera justru memegang sebuah Al-Qur'an bersampul beludru, sebuah pemberian dari Syifa yang menjadi awal dari kebangkitan spiritualnya. Demi mencari ketenangan yang belum pernah ia rasakan, Ameera meninggalkan kehidupan kelas atasnya untuk tinggal di sebuah pesantren yang tenang.
Di sana, ia bertemu dengan Liam Al-Gazhi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#34
Pagi itu, langit di atas Fakultas Teknik tampak kelabu, seolah meramalkan kegelisahan yang akan melanda hati sang Silent King Aydan sedang berada di tengah praktikum metalurgi yang krusial ketika Dion tiba-tiba masuk ke laboratorium dengan nafas tersengal-sengal. Tanpa memedulikan asisten laboratorium yang sedang menjelaskan, Dion langsung menarik bahu Aydan.
"Dan... Dayana, Dan! Dayana pingsan di kelasnya tadi pagi. Katanya wajahnya pucat pasi sebelum ambruk. Sekarang dia dibawa ke UKS pusat!"
Dunia Aydan seolah runtuh dalam satu detik. Kalimat Dayana pingsan menghantam logikanya hingga hancur berkeping-keping. Tanpa sepatah kata pun, tanpa melepas jas lab yang masih melekat di tubuhnya, Aydan berlari keluar. Ia mengabaikan panggilan dosennya, mengabaikan tatapan heran teman-temannya. Ia berlari melintasi hutan kota, menembus jarak yang biasanya ia tempuh dengan Bus Kuning, namun kali ini kakinya bergerak lebih cepat dari mesin motor mana pun.
Pikirannya gelap. Bayangan Dayana yang rapuh dan tak berdaya memenuhi benaknya. Aydan yang selama ini dikenal sebagai pribadi yang paling disiplin menjaga jarak, paling kaku soal batasan, kini seolah kehilangan seluruh prinsipnya karena rasa takut kehilangan yang amat sangat.
Aydan tiba di gedung UKS pusat dengan nafas memburu dan keringat yang membasahi keningnya. Ia membanting pintu ruang perawatan dengan keras. Di sana, di atas salah satu ranjang putih yang disekat tirai, ia melihat Dayana terbaring lemah. Sarah dan teman-teman Psikologi lainnya berdiri di samping ranjang dengan wajah cemas.
Melihat kedatangan Aydan yang seperti orang gila, teman-teman Dayana secara otomatis memberikan ruang. Mereka melihat sisi Aydan yang belum pernah diperlihatkan kepada siapa pun, sisi seorang pria yang sedang berada di ambang kehancuran karena kekhawatiran.
Aydan langsung berlutut di samping ranjang Dayana. Tanpa sadar, ia menyambar tangan Dayana yang terasa dingin. Logika tentang bukan mahram dan jarak suci yang ia bangun bertahun-tahun seolah terbakar habis oleh api kecemasan.
Aydan menggenggam tangan Dayana erat-erat, lalu di depan mata Sarah dan teman-temannya yang melongo kaget, Aydan mendaratkan ciuman yang dalam di punggung tangan Dayana. Tidak berhenti di situ, dengan gerakan yang penuh proteksi, Aydan berdiri sedikit dan mengecup kening Dayana dengan sangat lembut namun lama. Kecupan yang menyalurkan seluruh rasa takut, doa, dan kasih sayang yang selama ini ia kunci rapat.
"Ay... kamu kenapa? Kenapa bisa begini?" suara Aydan bergetar hebat. Matanya yang tajam kini memerah, menatap Dayana dengan pandangan yang seolah sedang memohon agar gadis itu baik-baik saja.
Dayana, yang baru saja siuman beberapa menit lalu, terpaku dengan mata membelalak. Ia benar-benar syok. Bukan karena pingsannya, tapi karena tindakan impulsif Aydan. Pria yang biasanya bahkan tidak mau menatap matanya terlalu lama, kini baru saja mengecup keningnya di depan umum.
Dayana merasakan hangatnya bibir Aydan di pucuk kepalanya masih tertinggal, memberikan sensasi nyaman sekaligus mendebarkan yang membuatnya lupa akan rasa sakitnya sejenak.
"Ay... aku tidak apa-apa," jawab Dayana lirih, suaranya masih sangat lemah. "Tadi cuma sedikit pusing dan... dan sakit perut. Maaf aku membuatmu takut."
Aydan tidak melepaskan tangan Dayana. Ia seolah tidak peduli pada bisik-bisik di belakang tirai. "Sakit perut seperti apa? Kenapa sampai pingsan, Dayana?"
"Beberapa hari ini perut sebelah kanan selalu sakit, Ay. Kupikir cuma maag biasa karena telat makan akibat mengejar tenggat skripsi," Dayana mencoba tersenyum kecil, meskipun raut kesakitan masih terlihat di sudut matanya.
Mendengar itu, Aydan kembali terbawa perasaan. Ia lagi-lagi mencium tangan Dayana, kali ini lebih lama, seolah sedang meminta maaf karena tidak bisa menjaga gadis itu setiap detik.
"Makanya jangan telat makan, Ay... aku sudah bilang berkali-kali," bisik Aydan dengan nada yang sangat romantis namun penuh penekanan. "Tolong, jangan buat aku merasa seperti orang gila lagi. Saat mendengar kamu pingsan, aku merasa jantungku berhenti berdetak."
Sarah yang berdiri di pojok ruangan berdehem kecil, mencoba mengingatkan Aydan bahwa mereka tidak sedang berdua di sana. "Ehem... Aydan, sepertinya Dayana perlu diperiksa lebih lanjut oleh dokter asrama. Tadi perawat bilang gejalanya mirip radang usus buntu karena dia terus memegang perut kanan bawahnya."
Aydan tersentak. Kesadarannya mulai kembali. Ia menoleh ke arah teman-teman Dayana dan baru menyadari posisi tangannya yang masih menggenggam erat tangan Dayana. Ia juga melihat tatapan tidak percaya dari teman-temannya.
Rona merah perlahan naik ke wajah Aydan. Ia perlahan melepaskan tangan Dayana, meski terlihat sangat berat hati. Ia baru sadar bahwa ia telah melanggar prinsip jarak aman yang ia banggakan selama ini. Namun, anehnya, Aydan tidak merasa menyesal. Rasa khawatirnya jauh lebih besar daripada rasa malunya.
"Maaf," gumam Aydan pelan kepada teman-teman Dayana. "Aku... aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih tadi."
Sarah tersenyum penuh arti. "Kami mengerti, Aydan. Kami baru tahu kalau The Silent King bisa sedrastis ini kalau menyangkut Dayana."
Tak lama kemudian, dokter asrama datang dan memeriksa Dayana. Kecurigaan Sarah benar, Dayana menunjukkan gejala akut atau radang usus buntu yang harus segera ditangani agar tidak pecah. Ia harus segera dirujuk ke rumah sakit.
Selama proses pemindahan ke ambulans, Aydan tidak meninggalkan sisi Dayana sedetik pun. Meski ia sudah mulai menjaga jarak kembali demi menghormati norma, tatapan matanya tidak pernah lepas dari wajah pucat Dayana.
Saat Dayana akan dimasukkan ke dalam ambulans, ia memegang ujung jaket lab Aydan yang masih kotor. "Ay... jangan marah padaku ya?"
Aydan membungkuk, membisikkan sesuatu di telinga Dayana yang membuat gadis itu merasa jauh lebih kuat. "Aku tidak marah, aku hanya ingin segera menghalalkan mu agar aku tidak perlu lagi merasa bersalah saat ingin mencium keningmu ketika kamu sakit. Bertahanlah, aku akan menelepon Ayah Liam dan Bunda Ameera. Kami semua akan menunggumu di rumah sakit."
Dayana tersenyum lemah saat pintu ambulans tertutup. Rasa sakit di perutnya masih ada, namun hatinya merasa sangat penuh. Kejadian di UKS tadi telah membuktikan satu hal, di balik kedinginan dan prinsip kaku Aydan, terdapat cinta yang begitu besar yang sanggup meruntuhkan segala tembok pertahanan saat nyawa sang kekasih hati terancam.
Aydan berdiri di parkiran UKS, menatap ambulans yang menjauh. Ia mengambil ponselnya, tangannya masih sedikit gemetar. Ia harus menelepon keluarganya, namun satu hal yang pasti dalam pikirannya, setelah Dayana sembuh nanti, ia tidak akan membiarkan waktu berlalu begitu saja tanpa ikatan yang lebih kuat. Ia tidak ingin lagi menjadi orang luar yang hanya bisa panik di depan pintu UKS.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰