NovelToon NovelToon
Bukan Istri Cadangan

Bukan Istri Cadangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor jahat / Poligami / Selingkuh
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Lima tahun Hana Ayunindya mengabdi sebagai istri sempurna bagi Arlan Mahendra. Namun, cinta saja ternyata tidak cukup untuk mengisi rahim yang masih sunyi. Di bawah tekanan keluarga dan ego yang terluka, Arlan menjatuhkan vonis paling kejam. Ia akan menikah lagi.

​Maura hadir bukan hanya untuk memberikan keturunan yang didambakan Arlan, tapi juga untuk perlahan menggeser posisi Hana di rumah yang ia bangun dengan air mata. Hana mencoba ikhlas, mencoba menelan pahitnya dipoligami, hingga ia menyadari bahwa keikhlasan tanpa batas hanya akan membuatnya hancur tak bersisa.

​Di tengah puing-puing hatinya, Hana memutuskan untuk bangkit dan menemukan kembali jati dirinya yang hilang. Saat itulah, Adrian Gavriel hadir dan menunjukkan bahwa Hana layak dicintai tanpa syarat.

​Ketika Hana mulai berpaling, mampukah Arlan merelakannya? Ataukah penyesalan datang saat pintu hati Hana sudah tertutup rapat?

Kita simak kisah selanjutnya yuk di Karya => Bukan Istri Cadangan.
By: Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Keheningan malam di kamar tamu itu terasa jauh lebih bersahabat bagi Hana daripada riuh rendah penghinaan di ruang tengah tadi. Ia tertidur dengan perasaan yang aneh, sebuah ketenangan yang lahir dari keberanian untuk melawan.

Pagi harinya, Hana terbangun tepat saat fajar menyingsing. Tanpa menunggu perintah atau teriakan Ibu Mira, ia sudah bersiap dengan pakaian kerja barunya, sebuah blazer berwarna abu-abu arang dengan aksen perak di kerahnya. Tegas dan tak tersentuh.

Hana turun ke lantai bawah untuk sekadar mengambil air minum sebelum berangkat. Namun, pemandangan di ruang tengah membuatnya urung melangkah cepat.

Arlan menuruni tangga dengan langkah yang begitu ringan, hampir menyerupai lompatan kecil pria remaja yang baru jatuh cinta. Wajahnya berseri-seri, gurat kelelahan yang biasanya terpahat karena urusan kantor seolah menguap digantikan oleh binar kebahagiaan yang meluap-luap. Ia bersiul kecil, sebuah melodi riang yang terdengar begitu memuakkan di telinga Hana.

Hana hanya menatap suaminya datar, berdiri di dekat meja makan sambil memegang gelas airnya. Ia merasa heran, perubahan suasana hati Arlan begitu drastis dibandingkan amarahnya semalam.

Namun, Hana memilih bungkam. Ia malas membuang energi untuk bertanya pada pria yang baru saja mengancam akan mengurungnya seperti tawanan.

Sayangnya, Arlan tidak bisa menahan rasa bahagianya sendiri. Melihat Hana di sana, ia justru menghampiri istrinya dengan senyum lebar yang terlihat dipaksakan agar tampak tulus.

"Hana, kau harus dengar ini," ucap Arlan, suaranya bergetar karena antusias. "Keajaiban akhirnya datang ke rumah ini. Doa Ibu, doaku, dan... kerja keras kami tidak sia-sia."

Hana hanya menaikkan sebelah alisnya, tetap diam.

Arlan meraih kedua bahu Hana, tidak mempedulikan tatapan dingin istrinya. "Maura hamil, Hana! Dia baru saja memberitahuku tadi malam setelah kalian bertengkar. Dan tebak apa? Usia kandungannya sudah masuk dua bulan! Dua bulan, Hana! Akhirnya, ada pewaris sah Mahendra di rahim Maura!"

Hana tertegun. Gelas di tangannya hampir saja terlepas jika ia tidak segera mempererat genggamannya. Namun, keterkejutannya bukan karena rasa cemburu atau sakit hati.

Otak auditornya yang selama bertahun-tahun terbiasa dengan angka dan logika mendadak berputar cepat. Ia mengerutkan kening, mencoba menyatukan kepingan waktu yang baru saja disebutkan suaminya.

"Dua bulan?" tanya Hana pelan, suaranya terdengar sangat tenang namun tajam.

"Ya! Dua bulan! Dokter sudah mengonfirmasinya melalui hasil tes yang Maura tunjukkan padaku," jawab Arlan penuh kebanggaan. "Kau dengar itu, kan? Sebentar lagi rumah ini akan ramai. Ibu pasti akan sangat bahagia."

Hana meletakkan gelasnya di atas meja dengan denting yang cukup keras. Ia menatap lurus ke mata Arlan yang sedang dalam euforia buta.

"Mas, coba kau hitung kembali," ucap Hana tanpa nada emosi. "Kalian menikah siri baru memasuki dua bulan dua minggu. Jika usia kandungannya sudah dua bulan tepat, itu artinya... dia hamil tepat dua minggu setelah kalian menikah?"

Hana menjeda, matanya menyipit. "Bukannya itu terlalu instan? Secara medis, pembuahan hingga terdeteksi sebagai janin berusia dua bulan biasanya membutuhkan waktu yang lebih sinkron dengan siklus biologis. Apalagi kau baru membawanya tinggal di sini secara intens kurang dari dua bulan. Apakah kau yakin itu darah dagingmu, Mas?"

Seketika, raut wajah Arlan berubah. Senyum lebarnya luruh, digantikan oleh gurat kemerahan yang merayap di leher hingga wajahnya. Amarah yang sempat padam semalam kini meledak kembali dengan sumbu yang lebih pendek.

"Jaga bicaramu, Hana!" bentak Arlan. Ia menggebrak meja makan hingga vas bunga di tengahnya bergetar. "Aku tahu kau iri! Aku tahu kau sakit hati karena rahimmu yang mandul itu tidak bisa memberikan apa yang Maura berikan hanya dalam waktu singkat! Tapi jangan pernah berani memfitnah istriku dengan tuduhan kotor seperti itu!"

Hana tidak gentar. Ia justru melipat kedua tangannya di dada. "Aku tidak memfitnah. Aku hanya bicara logika dan fakta waktu. Sebagai suaminya, bukankah kau yang paling tahu kapan kalian 'memulainya'? Dua bulan adalah waktu yang cukup signifikan. Jika perhitungannya meleset sedikit saja, kau mungkin sedang merayakan benih pria lain."

"CUKUP!" Arlan melangkah maju, jarinya menunjuk tepat di depan wajah Hana. "Kau benar-benar keterlaluan. Kau begitu busuk, Hana. Hanya karena kau merasa gagal sebagai wanita, kau mencoba merusak kebahagiaan orang lain? Maura adalah wanita terhormat! Dia memberikan apa yang kau janjikan selama lima tahun tapi tidak pernah kau penuhi!"

Dari arah tangga, Maura muncul dengan daster sutra panjang yang menyapu lantai. Wajahnya dibuat sepucat mungkin, matanya berkaca-kaca seolah ia telah mendengar seluruh percakapan itu.

"Mas Arlan... hiks..." Maura terisak pelan, bersandar pada pegangan tangga. "Mbak Hana benar. Mungkin aku memang tidak pantas di sini. Bagaimana bisa Mbak Hana menuduhku membawa anak pria lain? Padahal aku menjaga kehormatanku hanya untukmu, Mas..."

Melihat air mata Maura, Arlan seolah kehilangan seluruh akal sehatnya. Ia berbalik dan menatap Hana dengan kebencian yang mendalam.

"Lihat apa yang kau lakukan! Kau menyakiti perasaan ibu dari anakku!" Arlan mendekat ke arah Hana, suaranya merendah namun penuh ancaman. "Aku tadinya berpikir untuk tetap memberimu posisi di rumah ini jika kau bisa bersikap baik. Tapi sekarang aku sadar, kau hanyalah duri dalam daging. Kau iri, kau dengki, dan kau jahat!"

Ibu Mira yang baru saja keluar dari kamarnya dan mendengar keributan itu langsung menimpali. "Ada apa ini? Maura, kenapa kamu menangis, Sayang?"

"Ibu... Mbak Hana bilang janin di perut Maura bukan anak Mas Arlan karena usianya sudah dua bulan," lapor Maura sambil sesenggukan di pelukan Ibu Mira.

Wajah Ibu Mira langsung mengeras. Ia menatap Hana seolah Hana adalah sampah yang paling menjijikkan. "Hana! Kamu benar-benar wanita tidak tahu diuntung! Kamu sudah cacat secara fisik karena tidak bisa hamil, sekarang kamu juga cacat secara moral? Kamu ingin menghancurkan kebahagiaan keluarga Mahendra?"

"Saya hanya menyampaikan kejanggalan, Bu. Dua bulan itu waktu yang lama untuk sebuah pernikahan yang baru seumur jagung," bela Hana tenang.

"Diam kamu! Kamu itu hanya iri karena tidak bisa menyaingi kesuburan Maura!" Ibu Mira berteriak. "Arlan, jangan dengarkan wanita mandul ini. Dia hanya ingin memecah belah kalian agar dia tetap menjadi pusat perhatian. Urus istrimu yang sedang hamil ini, jangan biarkan dia stres karena ucapan iblis berbaju biru ini!"

Arlan mengangguk mantap. Ia memalingkan wajah dari Hana, seolah melihat Hana adalah sebuah beban. "Pergilah ke kantormu, Hana. Pergi! Jangan pulang sampai kau bisa membersihkan otakmu dari pikiran-pikiran kotor itu. Mulai sekarang, jangan pernah kau mendekati Maura atau mencoba bicara padanya. Aku tidak ingin anakku terpengaruh oleh auramu yang negatif."

Hana menarik napas panjang. Ia menatap ketiga orang di depannya, suaminya yang buta karena cinta semu, ibu mertua yang buta karena haus pewaris, dan wanita licik yang sedang memainkan peran korban dengan sempurna.

"Baiklah," ucap Hana singkat. Ia mengambil tasnya, lalu menatap Arlan untuk terakhir kalinya pagi itu. "Aku akan pergi bekerja. Dan Mas... suatu saat nanti, saat kebenaran itu terungkap, jangan pernah merangkak di kakiku untuk meminta maaf. Karena saat itu terjadi, aku mungkin sudah terlalu jauh untuk kau jangkau."

Hana berbalik dan melangkah mantap menuju pintu depan. Di luar, mobil jemputan dari Gavriel Corp sudah menunggu.

Begitu ia masuk ke dalam mobil, ia melihat Adrian yang sedang membaca beberapa dokumen di kursi belakang.

Adrian menoleh, melihat sisa ketegangan di wajah Hana. "Kau baik-baik saja?"

Hana menyandarkan kepalanya di sandaran kursi yang empuk. "Mereka bilang Maura hamil dua bulan. Padahal mereka baru menikah dua bulan dua minggu."

Adrian terdiam sejenak, lalu sebuah senyum tipis yang penuh arti muncul di wajahnya. "Analisis yang menarik. Kau ingin aku menyelidiki siapa ayah sebenarnya dari janin itu?"

Hana menoleh ke arah Adrian, namun kilat di matanya bukan lagi tentang amarah atau keinginan untuk membuktikan siapa yang benar. Tatapannya jauh lebih dingin, lebih jernih, seolah semua beban emosional yang selama ini mengikatnya baru saja luruh.

​"Tidak, Adrian," ucap Hana tegas saat Adrian menawarkan diri untuk menyelidiki janin Maura. "Jangan buang waktumu untuk mencari tahu siapa ayah dari anak itu. Aku tidak peduli apakah itu anak Arlan, anak pria lain, atau bahkan jika itu hanya sekadar taktik Maura."

​Adrian sedikit terkejut, ia menurunkan dokumen yang sedang dibacanya. "Kau tidak ingin menggunakan informasi itu untuk menjatuhkan mereka? Itu bisa menjadi senjata pemungkasmu, Hana."

​Hana menyunggingkan senyum tipis, namun senyum itu tidak sampai ke matanya. "Jika aku menyelidikinya, itu artinya aku masih peduli. Itu artinya aku masih membiarkan mereka menjadi pusat dari duniaku. Aku sudah selesai dengan Arlan, Maura, dan Ibu Mira. Biarlah mereka hidup dalam gelembung kebohongan mereka sendiri. Jika suatu saat gelembung itu pecah dan Arlan hancur, itu bukan lagi urusanku."

"Baiklah," jawab Adrian tenang. "Kalau begitu untuk sekarang, fokuslah pada rapat direksi jam sepuluh nanti. Ingat, kau bukan lagi pembantu di rumah Mahendra. Kau adalah tangan kananku."

Mobil itu melaju meninggalkan rumah yang penuh dengan kebohongan itu. Di dalam rumah, Arlan sedang sibuk memanjakan Maura dengan segala kemewahan, tidak menyadari bahwa di rahim yang ia agung-agungkan, mungkin tersimpan bom waktu yang siap menghancurkan harga dirinya sebagai pria.

Sementara itu, Maura tersenyum di balik pundak Arlan. Ia merasa aman karena Arlan begitu membelanya. Namun, ia tidak tahu bahwa ia tidak sedang berhadapan dengan Hana yang lemah dan penurut. Ia sedang berhadapan dengan Hana yang memiliki dukungan penuh dari raksasa bisnis bernama Adrian Gavriel.

...----------------...

Next Episode....

1
mama
ujian preet han..jgn goblok 2x lah jd cwe🤣..mulut suami km licin kyk minyak goreng kok dipercaya🤭
Lee Mba Young
setelah koar koar cerai ada yg bantuin akhirnya di bujuk dikit lngsung luluh sebegitu bucin pa bgitu enak goyangan suami smp gk mau cerai.
nnti kl gk adil jng nangis minta cerai lagi nikmati saja toh di keloni juga kan dpt burung nya juga kan. sakit ya telen saja.
awas habis ini jng cerai jng jd wanita labil.
Lee Mba Young
🤣🤣 ngapain kemarin koar koar cerai trus sekarang batal. hrse terima saja poligami nya kebiasaan wanita indo yg lemah. setelah koar koar cerai smp sidang di rayu dikit langsung luluh. iku ae belum di keloni nnti di keloni lngsung gk jd cerai. 🤣.
sebegitu murah nya Hana Hana.
habis ini jng nyusahin yg Bantu kamu supaya bisa cerai.
cinta semu
buat Hana tegar Thor ...
Miss Ra: 💪🤗
siaaaappp
total 1 replies
Mundri Astuti
sakit kamu mah Arlan, ntar anak yg dikandung Maura taunya bukan anaknya ni y, nangis" dah situ saat itu terkuak
Mundri Astuti
mudah"an Adrian bisa jadi tameng buat Hana, hancurin perusahaannya Arlan aja Adrian biar tau rasa dia
Sasikarin Sasikarin
kok di buka pernikahan sandiwara dah terhapus
Miss Ra: iya kak maaf yah...

mnurutku ceritanya kurang bagus dan menarik...
takutnya nanti seperti beberapa karya gagal retensi yg sudah aku buat tpi mengecewakan..

nanti aku buatkan cerita yg lebih menarik lainnya yaa...

🙏
total 1 replies
Mundri Astuti
ayo Hana kamu harus kuat, tunjukkan ke Arlan bahwa kamu bisa berdiri diatas kakimu sendiri dan bahagia tanpa nama besar Arlan dan keluarganya
Himna Mohamad
kereeen
Sasikarin Sasikarin
lanjuuuuuuut 💪
Lee Mbaa Young
lanjuttt
Miss Ra: /Chuckle//Chuckle//Chuckle/
total 1 replies
Himna Mohamad
lanjutt thoor kereen ceritanya
Miss Ra: siaaappp 💪

/Heart//Kiss/
total 1 replies
Yantie Narnoe
semangat up nya...💪💪
Miss Ra: siaaaappp

💪
total 1 replies
Yantie Narnoe
lanjut..💪💪💪
Soraya
mampir thor
Miss Ra: siaaaapppp 💪
total 1 replies
Himna Mohamad
lanjut kk
Miss Ra: siaaapppp💪💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!