Seorang pria muda, yang menyukai wanita lebih tua darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dutta Story_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
Sasa di dalam kamarnya sedang merapikan pakaian. Tatapannya tertuju ke cermin, memastikan pakaiannya rapi.
dia mengambil tas kecil, lalu melangkah keluar dari kamar. Saat akan menutup pintu kamarnya, Laras yang berdiri di sana menghentikan langkahnya dan langsung berbicara,
"mama, mau ke mana malam-malam?" tanya Laras, menatap mamanya.
"Mama mau keluar," jawab Sasa sambil tersenyum, lalu melangkah pergi meninggalkan Laras yang masih berdiri.
Dari depan rumah, tiba-tiba taksi online pesanan Sasa berhenti. Sasa yang baru keluar rumah, dengan terburu-buru langsung melangkah menuju taksi online itu.
dia pun langsung masuk ke dalam taksi. tak lama, Kendaraan itu pun kembali melaju pergi.
***
sementara itu, Arif berhenti di depan restoran PixelResto. dia menatap ke restoran itu, lalu melajukan mobilnya menuju parkiran.
Di parkiran, dia memberhentikan kendaraannya. Sebelum turun dari mobilnya, Arif mengambil telepon genggam, menyalakannya, lalu mengirim pesan ke Sasa.
~Arif : Kamu masih di mana?
~Arif : Aku sudah di PixelResto.
~Sasa : Ini lagi di jalan, sebentar lagi sampai.
~Arif : Oke, kalau begitu aku tunggu di dalam.
Arif mematikan telepon genggamnya. dia pun turun dari kendaraannya, lalu melangkah menuju ke restoran.
Begitu masuk ke dalam restoran, Arif mencari tempat yang masih kosong. Saat melihat sebuah meja kosong, Arif melangkah dan duduk di sana.
Di meja itu, Arif duduk dengan tatapan ke sekitar, sesekali menatap ke arah pintu masuk. Namun, sama sekali ia belum melihat Sasa.
Saat pelayan melangkah mendekat ke mejanya, pelayan itu pun bertanya, "Mau pesan apa, Mas?" katanya sambil menaruh menu di atas meja.
"Sebentar, ya," Arif menarik menu itu. dia pun melihat-lihat.
Dari arah depan pintu masuk restoran, Sasa melangkah masuk dan terhenti langkahnya. Tatapannya tertuju ke sekitar.
Saat Arif menaruh menu, Sasa mulai melihat ke arahnya. dia pun langsung melangkah menuju meja itu.
Di depan meja itu, Sasa duduk sambil berkata, "hay, Arif," dengan senyuman.
"Tan.. "Arif terhenti berbicara, "Sasa , kamu mau pesan makanan?" tanya Arif sambil menatap Sasa.
"Kamu udah pesan?" tanya Sasa.
"Belum, sih. Soalnya lagi menunggumu. Kalau begitu, mau pesan apa?"
"Bang, saya pesan teh hangat dan kentang goreng crispy," ucap Sasa menatap ke pelayan.
"Siap, Mbak Sasa. Kalau Mas mau pesan?" tanya pelayan.
"Samakan saja," ucap Arif.
"Baiklah, silakan ditunggu," ucapnya, lalu melangkah pergi untuk membuatkan pesanan mereka.
"Kamu sering makan di sini?" tanya Arif menatap ke Sasa, matanya terus memperhatikan sasa,
"enggak terlalu, sih. Memang kenapa?"
"Aneh saja, lihat Mas tadi kaya udah kenal lama."
"Oh, itu namanya Reza. udah lama, sih, kerja di sini."
"Kok bisa tahu?" tanya Arif. dia merasa bingung.
"Restoran ini milik PaxelGroup, dan saya pemilik perusahaan."
"Pantasan, kelihatannya aneh banget."
"Maaf, ya, enggak bermaksud aneh. Rif, kamu udah punya pacar belum?"
Arif menatap lekat, terdiam. Di sisi lain, dia memiliki Laras, tapi saat ini tatapannya begitu lekat ke Sasa. Dari hatinya, Arif merasa tertarik dengan Sasa, tapi pertanyaan itu membuatnya berpikir,
"harus bagaimana? Apa aku diam-diam buat menyukai dua wanita?" gumamnya dalam hati.
Sasa menatap Arif yang masih terdiam, lalu dia bertanya, "Kamu udah punya pacar?"
"belum sih, aku enggak punya pacar," jawab Arif sambil tersenyum.
"Kamu tahu, semenjak pertama bertemu, aku rasa kamu itu orang baik, sopan, dan tampan. Tapi kenapa kamu enggak punya pacar?" tanya Sasa.
"enggak pernah berpikir untuk pacaran, lagipula masih fokus sekolah."
Sasa mendekatkan wajahnya. "Kalau kita menikah, mau enggak?" bisiknya pelan, dengan kedua alis terangkat.
"Menikah?" Arif berseru keras.
"Sst, jangan keras-keras. Kalau mengobrol di sini enggak enak rasanya banyak orang. sekrang Kamu ikut aku, ya," Sasa tersenyum, menaikkan alisnya.
"Lalu bagaimana dengan pesanannya?" tanya Arif, menatap Sasa yang berdiri dari kursi itu.
"Aman, kok. Yasudah, ayo, kita ke lantai tiga," ucap Sasa sambil menaikkan alisnya.
"ayo," Arif lalu berdiri. dia melangkah mengikuti Sasa dari samping. Di depan kasir, Sasa berhenti dan langsung berbicara, "Rey, nanti suruh Reza membawa pesanannya ke lantai atas," ucap Sasa sambil menatap ke pelayan.
"Baik, Mbak Sasa," jawabnya sambil mengangguk.
Sasa lalu kembali melangkah menuju ke atas tangga, dengan tangan memegang erat Arif. Tatapan Arif sesekali menatap tangannya yang ditarik oleh Sasa.
Mereka berdua pun menaiki tangga sampai lantai tiga. Di lantai tiga, mereka melangkah keluar. Suasananya terlihat begitu indah, selain pemandangan kota, juga suasana terbuka.
Sasa tak melepas tangannya. dia menarik Arif menuju ke meja makan yang berada di pinggir, tepat di depan pagar.
Di depan meja itu, mereka berdua pun duduk. Arif langsung bertanya, "Kita mau bahas apa di sini, sih?"
"Di sini sepi, lebih aman, nyaman, Oh, iya, Rif, bagaimana, kamu mau kan kalau kita menikah?" ucap Sasa menatap Arif yang saling berhadapan.
"Eum, masa nikah, Lagipula, aku sama kamu baru kenal?" Arif menatapnya.
"Ya, aku mengerti. Setidaknya, aku ingin merasakan punya suami, meskipun masih muda. Jika aku ceritakan hidupku, mungkin kamu enggak akan percaya. Aku pernah mendekati cowok, tapi enggak sampai menikah. Lebih tepatnya, hanya dianggap teman olehnya," ucapnya.
"Kok bisa, sih? Lagipula kamu cantik, baik, mapan. Kok enggak ada yang mau sama kamu?" tanya Arif. dia merasa bingung.
"Entahlah," ucapnya, terhenti ketika pelayan menghampiri mereka berdua.
"Ini, Mbak, teh hangat dan kentang goreng crispy-nya," ucap pelayan sambil menaruhnya di atas meja itu.
Sasa mengangguk. Pelayan itu pun kembali berkata, "Kalau begitu, saya kembali, ya, Mbak," lalu melangkah pergi.
Sasa menatap kepergiannya, lalu dia mengalihkan tatapannya ke Arif yang sedang bingung. Sasa menggerakkan tangannya, lalu mengelus tangan Arif.
"Bagaimana, kamu mau, kan? Tenang saja, apa yang kamu mau aku pasti turuti, tapi kamu harus mencintai aku dengan tulus, Aku hanya ingin saling mencintai." ucap Sasa sambil tersenyum menatap Arif.
Arif menghela napas kasar. "Aku pengen tidur berdua," ucap Arif.
"Malam ini? Tapi kamu janji,"
"Eh, bercanda. enggak ada maksud, kok," Arif merasa malu.
"Eum, aku juga ingin. Habis ini kita ke apartemenku. Di sana kamu pasti nyaman."
"Aku tadi bercanda, kok."
"udah terekam di dalam pikiranku," Sasa sambil tersenyum, menaikkan alisnya. dia pun mengambil telepon genggam dari dalam tas kecilnya.
Dengan telepon genggam yang menyala, Sasa langsung menghubungi Keysa. Sampai panggilan telepon tersambung, Sasa menggerakkan tangannya sambil...
"Halo, Sya," ucap Sasa ke telepon genggam itu.
"Iya, Mbak Sasa," suara Keysa dari telepon genggamnya.
"Sya, tolong siapkan ruangan pribadi di apartemen, ya. Nanti jam sepuluh lebih, aku ke sana."
"Baik, Mbak."
Sasa langsung menutup panggilan telepon itu. dia pun kembali memasukkan telepon genggam ke dalam tas kecilnya. Arif menatap Sasa. dalam hatinya merasa ga enak, Sebenernya dia hanya bercanda,