NovelToon NovelToon
Wanita Bercadar Dan CEO

Wanita Bercadar Dan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: ALNA SELVIATA

Di balik cadar itu, tersimpan surga yang tak pernah Adrian bayangkan.
​Aisha tahu, mencintai seorang CEO seperti Adrian adalah mengundang badai ke dalam hidupnya yang tenang. Ia dicaci, difitnah, bahkan diuji dengan kehilangan. Namun, keteguhan hati Adrian membuatnya bertahan. Adrian bukan lagi pria sombong yang mengejar dunia; ia adalah pria yang rela menjadi kuli demi menebus dosa masa lalu.
​Jalan menuju penebusan ini panjang dan berliku. Saat restu ibu menjadi dinding penghalang yang tinggi, dan masa lalu kembali menagih janji, mereka belajar bahwa satu-satunya cara untuk tetap bersama adalah dengan melibatkan Sang Pemilik Hati. Karena bagi Adrian, Aisha bukan sekadar pilihan, ia adalah takdir yang ingin ia bawa hingga ke surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

BAB 28

DI ANTARA DUA TEPI

​Dini hari di rumah keluarga Humaira biasanya diisi dengan kesunyian yang khusyuk. Namun pagi ini, kesunyian itu terasa menyesakkan bagi Aisha. Di dalam kamarnya yang kecil, ia duduk di tepi ranjang, menatap mukena putihnya yang masih terlipat rapi setelah sholat Tahajud. Di ruang tamu, hanya terpisahkan oleh dinding kayu yang tipis, ia bisa mendengar napas teratur Adrian yang tertidur di sofa rotan.

​Aisha merasa seperti sedang berdiri di atas jembatan gantung yang talinya mulai putus satu demi satu. Hatinya—bagian terdalam dari dirinya yang selama ini ia jaga dengan pagar logika dan iman—berbisik dengan kencang agar ia mengulurkan tangan. Ia melihat Adrian bukan lagi sebagai raksasa properti yang angkuh, melainkan sebagai ksatria yang kehilangan pedangnya demi membela kehormatan keluarga Aisha.

​Namun, di sisi lain, bayangan masa lalu menariknya kembali ke kegelapan.

​Aisha bangkit dan berjalan menuju meja gambarnya. Di sana, di bawah lampu belajar yang kuning, ia membuka sebuah album foto lama yang sampulnya sudah usang. Ia menatap foto ayahnya, Zulkifli, dua puluh tahun lalu. Ayahnya tampak gagah, tersenyum lebar di depan papan nama perusahaan mereka yang dulu, PT. Humaira Konstruksi. Lalu, ia membalik halaman ke foto berikutnya: ayahnya yang terbaring pucat di rumah sakit, kehilangan kemampuan bicara, dan rumah mereka yang disita oleh juru sita yang dikawal oleh orang-orang suruhan Aratama Group.

​"Bagaimana mungkin aku bisa melupakan ini, Ya Allah?" bisik Aisha, air matanya menetes di atas plastik album.

​Setiap inci kemewahan yang pernah dinikmati Adrian adalah hasil dari keringat dan air mata ayahnya yang dirampas. Setiap kali ia melihat Adrian, ada bagian dari dirinya yang berteriak bahwa membantu pria itu adalah bentuk pengkhianatan terhadap semua penderitaan Zulkifli.

​Namun, pengkhianatan Haryo terhadap Adrian mengubah segalanya. Aisha sadar bahwa musuh mereka sebenarnya adalah orang yang sama: keserakahan yang tidak mengenal batas.

​Langkah kaki pelan terdengar di luar kamarnya. Aisha menghapus air matanya dan memakai kembali kerudungnya sebelum membuka pintu. Ia menemukan Fikri sedang menyeduh kopi di dapur kecil mereka.

​"Kak, dia sudah bangun," bisik Fikri, menunjuk ke arah ruang tamu dengan dagunya. "Dia tampak... berantakan. Tadi dia mengigau tentang kode-kode server dan nama Haryo."

​Aisha berjalan ke ruang tamu. Adrian sudah duduk tegak, mencoba merapikan kemejanya yang sangat kusut. Wajahnya yang biasa klimis kini ditumbuhi bayang-bayang jenggot tipis. Saat melihat Aisha, Adrian segera berdiri, mencoba mengembalikan sisa-sisa wibawanya.

​"Maaf, aku tidak bermaksud merepotkan keluargamu lebih lama," kata Adrian, suaranya serak. "Aku akan pergi setelah ini. Aku harus mencari cara untuk mengakses file cadangan di rumah lamaku."

​Aisha menatapnya lama. Kebimbangan itu memuncak. Ia tahu bahwa tanpa bantuannya, Adrian tidak akan bisa menembus birokrasi dan sistem keamanan yang kini dikuasai Haryo. Adrian adalah orang luar sekarang.

​"Duduklah, Adrian," ucap Aisha dingin, mencoba menutupi getaran di suaranya. "Tehmu masih hangat."

​"Aisha, aku tahu apa yang kau pikirkan," Adrian menatapnya dengan kejujuran yang menyakitkan. "Kau melihatku dan kau melihat pencuri. Kau benar. Meskipun aku tidak memegang pena saat itu, aku tumbuh besar dengan hasil curian itu. Aku tidak memintamu membantuku untuk mendapatkan kembali perusahaanku. Aku hanya ingin menghancurkan Haryo agar dia tidak merusak Green Oasis. Proyek itu... itu adalah karya terbaikmu. Aku tidak ingin dia menodainya dengan material murah demi keuntungan pribadi."

​Kalimat itu menghantam titik terlemah Aisha. Green Oasis bukan sekadar proyek; itu adalah impiannya tentang hunian yang manusiawi dan islami. Jika Haryo mengambil alih, visi itu akan diubah menjadi sekadar kotak beton pencetak uang.

​Siang harinya, kebimbangan Aisha mencapai titik didih. Ia pergi ke halaman belakang, tempat ayahnya, Zulkifli, sedang berjemur.

​"Ayah," panggil Aisha pelan. "Apakah Ayah benci melihat dia ada di sini?"

​Zulkifli menoleh perlahan. Matanya yang sayu menatap putrinya dengan bijaksana. "Aisha, kebencian adalah beban yang berat untuk dipikul. Ayah sudah memikulnya selama dua puluh tahun, dan lihat apa yang terjadi? Ayah lumpuh, bukan hanya kaki, tapi juga hati."

​Zulkifli menarik napas panjang. "Pria itu... dia tidak seperti ayahnya. Ayahnya memiliki mata yang haus, tapi Adrian memiliki mata yang mencari. Dia mencari sesuatu yang lebih dari sekadar uang. Jika kau membantunya, jangan lakukan karena kau mencintainya atau karena kau kasihan padanya."

​"Lalu karena apa, Yah?"

​"Lakukan karena keadilan harus ditegakkan. Haryo adalah kanker di dunia ini. Dia menggunakan tangan orang lain untuk menghancurkan, lalu dia bersembunyi di balik aturan. Jika kau punya kesempatan untuk menghentikannya, bukankah itu yang diajarkan agamamu? Membela yang benar, meski pahit?"

​Kata-kata ayahnya seolah menjadi kunci yang membuka belenggu di hati Aisha. Masa lalu memang tidak bisa diubah, tapi masa depan masih bisa diselamatkan.

​Aisha kembali ke dalam rumah. Ia menemukan Adrian sedang mencoba menelepon beberapa relasinya, namun tampaknya semua orang telah memalingkan muka darinya. Di dunia korporat, saat seorang raja jatuh, tidak ada yang mau meminjamkan bahu.

​Aisha meletakkan laptopnya di meja ruang tamu, tepat di depan Adrian.

​"Aku punya akses pintu belakang (backdoor) ke sistem struktur dan logistik Green Oasis," ucap Aisha tegas. "Aku membangunnya saat sabotase pertama terjadi, untuk berjaga-jaga jika peretas mengunci kita lagi."

​Adrian mendongak, matanya berbinar dengan harapan yang baru. "Kau mau membantuku?"

​"Aku membantu kebenaran, bukan Anda," sahut Aisha, meski hatinya berdegup kencang saat menyebut kata 'Anda'. "Haryo baru saja memesan beton kelas rendah untuk sektor pondasi C. Dia memalsukan sertifikat ujinya untuk mengantongi selisih harga. Jika kita tidak menghentikannya sekarang, gedung itu akan menjadi perangkap maut dalam sepuluh tahun kedepan."

​Adrian mengepalkan tangannya. "Bajingan itu... dia benar-benar berani mempertaruhkan nyawa orang."

​"Kita butuh bukti fisik dari kantor pusat," lanjut Aisha. "Tapi kau tidak bisa masuk ke sana. Aku bisa. Aku masih dianggap sebagai arsitek utama yang sah sampai surat pemecatanku keluar."

​"Ini berbahaya, Aisha. Haryo tidak akan segan-segan menggunakan kekerasan jika dia merasa terpojok," Adrian berdiri, keberatannya muncul dari insting pelindungnya. "Aku tidak ingin kau terluka karena masalahku."

​Aisha menatap Adrian dengan keberanian yang selama ini tersembunyi di balik kelembutannya. "Ini bukan masalahmu lagi, Adrian. Ini masalah integritas karyaku. Dan ini adalah cara keluargaku untuk akhirnya menutup bab pahit dari masa lalu."

​Aisha menyadari bahwa dengan membantu Adrian, ia sedang melakukan rekonsiliasi dengan sejarahnya sendiri. Ia tidak lagi menjadi korban dari nama Aratama; ia menjadi penentu takdirnya sendiri.

​Malam itu, mereka bekerja berdampingan di meja kayu yang sempit. Adrian dengan keahlian strateginya, dan Aisha dengan akses teknisnya. Fikri sesekali membawakan camilan, sementara Zulkifli memperhatikan dari kejauhan dengan senyum tipis yang jarang terlihat.

​Di tengah keheningan malam, tangan mereka hampir bersentuhan saat hendak mengambil flashdisk yang sama. Keduanya terhenti. Ada sengatan listrik emosional yang jauh lebih kuat daripada masalah perusahaan mana pun.

​"Aisha," bisik Adrian, suaranya penuh dengan rasa terima kasih yang tak terhingga. "Kenapa kau mau melakukan ini, setelah semua yang keluargaku lakukan padamu?"

​Aisha menarik tangannya pelan, menatap layar laptop yang menampilkan kode-kode rumit. "Karena saya belajar satu hal dari Anda, Adrian. Bahwa manusia bisa berubah. Dan jika Anda bersedia kehilangan kerajaan Anda demi sebuah maaf, maka saya akan menjadi sangat sombong jika saya tidak bersedia membantu Anda menegakkan keadilan."

​Aisha akhirnya memilih. Ia melepaskan tali jembatan yang menghubungkannya dengan dendam masa lalu, dan mulai merajut tali baru yang menghubungkannya dengan masa depan—sebuah masa depan yang ia harap, meski masih samar, melibatkan pria yang sedang duduk di sampingnya ini.

​Badai di luar mungkin masih mengamuk, dan Haryo mungkin masih berkuasa di menara kaca itu. Namun di rumah kecil berpagar hijau ini, sebuah aliansi yang mustahil telah terbentuk. Sebuah aliansi yang dibangun bukan atas dasar saham, melainkan atas dasar cinta yang tulus dan keinginan untuk menebus dosa warisan.

1
Fittar
bagus ceritanya
Pat imah
Ceritanya menarik, tapi itu belum ada endiingnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!