Min Ara wanita yang di jodohkan dengan Jeon Jason, lelaki tampan yang mempunyai kharisma kuat yang merupakan seorang putra tunggal dari keluarga Jeon.
Sebagai syarat lelaki itu mendapatkan seluruh hak warisnya, Jason harus menikah dengan Ara.
Ara mengira kehidupannya akan bahagia dengan menjadi istri Jeon Jason, tetapi semua itu hanya ada dalam angannya saja. Jason yang berstatus suaminya itu, tidak lebih dari seorang iblis yang selalu menyakiti hatinya.
Ara tidak bisa mengelak perasaannya yang mulai terjebak di dalam lingkaran yang di buat Jason, tetapi itu semua adalah sebuah kesalahan besar baginya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MTMH18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
08| Buka Matamu
Ara memasuki kamar yang akan ia tempati bersama Jason, atau lebih tepatnya kamar Jason sebelum mereka menikah.
Ara membuka pintu kamar sang suami dan yang dilihat pertama kali olehnya adalah sosok Jason yang memakai kaos putih dan celana selutut, lelaki itu tengah bermain game di ponselnya. Ara melangkah ke kamar mandi, dia berkeringat setelah membantu ibu mertuanya tadi.
“Sangat luas,” gumam Ara saat memasuki kamar mandi Jason yang berwarna hitam.
Ara mengisi air di dalam bathtub, karena ia ingin berendam untuk mengurangi rasa lelahnya.
Ara keluar dari kamar mandi menggunakan jubah mandi, ia baru teringat kalau tidak membawa baju ganti. Ara melihat Jason yang masih sibuk dengan gamenya, Ara tidak ingin mengganggunya. Ia melangkah ke arah pintu dan masih menggunakan jubah mandinya.
“Kau mau ke mana?” tanya Jason saat Ara hampir meraih ganggang pintu.
“Aku tidak membawa baju ganti, jadi aku akan meminjam baju Ibu,” jelas Ara membuat Jason bangkit dari tidurannya.
Jason mengunci pintu kamarnya dan menyimpan kunci tersebut di saku celananya. Ara menatapnya heran saat sang suami melangkah ke arah lemari.
“Pakailah kaosku!” Jason memberikan Ara sebuah kaos berwarna putih yang sama persis dengan yang dipakainya.
Ara mengambilnya dan melangkah kembali ke dalam kamar mandi.
“Ini sangat besar,” gumam Ara menatap pantulan dirinya di cermin.
Ara memegang dadanya yang berdebar begitu kencang. Aroma Jason terasa sangat kuat di baju tersebut, sehingga membuat jantung Ara berdebar.
“Kau tidur di sebelahku! Aku takut Ayah atau Ibu tahu kalau kau tidur di sofa!” seru Jason saat Ara melangkah ke arah Sofa.
Jason mulai memejamkan matanya setelah berbicara, dengan langkah ragu Ara menaiki ranjang milik Jason dan melihat punggung sang suami yang membelakanginya.
Ara terkejut saat ponselnya bergetar, ia meraih ponsel yang ia letakkan di nakas sebelahnya, ia melihat nama ayahnya di layar ponselnya. Ara melangkah pelan ke arah balkon kamar Jason untuk mengangkat panggilan itu.
‘Hallo,’ sapa Ara dengan senyuman lebar di wajahnya.
‘Apakah putri Ayah bahagia dengan suaminya?’ pertanyaan ayahnya membuat Ara tersenyum miris dan menggigit bibir bawahnya.
‘Ayah tidak perlu khawatir, Ara di sini bahagia,’ jawab Ara dengan berbohong.
‘Kenapa suaramu begitu?’ tanya ayahnya membuat Ara memejamkan matanya dan menatap langit yang begitu gelap.
‘Ara hanya kelelahan,’ jawab Ara sambil meremas kaos yang di gunakan.
‘Astaga, Ayah lupa di situ sudah larut ya? Ayah tutup dulu, kamu harus istirahat! Sleep tight my little girl,’ sambungan terputus.
Ara menatap ponselnya yang sudah mati, ia memilih untuk menikmati angin malam di balkon. Lima belas menit sudah Ara di luar, ia memutuskan untuk masuk ke dalam. Rasa kantuk mulai menyerangnya, Ara melihat Jason yang masih di posisi awal tadi. Ara menghela napas dan mulai membaringkan tubuhnya, ia menatap punggung lebar suaminya.
“Aku ingin dirimu seperti dulu,” gumam Ara sebelum dirinya tertidur.
Jason tidak tidur, ia tidak bisa tidur dengan Ara yang berada di dekatnya. Lelaki itu juga mendengar semua percakapan Ara dan ayahnya, bahkan ia mendengar ucapan Ara sebelum tertidur.
Jason membalikkan tubuhnya dan menatap wajah Ara yang tertidur, tangannya terulur mengusap pipi Ara.
“Ada apa denganmu? Kenapa kau begitu misterius bagiku,” gumam Jason sambil terus menatap wajah Ara
Ara mengernyitkan dahinya dan mulai tidak tenang, Jason segera menarik sang istri ke dalam dekapannya, tak lama berselang ia pun ikut tertidur.
...***...
Ara membuka kedua matanya, dia mengerjapkan matanya untuk cahaya yang masuk ke indera penglihatannya. Ara merasakan ada seseorang yang memeluknya dan ia melihat dada bidang di depan wajahnya.
Ara mendongak dan melihat Jason yang masih tertidur dan memeluknya erat. Ara tersenyum dan memeluk erat tubuh suaminya itu, ini masih pagi dan langit masih gelap. Ara kembali melanjutkan tidurnya yang terasa begitu nyenyak dari sebelumnya, sudah lama ia tidak tidur dengan nyeyak begini.
Jason terbangun dari tidur nyeyaknya, ia tidak tahu kenapa bisa senyaman ini. Ia membuka kedua matanya dan merasa ada yang memeluknya, ia menurunkan pandangannya dan melihat Ara memeluk dirinya. Tetapi, tangannya juga memeluk Ara. Ia baru ingat tadi malam ia yang memeluk Ara terlebih dahulu dan mungkin Ara juga memeluknya, karena mengira dirinya sebuah boneka.
“Kenapa denganku ini?” tanya Jason kepada dirinya sendiri, ia terus menatap wajah Ara dengan seksama dan ia merasakan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Jason memilih menatap langit kamarnya dan memejamkan matanya saat kepalanya terasa pening. Lelaki itu menyingkirkan tangan Ara di tubuhnya, kemudian ia melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
“Bunny jangan tinggalkan aku sendiri, aku ketakutan,” isak Ara di dalam tidurnya, Jason yang baru saja keluar dari kamar mandi menghampiri Ara dan menepuk pipinya.
Ara terbangun dari tidurnya dan langsung berlari ke arah kamar mandi. Jason hanya menatapnya heran.
“Bunny? Siapa itu?” gumam Jason yang mendengar jelas Ara mengucapkan nama itu.
“Ah—sudahlah bukan urusanku,” acuh Jason yang memilih keluar dari kamarnya, ia akan berolah raga di ruangan olah raga.
...***...
“Kau baru bangun?” tanya ibu Jason kepada Ara yang baru saja turun untuk membantu membuat sarapan.
Ara hanya tersenyum kecil.
“Bagaimana tidurmu? Nyenyak?” tanya tuan Jeon yang duduk di meja makan sambil membaca koran.
“Iya, Ara sangat nyeyak tidur tadi malam,” jujur Ara membuat tuan Jeon tersenyum.
“Syukurlah, kau sudah banyak menderita selama ini dan aku harap kau akan bahagia dengan Jason,” ujar tuan Jeon, sebelum Jason datang dengan tubuh di penuhi oleh keringat.
“Kau sedang menatapku nyonya Jeon?” tanya Jason di depan wajah Ara, membuat wanita itu terkejut dan mengalihkan pandangannya ke arahlain.
Wajah mereka sangat dekat dan bau keringat Jason langsung masuk ke dalam indera penciumannya, sangat wangi meskipun lelaki itu berkeringat seperti itu.
“Kau sangat menggemaskan!” seru Jason dengan mengecup sekilah bibir Ara, Ara terdiam mematung di tempat terkejut dengan perbuatan Jason.
“Kalian ini kalau bermersaan jangan di depan kita!” seru kesal tuan Jeon yang di balas kelakar tawa dari Jason.
Ara memilih membantu mertuanya menyiapkan bahan-bahan, daripada terus gugup di perhatikan begitu intens oleh Jason. Ia tahu ini adalah akting, tapi ia tidak bisa membohongi jantungnya yang terus berdebar kencang itu.
“Ayah akan memberikan warisan itu kepadamu, setelah Ara melahirkan putra pewaris keluarga ini!” Kata tuan Jeon setelah selesai sarapan. Ara dan Jason sama-sama terkejut mendengarnya.
“Kenapa bisa begitu?” protes Jason yang di balas senyuman miring oleh tuan Jeon.
“Itu adalah syarat terakhir,” jawab tuan Jeon sebelum beranjak meninggalkan meja makan, hanya tersisa Ara dan Jason di sana. Ibu Jason sedang mengangkat telepon.
“Ara buka matamu! Kau harus sadar posisimu, aku tidak akan sudi menyentuh tubuhmu yang menjijikan itu! Aku akan membujuk Ayahku untuk menghilangkan persayaratan itu!” kata Jason sebelum beranjak dari duduknya meninggalkan Ara yang kembali merasakan sesak di dadanya.
Bersambung...