NovelToon NovelToon
Batas Obsesi Sang Konglomerat

Batas Obsesi Sang Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Terlarang / Percintaan Konglomerat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Hazard111

Nadin Kirana tidak pernah menyangka hidupnya akan hancur dalam semalam. Ayahnya kabur membawa uang perusahaan, meninggalkan utang sebesar sepuluh miliar rupiah dan adiknya yang sedang kritis di rumah sakit. Dikejar oleh rentenir kejam dan diboikot dari semua pekerjaan, Nadin tersudut di ujung jurang.

Satu-satunya jalan keluar datang dari Gilang Mahendra—CEO dari Mahendra Corp, pria bertangan dingin yang dikenal tidak memiliki belas kasihan dalam bisnis maupun kehidupan pribadinya. Gilang bersedia melunasi seluruh utang Nadin dan membiayai pengobatan adiknya, namun dengan satu syarat mutlak: Nadin harus menandatangani kontrak untuk menjadi "miliknya" sepenuhnya selama tiga tahun.

Tidak ada cinta. Tidak ada janji pernikahan. Nadin hanya menjadi properti pribadi Gilang yang harus siap memuaskan pria itu kapan pun dan di mana pun dia inginkan, serta tinggal bersamanya di penthouse mewahnya bagaikan burung dalam sangkar emas.

Awalnya, hubungan mereka murni transaksional dan dipenuhi kebe

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Topeng Kepatuhan dan Pertemuan Rahasia

​Udara di dalam kontainer proyek itu terasa seolah tersedot habis. Nadin berdiri mematung dengan tangan yang bergetar hebat. Matanya tidak bisa lepas dari selembar foto berukuran besar yang ada di dalam map cokelat tersebut. Wajah ayahnya yang penuh luka memar, tubuhnya yang kurus terikat di kursi kayu, dan tulisan bertinta merah di bagian bawah foto itu seakan membakar retina mata Nadin.

​Gilang adalah algojo ayahmu.

​Kalimat itu terus berputar di kepala Nadin bagaikan kaset rusak yang memekakkan telinga. Jantungnya berpacu sangat liar hingga dadanya terasa sakit. Selama ini, dia memaksa dirinya untuk percaya bahwa meskipun Gilang adalah pria yang kejam, pria itu adalah pelindung keluarganya. Gilang menyelamatkan Arya. Gilang melunasi utang sepuluh miliar itu. Namun, bagaimana jika semua itu hanyalah bagian dari sandiwara sadis yang dirancang oleh pria itu sendiri?

​Suara derap langkah kaki dari luar kontainer membuat Nadin tersentak kaget. Salah satu pengawal berjas hitam sedang berjalan mendekati pintu.

​Dalam keadaan panik yang luar biasa, Nadin menggulung foto dan map cokelat itu menjadi silinder kecil. Dia membuka tabung hitam tempat penyimpanan cetak biru miliknya, memasukkan gulungan cetak biru ke dalamnya, lalu menyelipkan gulungan foto ayahnya tepat di bagian tengah cetak biru tersebut agar tidak terlihat dari luar. Dia menutup tabung itu rapat-rapat tepat saat pintu kontainer diketuk dari luar.

​"Nona Kirana, apakah Anda sudah selesai? Tuan Mahendra berpesan agar kami segera mengantar Anda kembali ke penthouse," ucap suara berat salah satu pengawal dari balik pintu.

​"Ya, saya sudah selesai. Saya keluar sekarang," jawab Nadin. Dia memaksakan suaranya agar terdengar stabil, meskipun tenggorokannya terasa sangat kering.

​Nadin menarik napas panjang, memasang topeng ketenangan di wajahnya, dan melangkah keluar dari kontainer sambil menyandang tabung hitam itu di bahunya. Empat orang pengawal langsung membentuk formasi mengelilinginya, mengawal Nadin menuju mobil yang sudah menunggu di area parkir proyek.

​Sepanjang perjalanan pulang, Nadin menatap kosong ke luar jendela mobil. Pikirannya berperang melawan dirinya sendiri. Logikanya sebagai seorang arsitek selalu menuntut bukti nyata sebelum membangun sebuah struktur. Saat ini, dia memiliki dua kepingan teka-teki. Pernyataan Gilang yang mengatakan bahwa ayahnya diburu oleh konsorsium gelap, dan foto dari Bastian yang menuduh Gilang sebagai penyiksa ayahnya.

​Keduanya adalah pria yang memiliki kekuasaan dan kekayaan tidak terbatas. Keduanya memiliki motif untuk menghancurkan satu sama lain. Dan Nadin sadar bahwa dirinya hanyalah pion yang sedang dimainkan di atas papan catur mereka.

​Setibanya di penthouse, Nadin langsung menuju ruang kerja Gilang yang kosong. Dia mengunci pintu dari dalam, mengeluarkan foto ayahnya dari dalam tabung, dan menatapnya lamat-lamat di bawah lampu sorot meja gambar.

​Nadin memperhatikan setiap detail di dalam foto itu. Latar belakang ruangan itu terlihat seperti sebuah gudang bawah tanah dengan dinding bata yang belum diplester. Tidak ada jendela. Hanya ada sebuah lampu gantung tua yang menyoroti wajah ayahnya. Luka memar di wajah ayahnya terlihat sangat nyata, bukan hasil manipulasi digital. Ayahnya benar-benar sedang disiksa.

​Air mata Nadin menetes membasahi pipinya. Walaupun ayahnya adalah pria pengecut yang meninggalkannya dengan utang sepuluh miliar, pria itu tetaplah ayah kandungnya. Pria yang membesarkannya dan menyekolahkannya hingga menjadi seorang arsitek. Nadin tidak bisa membiarkan ayahnya mati membusuk di tempat mengerikan seperti itu.

​Nadin menyeka air matanya dengan kasar. Dia mengambil sebuah map kosong dari rak buku Gilang, memasukkan foto itu ke dalamnya, lalu menyembunyikan map tersebut di celah sempit di belakang rak buku yang paling bawah. Tempat itu sangat gelap dan tidak akan tersentuh oleh para pelayan yang membersihkan ruangan.

​Malam harinya, Gilang pulang tepat pada pukul delapan.

​Nadin sudah menunggunya di kamar utama. Dia mengenakan gaun tidur berbahan sutra tipis berwarna hitam, duduk di tepi ranjang dengan postur tubuh yang tegak. Nadin telah berjanji pada dirinya sendiri, apa pun yang terjadi malam ini, dia tidak boleh menunjukkan sedikit pun keraguan atau ketakutan di depan Gilang. Satu tatapan curiga saja bisa membuat pria itu menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres.

​Gilang melangkah masuk ke dalam kamar. Pria itu terlihat sangat lelah. Jasnya disampirkan di lengan kiri, dan dasinya sudah dilonggarkan. Namun, begitu mata hitam Gilang menatap sosok Nadin di tepi ranjang, rasa lelah di wajah pria itu perlahan memudar, digantikan oleh gairah gelap yang selalu muncul setiap kali dia menatap miliknya.

​Gilang melempar jasnya ke atas kursi, melangkah mendekati Nadin, dan langsung menarik wanita itu berdiri. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Gilang meraup bibir Nadin dengan ciuman yang sangat menuntut. Bau parfum vetiver dan aroma tembakau samar menyelimuti indra penciuman Nadin.

​Nadin memejamkan matanya rapat-rapat. Dia memaksa kedua tangannya untuk merangkul leher pria itu. Dia membalas ciuman Gilang, membuka mulutnya, dan membiarkan lidah pria itu menginvasi ruang pribadinya.

​"Kau menungguku," bisik Gilang di sela-sela ciuman mereka. Tangan pria itu menyusuri punggung Nadin, merasakan kelembutan kain sutra dan kulit hangat di baliknya. "Aku tidak bisa berhenti memikirkan bibirmu sejak kita berada di lantai dua puluh tadi siang."

​"Saya selalu menunggu Anda, Gilang," dusta Nadin dengan suara yang sengaja dia buat serak dan menggoda.

​Kata-kata itu bekerja dengan sangat sempurna. Gilang menggeram rendah, mengangkat tubuh Nadin, dan merebahkannya di atas seprai sutra. Pria itu menyusul di atasnya, mengunci tubuh Nadin dengan bobot tubuhnya yang keras dan berotot.

​Malam itu, Nadin memberikan penampilan terbaik dalam hidupnya. Setiap kali bayangan wajah ayahnya yang babak belur melintas di kepalanya, Nadin akan mengerang lebih keras, menancapkan kuku-kukunya di punggung lebar Gilang, dan menarik pria itu lebih dekat. Nadin menggunakan gairah sebagai topeng untuk menyembunyikan teror yang membekukan hatinya.

​Gilang yang tidak menyadari manipulasi tersebut, merasa sangat puas. Pria itu menghukum dan memuja Nadin secara bersamaan, mendominasi setiap inci tubuh wanita itu hingga Nadin benar-benar kehilangan suaranya. Di bawah tatapan mata Gilang yang menyala dalam kegelapan kamar, Nadin menelan semua kepahitan dan keraguannya. Dia sedang tidur dengan pria yang mungkin memegang kunci atas hidup dan mati keluarganya.

​Keesokan harinya, matahari bersinar sangat terik. Waktu menunjukkan pukul sebelas siang ketika Nadin bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit.

​Nadin memakai kemeja lengan panjang berwarna krem dan celana panjang hitam. Dia sengaja memilih pakaian yang rapi namun kasual. Dimas sudah menunggunya di lobi bawah bersama dua orang pengawal. Sejak insiden di kafetaria kantor dan pertemuan Nadin dengan Bastian, Gilang telah menggandakan jumlah pengawalan untuk Nadin. Ini membuat rencana Nadin untuk menemui Bastian menjadi seribu kali lipat lebih sulit.

​Setibanya di rumah sakit, Nadin menghabiskan waktu selama empat puluh lima menit di kamar VVIP Arya. Adiknya sudah bisa berbicara sedikit lebih banyak hari ini. Profesor Lee juga datang memberikan kabar bahwa tes darah tahap akhir dari salah satu donor menunjukkan hasil yang sangat positif. Operasi transplantasi kemungkinan besar bisa dilakukan dalam waktu dua minggu ke depan.

​Kabar itu seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Nadin. Namun jarum jam yang terus bergerak menuju pukul dua belas siang membuat jantungnya berdebar tidak karuan.

​Tepat pukul dua belas kurang sepuluh menit, Nadin keluar dari kamar Arya. Dimas dan dua pengawal langsung berdiri tegak di lorong.

​"Dimas, saya ingin makan siang di restoran seberang rumah sakit," ucap Nadin dengan nada suara yang tenang. "Makanan di kantin rumah sakit membuat saya sedikit mual hari ini. Saya butuh udara segar."

​Dimas mengernyitkan dahi sedikit. Pria berjas hitam itu melirik ke arah jendela lorong, melihat ke arah jalan raya dan bangunan restoran mewah berlantai dua yang terletak tepat di seberang jalan.

​"Tuan Mahendra berpesan agar Anda tidak berada di tempat umum terlalu lama, Nona Kirana. Jika Anda ingin makanan dari restoran tersebut, saya bisa menyuruh salah satu pengawal untuk membelikannya dan membawanya ke sini," tawar Dimas dengan sopan namun sangat protektif.

​Nadin sudah menduga penolakan ini. Dia harus memainkan kartu kuasanya.

​"Saya tidak meminta makanan itu dibawakan ke sini, Dimas. Saya bilang saya ingin makan di sana," ucap Nadin. Kali ini dia meniru nada suara dingin dan otoriter milik Gilang, menatap lurus ke dalam mata Dimas. "Tuan Mahendra melarang saya menemui pria lain, tapi dia tidak pernah melarang saya untuk makan siang di restoran. Apakah saya seorang tahanan yang tidak boleh menghirup udara luar sama sekali?"

​Dimas terdiam. Dia tahu persis bahwa Nadin memiliki posisi yang sangat khusus di mata Gilang. Wanita ini bukan hanya simpanan biasa, melainkan wanita yang berani menentang dewan direksi Mahendra Corp. Menyinggung perasaan Nadin bisa berakibat fatal bagi pekerjaannya.

​"Baik, Nona Kirana. Mari saya antar," ucap Dimas akhirnya mengalah. "Tapi kami harus mengawal Anda hingga ke dalam restoran dan mensterilkan meja di sekitar Anda."

​"Lakukan sesuka Anda," sahut Nadin singkat. Dia mulai melangkah menuju lift, menyembunyikan helaan napas leganya. Langkah pertama berhasil.

​Mereka menyeberangi jalan raya melalui jembatan penyeberangan khusus yang menghubungkan rumah sakit dengan kompleks restoran dan pertokoan mewah. Restoran yang dimaksud Bastian adalah sebuah restoran masakan Prancis yang sangat eksklusif, tempat di mana para eksekutif dan dokter senior sering menghabiskan waktu istirahat mereka.

​Begitu mereka masuk ke dalam restoran, Dimas langsung berbicara dengan manajer restoran. Mereka memesan sebuah meja di sudut ruangan yang cukup sepi. Dimas berdiri di dekat pilar yang berjarak sekitar tiga meter dari meja Nadin, sementara dua pengawal lainnya berjaga di dekat pintu masuk restoran. Pengawasan itu sangat ketat. Tidak ada satu orang pun yang bisa mendekati meja Nadin tanpa melewati mereka.

​Nadin duduk dan memesan secangkir teh chamomile serta sepotong kue. Dia menatap jam di pergelangan tangannya. Pukul dua belas lewat lima menit. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Bastian di area ruang makan utama tersebut.

​Keringat dingin mulai membasahi telapak tangan Nadin. Bagaimana Bastian bisa mendekatinya jika Dimas terus mengawasi seperti elang?

​Sepuluh menit berlalu. Seorang pelayan wanita dengan seragam rapi datang membawa pesanan Nadin. Pelayan itu meletakkan cangkir teh dan piring kue di atas meja. Saat pelayan itu menunduk untuk menuangkan teh, dia menyelipkan sebuah tisu kecil yang terlipat rapi tepat di bawah tepi piring Nadin, lalu segera pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

​Nadin menahan napasnya. Dia melirik ke arah Dimas, pria itu sedang mengawasi pintu masuk utama. Dengan gerakan cepat, Nadin menarik tisu kecil itu dan menyembunyikannya di telapak tangannya. Dia membuka lipatan tisu itu di bawah meja.

​Ada tulisan singkat bertinta biru di sana.

​Lorong toilet wanita. Pintu darurat nomor dua. Tiga menit dari sekarang.

​Jantung Nadin berpacu semakin kencang. Dia mengambil cangkir tehnya, menyesapnya sedikit untuk membasahi tenggorokannya yang kering kerontang. Dia menghitung mundur di dalam hatinya. Seratus delapan puluh detik. Ini adalah pertaruhan yang sangat berbahaya. Jika Dimas menangkap basah dirinya sedang menemui Bastian, Gilang akan mengamuk dan mungkin akan mengurungnya selamanya. Tapi nyawa ayahnya ada di ujung tanduk.

​Nadin meletakkan cangkir tehnya. Dia mengambil tas tangannya dan berdiri.

​Dimas langsung menegakkan tubuhnya dan melangkah mendekat. "Ada yang bisa saya bantu, Nona Kirana?"

​"Saya mau ke toilet sebentar," jawab Nadin datar.

​"Mari saya antar."

​Nadin dan Dimas berjalan menyusuri lorong panjang yang mengarah ke area toilet. Lorong itu cukup sepi. Pintu toilet pria dan wanita terletak berseberangan. Dimas berhenti tepat di depan pintu toilet wanita.

​"Saya akan menunggu di sini, Nona," ucap Dimas. Posisi pria itu menutupi seluruh akses keluar masuk.

​Nadin mengangguk dan mendorong pintu toilet wanita. Dia masuk ke dalam. Ruangan itu sangat mewah, dengan cermin besar dan wastafel berlapis marmer. Hanya ada satu orang wanita lain di sana yang sedang mencuci tangan, lalu segera keluar melewati Dimas. Kini Nadin sendirian di dalam toilet.

​Nadin tidak membuang waktu. Dia tidak masuk ke bilik toilet. Matanya menyapu sekeliling ruangan dan menemukan apa yang dia cari. Di sudut paling ujung toilet tersebut, terdapat sebuah pintu bercat putih yang sangat samar, menyatu dengan warna dinding. Di atas pintu itu terdapat tulisan kecil Exit. Itu adalah pintu akses darurat khusus staf yang terhubung ke tangga darurat gedung.

​Nadin berjalan cepat menuju pintu itu. Tangannya gemetar saat memutar gagangnya. Pintu itu tidak terkunci.

​Nadin mendorong pintu itu dan melangkah keluar menuju area tangga darurat yang remang-remang. Begitu pintu tertutup di belakangnya, hawa dingin dari lorong tangga langsung menyergap kulitnya.

​Di tengah bordes tangga darurat itu, seorang pria berjas biru gelap sedang berdiri bersandar pada dinding beton sambil merokok. Pria itu menoleh saat mendengar suara pintu terbuka. Bastian Wirawan membuang rokoknya ke lantai dan menginjaknya hingga mati. Senyum karismatik yang biasa menghiasi wajahnya kini tidak terlihat, digantikan oleh ekspresi serius yang sangat tajam.

​"Kamu datang," ucap Bastian pelan. Suaranya bergema di ruang tangga darurat yang sempit itu. "Aku sempat berpikir anjing penjaga Gilang itu tidak akan membiarkanmu bernapas sedikit pun."

​Nadin melangkah turun beberapa anak tangga, menjaga jarak sekitar dua meter dari Bastian. Dia menatap pria itu dengan tatapan penuh kewaspadaan.

​"Saya tidak punya banyak waktu. Dimas akan curiga jika saya berada di dalam toilet lebih dari lima menit," ucap Nadin dengan suara bergetar namun tegas. "Dari mana Anda mendapatkan foto ayah saya? Dan apa bukti Anda bahwa Gilang yang menyekapnya?"

​Bastian melangkah maju satu langkah. Pria itu merogoh saku bagian dalam jasnya dan mengeluarkan sebuah ponsel pintar. Dia membuka layar ponsel itu dan memutarnya ke arah Nadin.

​Di layar ponsel itu, terlihat sebuah video rekaman CCTV yang hitam putih. Video itu menampilkan sebuah ruangan gudang yang sama persis dengan yang ada di foto. Dua orang pria berbadan besar sedang memukuli ayah Nadin yang terikat di kursi. Dan beberapa detik kemudian, sosok pria tinggi mengenakan jas hitam berjalan masuk ke dalam jangkauan kamera.

​Pria di dalam video itu memunggungi kamera, namun postur tubuhnya, cara berjalannya, dan gerakan tangannya saat menyalakan rokok di depan ayah Nadin, sangat dikenali oleh Nadin. Itu adalah postur tubuh Gilang Mahendra.

​"Gilang tidak pernah melibatkan pihak luar untuk mengurus urusan kotornya. Konsorsium gelap yang dia sebutkan padamu itu adalah karangannya belaka," jelas Bastian dengan nada suara yang berat. "Gilang sendiri yang menyekap ayahmu. Dia membuat ayahmu menandatangani surat pengalihan utang secara paksa, agar dia memiliki alasan yang sah untuk datang ke rumah sakit malam itu dan membelimu."

​Nadin menutup mulutnya dengan kedua tangan. Kakinya terasa lemas hingga dia harus berpegangan pada pegangan tangga besi di sebelahnya. Video itu adalah bukti yang tidak terbantahkan. Gilang benar-benar telah merencanakan semuanya sejak awal. Pria itu menghancurkan hidup ayahnya, membiarkan adiknya sekarat, lalu datang sebagai pahlawan untuk merampas kebebasan Nadin.

​Gilang Mahendra adalah iblis yang sesungguhnya.

​"Kenapa Anda memberitahukan semua ini kepada saya?" tanya Nadin dengan suara pecah, air matanya mulai menggenang. "Anda dan Gilang adalah musuh. Anda tidak mungkin membantu saya tanpa mengharapkan imbalan."

​"Kamu sangat cerdas, Nadin. Itulah sebabnya aku menyukaimu," balas Bastian sambil menyimpan kembali ponselnya. Pria itu menatap Nadin dengan pandangan penuh perhitungan. "Tentu saja aku memiliki tujuan. Gilang telah merebut proyek Menara Selatan dariku menggunakan otakmu. Aku ingin menghancurkan pria itu, dan kamu adalah satu-satunya titik lemah yang dia miliki saat ini."

​Bastian melangkah lebih dekat. Kali ini jarak mereka sangat dekat.

​"Bantu aku menyusup ke dalam sistem utama Mahendra Corp melalui komputer di ruang kerjanya," bisik Bastian, memberikan penawaran yang setara dengan pengkhianatan tingkat tinggi. "Berikan aku data rahasia proyek-proyek masa depannya. Sebagai imbalannya, aku akan menyerbu gudang itu malam ini juga, membebaskan ayahmu, dan menyelundupkan kamu serta adikmu ke luar negeri dengan identitas baru. Kalian akan bebas selamanya dari bayang-bayang Gilang."

​Pilihan itu ditawarkan di depan mata Nadin. Mengkhianati pria yang telah menyelamatkan nyawa Arya, namun pria itu jugalah yang telah menyiksa ayahnya dan memperbudak dirinya.

​Di luar sana, di balik pintu putih itu, Dimas sedang menunggu dengan setia. Dan di suatu tempat di gedung pencakar langit yang tinggi, Gilang sedang duduk di ruang kerjanya, yakin bahwa Nadin berada di bawah kendali penuhnya. Nadin memejamkan matanya, menyadari bahwa apa pun jawaban yang dia berikan kepada Bastian hari ini, hal itu akan memicu pertumpahan darah yang tidak bisa dihindari lagi.

1
Ida Aja
lah mana lanjutannya
juwita
serba salah di posisi nadin. tp klo di nikahi gpp. ini mah hny di jadikan budak nafsu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!