Dita, seorang Caregiver yang merawat dengan sepenuh hati majikannya yang lumpuh, Bu Diana. sampai, suatu hari, Bu Diana meminta sesuatu yang membuat Dita menahan napasnya...
"Menikahlah dengan Tama, Dit. Aku tak mau Tama menikah dengan wanita binal itu... kamu harus selamatkan anakku, seperti kamu menyelamatkan aku..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12
"Ma!"
Suara Tama pecah di ruang makan yang masih dipenuhi aroma bubur gandum dan teh hangat.
"Apa maksud Mama menikahi Dita? Ini nggak lucu, Ma!"
Dita membeku dengan sendok di tangan. Jantungnya seperti dihantam dari dua arah, oleh keterkejutan dan oleh sesuatu yang tak berani ia beri nama.
Bu Diana menatap anaknya tanpa goyah. "Mama tidak bercanda, Tam. Mama mau, kamu nikah sama Dita."
"Ini bukan hal yang bisa Mama putuskan sepihak!" Tama berdiri setengah dari kursinya. "Menikah itu bukan hukuman untuk orang lain, dan bukan pelarian dari masalah."
Dita masih membeku, ia bahkan masih tak paham bisa ada di situasi sekarang.
“Pokoknya mama tidak awtuju kamu sama wanita itu, Tam. Perawat mama ini jauh lebih baik dari dia,” balas Bu Diana tajam.
“Ma!” Tama mengusap wajahnya kasar. “Mama sedang marah sama Selina. Jangan bawa Dita ke dalam ini.”
“Justru karena Mama tidak ingin membawanya ke dalam hal yang salah, Mama memilih dia!” suara Bu Diana meninggi. “Mama tidak akan pernah merestui kamu dengan wanita pendusta dan tukang fitnah itu!”
Ruangan terasa makin sempit.
Dita menunduk dalam. “Bu, tolong jangan begini... Tuan Tama...”
“Jangan panggil dia Tuan!” potong Bu Diana kesal. “Kalau jadi suamimu, kamu mau panggil apa?”
Pipi Dita memanas. Tama menoleh padanya, lalu kembali ke ibunya. “Cukup, Ma. Aku tidak selapar ini untuk menjadikan pernikahan sebagai solusi.”
Sendok di tangan Tama kembali ke mangkuk, tak disentuh. Nafsu makannya lenyap.
“Aku berangkat kerja lebih awal,” katanya akhirnya, suara berat.
“Tama!” Bu Diana memanggil saat kursi itu bergeser. “Demi mendiang papamu. Selama kamu masih bersama wanita itu, Mama tidak akan pernah memberi restu!”
Tama berhenti sejenak, punggungnya kaku. Lalu tanpa menoleh, ia melangkah pergi.
Pintu depan tertutup.
Setir mobil digenggam terlalu kuat.
Tama menyetir dengan kepala penuh suara. Suara ibunya. Suara tangis Selina. Wajah Dita yang menunduk dengan mata berkaca.
“Aku masih mencintaimu, Sel…” gumamnya pelan.
Ia mencoba menghubungi Selina. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Tidak diangkat.
“Angkat, Sel…” rahangnya mengeras. “Jangan begini.”
Tak ada jawaban.
Amarah dan bingung bercampur. Ia membelokkan mobil menuju apartemen Selina. Mobilnya sudah masuk ke basement. Mesin dimatikan. Ia menarik napas panjang, hendak keluar.
Ponselnya bergetar.
Nama asistennya muncul.
“Tuan, klien dari Singapura sudah datang. Mereka minta presentasi dimajukan. Direksi juga sudah di ruang rapat.”
Tama memejamkan mata. “Sekarang?”
“Iya, Tuan. Mendesak.”
Sial.
Ia membenturkan kepala ringan ke sandaran kursi. Hidupnya seperti menariknya dari segala arah.
“Baik. Aku ke kantor sekarang.”
Mesin mobil menyala lagi. Ia meninggalkan basement itu dengan dada lebih berat dari sebelumnya.
Di rumah, pagi terasa terlalu biasa.
Bu Diana di tepi kolam ikan koi, melempar pelet dengan santai. Ikan-ikan berwarna oranye dan putih bergerak lincah di bawah permukaan air.
Dita berdiri di sampingnya, tapi pikirannya jauh.
Seolah tak terjadi apa-apa tadi.
“Lihat yang itu,” ujar Bu Diana menunjuk seekor koi besar. “Yang itu paling rakus. Mirip Tama waktu kecil.”
Dita tersenyum tipis, meski hatinya kusut.
Tak lama kemudian, Bu Diana bahkan meminta kursi rodanya didorong ke taman kompleks, seperti rutinitas biasanya. Matahari hangat, angin pelan menyentuh daun.
Dita akhirnya tak tahan.
“Bu…” suaranya pelan tapi tegas. “Kenapa Ibu melibatkan saya?”
Bu Diana menoleh. “Maksudmu?”
“Kalau Ibu marah pada Selina atau kecewa pada pilihan Tuan Tama, seharusnya bukan saya yang dijadikan solusi.” Napas Dita naik turun. “Saya tidak ingin jadi bagian dari konflik keluarga ini.”
Bu Diana mengangkat alis. “Loh, kenapa? Kamu enggak suka sama Tama?”
Dita tercekat. “Bukan begitu…”
"Nah, kan. Aku tau kamu pasti suka."
"Buuu..."
Bu Diana terkekeh
“Tama itu tampan,” lanjut Bu Diana santai. “Badan bagus. Kamu udah lihat belum? Finansial dia juga stabil. Punya perusahaan sendiri. Kalau kamu menikah dengannya, kamu bukan lagi perawat. Kamu jadi mantu ku.”
Entah kenapa dada Dita terasa panas.
Ia menahan sesuatu di dalam sana. Sesuatu yang memang ada—yang selama ini ia tekan dalam-dalam.
Rasa itu.
Tapi ia sadar diri.
“Saya tidak memikirkan hal-hal seperti itu, Bu,” jawabnya akhirnya. “Dan saya tidak mau dicap seperti yang Selina tuduhkan. Seolah-olah saya menggoda majikan sendiri.”
Bu Diana tertawa kecil. “Menggoda? Hihihi, dulu juga aku pikir kamu bakal menggoda Tama.”
“Bu,” Dita memprotes pelan, hampir putus asa.
Tawa itu mereda. Wajah Bu Diana perlahan berubah lebih serius.
“Kamu tahu kenapa aku memilihmu?” tanyanya lembut.
Dita diam.
“Dari awal kamu datang, aku sering marah-marah. Kamu tetap sabar. Aku sengaja banting ini itu, kamu tetap profesional. Aku lempar kesal, kamu balas dengan perhatian.”
Dita menunduk.
“Aku bisa melihat ketulusanmu, Dit. Kamu tidak pernah memperlakukan ku sebagai beban.”
Suara Bu Diana melunak, tapi sarat keyakinan.
“Aku tidak ingin Tama jatuh ke tangan wanita seperti Selina. Aku sudah tua. Aku ingin tenang. Kalau kamu yang jadi menantu ku, Aku tidak akan khawatir diracuni.”
Dita menggigit bibirnya. “Bu…”
"Kamu khawatir Tama tidak cinta?" tebak bu Diana, Dita menunduk.
“Cinta bisa tumbuh,” balas Bu Diana mantap. “Kalau sudah menikah, Tama pasti akan mencintaimu seiring waktu.”
Kalimat itu membuat dada Dita bergetar.
Ia membayangkan… hanya sekilas… bagaimana jika itu benar terjadi?
Tapi bayangan itu ia hancurkan sendiri.
Bu Diana menatapnya lama. “Aku tanya sekali lagi.”
Angin berhembus pelan di antara mereka.
“Nikah sama Tama, Dit.”
Dita terdiam.
Dadanya bergemuruh. Antara rasa yang ia simpan diam-diam… dan harga diri yang ia jaga mati-matian.
Ia menatap jalan setapak di depan, seolah di sana ada jawaban.
Tapi yang ada hanya bayangan dirinya sendiri—berdiri di tengah keluarga yang rapuh, di antara cinta dan luka yang bukan miliknya.
"Aku enggak mau Tama nikah sama wanita licik dan binal itu. Dia bisa memfitnahmu, mungkin suatu hari nanti dia akan menaburkan racun di makananku."