Di usia 24-th Paroline Benedicta adalah wanita yang paling banyak dibicarakan di kampusnya di Los Angeles. Menawan, kaya, dan penuh teka-teki, ia menyusuri lorong kampus bukan dengan tas desainer, melainkan dengan kereta bayi yang membawa Andreas Sunny yang berusia dua tahun. Rumor yang beredar sangat kejam, mereka bilang dia adalah sosialita yang jatuh, seorang gadis yang ditinggalkan kekasihnya setelah melakukan kesalahan yang ceroboh.
Kenyataannya, Paroline adalah wanita yang memegang teguh janjinya, membesarkan putra yatim piatu dari mendiang sahabatnya seolah anaknya sendiri. Ia telah menukar malam-malam liarnya dan gaun pesta sutranya dengan kekuatan tenang dari seorang ibu, mengubur masa lalu pemberontaknya demi memberikan kehidupan yang sempurna bagi Andreas.
Masuklah Fharell Desmon, mahasiswa baru berusia sembilan belas tahun sekaligus pewaris karismatik dari Desmon Group.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#12
Suasana di dalam ruang kerja Tuan Benedicta terasa menyesakkan. Aroma cerutu mahal dan kayu ek yang tua memenuhi ruangan, menciptakan atmosfer otoriter yang selalu berhasil membuat Paroline merasa seperti gadis kecil yang sedang diadili. Di luar, hujan rintik Los Angeles mulai membasahi jendela, namun di dalam sini, badai yang sebenarnya baru saja akan dimulai.
Tuan Benedicta berdiri membelakangi putrinya, menatap ke arah taman belakang yang gelap. Ia meletakkan gelas kristal berisi wiski di atas meja kerja dengan denting yang tajam.
"Apa yang kau pikirkan, Paroline?" suaranya rendah, namun penuh penekanan yang menggetarkan nyali.
Paroline menarik napas panjang, mencoba menegakkan bahunya. "Apa maksud Ayah?"
Tuan Benedicta berbalik dengan cepat, matanya menatap tajam ke arah Paroline. "Seorang bocah? Kau memacari seorang bocah yang bahkan mungkin belum becus mencukur janggutnya sendiri dengan benar? Dia sembilan belas tahun, Paroline! Dan kau dua puluh empat tahun dengan seorang anak di tanganmu."
"Ayah, Fharell bukan sekadar bocah. Dia—"
"Cukup!" potong Tuan Benedicta kasar. "Kau punya Sunny. Bagaimana anak muda sepertinya paham soal menjaga anakmu? Mengurus bayi bukan seperti bermain video game atau nongkrong di klub malam. Sunny akan dewasa, dia tidak akan menjadi bayi terus-menerus. Kebutuhannya akan bertambah, masalahnya akan semakin kompleks. Apa yang kau harapkan dari pria yang baru saja melewati masa remaja? Pria seusianya hanya memikirkan kesenangan, popularitas, dan mungkin... rasa penasaran pada wanita yang lebih dewasa darinya."
Tuan Benedicta melangkah mendekat, suaranya kini melunak namun tetap menusuk. "Yang kau cari adalah suami, Paro. Seseorang yang bisa menjadi tiang penyangga, bukan seseorang yang masih harus kau asuh juga pikirannya. Berhenti bermain-main, Sayang. Jangan biarkan luka masa lalu mu membuatmu mengambil keputusan impulsif yang hanya akan menyakiti Sunny di masa depan."
Paroline terdiam sejenak. Ia merasakan panas menjalar di dadanya, bukan karena marah, tapi karena rasa tidak terima atas penilaian dangkal ayahnya terhadap pria yang telah menghidupkan kembali jiwanya.
"Ayah bilang dia bocah?" Paroline memulai, suaranya bergetar namun stabil. "Bocah yang Ayah maksud adalah satu-satunya orang di kampus itu yang berani berdiri di depan ratusan orang dan mengakui Sunny sebagai anaknya saat semua orang menghina aku sebagai wanita murahan. Bocah itu, Ayah, adalah orang yang membuat Sunny, yang selama ini mengalami speech delay, tiba-tiba bisa bicara karena dia merasa memiliki sosok ayah yang mau mendengarkannya."
Paroline melangkah maju, menantang tatapan ayahnya. "Ayah bilang dia tidak paham soal menjaga anak? Sebulan ini, saat Ayah di Paris, Fharell-lah yang membantuku mengganti popok di sela-sela jam kuliahnya. Dia yang menggendong Sunny saat bayi itu demam karena tumbuh gigi, sementara pria-pria dewasa yang Ayah maksud mungkin akan jijik melihat noda muntah di baju mahal mereka."
"Dia masih sangat muda, Paro. Dia akan bosan," sanggah ayahnya dingin.
"Mungkin dia muda secara usia, tapi dia punya integritas yang tidak dimiliki banyak pria dewasa yang Ayah kenal," balas Paroline tegas. "Dia tidak melihatku sebagai beban atau janda satu anak. Dia melihatku sebagai wanita yang layak dicintai. Dan soal Sunny... Fharell tidak hanya mencintaiku, dia jatuh cinta pada peran sebagai ayah. Dia memikirkan masa depan Sunny lebih dari siapapun."
Paroline menyeka air mata yang hampir jatuh. "Ayah takut dia lari? Ayah takut dia menghilang seperti pria itu?" Paro merujuk pada bayang-bayang masa lalunya. "Fharell tahu segalanya tentang aku. Dia sudah melihat foto-foto liarku, dia tahu aku merokok dan pergi ke klub malam dulu. Tapi dia tidak menghakimiku. Dia justru bangga padaku karena aku memilih berubah demi Sunny."
"Yang aku cari memang suami, Ayah. Dan suami bukan soal berapa angka di kartu identitasnya, tapi soal seberapa besar bahunya siap menanggung beban keluarganya. Fharell sudah membuktikan itu berkali-kali. Dia dewasa di saat yang tepat, dan dia tetap humoris agar hidupku tidak terus-menerus terasa seperti pemakaman."
Tuan Benedicta terdiam. Ini adalah pertama kalinya Paroline berani menatapnya dengan keyakinan sebesar itu.
"Aku tidak sedang bermain-main, Ayah. Aku sedang memperjuangkan kebahagiaanku. Dan jika Ayah tidak bisa melihat betapa tulusnya Fharell, maka Ayah bukan hanya meremehkannya, tapi Ayah juga meremehkan keputusanku sebagai seorang ibu."
Ruang kerja itu kembali hening. Tuan Benedicta membuang muka, menatap gelas wiskinya yang sudah kosong. Pembelaan Paroline barusan terasa seperti tamparan baginya. Ia teringat bagaimana Fharell menggendong Andreas tadi sore, cara pemuda itu melindungi kepala sang bayi dan bagaimana Andreas tertawa lepas di pelukannya. Sesuatu yang bahkan jarang ia lakukan sebagai seorang kakek.
"Kau sangat mencintainya, ya?" tanya Tuan Benedicta pelan, tanpa menoleh.
"Aku mencintainya karena dia membuatku mencintai diriku sendiri lagi, Ayah. Dan dia mencintai Sunny seolah dunia ini hanya milik mereka berdua," jawab Paroline lembut.
Tuan Benedicta menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang terdengar seperti penyerahan diri. "Pergilah. Sunny pasti sudah mencarimu. Tapi ingat satu hal, Paroline... jika bocah itu membuatmu menangis, tidak peduli seberapa kaya keluarganya, aku sendiri yang akan menghancurkannya."
Paroline tersenyum, sebuah senyuman penuh kemenangan yang manis. "Dia tidak akan melakukannya, Yah. Dia terlalu sibuk merencanakan mobil sport apa yang akan dia beli untuk Sunny sepuluh tahun lagi."
Paroline berjalan keluar dari ruang kerja dengan langkah ringan. Di ruang tengah, ia melihat Fharell masih duduk di sofa, tertidur pulas dengan Andreas yang meringkuk di dada bidangnya. Pemandangan itu adalah bukti nyata bahwa pembelaannya tadi bukan sekadar kata-kata.
Fharell mungkin berondong, dia mungkin masih remaja di mata dunia, tapi bagi Paroline dan Andreas, dia adalah pahlawan yang datang tepat waktu untuk menyelamatkan sisa hidup mereka.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰