Dibunuh berkali - kali tapi tidak mati.
Itulah kehidupan Alexa. Terlahir dari keluarga yang tidak benar - benar utuh, Alexa tumbuh dengan luka yang terlalu dini. Ia bahkan menyaksikan sendiri saat ayahnya, dalam keadaan mab*k, memb*nuh Ibunya.
Steven—orang asing yang kebetulan ada di tempat kejadian kala itu, justru menambah tekanan hidup Alexa karena melibatkannya dengan polisi.
Alexa pikir, dia akan membenci Steven. Namun yang terjadi sebaliknya.
Peran Steven di kehidupan Alexa menjadi begitu penting. Harapan untuk sembuh dari luka dan trauma masa lalunya cukup besar dengan kehadiran Steven.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vermilion Indiee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 9 - Janji Jempol
Satu Minggu Kemudian...
Alexa meletakkan kopi pesanan Steven sedikit kasar karena bosan harus dibuntuti oleh Steven yang masih kekeh ingin memberikannya tiket konser NOVA meski Alexa sudah bilang berkali - kali kalau dia tidak tertarik dengan itu.
"Kok 'gitu pelayanannya?" komentar Steven.
Alexa duduk tepat di hadapan Steven sesekali memeriksa sekitar agar tidak ada yang akan mendengar pembicaraan mereka.
"Kamu kok 'nguntit aku terus sih?" protesnya berbisik.
"Aku nggak 'nguntit. Minuman di sini memang enak kok," balas Steven membenarkan maskernya yang sempat miring.
Sejak kejadian Steven datang ke kafe mereka, Owner kafe banyak memajang poster NOVA dan juga selalu memutar lagu - lagu NOVA untuk menarik perhatian banyak pelanggan.
Sementara Steven yang seharusnya menjadi sedikit lebih waspada, malah bersikap tenang dan datang ke kafe tanpa ragu dengan berbagai penyamarannya.
Bahkan kali ini dia menggunakan wig dan pakaian cewek hanya untuk datang ke kafe tempat Alexa bekerja.
"Kamu mau aku bilang ke semua orang lagi kalau kamu ada di sini?" ancam Alexa.
"Kamu mau aku bikin kamu dipecat?" Steven balas mengancam.
"Aku bisa bilang ke semua orang kalau kamu sebenarnya m3sum loh."
Steven menepuk jidatnya pelan. Dia beberapa kali ingin mengklarifikasi itu sejak ucapannya itu terlontar malam itu, tapi Alexa tetap saja Alexa tidak mau mendengarnya. Alexa bahkan terus berjaga jarak dari Steven karena berpikir Steven akan melakukan hal kotor padanya.
Ketika Steven mengejar pun, Alexa selalu berlari dan bersembunyi entah ke mana.
"Makanya kalau orang mau jelasin, dengerin dulu!" kilah Steven.
"Aku nggak mau dengar apa pun dari orang m3sum."
"Kenapa sih mikir jauh banget? Aku cuman nawarin apartemen lama aku yang nggak aku pakai. Bukan tinggal bareng."
Beberapa pelanggan memandang ke arah Steven dan Alexa dengan bingung karena ada suara cowok didalam pembicaraan dua cewek.
Alexa tersenyum kecil pada para pelanggan dan berkata, "maaf. Suaranya sedang serak." Dia menunjuk Steven.
Steven kemudian pura - pura terbatuk beberapa kali sembari menutup rapat bagian atas wajahnya dengan poni dari wig yang dipakainya.
Alexa bahkan memandang aneh pada Steven yang melakukan berbagai cara untuk berkeliaran.
"Jadi 'gimana? mau tinggal di apartemenku?" Steven kembali menawarkan.
"Cara kamu menawarkan 'tuh udah bikin yang dengar merasa kamu itu cowok m3sum," tutur Alexa yang tidak nyaman dengan cara Steven menawarkan apartemennya.
"Tapi 'kan aku udah jelasin maksudku."
"Aku udah nemuin kontrakan. Kita juga tidak punya urusan apa pun. Jadi, jangan temui aku lagi."
Sejujurnya, Alexa memang kurang nyaman dengan kehadiran Steven yang ada di mana pun dia berada. Meski sempat merasa aman ketika bersama Steven, la - kelamaan Alexa justru merasa dibuntuti dan tidak merasa bebas.
Apalagi ketakutannya pada orang asing masih begitu besar membuat Alexa sulit mengendalikan traumanya.
"Aku niat membantu loh," tukas Steven.
"Tapi aku nggak butuh. Jadi, mending bersikap kayak kita nggak pernah saling bertemu sebelumnya." Alexa bangkit hendak kembali bekerja.
"Padahal kamu sendiri yang bikin aku merasa bersalah dan merasa harus bertanggung jawab."
Alexa kembali menoleh memandang Steven beberapa saat, kemudian duduk lagi. Entah harus seperti apa dia menjelaskan pada Steven kalau dia tidak perlu pertolongan atau belas kasihan siapa pun.
"Pertama, aku minta maaf karena bikin kamu terlibat dan melihat semua kejadian buruk yang penuh traumatis waktu itu. Aku marah karena kamu melaporkan ayahku ke polisi, dan kalau kamu merasa bersalah, tolong tebus dengan tidak masuk ke kehidupanku. Aku akan bertanggung jawab atas hidupku sendiri." Alexa sampai memohon.
Dia menyatukan Kedua tangannya benar - benar memohon pada Steven agar mendengarkan apa yang dia minta dan melakukannya.
Setelah bertahun - tahun hidup dalam kesulitan, Alexa semakin tidak ingin terlibat dengan seseorang terlalu jauh. Dia merasa tidak membutuhkan teman atau apa pun di luar pekerjaannya.
"Duaniaku sudah hancur sejak ibuku meninggal. Aku tidak ingin hancur lebih dari ini." Alexa melanjutkan kalimatnya.
Tak ada tanggapan dari Steven beberapa saat. Dia hanya diam menatap kedua tangan Alexa yang menangkup penuh harapan padanya.
"Baiklah," cetus Steven akhirnya, "tapi terima ini dan datang, ya." Dia belum menyerah soal tiket konser itu.
Mau tak mau, Alexa akhirnya menerima tiket itu dengan sedikit khawatir jika suatu hari nanti Steven menganggap itu hutang yang membuat mereka harus saling berhubungan lagi.
"Aku akan menerimanya," pupus Alexa.
"Kamu harus janji kalah kamu akan datang ke konser comeback-ku nanti malam. Dengan begitu, kita selesai."
"Iya."
"Janji?" Steven menunjukkan jari kelingkingnya.
"Janji." Alexa mengacungkan jempolnya membuat Steven sedikit mencibir karena baru pertama kali melihat orang berjanji menggunakan jempol.
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Alexa bangkit kembali ke meja barista melakukan pekerjaannya. Tak ada yang ingin dia sesali. Dia sudah lelah banyak melibatkan orang lain di kehidupannya.
Sekilas, Alexa memandang Steven yang akhirnya beranjak pergi membawa kopi di tangannya. Cowok itu terlihat cukup riweuh dengan pakaian penyamaran yang dikenakannya.
"Alexa, aku dengar, ayahmu masuk penjara ya?" Tiba - tiba seseorang menceletuk.
Alexa menoleh terkejut karena kabar itu sudah didengar oleh temannya.
"A - Ayahku?" Dia tergagap.
"Wah... siapa sangka kalau berita yang viral akhir - akhir ini ternyata itu tentang keluarga kamu yang bermasalah." Yang lain ikut menimpali sembari tertawa meledek.
Alexa hanya bisa menelan ludahnya getir. Jika menyangkal, dia berbohong di tengah - tengah orang - orang yang sudah mengetahui fakta itu. Jika mengiyakan, semua orang akan memandangnya rendah.
Semua teman kerjanya berdiri di hadapannya memasang wajah sinis pada Alexa yang hanya bisa menunduk tak berani melihat mata tajam itu.
"Ayah kamu dapat hukuman m4ti loh. Itu berarti Ayah kamu p3mbunuh kejam." Salah satu dari mereka memberitahu.
Alexa yang baru tahu soal itu langsung mendongak terkejut. Dia sama sekali menghindari kabar - kabar soal ayahnya karena tak mau traumanya kembali menyerangnya di saat dia ingin menjalani hidup dengan baik.
"Kamu nggak tahu?" Atasannya bahkan turut mengintimidasi.
"T - tidak," jawab Alexa dengan suara parau.
"Alexa 'kan nggak datang di sidang ayahnya, Mbak." Yang lain menambahkan.
"Iya. Padahal ramai banget di TV."
"Gila sih. Ternyata kita kerja bareng anak p3mbunuh."
"Iya loh... eksekusinya nanti sore kan?"
"Iya. Tapi tidak tersorot media."
Telinga Alexa mendadak hening. Dia melihat pergerakan bibir semua orang yang mencemoohnya tapi tak mendengar apa pun. Matanya berkaca - kaca tapi tak ada air mata yang menetes.
Oksigen di sekitarnya seakan mulai menghilang. Dengungan kencang masuk ke gendang telinganya bersamaan dengan suara - suara saat ayahnya meneriaki namanya dan ibunya, memecahkan banyak barang, pukulan - pukulan yang mendarat di tubuhnya.
Semuanya bertabrakan di telinganya—menyerangnya secara bertubi - tubi.
Entah apa yang dipikirkannya, dengan langkah terseok, Alexa berlari keluar dari kafe. Dia ingin bertemu ayahnya.
Untuk terakhir kalinya.
Meminta maaf karena tidak datang untuk membelanya. [ ]