Kirana Yudhoyono, aktris kelas bawah yang hampir kehilangan segalanya, tak sengaja menyelamatkan seorang anak trauma bernama Kael dari insiden berbahaya di sebuah gudang bar. Tindakannya menarik perhatian ayah Kael—Bryan Santoso, CEO SantoPrime yang dingin dan berkuasa. Terpesona oleh kedekatan Kirana dengan putranya, Bryan menawarkan balas budi yang tak masuk akal: pernikahan kontrak.
"Aku menyelamatkan putramu bukan untuk menikahimu, Tuan Bryan!"
"Tapi Kael membutuhkanmu, dan aku... hanya menerima hubungan dengan pernikahan sebagai syaratnya."
*saya baru mencoba untuk menulis genre seperti ini, semoga anda sekalian menyukainya ☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demene156, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Ciuman di Festival Bulan Purnama
Setelah sempat dilanda keraguan cukup lama, Kirana akhirnya memutuskan mencari Bryan tepat setelah mereka selesai makan malam bersama.
Ia berjalan menuju ruang kerja pribadi pria itu.
Berdasarkan pengamatannya selama ini, hampir setiap hari Bryan menghabiskan sebagian besar waktunya di sana jika sedang berada di rumah, bergelut dengan urusan bisnis yang seolah tak pernah ada habisnya.
Perlahan, Kirana membuka pintu besar dan berat itu.
Di dalam, Bryan duduk tegak di kursi kerjanya yang mewah dan nyaman, jelas dirancang khusus untuk para pemimpin perusahaan besar. Tatapannya fokus meneliti setumpuk dokumen yang harus ia periksa sebelum ditandatangani.
"Bryan, apa kamu sedang sibuk?" tanya Kirana pelan.
Ia masih berdiri di ambang pintu, belum berani masuk sepenuhnya ke ruangan yang auranya terasa begitu profesional.
Mendengar suaranya, Bryan langsung menghentikan pekerjaannya. Ia menoleh dan tersenyum tipis hangat.
"Ada apa?" tanyanya singkat.
"Aku ingin membicarakan hal yang tadi kita bahas," jawab Kirana serius.
Bryan segera meletakkan berkas di meja, lalu bangkit dan berjalan ke area sofa di tengah ruangan.
Melihat sambutan itu, Kirana masuk, menutup pintu rapat demi privasi, lalu menyusulnya.
Bryan duduk di sofa tunggal yang membelakangi meja kerja, sedangkan Kirana duduk di sofa panjang di depannya.
Mereka sudah duduk nyaman, tetapi pembicaraan belum dimulai.
Keheningan tipis menyelimuti ruangan.
Bryan sama sekali tidak terburu-buru. Ia hanya menunggu dengan sabar hingga Kirana sendiri yang membuka percakapan. Ia menanti jawaban atas permintaannya agar Kirana tinggal di kediaman Santoso selama tiga bulan lagi.
Kirana menarik napas dalam, mengumpulkan keberanian. Ia menatap mata Bryan.
"Bryan, soal permintaanmu tadi… aku sudah memikirkannya. Aku akan tinggal di sini selama tiga bulan lagi. Tapi setelah itu, aku benar-benar harus pergi."
Bagi Kirana, meski tidak ada hubungan apa pun di antara mereka saat ini, tetap saja terasa mencurigakan bila seorang wanita belum menikah tinggal serumah dengan pria lajang yang memiliki anak.
Hal seperti itu sangat mudah memicu kesalahpahaman dan gosip.
Bryan memang punya putra bernama Kael, tetapi sosok ibu kandung anak itu tak pernah muncul. Kirana tidak tahu apakah wanita itu masih hidup atau tidak—dan ia merasa itu bukan urusannya.
'Yang penting, tidak baik kalau aku terus tinggal di sini,' batinnya.
'Citra publik Bryan sebagai pimpinan perusahaan bisa rusak kalau media tahu,' pikirnya lagi.
'Karierku di dunia hiburan juga bisa hancur kalau wartawan mengetahui aku tinggal satu atap dengan pria tanpa status jelas,' lanjutnya dalam hati.
"Terima kasih." Bryan mengembuskan napas panjang, terdengar lega.
Namun sesaat kemudian, kilatan samar melintas di matanya—seolah ada rencana tersembunyi di balik ketenangannya.
"Besok kamu ada jadwal syuting?" tanyanya, mengalihkan suasana.
Kirana menghela napas lagi dan mengangguk.
"Ya."
Melihat ekspresinya kurang nyaman, Bryan bertanya pelan, "Ada apa? Adegan besok sulit?"
Kirana menopang dagu dengan satu tangan dan bersandar di sofa.
"Aku tidak bilang sulit secara teknis. Itu cuma adegan ciuman biasa. Masalahnya… aku harus melakukannya dengan Yono."
"Adegan ciuman…" Mata Bryan langsung sedikit menyipit.
Udara di sekelilingnya terasa lebih dingin.
"Aku khawatir nanti aku malah tidak tahan dan justru ingin meninju wajahnya di tengah adegan. Kalau itu terjadi, pasti jadi NG memalukan!" lanjut Kirana berapi-api.
Ia sama sekali tidak menyadari perubahan sikap Bryan.
Padahal pria itu sudah lama tahu adegan itu ada. Selama ini ia sengaja menghindari memikirkannya karena takut tak mampu mengendalikan diri dan malah melakukan sesuatu yang membuat Kirana membencinya.
Tiba-tiba Kirana menepuk jidatnya.
"Ah benar! Bryan, ada satu hal lagi. Aku harus berterima kasih padamu."
"Untuk apa?" Bryan masih agak linglung.
"Aku baru tahu bahwa Tuan Muda Kedua—adikmu, Arion—ternyata menambahkan investasi besar ke proyek film ini."
"Jadi sebenarnya kamulah yang menyuruhnya memastikan aku mendapat peran pemeran wanita kedua, kan?"
"Terima kasih."
Nada suaranya tulus.
"Aku senang kamu tidak menyalahkanku karena melakukan itu diam-diam," jawab Bryan dengan senyum tipis.
"Aku tidak sebodoh itu. Aku tahu kapan harus bersyukur," ujar Kirana sambil tertawa kecil.
"Sama-sama. Itu kebetulan saja," katanya tenang.
Ia tetap tidak mengungkapkan alasan sebenarnya—bahwa ia melakukan semua itu demi mendukung karier Kirana.
Kirana pun tidak menyadarinya. Ia masih mengira Bryan melakukannya karena Yono juga terlibat di film itu dan berada di bawah naungan anak perusahaan SantoPrime, Glory World Entertainment.
Dalam pikirannya, wajar saja perusahaan besar menggelontorkan dana untuk mendukung artis mereka sendiri. Ia tidak pernah membayangkan dana itu sebenarnya dikeluarkan khusus untuk dirinya.
Kirana lalu berkata dengan tulus,
"Mungkin bagimu itu hal kecil. Tapi bagiku itu bantuan besar. Rasanya ucapan terima kasih saja tidak cukup."
Ia tersenyum hangat.
"Bagaimana kalau nanti saat aku punya waktu luang, aku memasak sesuatu yang spesial untukmu dan Kael?"
"Biasanya aku malas masak, tapi sebenarnya aku jago. Percayalah, kalau dulu aku tidak masuk dunia hiburan, mungkin sekarang aku sudah jadi koki profesional!" katanya percaya diri.
Bryan tersenyum lebih lebar.
"Aku akan menantikannya," ujarnya singkat.
Namun di dalam hatinya, ia benar-benar menunggu momen itu.
Keesokan harinya.
Begitu tiba di lokasi syuting, dari kejauhan Kirana sudah melihat sekelompok besar gadis berkumpul di dekat area set.
Di antara kerumunan itu ada satu kepala berambut pirang yang sangat mencolok.
Sekali pandang saja Kirana langsung tahu itu Yono Barsa, yang sedang dikelilingi para "predator betina"—sebutan pribadinya untuk penggemar fanatik pria itu.
Secara naluriah ia hendak berbelok untuk menghindari kerumunan, tetapi tepat saat ia mulai melipir, seseorang berteriak keras—
"Ah! Lihat! Itu Kirana!"
Jantung Kirana langsung berdegup kencang.
Ia refleks mengangkat tangan, siap melindungi wajahnya dari kemungkinan lemparan barang atau serangan mendadak.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Para gadis itu tiba-tiba berbaris rapi, lalu membungkuk bersamaan.
"Kami semua benar-benar minta maaf—!"
Sesudah itu mereka menatap Kirana dengan mata berbinar penuh kekaguman.
"Nona Kirana, kami sungguh minta maaf! Ternyata selama ini kami salah paham! Tolong jangan membenci kami, ya? Tetap semangat memerankan Laura Pitaloka di film ini!"
"Benar! Aktingmu luar biasa! Sekarang kami justru sangat suka melihat adeganmu bersama Mas Yono!"
"Aku bahkan memutar ulang adegan sepuluh detik kalian berkali-kali sepanjang hari!"
Kirana benar-benar terkejut melihat perubahan sikap mereka.
Secara refleks ia melirik Yono, meminta penjelasan.
Yono tampak sedang sangat senang saat berjalan mendekat.
"Bukankah kemarin Sutradara Galang mengunggah klip behind the scene ke media sosial? Klip itu menyertakan adegan perbudakan yang kita rekam."
"Mereka semua sudah menontonnya dan akhirnya mengakui kemampuan aktingmu. Dari pembenci jadi penggemar," lanjutnya bangga.
"Eh… cuma karena itu?" gumam Kirana tak percaya.
Penggemar memang bisa sangat tergila-gila pada idola mereka. Namun sebenarnya hanya sedikit yang benar-benar berharap interaksi intim di dunia nyata, karena itu terasa mustahil.
Karena itulah film, drama, dan media lain menjadi saluran utama tempat mereka menyalurkan fantasi.
Jika seorang aktris harus beradu adegan mesra dengan idola pria mereka, reaksi pertama biasanya cemburu.
Apalagi kalau akting sang aktris buruk, penggemar akan merasa idolanya diperlakukan tidak adil.
Sebaliknya, jika aktrisnya hebat, mereka justru membayangkan diri mereka sendiri berada di posisi adegan itu. Bagi mereka, itu kepuasan fantasi tertinggi.
Itulah situasi unik yang kini dialami Kirana.
"Jadi semua orang ternyata senang melihat aku dipermalukan olehmu?" tanya Yono dengan wajah sedih yang jelas dibuat-buat.
Para predator betina langsung histeris membela. Mereka buru-buru menyangkal, meski mengakui sangat menyukai adegan tersebut karena masing-masing membayangkan diri mereka sendirilah yang melakukannya pada Yono.
"Mas Yono, katanya kalian punya banyak adegan mesra di film ini, ya? Hari ini ada adegan ciuman?" tanya salah satu penggemar penuh antusias.
Yono mengangkat alis, melirik Kirana sebentar sebelum menjawab santai.
"Ya, hari ini memang ada satu adegan ciuman."
"Kyaaaa—!"
Gelombang teriakan kegembiraan langsung memekakkan telinga.
"Bolehkah kami tetap di sini menonton prosesnya? Boleh, Mas Yono? Boleh?"
Keributan kecil pun pecah saat mereka terus mengulang pertanyaan yang sama.
"Adegan hari ini rencananya diambil di luar ruangan. Jadi kalian mungkin masih bisa melihat dari pinggir lokasi, walau dari jauh tidak akan terlalu jelas," jawab Yono ramah.
"Tidak masalah! Tidak masalah sama sekali! Kami sudah membawa perlengkapan tempur!"
Serempak para gadis itu mengeluarkan teropong dari tas masing-masing—perlengkapan wajib penggemar garis keras.
"..."
Kirana terdiam total.
Dengan begitu banyak mata yang akan menonton langsung, ia bisa merasakan tekanan besar yang menunggunya nanti.
Di dalam tenda persiapan khusus pemeran utama.
Begitu masuk, Kirana langsung bertanya, "Adegan ciuman ini… sebenarnya ada di bagian mana dalam naskah?"
Belakangan jadwal syuting mereka memang sering berubah mendadak, sehingga Kirana hanya tahu garis besar cerita tanpa sempat mendalami urutan adegan harian.
Yono membolak-balik naskah di tangannya dengan antusias.
"Ini bagian Perayaan Purnama Agung. Aku sudah mengonfirmasi langsung ke sutradara semalam," jawabnya.
Mendengar itu, Kirana langsung teringat.
"Perayaan Purnama Agung? Bukankah itu adegan saat Laura Pitaloka dan Rama Pranata pertama kali berciuman di tengah pesta rakyat?" tanyanya memastikan.
"Benar. Lokasinya di alun-alun kerajaan, saat seluruh rakyat merayakan malam purnama," sahut Yono dengan senyum penuh arti.
Tiba-tiba Yono mendekat dengan tatapan waspada, lalu mengendus udara di sekitar wajah Kirana.
"Kamu masih ingat yang kukatakan kemarin, kan? Kamu tidak makan apa pun yang baunya tajam hari ini?" tanyanya curiga.
Kirana langsung menepis wajah Yono menjauh.
"Wajahku terlihat seperti orang yang tidak profesional?" balasnya tersinggung.
"Pokoknya ingat kata-katamu tadi! Kalau ternyata kau menipuku dan mulutmu bau, aku akan langsung mengadu ke sutradara!" ancam Yono dengan gaya kekanak-kanakan.
Tatapannya tetap penuh curiga.
Bagaimanapun, wanita di depannya ini sudah terlalu sering mempermainkannya di masa lalu. Ia tidak berani lengah sedikit pun.
Kirana menatap balik dengan angkuh.
"Kau sudah besar, tapi masih suka mengadu seperti murid SD. Sebenarnya kau ini masih anak-anak?" ejeknya.
Yono mendengus kesal dan memalingkan wajah.
"Aku malas bicara lagi. Sekarang aku mau latihan chemistry denganmu untuk adegan penting ini," katanya.
Kirana justru memutar kursinya agar menghadap Yono sepenuhnya.
"Apa lagi yang perlu dilatih? Nanti saat waktunya tiba, akulah yang pegang kendali peran dan akulah yang akan memaksamu menciumku. Sekarang cepat kemari, ada yang ingin kutanyakan."
"..."
'Sialan… kenapa kata-katanya malah membuatku ingin dia benar-benar memaksaku menciumku?' batin Yono sambil merutuki pikirannya sendiri.
"Apa lagi yang mau kau tanyakan?" ucap Yono dengan nada masih kesal.
"Bagaimana pihak produksi menangani peran Qiana Putri setelah dia dikeluarkan?" tanya Kirana.
"Tentu diganti orang lain. Aku dengar dari Bang Fahri, penggantinya aktris dari Glory World juga. Katanya penyanyi pendatang baru," jawab Yono.
"Penampilannya memang tidak buruk, tapi kudengar dia belum punya pengalaman akting. Kurasa dia tidak akan mampu tampil cukup baik untuk film sebesar ini," lanjutnya meremehkan.
"Begitu ya. Ngomong-ngomong, kau tahu kondisi terbaru Qiana sekarang?" tanya Kirana.
"Apa lagi kalau bukan skandalnya? Kasus perselingkuhannya membesar sampai istri sah pria itu tahu langsung," jawab Yono.
"Wanita itu menyuruh orang bayarannya menelanjangi Qiana di jalan dan memukulinya. Setelah itu dia mengancam agar Qiana segera meninggalkan ibu kota. Katanya kalau tidak, lain kali dia akan langsung menghabisinya," lanjut Yono dengan nada ngeri.
"Awalnya aku sempat khawatir dia akan melakukan sesuatu padamu kalau merasa terpojok. Tapi sekarang sepertinya tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan," tambahnya lega.
Tepat saat itu, suara lantang sutradara terdengar dari luar tenda—
"Kirana! Yono! Segera selesaikan rias wajah kalian! Adegan berikutnya giliran kalian!"
Saat itu malam baru saja tiba, dan pencahayaan alami di lokasi terasa sempurna untuk tema film.
Tim properti telah menyiapkan dekorasi dengan maksimal, sementara para figuran sudah berada di posisi masing-masing.
Setelah berganti ke kostum karakternya, Yono justru tiba-tiba merasa sedikit gugup.
Meskipun dulu ia dan Kirana pernah menjalin hubungan saat masih di luar negeri, kenyataannya ia bahkan belum pernah benar-benar menyentuh gadis itu secara penuh. Hubungan mereka kala itu paling jauh hanya sebatas berpegangan tangan atau berpelukan singkat—jangankan berciuman.
Ia tidak pernah menyangka bahwa momen ciuman pertama mereka justru terjadi bukan saat mereka berpacaran, melainkan ketika berakting profesional di depan kamera.
Yono hendak menarik napas panjang berulang kali untuk menenangkan jantungnya, tetapi tiba-tiba punggungnya dipukul cukup keras dari belakang.
Pelakunya ternyata Kirana, yang sudah mengenakan kostum Laura Pitaloka yang pas di tubuh, rapi, dengan rambut hitam panjang dikuncir tinggi secara gagah.
Dengan gaya malas khasnya, Kirana merangkul bahu Yono.
"Ada apa denganmu, si rambut pirang? Jangan bilang kau mendadak gugup?" ejeknya.
"Pergi sana! Siapa yang gugup! Kau harus tahu, aku sudah syuting adegan ciuman lebih banyak daripada jumlah butiran nasi yang pernah kau makan!" balas Yono sambil mendorong bahu Kirana kasar untuk menutupi rasa malunya.
Namun bahu yang tadi disentuh Kirana justru terasa panas seperti terbakar.
Saat itu Sutradara Galang berjalan mendekat dengan ekspresi agak cemas.
"Sepertinya kerumunan penonton di sekitar sini benar-benar tidak bisa disingkirkan. Kalian masih bisa lanjut adegan ini dalam kondisi seperti ini?"
Biasanya, adegan intim seperti ini dilakukan di lokasi tertutup dengan kru terbatas agar aktor tidak canggung.
Kirana tetap terlihat santai. Ia hanya mengangkat bahu.
"Aku tidak masalah, Sutradara. Barusan Senior Yono sendiri bilang dia sudah syuting adegan ciuman lebih banyak daripada aku makan nasi. Jadi rasanya tidak perlu mengosongkan lokasi demi dia," jawabnya jahil.
Galang langsung tertawa.
"Kalau begitu, kita mulai saja!"
Setelah itu ia tetap memberi penguatan agar mereka tidak tegang.
"Ini adegan ciuman terpenting di seluruh film, jadi aku akan meminta performa terbaik dari kalian berdua," ujarnya serius.
"Tapi kalian masih dalam tahap adaptasi peran, jadi tidak apa kalau percobaan pertama belum sempurna. Kita lakukan pelan-pelan saja."
"Tidak masalah kalau harus mengulang beberapa kali sampai hasilnya benar-benar pas."
Mendengar itu, sudut mulut Yono berkedut.
Ia sama sekali tidak merasa terhibur. Jantungnya malah berdetak lebih cepat.
'Astaga… ini cuma adegan ciuman profesional! Kenapa jantungku berdebar sekencang ini?' batin Yono panik.
Tak seorang pun di lokasi menyadari bahwa tepat di atas mereka, beberapa drone kamera mini berteknologi HD melayang diam di langit malam.
Kurang dari seratus meter dari pusat lokasi, sebuah MPV mewah hitam terparkir tenang di sudut jalan gelap.
Di kursi belakang mobil itu, beberapa adegan yang sedang berlangsung diproyeksikan jelas ke layar monitor.
Bryan Santoso duduk di sana dengan setelan jas gelap formal. Kemeja putihnya terkancing rapi hingga kerah atas.
Jari-jarinya yang panjang menopang dahi, sementara pupil matanya yang gelap memantulkan cahaya layar.
Ia menatap diam sosok gadis di monitor setelah gadis itu berganti kostum.
Di sampingnya, Arion sempat menjulurkan kepala keluar jendela untuk melihat situasi luar, lalu kembali menatap layar.
Wajahnya tampak bingung sekaligus khawatir.
"Abang… kau benar-benar hanya akan menonton dari sini tanpa melakukan apa pun?" tanya Arion hati-hati.
"Bukankah lebih baik kau tadi tetap di rumah saja? Ada pepatah bilang, jauh dari pandangan maka jauh dari pikiran. Apa yang kau lakukan sekarang justru seperti sengaja menyiksa diri," lanjutnya.
Sambil berbicara, Arion menatap ngeri ekspresi kakaknya yang tampak terlalu tenang di bawah cahaya redup.
'Kalau kau tidak segera meluapkan amarahmu, kau bisa mati di dalamnya… kenapa aku punya firasat buruk sekali tentang ini?' batinnya.
Arion tumbuh bersama Bryan. Ia sangat memahami kepribadian kakaknya.
Dari luar, pria itu tampak dingin, acuh, seolah tidak menginginkan apa pun.
Padahal kenyataannya, Bryan memiliki sifat posesif ekstrem terhadap apa pun yang ia anggap miliknya atau berada dalam wilayahnya.
Sejak Kirana hadir dalam hidup mereka, hampir semua ekspresi Bryan yang terlihat hanya sisi ceria dan lembut.
Namun Arion tahu betul—selama ada sesuatu yang Bryan inginkan, tidak ada satu pun di dunia ini yang tak bisa ia dapatkan.
Itu adalah kesabaran seekor binatang buas yang sedang mengincar mangsa.
'Ketegangan tenang ini cuma kedok. Tidak ada yang tahu kapan kedok itu runtuh dan meledak menghancurkan segalanya,' batin Arion gemetar.
Beberapa hari terakhir, Arion hidup dalam tekanan konstan.
Terutama setelah mengetahui fakta mengejutkan bahwa Yono—keponakannya sendiri—pernah menjalin hubungan dengan Kirana di masa lalu.
Ia benar-benar mengkhawatirkan nasib Yono.
'Duh… sepertinya aku harus mencari kesempatan untuk memperingatkan Yono. Kalau tidak, saat Abang kehilangan kendali nanti…'
'Aku bahkan tidak berani membayangkan seburuk apa akhir hidupnya,' batin Arion sambil menghela napas pasrah.
Proses pengambilan gambar akhirnya resmi dimulai.
Suasana lokasi syuting kini berubah menjadi gambaran ibu kota kuno yang indah.
Di sepanjang jalan utama kota fiksi itu, para pedagang figuran berderet rapi menjajakan berbagai barang—mulai dari pelita minyak, anyaman janur berbentuk burung dan bunga, hingga papan permainan teka-teki beraksara kuno.
Beberapa penabuh gamelan duduk bersila di atas panggung bambu yang telah disiapkan.
Mereka memukul bilah logam perlahan, menciptakan irama yang menggantung hangat di udara malam yang sejuk.
Figuran lain berlalu-lalang membawa obor kecil dan lampu tanah liat, membuat wajah mereka berpendar keemasan.
Suara tawa, panggilan, dan gurauan para pedagang bersahut-sahutan seperti debur ombak kecil yang menenangkan.
Karakter Rama Pranata berada di balai tabib miliknya, sibuk merawat pasien, ketika Laura Pitaloka tiba-tiba datang dan menyeretnya keluar secara paksa.
Kamera mengikuti pergerakan mereka dengan dinamis.
Di bawah lensa, tampak seorang gadis dan pemuda berlari di jalan berbatu yang bermandikan cahaya pelita. Bayangan tubuh mereka memanjang di tanah seperti lukisan hidup yang terasa ringan, hangat, dan nyaris surealis.
Adegan ini hampir tanpa dialog; kekuatannya bertumpu pada suasana dan perubahan ekspresi wajah kedua pemeran utama.
Laura Pitaloka tampak riang dan bersemangat. Matanya berbinar memantulkan nyala obor di sekelilingnya.
Rama Pranata awalnya terlihat canggung, tetapi perlahan ekspresinya melunak. Ia seolah mulai tertarik oleh semangat membara gadis di sampingnya.
Mereka berjalan berdampingan di tengah arus rakyat yang merayakan malam purnama dengan suka cita.
Beberapa saat kemudian Rama menyadari tangannya masih digenggam erat oleh Laura. Ia segera mencoba menariknya karena merasa tidak pantas.
Namun Laura justru mempererat pegangan, wajahnya jelas menunjukkan bahwa tangan pria itu kini sudah menjadi miliknya.
"Nona Laura, mohon jaga tata krama," kata Rama tergesa. "Lelaki dan perempuan yang belum menikah tidak boleh bersentuhan sembarangan di depan umum."
Laura menatapnya dengan alis berkerut kesal.
"Tabib kolot! Kalau aku melepaskan tanganmu sekarang lalu kita terpisah di kerumunan sebanyak ini, bagaimana?"
"Kalau terpisah, biarkan saja!" balas Rama refleks. Wajahnya memerah antara kesal dan malu.
"Rama Pranata! Kau—!"
Dengan wajah jengkel, Laura menepis tangannya lalu berlari menjauh, menghilang di lautan manusia yang berpesta.
Pakaian merah marun yang dikenakannya makin lama makin tenggelam di antara kerumunan.
Seketika ekspresi Rama berubah.
Kecemasan merambat pelan ke dalam dadanya.
Ia teringat kabar menakutkan yang beredar akhir-akhir ini tentang komplotan penculik gadis muda di pinggiran ibu kota. Malam ini rakyat tumpah ruah di jalanan.
"Jika sesuatu yang buruk sampai terjadi pada Laura—"
Pikiran itu membuat dadanya menegang.
Ia lupa bahwa Laura bukan gadis lemah. Ia seorang pejuang. Jika benar ada penjahat berani mengganggunya, kemungkinan besar justru merekalah yang akan menyesal.
Kamera terus mengikuti Rama saat ia panik menyusuri keramaian, menoleh cepat ke segala arah, napasnya mulai tak teratur.
Tepat ketika kepanikan hampir meruntuhkan ketenangannya, seseorang menepuk bahunya dari belakang.
Rama segera berbalik.
Sosok bertopeng kayu ukir berdiri di sana. Matanya melengkung jenaka, dan suara ceria terdengar dari balik topeng.
"Tabib Rama, apakah Anda sedari tadi mencari saya?"
Begitu mengenali suara itu, seluruh ketegangan di tubuh Rama runtuh dalam satu helaan napas.
Tanpa berpikir, ia menarik gadis itu ke pelukan erat.
Selama ini Rama dikenal sebagai pria tenang dan dingin yang selalu menjaga jarak. Reaksi spontan barusan jelas di luar dugaan.
Laura mematung di pelukannya.
Di sekeliling mereka pesta rakyat masih berlangsung meriah—gamelan berdentang pelan, pelita berkelip indah, dan bulan purnama utuh menggantung di langit, seolah ikut menahan napas bersama dunia.
Adegan berikutnya dalam naskah adalah saat Laura memulai ciuman pertama mereka.
Penonton di kejauhan menahan napas. Mereka takut satu suara saja akan memecah keajaiban suasana.
Bahkan tanpa melihat hasil akhir, semua orang sudah tahu momen ini akan menjadi lukisan paling indah dalam seluruh film.
Pada saat yang sama, di dalam MPV hitam yang terparkir tak jauh dari sana, ada seseorang yang jauh lebih takut untuk bersuara—bahkan untuk bernapas.
Orang itu adalah Arion.
Ia meringkuk di sudut dekat jendela, berusaha menjaga jarak sejauh mungkin dari kakaknya. Aura Bryan membuatnya tak berani membuka mata untuk melihat apa yang terjadi.
Ia tak percaya kakaknya yang posesif tingkat dewa bisa duduk diam menonton tanpa melakukan apa pun.
Barusan saja saat melihat Kirana menggenggam tangan Yono, lalu bayangan pelukan mereka, suhu kabin terasa membeku seperti kutub.
'Lalu apa yang akan terjadi saat mereka benar-benar berciuman nanti?' batin Arion ngeri. 'Semoga tidak ada pertumpahan darah malam ini…'
Apa pun yang berkecamuk di pikirannya, Arion tetap tak mengerti bagaimana Bryan akan menghentikan adegan itu tanpa membuat Kirana marah.
Dengan hati-hati ia mengintip layar monitor melalui sela jari.
Di layar, Kirana perlahan melepas topengnya.
Ia menatap Yono dengan tatapan penuh kasih, lalu mengulurkan tangan menarik leher pria itu perlahan untuk memulai ciuman—
'Selesai sudah. Tamat. Pasti ada yang mati malam ini…' batin Arion pasrah.
Namun tepat ketika ketegangan mencapai puncak—
Satu per satu obor dan pelita yang menerangi lokasi mendadak padam bersamaan.
Bukan meredup. Bukan tertiup angin.
Semuanya mati seketika, seolah ada kehendak tak kasatmata yang mencabut seluruh cahaya malam itu.
Tiang-tiang api di alun-alun kini hanya menyisakan kepulan asap putih tipis.
Kini hanya cahaya bulan purnama yang tersisa, menumpahkan sinar pucat dingin ke wajah semua orang.
Suasana lokasi syuting langsung berubah mencekam dan sunyi.
Seakan-akan amarah seseorang yang selama ini membara dalam diam baru saja meledak—dan merenggut seluruh cahaya dunia sebagai bentuk protesnya.
Bersambung…
semangat 💪💪