Realitanya,kita tidak pernah tahu bagaimana jalan menuju takdir itu sendiri
yang membuat kita menerka-nerka dimana kaki ini akan menapak esok hari.
'Tuhan tidak pernah salah dan tidak pula terlambat dalam menetapkan suatu takdir kepada hamba-Nya'
'Kamu tahu sayang?aku bertaruh dengan diriku sendiri bahwa suatu saat hatimu yang sempit itu akan menjadikanku tempat pulang yang paling nyaman untuk kamu singgahi'.~ Elvita
'pernikahan ini hanya sementara,Sampai Kakak pertamaku melahirkan anak pertamanya mari mengurus surat perceraian'~Bian
Pernikahan yang awal nya berdasarkan kesepakatan itu akhirnya mengungkap tabir lama kedua keluarga yang hampir diambang kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Twdyaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
memangkas jarak
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah pertemuan Bian dan Leo kala itu,entah mengapa membuat pandangan nya pada Elvita seketika berubah
Saat acara Party Khanza,dia mengira laki laki yang terlihat begitu akrab dengan Elvita adalah kekasihnya,rupanya dia sudah salah menilai
"Ini adalah sepupu Elvita nak" ucap nyonya Sila memperkenalkan Leo
Dan itu membuatnya sedikit menyesal ketika menuduh yang tidak-tidak pada Elvita.
......................
setelah berkenalan dengan beberapa keluarga besar dari Tuan Heru dan nyonya Sila,
pagi ini Bian sudah meminta izin pada kedua orang tua Elvita untuk membawa putri semata wayangnya pindah ke manshion yang akan ditempati Bian dan Elvita nanti.
"Baik-baik disana nanti sayang...jadilah istri yang baik dan terhormat untuk suami mu" nyonya Sila memberi pelukan untuk putri tercinta nya.
"Baiklah mom,aku akan sering mengunjungimu"
"Semoga pernikahan kalian selalu di berkahi dengan keselamatan dan kebahagiaan"
Meski sempat bertentangan karna Bian beberapa kali hampir menghancurkan perusahaannya,tetap saja Tuan Heru melupakan pertentangan di masa itu dan menyambut hangat hubungan yang mereka jalin sekarang.
"Aamiin dad"Bian memeluk Tuan Heru yang dengan tulus mendoakan pernikahannya.
sebenarnya nyonya sila sangat keberatan jika Elvita keluar dari rumahnya,dia hanya merasa belum siap meskipun Elvita berkata akan sering mengunjunginya
Tapi bagaimana pun dia harus ikhlas sebab putri nya kini sudah menjadi tanggung jawab penuh suaminya.
akhirnya,setelah berpamitan Bian mengajak Elvita untuk menaiki mobil nya menuju ke manshion mereka.
hening
disepanjang perjalanan kedua nya sama sekali tidak mengeluarkan suara
Bian fokus menyetir sedangkan Elvita hanya memandang ke arah jendela mobil lebih memilih menikmati perjalanan luar.
"Aku pikir kita harus makan siang Bi" Elvita memecah keheningan diantara mereka
bukannya menjawab Bian justru hanya diam tanpa menoleh ke arah nya sedikitpun
oh ayolah Elvita sudah menurunkan sedikit harga dirinya untuk memulai pembicaraan tapi Bian malah mendiamkannya?
"Isss dia menganggap ku hantu kah" gumamnya pelan
dia pun memilih untuk memejamkan matanya daripada harus mengambil keputusan yang akan membuatnya makin malu jika tidak di respon
baru saja memejamkan matanya,tiba-tiba mobil yang mereka kendarai berhenti didepan sebuah restoran mewah dengan nuansa khas ala Indonesia.
"Kamu tidak mau turun?bukankah kamu lapar?
Elvita tersadar dari pemikiran nya ketika mendengar ucapan Bian.
"Kamu memilihnya khusus untukku?bagaimana kamu tahu ini tempat favorit ku Bi" Tanya Elvita penuh harap,entah mengapa dia berharap Bian menjawab Ya.
"Kamu pikir begitu spesial hingga aku tahu tempat favorit mu,jangan berkhayal dan turunlah Elv"
jawaban Bian membuat Elvita mendengus pelan
'tidak bisakah dia menjawab dengan lebih santai' Elvita keluar dan menutup pintu mobil dengan begitu keras sehingga membuat Bian tersentak kaget dan dengan cepat keluar menyusul Elvita yang sudah memasuki area depan restoran.
Semua Karyawan dan pelanggan yang melihat Bian Brawijaya datang dengan seorang gadis cantik langsung membuat semua orang menerka-nerka
itukah gadis yang menjadi pengantin pengganti untuk Bian?
desas desus belakangan mengatakan jika Helena gadis yang akan menjadi nona muda keluarga Brawijaya itu berselingkuh ketika hari pernikahan mereka sudah begitu dekat
dan desas desus berikutnya adalah anak semata wayang keluarga Heru company yang akan menjadi pengantin pengganti wanita menggantikan Helena.
Tidak salah jika Anak gadis dari keluarga Heru itu menjadi pilihan,sebab selain kecantikannya yang memang sudah bisa dipastikan akan membuat orang-orang terpaku jika melihatnya,kepintaran seorang Elvita juga patut diacungi jempol karena beberapa kali gadis itu mengikuti beberapa lomba dalam berbagai ajang dan pulang dengan kemenangan.
jelas saja mereka hanya bisa berbicara didalam hati sebab takut menyinggung seorang Bian.
"Aku pesan Daging Malbie,rendang dan jus Alpukat" ucap Bian kepada salah satu pegawai disana.
'Bukankah sangat kebetulan?Bian bahkan memesan menu favoritku'batin Elvita
"kalau nona?"
"ahhh...samakan saja mbak" ucap Elvita.
"Apakah kita saling mengenal sebelumnya Bi?atau kamu mencari tahu tentang diriku"
Tanya Elvita sesaat setelah pegawai tersebut pergi yang jelas saja membuat Bian mengerutkan keningnya.
"Kamu sakit Elv?daritadi pertanyaan kamu membuatku bingung"
Jawaban dari Bian membuat Elvita sadar jika ini memang sebuah kebetulan.
Ahh bukankah Bian membuat Elvita malu dengan menjawab seperti itu?
oh God! Elvita jelas saja malu dengan kepercayaan dirinya.
"aku pikir usia ku sudah memasuki tahap dimana membuatku berbicara sembarangan hahahah" kilah Elvita tanpa sadar memukul lengan Bian dengan tawa sumbang nya.
"Umurmu baru dua puluh empat tahun"
what!
Baru saja Elvita ingin marah atas perkataan Bian tapi makanan yang baru datang jelas saja membuat nya lebih tertarik
Dia tidak ingin menghancurkan mood makannya dengan pemikirannya yang sungguh diluar kendali.
Melihat itu Bian hanya tersenyum tipis membuat Elvita tidak akan menyadarinya.
kedua nya pun menikmati makanan khas Indonesia itu dengan nikmat tanpa membuat suara ataupun berbicara
tanpa disadari,percakapan dan perdebatan kecil diantara mereka memangkas jarak kedua orang yang sebelumnya tidak saling mengenal itu.
~Bukankah cinta memang begitu?tanpa kita sadari dia hinggap begitu saja di hati,lewat melalu celah mana saja~
...----------------...
Leo mengerutkan keningnya ketika gadis dihadapannya saat ini menutupi wajahnya dengan sebuah tas kecil ditangannya.
"Kak,ada Khanza disini aku sudah lama ingin mempertemukan kalian ber..."
Lea terkejut ketika menoleh mendapati Khanza yang sudah menoleh kebelakang dengan wajah yang dia tutupi.
"kamu sedang apa?" Lea mendekat dan dengan cepat menarik tas itu dari wajah khanza
mengetahui sahabatnya menarik paksa tas itu jelas saja membuat Khanza juga ikut menarik tas tersebut
alhasil terjadilah tarik menarik,dan didetik berikutnya tas yang menutupi wajah Khanza tadi sudah berada sepenuhnya ditangan Lea.
Hahahaha
"Halo kak..."
Elvita tertawa masam untuk menyembunyikan kemaluannya yang sudah tidak dapat ia tahan.
Dia tersenyum menyapa Leo dengan senyum yang sangat kaku.
'oh yaTuhan,kenapa dunia begitu sempit'
"Ada apa sayang?kamu begitu pucat?" Tanya Lea khawatir
"Ah tidak apa-apa Lea hanya sedikit panas"
"kamu gila?ruangan ini sudah begitu dingin"protes Lea
"sudahlah..." Lea tidak ingin memperpanjangnya dan lebih memilih untuk fokus pada kakaknya
"Khanza kenalkan ini kakakku Leo,dan Kak ini sahabat ku Khanza" ucap Lea singkat ketika mereka sudah kembali duduk di kursi
"Bukankah kakak ku begitu tampan,sayang?" Goda Lea pada sahabatnya seketika membuat wajah Khanza memerah karena malu
sedangkan Leo hanya diam
"kenapa kakak telat datang?" seketika dia teringat ingin menanyakan ini pada kakaknya.
Sebenarnya dia sangat ingin merajuk sekarang mengingat kedua orang yang sudah duduk disamping dan dihadapannya saat ini sudah membuat dirinya menunggu begitu lama.
tapi yasudahlah dia tidak ingin membuatnya pusing,karena mendengar perkataan Khanza yang sudah putus dari devano tadi membuatnya sedikit ingin merayakan keputusan Lea hari ini.
sedari dulu dia memang sudah memikirkan jika Leo sangat cocok dengan sahabatnya Khanza,tapi tidak pernah bertemu waktu yang pas untuk mempertemukan keduanya.
ahh otak Lea tiba tiba saja tercetus sebuah rencana.
"Kamu tahu?seorang gadis yang sedang bertengkar dengan pacarnya tiba-tiba saja menghadangku lalu mengaku ngaku menjadi pacarku dengan memeluk tubuhku bahkan memanggilku sayang...karena itulah kakak terlambat sayang"
mendengar penjelasan laki laki dihadapannya ini membuat Khanza mengeratkan pegangan pada gelas minumnya.
dia tidak menyangka laki laki itu akan menyinggung kejadian tadi kepada Lea namun sedikit bersyukur dia tidak menyebutnya bahkan kakak dari sahabatnya itu berbicara panjang tanpa menoleh ke arah dirinya seakan-akan gadis yang ia temui tadi bukan dirinya.
"Benarkah?bukankah gadis itu sudah gila?"
jawaban Lea jelas saja membuat Khanza melotot
ohh ayolah bagaimana jika Lea tahu jika gadis yang diceritakan kakaknya itu adalah dirinya.
Leo hanya mengangkat kedua bahu nya lantas menyantap makanan yang sudah ada dihadapannya dengan begitu tenang.
tringg
"Aku angkat dulu ya"
satu panggilan dari handphone Lea membuat nya sedikit menjauh dari ruangan itu.
"kamu tidak ingin meminta maaf atas kejadian tadi?"
ehh
seketika Khanza menoleh malas ke arah Leo yang saat ini menatap nya lekat.
entah kenapa rasa malu tadi berganti menjadi rasa kesal pada laki laki itu.
"meminta maaf setelah kamu mengataiku gila?"
"Bukankah Lea yang berkata seperti itu?kamu mendengarnya sendiri"
"Tapi kamu tidak menjawab,berarti kamu juga menyetujuinya!" sungut Khanza takterima
"Bukankah aku yang seharusnya marah karena kamu memelukku tanpa izin?"
Ketika Khanza ingin menjawab perkataan Leo tiba-tiba saja Lea datang,dia pun mengurungkan niatnya.Tapi tatapannya jelas begitu ketara jika dia begitu marah pada laki laki yang duduk diseberang nya itu.
"apakah ada pertengkaran disini?" Tanya Lea
...----------------...
maaf jika ada kesalahan atau typo*