Di tengah beban hidup yang menghimpit, Xiao Han— pemuda 22 tahun yang menjadi tulang punggung keluarga, berjuang mati-matian menghidupi ibunya yang lumpuh serta membiayai pendidikan adik perempuannya yang baru kelas 1 SMP. Gaji sebagai tukang antar surat tak pernah cukup untuk menutupi biaya pengobatan dan kebutuhan sehari-hari.
Dengan putus asa namun tekad kuat, Xiao Han akhirnya membuka jasa panggilan pria, dan mempromosikannya secara diam-diam di media sosial. Awalnya hanya sebagai cara bertahan hidup, layanan ini perlahan membawanya masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: pertemuan-pertemuan rahasia, rahasia klien, dan batasan moral yang terus diuji.
Hingga suatu malam, satu panggilan khusus datang, sebuah pengalaman yang tak terduga, penuh risiko, dan emosi yang mengubah segalanya. Pertemuan itu bukan hanya mengguncang hidupnya saat ini, melainkan juga membuka pintu menuju masa depan yang akan mengubah kehidupannya secara drastis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Pagi itu Kota Golden Core sudah ramai dengan lalu lintas pagi, tapi Xiao Han baru tiba di depan gedung kantor pusat Lin Group pukul 07:25—terlambat 25 menit dari jadwal biasa. Mercedes hitam yang dia kendarai berhenti di parkir eksekutif dengan napas tersengal. Matanya merah karena kurang tidur, bibir bawahnya masih membengkak samar dari bekas luka semalam, dan tubuhnya terasa berat seperti membawa beban tambahan.
Lin Qing sudah menunggu di lobby utama, berdiri dengan tangan terlipat di dada, blazer putih rapi dan rok pensil hitam membuatnya terlihat seperti ratu bisnis yang tak tersentuh. Wajahnya masam, alisnya berkerut, mata dinginnya langsung menatap tajam begitu Xiao Han masuk melalui pintu kaca.
“Kamu telat 25 menit,” katanya dingin, suaranya pelan tapi menusuk. “Aku sudah telpon tiga kali. Meeting dengan investor dimulai 10 menit lagi. Kamu tahu ini penting.”
Xiao Han menunduk sebentar, napasnya masih agak tersengal.
“Maaf, Bu Lin. Saya baru pulang dari tugas malam. Ada kejadian di tempat kerja sampingan saya. Pencuri masuk, saya harus tangani sampai polisi datang. Baru bisa tidur sebentar.”
Lin Qing menatapnya lebih lama, melihat bekas luka di bibir dan mata yang kelelahan. Wajah masamnya sedikit melunak, tapi nada suaranya tetap tegas.
“Kamu tambah kerja malam lagi? Kamu sudah supir pribadiku, Han. Kenapa masih ambil panggilan lain? Kamu pikir aku nggak cukup bayar?”
Xiao Han menghela napas pelan, suaranya rendah tapi jujur.
“Saya harus kerja keras, Bu. Ibu saya masih perlu terapi lanjutan. Adik saya butuh biaya sekolah. Saya nggak mau bergantung sepenuhnya pada satu orang. Saya ingin ubah masa depan keluarga saya dengan tangan saya sendiri. Bukan cuma nunggu bantuan.”
Lin Qing menarik napas dalam, matanya menyipit. Dia melangkah mendekat, suaranya naik sedikit—bukan marah biasa, tapi seperti orang yang tersinggung karena tidak dianggap cukup.
“Kamu bilang ubah masa depan keluarga? Aku sudah cukup untuk menafkahi seluruh keluargamu, Han! Biaya rumah sakit ibumu, sekolah adikmu, bahkan rumah baru kalau kamu mau—aku bisa kasih semuanya. Kamu nggak perlu capek-capek tambah kerja malam, tidur cuma 3 jam, pulang berdarah, dan telat seperti ini!”
Xiao Han menatapnya langsung, matanya tegas meski lelah.
“Bu Lin… terima kasih atas semua yang sudah Ibu bantu. Tapi hubungan kita… cuma mitra kerja. Saya supir pribadi Ibu. Saya nggak berpikir sejauh itu. Saya nggak mau bergantung sepenuhnya pada Ibu, karena suatu saat kalau Ibu bosan atau berubah pikiran, keluarga saya bisa jatuh lagi. Saya harus punya jalan sendiri.”
Lin Qing terdiam. Wajahnya yang masam tiba-tiba berubah—ada rasa sakit yang sesaat melintas di matanya, cepat disembunyikan kembali di balik topeng dinginnya.
“Mitra kerja,” ulangnya pelan, suaranya hampir berbisik. “Baiklah. Kalau itu yang kamu pikirkan, aku hormati. Tapi jangan sampai telat lagi. Meeting sekarang. Aku naik sendiri. Kamu tunggu di mobil.”
Dia berbalik, langkahnya tegas menuju lift eksekutif tanpa menoleh lagi. Xiao Han berdiri di lobby sebentar, memandang punggung Lin Qing yang menghilang di balik pintu lift.
Dadanya terasa sesak. Bukan karena marah Lin Qing, tapi karena kata-kata “aku sudah cukup untuk menafkahi seluruh keluargamu” terasa seperti rantai yang tak terlihat. Dia tahu Lin Qing tulus, tapi justru itulah yang membuatnya takut—ketergantungan yang terlalu dalam.
Dia berjalan kembali ke mobil, duduk di kursi supir, menyalakan AC dan menyandarkan kepala ke setir. Ponsel bergetar—pesan dari Hua Ling’er:
**Hua Ling’er:** Kak, hari ini aku ujian akhir Matematika. Doain ya. Pulang sekolah nanti aku cerita. Jangan capek-capek ya, Kak. Aku sayang Kak Han.
Xiao Han tersenyum kecil membaca pesan itu. Dia mengetik balasan singkat:
**Xiao Han:** Pasti lulus dengan nilai bagus. Kakak doain terus. Nanti sore jemput seperti biasa. Aku sayang kamu juga.
Dia mematikan layar, menatap gedung tinggi Lin Group di depannya.
Mitra kerja.
Itu yang dia katakan.
Dan itu yang dia pegang teguh, meski hatinya mulai goyah di antara tiga wanita yang berbeda: Hua Ling’er yang tulus, Aria yang ceria, dan Rina yang ganas.
Pagi itu terasa panjang.