NovelToon NovelToon
Penerus Warisan Dewa Season 2

Penerus Warisan Dewa Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:27.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

(PENERUS WARISAN DEWA SEASON 2)

Tiga Tahun Kemudian.
Dunia Tianyun, Alam Fana. Kerajaan Zhao.

Ini adalah sebuah dunia yang tidak memiliki konsep Qi, tidak ada kultivator yang membelah gunung, dan tidak ada dewa yang menginjak-injak langit. Ini adalah alam yang murni fana, di mana baja dan kuda adalah senjata tertinggi, dan umur seratus tahun adalah sebuah mukjizat.

Di halaman belakang Istana Kerajaan Zhao, bunga persik sedang bermekaran dengan indahnya. Angin musim semi berhembus sejuk.

Di atas hamparan tikar bambu yang mewah, seorang anak laki-laki berusia tiga tahun sedang duduk diam menatap kelopak bunga yang jatuh. Wajahnya sangat tampan namun memancarkan ketenangan yang tidak wajar untuk anak seusianya. Matanya hitam pekat, sedalam lautan malam.

Ia adalah Zhao Xuan, Pangeran Ketiga dari Kerajaan Zhao.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 104: Utusan Kerajaan Yan

Lima tahun melesat bagaikan hembusan angin musim semi.

Zhao Xuan kini berusia dua belas tahun. Pangeran bungsu Kerajaan Zhao itu telah tumbuh menjadi remaja yang luar biasa tampan. Wajahnya memancarkan ketenangan air danau di musim dingin, dengan sepasang mata hitam pekat yang seolah mampu menelan cahaya.

Di usianya ini, Kakak Sulungnya, Zhao Tian (21 tahun), telah resmi memimpin setengah dari Pasukan Kavaleri Kerajaan. Sementara Kakak Keduanya, Zhao Ling (16 tahun), telah mekar menjadi putri paling cantik di Ibukota, meski kelakuannya masih sering membuat para dayang mengelus dada karena hobi memanjat pohon persik.

Malam itu, Aula Utama Istana Kerajaan Zhao bermandikan cahaya dari ratusan lentera merah.

Sebuah perjamuan diplomatik berskala besar sedang diadakan. Kerajaan Yan, tetangga tangguh dari perbatasan utara, mengirimkan utusan perdamaian yang dipimpin oleh Menteri Han, seorang pria paruh baya dengan senyum ramah yang tidak pernah mencapai matanya.

Raja Zhao duduk di singgasana fana-nya, tertawa hangat menyambut peti-peti sutra dan batu giok yang dipersembahkan oleh Menteri Han. Di sisi kanan aula, Zhao Tian duduk tegap dengan zirah peraknya, sementara Zhao Ling dan Zhao Xuan duduk di meja yang sedikit lebih tersembunyi di balik pilar berukir naga.

"Lihatlah Menteri Han itu, Xuan'er," bisik Zhao Ling, menutupi mulutnya dengan kipas sutra. "Senyumnya licin sekali seperti belut. Aku berani bertaruh dia menyembunyikan sesuatu di balik persembahan itu."

Zhao Xuan memutar cangkir teh porselen di tangannya. Matanya yang sedingin es tidak menatap Menteri Han, melainkan menyapu empat pengawal pribadi utusan tersebut yang berdiri di dekat pintu masuk, serta rombongan penari pedang dari Yan yang sedang bersiap di tengah aula.

Insting Zhao Xuan jauh melampaui kepekaan manusia fana mana pun.

Analisis ancaman, batin Zhao Xuan beroperasi secara otomatis. Empat pengawal di pintu memiliki kapalan di area pangkal telapak tangan dan sisi telunjuk. Itu bukan kapalan dari memegang tombak atau pedang panjang, melainkan belati genggam terbalik senjata khas pembunuh jarak dekat.

Tatapan Zhao Xuan beralih pada para penari pedang fana yang mulai meliuk-liuk diiringi alunan kecapi.

Penari utama di tengah. Napasnya terlalu stabil untuk gerakan secepat itu. Otot betisnya tegang, siap melompat. Target lintasan lompatannya: lima meter lurus ke tenggorokan Ayahanda.

Mata hitam Zhao Xuan menyipit. Niat Membunuh yang telah ia kubur dalam-dalam selama sembilan tahun terakhir, mendadak bergetar pelan di dasar jiwanya. Namun, berbeda dengan masa lalunya di mana ia membunuh demi bertahan hidup di Jalan Asura, kali ini Niat Membunuhnya bangkit murni untuk melindungi senyum hangat ayahnya, ibunya, dan kakak-kakaknya.

"Kak Ling," Zhao Xuan meletakkan cangkir tehnya dengan lembut. "Perutku sedikit sakit karena terlalu banyak makan kue teratai tadi sore. Aku akan kembali ke paviliun sebentar."

"Eh? Perlu kuantar?" Zhao Ling menatap adiknya dengan cemas.

"Tidak perlu, Kak. Tetaplah di sini, sebentar lagi pertunjukan utamanya akan sangat... menarik," ucap Zhao Xuan datar.

Tanpa menunggu jawaban, Zhao Xuan menyelinap keluar dari Aula Utama melalui lorong samping para pelayan, menghilang ke dalam kegelapan malam layaknya setetes tinta yang jatuh ke dalam genangan air.

Lima menit kemudian, di lorong gelap yang menghubungkan sayap utara dengan dapur istana.

Empat pengawal Kerajaan Yan telah menyelinap keluar dari aula perjamuan secara bergantian. Mereka mengenakan pakaian hitam ketat di balik jubah utusan mereka. Rencana mereka sederhana: menyergap ruang ganti penjaga istana, meracuni kendi anggur yang akan dihidangkan di babak kedua perjamuan, lalu menunggu penari utama memberikan serangan bunuh diri kepada Raja Zhao sebagai pengalih perhatian.

"Cepat," bisik pemimpin pembunuh itu. "Jika Raja Zhao dan Putra Mahkota mati malam ini karena racun, Pasukan Perbatasan Utara kita akan langsung menggempur benteng mereka besok pagi."

Namun, saat mereka berbelok di sudut lorong yang tidak diterangi lentera...

Tap.

Seorang remaja berusia dua belas tahun dalam balutan jubah sutra biru gelap berdiri menghalangi jalan. Wajahnya tampan, tenang, dan sama sekali tidak memancarkan emosi. Tangan kirinya terselip santai di belakang punggung.

"Lorong ini ditutup untuk tikus dari utara," ucap Zhao Xuan pelan.

Keempat pembunuh bayaran elit itu tersentak. Insting fana mereka tidak mendeteksi keberadaan anak ini sama sekali!

"Pangeran Ketiga Zhao?!" pemimpin pembunuh itu mengenali wajahnya. Matanya langsung memancarkan kebengisan. "Bagus. Kita selesaikan dia di sini. Jangan biarkan dia berteriak!"

Keempat pria dewasa yang terlatih membunuh itu melesat maju secara serentak, mencabut belati beracun mereka dari balik lengan baju.

Di kehidupan masa lalunya, Lin Xuan akan menggunakan Domain Pembantaian Kaisar untuk meremukkan jiwa mereka menjadi debu dalam seperseribu detik. Di kehidupan ini, tanpa setetes pun Qi, ia hanya menghela napas pendek.

Seni Pembongkar Tulang Asura Fana: Langkah Bayangan Berat.

Zhao Xuan mencondongkan tubuhnya ke depan. Sudut pijakan kakinya dihitung secara matematis sempurna untuk mengabaikan gesekan udara dan memaksimalkan tolakan. Ia melesat menyongsong keempat pembunuh itu dengan kecepatan yang membuat mata fana mereka kehilangan fokus.

Ia merunduk menghindari tebasan belati pembunuh pertama, berputar di titik butanya, dan menggunakan satu jari telunjuk untuk menusuk tepat di cekungan pangkal leher pria itu (titik saraf vagus).

Tuk.

Pembunuh pertama langsung kehilangan kesadaran seketika, matanya memutih, dan tubuhnya jatuh tanpa suara. Zhao Xuan tidak membiarkannya menyentuh lantai. Ia menggunakan tubuh pria yang jatuh itu sebagai pijakan, melompat ringan ke udara, dan meraih kepala pembunuh kedua dan ketiga dengan kedua tangan kecilnya.

KRAK! KRAK!

Dengan putaran yang menggunakan daya ungkit dari bahu lawan, tulang leher kedua pembunuh elit itu patah secara bersih tanpa sempat mengeluarkan setitik pun jeritan.

Pembunuh terakhir sang pemimpin membelalakkan matanya ngeri. Hanya butuh dua tarikan napas, dan tiga saudara seperjuangannya telah tewas oleh seorang bocah berumur dua belas tahun!

"M-Monster..." pemimpin itu berbalik untuk melarikan diri dan berteriak memperingatkan rekan-rekannya di aula.

Namun, sebuah tangan dingin mencengkeram rahangnya dari belakang, mengunci pita suaranya secara absolut.

"Shhh," bisik Zhao Xuan tepat di telinga pembunuh itu. "Keluargaku sedang menikmati perjamuan. Jangan berisik."

Tangan Zhao Xuan menyentak tajam ke samping.

KRAAASH.

Tubuh pemimpin pembunuh itu terkulai lemas. Zhao Xuan menarik napas perlahan. Empat pembunuh elit fana musnah dalam waktu kurang dari lima detik. Ia dengan cepat menyeret keempat mayat itu dan menyembunyikannya di dalam sebuah peti penyimpanan es kosong di ujung lorong, lalu merapikan lipatan jubah sutranya.

"Tinggal satu lagi," gumamnya, melesat kembali menuju Aula Utama.

Di dalam aula perjamuan, irama kecapi tiba-tiba bertempo cepat.

Penari utama yang mengenakan cadar tipis berputar mendekati singgasana Raja Zhao. Tiba-tiba, dari balik selendang sutranya, sebuah kilatan logam perak melesat! Penari itu mencabut pedang pendek dan melompat lurus mengincar tenggorokan Raja Zhao!

"AYAHANDA!" teriak Zhao Tian, berusaha mencabut pedangnya, namun jaraknya terlalu jauh.

Menteri Han dari Kerajaan Yan mengukir senyum kemenangan. Namun, senyum itu membeku di detik berikutnya.

TRANG!

Sebuah cangkir teh porselen melayang dari arah pilar dengan kecepatan peluru, menghantam tepat di pergelangan tangan sang penari sesaat sebelum pedangnya menyentuh leher Raja. Cangkir itu hancur berkeping-keping, namun momentum kinetiknya yang luar biasa kuat membuat tulang pergelangan tangan penari itu bergeser. Pedangnya terlempar ke lantai dengan suara nyaring.

"PENGKHIANAT!" raung Zhao Tian.

Dalam sekejap, puluhan Pengawal Kerajaan Zhao langsung menerjang dan melumpuhkan penari tersebut. Menteri Han berdiri dengan wajah pucat pasi. Rencananya hancur berantakan. Ia mencoba melirik ke arah pintu, menunggu empat pengawal elitnya untuk membuat kekacauan dan menyelamatkannya, namun pintu itu sunyi senyap. Tidak ada satu pun pengawalnya yang muncul.

Di balik kekacauan itu, Zhao Xuan berjalan santai kembali ke mejanya, mengambil sepotong kue teratai dari piring, dan duduk di sebelah Zhao Ling yang masih mematung kaget.

"Kau... darimana saja, Xuan'er?!" tanya Zhao Ling panik. "Penari itu baru saja mencoba membunuh Ayahanda! Dan siapa yang melempar cangkir teh itu?!"

"Aku baru dari buang air kecil, Kak," jawab Zhao Xuan datar sambil mengunyah kuenya. Matanya yang gelap menatap Menteri Han yang kini sedang diseret oleh prajurit istana sambil memohon ampun dengan histeris. "Dan soal cangkir itu... mungkin Pengawal Bayangan Ayahanda."

Raja Zhao, yang masih sedikit terguncang namun tidak terluka, berdiri dan memerintahkan seluruh utusan Kerajaan Yan ditangkap untuk diinterogasi. Malam perjamuan perdamaian berubah menjadi malam deklarasi perang yang dingin.

Di mejanya, Zhao Xuan menatap keluarganya yang selamat tanpa segores luka pun. Tidak ada yang tahu bahwa remaja dua belas tahun yang sedang mengunyah kue manis ini baru saja mencegah keruntuhan sebuah kerajaan.

Sang mantan Asura mengukir senyum tipis yang memancarkan dominasi yang tersembunyi.

Dunia ini mungkin fana, batin Zhao Xuan. Tapi siapa pun yang berani menyentuh keluargaku, aku akan memastikan mereka berkenalan dengan neraka tanpa perlu Qi sedikit pun.

1
Yanka Raga
😎🤩
Yanka Raga
🤩😎
Yanka Raga
😎🤩
alexander
bagus ceritanya
Yanka Raga
🤩😎
saniscara patriawuha.
gasssdd deuiiii manggg minnnn
saniscara patriawuha.
sikatttttt sudahhhhh
abyman😊😊😊
Hahahah🤣
saniscara patriawuha.
gassssdddd...
Rinaldi Sigar
lnjut
abyman😊😊😊
Bantaiiiiiiiiiiii 💪💪💪
saniscara patriawuha.
wadohhhhhh wadohhhhh
Rinaldi Sigar
lanjut
Yanka Raga
😎🤩
Rinaldi Sigar
lnjut
saniscara patriawuha.
ohh yessss
Yanka Raga
🤩😎
saniscara patriawuha.
bantaiiii habisssd manggg suannnn
saniscara patriawuha.
apa nggak terkencing kencing itu...
Yanka Raga
😎🤩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!