Dunia runtuh bukan karena virus itu sendiri—melainkan karena vaksin yang dijanjikan sebagai penyelamat. Saat wabah menyebar dan ketakutan menguasai setiap sudut kota, pemerintah memerintahkan seluruh rakyat untuk menerima vaksin demi mencegah penularan. Mereka percaya itu adalah harapan terakhir umat manusia. Namun harapan itu berubah menjadi bencana.
Vaksin yang seharusnya melindungi justru memicu mutasi tak terduga. Tubuh manusia berubah, naluri mereka terdistorsi, dan kemanusiaan perlahan terkikis. Dalam hitungan waktu, peradaban yang dibangun selama ratusan tahun runtuh—bukan oleh penyakit, tetapi oleh “obat” yang diciptakan untuk menghentikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh Delapan — Sesuatu yang Jauh Dari Kata Nalar
Selamat membaca semoga kalian suka cerita baruku yaa..
Pria itu menarik nafas panjang sebelum akhirnya berbicara lebih jujur, “namaku Maxwel.” nada suaranya tidak lagi datar seperti petugas. Ada retakan tipis di sana.
“Aku datang ke Kota Abadi sebagai jurnalis,” lanjutnya pelan. “Kakakku dibawa ke sini dengan janji zona aman. Aku mencoba meliput. Mencari celah, tapi semua akses ditutup.”
Arsya menurunkan tongkatnya sedikit, tapi tetap waspada. “Lalu?” tanya Jay.
“Aku menyusup.” Max tersenyum tipis, pahit. “Kupalsukan identitas, masuk sebagai staf teknis. Naik perlahan sampai ke ruang kontrol. Kupikir dari sini aku bisa menemukannya.” ia menatap salah satu monitor–rekaman sublevel yang memperlihatkan lorong panjang. “Sudah berbulan-bulan,” gumamnya. “Namanya tidak ada di daftar yang selamat. Juga tidak ada di daftar eliminasi.”
“Berarti?” bisik Niki.
“Berarti ada level yang bahkan tidak dicatat resmi.”
Max, melemparkan kertas peta ke dalam pelukan Niki. Niki menangkapnya dengan sigap. Ruangan itu sunyi beberapa detik setelah kata-kata Max menggantung di udara. “Kalian harus berhasil. Penyelamatan kalian bukan sekedar keluarga kalian saja, melainkan seluruh rakyat yang ingin keadilan.”
Tatapannya tajam, bukan penuh harap lebih seperti seseorang yang sudah terlalu lama menunggu momen ini. Niki belum menurunkan kecurigaannya, Max sudah lebih dulu berkata, “kau, jangan gegabah.” ujarnya dingin.
Nada itu bukan ancaman, itu peringatan.
Arsya, yang sejak tadi memperhatikan wajah pria itu dalam cahaya monitor, tiba-tiba mengernyit. Ia melangkah setengah langkah maju. “Kau terlihat tidak asing…”
Max terdiam. Tatapannya tidak lagi mengarah ke Niki. Perlahan ia beralih ke Jay. Lampu monitor memantulkan cahaya tipis di wajahnya, memperjelas garis rahang dan sorot mata yang menyimpan sesuatu—antara penyesalan dan pengakuan.
Jay ikut memperhatikan lebih seksama. Alisnya sedikit bertaut, “aku juga pernah melihatmu,” gumamnya pelan. Max tidak langsung menjawab, namun diamnya sudah menjadi jawaban.
Max langsung mengalihkan suasana yang mulai terlalu dalam, “cepatlah pergi,” katanya lebih tegas. “Mereka akan menyadari ada penyusup.” nada suaranya kembali profesional. Dingin. Terkontrol.
Jay mengangguk kepala singkat. “Thanks, ka. Good luck.” kata itu keluar spontan.
Max mendengus pelan, seolah tidak terbiasa dipanggil seperti itu. Namun ujung bibirnya tetap terangkat tipis. “Pergilah sebelum aku berubah pikiran.” pintu servis terbuka, memperlihatkan lorong sempit dengan lampu kuning redup.
Satu per satu mereka masuk.
Vano lebih dulu, Niki menyusul dan Arsya sebelum Jay. sebelum benar-benar menghilang, Jay menoleh sebentar. Tatapan mereka bertemu.
Tak ada lagi kata-kata, hanya pemahaman diam–bahwa mulai detik ini, mereka berada di sisi yang sama. Pintu tertutup perlahan, ruang kontrol kembali sunyi, hanya suara dengung mesin dan klik halus keyboard.
Max berdiri sebentar, menatap pintu yang kini kosong, punggung-punggung jiwa muda yang membara itu hilang dari pandangannya. Ada sesuatu di dadanya yang lama tak ia rasakan.
Harapan.
Ia kembali duduk di kursinya. Tangannya bergerak cepat mengalihkan log kamera, menimpa rekaman, memalsukan pergerakan penjaga di sektor barat. Sistem akan menyadari ada anomali, tapi tidak langsung. Ia melihat layar sublevel sekilas. Lorong panjang, pintu besi, beberapa kandang. Matanya mencari satu nama yang tak pernah ia temukan.
Nama kakaknya. Sampai sekarang, statusnya kosong. Tidak tercatat mati maupun tercatat hidup. Hanya hilang.. Max mengepalkan rahangnya pelan. “Bertahanlah…” gumamnya hampir tak terdengar. Lingkup kerjanya memang terbatas. Ia tidak bisa turun.
Tidak bisa bergerak bebas. Hanya bisa membuka celah kecil dari balik layar. Namun celah kecil itu kadang cukup untuk memulai runtuhnya dinding besar.
Di lorong servis itu semakin turun dan sempit—langkah Jay dan yang lainnya menggema pelan di lorong. Bau antiseptik yang tajam kini bercampur dengan sesuatu yang lebih menusuk, darah segar. Langkah mereka berhenti ketika suara itu muncul, sebuah teriakan.
Bukan manusia sepenuhnya.
Bukan hewan sepenuhnya.
Seperti kucing yang terjepit… tapi diakhiri nada tinggi yang terdengar seperti tawa patah.
Arsya merinding.
Vano mengangkat tangan, memberi isyarat berhenti.
Di sisi kanan lorong, ada pintu besi dengan celah kecil memanjang. Cahaya putih menyembur dari dalam. Tanpa suara, Jay dan Arsya mendekat satu langkah di belakang Vano dan Niki. Jay mengintip lebih dulu. Tubuhnya langsung menegang.
Arsya, yang tidak sabar oleh rasa ingin tahu dan firasat buruk, ikut mengintip melalui celah itu. Dan dunia seperti berhenti sesaat, di dalam ruangan ada dua pria berjas putih, rambut mereka sudah memutih, berdiri di sisi ranjang besi dengan alat-alat medis yang tidak lagi terlihat seperti alat penyembuh.
Di atas ranjang itu terbaring seseorang, atau sesuatu. Tubuhnya masih manusia, dada naik turun cepat, tangan terikat pada sisi ranjang. Namun dari kepala hingga setengah badan,... telah berubah.
Kulitnya mengkilap lembab, seperti sisik makhluk laut. Struktur tengkoraknya melebar membentuk sesuatu yang menyerupai kepala hewan laut, cukup besar, tak proposional. Hanya hidungnya, yang masih berbentuk manusia. Matanya terbelalak, tak fokus, berair. Ia meronta, mengeluarkan suara yang tadi mereka dengar.
Arsya terkesiap jeritan hampir lolos dari tenggorokannya, namun satu tangan langsung menutup mulutnya.
Jay.
“Jangan bersuara, Sya,” bisiknya sangat pelan, nafasnya sendiri bergetar. “Tahan sedikit.” Arsya mengangguk, air mata sudah memenuhi matanya. Apa yang ia lihat bukan sekedar eksperimen gagal.
Itu penyiksaan.
Perusakan hidup.
Jay sendiri merasakan dadanya seperti diremas, ia ingin sekali menerobos masuk dan menghancurkan semua alat itu. Dan menarik sosok di ranjang itu keluar, tapi akalnya masih bekerja.
Belum.
Belum sekarang.
Di dalam ruangan, salah satu ilmuwan berkata datar, “Fase integrasi jaringan laut belum stabil. Sistem pernafasan manusia masih bertahan terlalu kuat.”
“Naik-kan dosis enzim,” jawab yang lain. “Atasan ingin prototipe amfibi sebelum akhir pekan.”
Prototipe.
Bukan manusia.
Protitipe.
Makhluk di ranjang itu meronta lebih keras, tangannya bergetar hebat sampai urat-uratnya menonjol. Suara tawanya patah berubah jadi erangan menyakitkan. Niki menyentuh bahu Jay dengan tegas. “Kita harus pergi. Sekarang.”
Vano sudah mundur setengah langkah, memastikan lorong tetap aman. Jay menahan diri beberapa detik lagi. Lalu menarik lengan Arsya perlahan menjauh dari celah pintu. Arsya menunduk, nafasnya tidak stabil.
Saat mereka kembali bergerak menyusuri lorong, tangannya mengepal begitu keras hingga buku jarinya memutih. Tekad di matanya berubah. Bukan lagi sekedar ingin menyelamatkan, maupun mencari orang tua Jay. melainkan ia ingin segera menghentikan ini.
Semua ini.
Dengan suara sangat pelan, hampir seperti sumpah pada dirinya sendiri, ia berbisik, “aku akan membunuh mereka semua.”
Jay mendengarnya, tidak menegur.
Karena saat ini di dalam dadanya sendiri juga tumbuh sesuatu yang sama gelapnya. Dan semakin mereka turun ke sublevel, semakin jelas bahwa Kota Abadi bukan sekedar pusat kendali. Inilah tempat laboratorium mimpi buruk.
Dan mereka baru saja melihat satu fragmen kecil dari neraka yang disembunyikan di bawah tanah itu.
Niki membuka lipatan peta itu di bawah cahaya lampu darurat yang redup.
Garis-garis tangan Max jelas—jalur sempit memotong lorong utama, melewati lift logistik lama yang sudah tidak tercatat aktif di sistem, lalu turun lewat tangga darurat menuju Sublevel 3.
Tempat yang tidak disebut di papan petunjuk atas. Tempat yang disebut ilmuwan tadi sebagai fasilitas bawah. “Berapa waktu kita punya?” tanya Vano pelan, tetap mengawasi ujung lorong.
“Sepuluh menit,” jawab Jay tanpa ragu. “Sebelum sistem utama sadar kamera sektor ini mati terlalu lama.” Niki mengangguk cepat. “Berarti kita tidak bisa berhenti lagi.”
Arsya menghapus sisa air mata di pipinya. Tatapannya kini keras. “Jalur tercepat?” Niki menunjuk garis kecil di sisi kiri peta. “Kita potong lewat lorong servis ini. Harusnya tembus ke ruang logistik lama.” Jay langsung memberi isyarat.
Formasi kembali rapat.
Mereka bergerak lebih cepat sekarang, tapi tetap rendah dan terkendali. Suara aneh dari ruangan eksperimen tadi masih menggema samar di belakang mereka—membuat langkah terasa semakin mendesak.
Beberapa meter kemudian, lorong bercabang. Di sisi kanan ada lift besar berwarna abu-abu kusam. Pintu besinya tertutup, dengan tulisan pudar: LOGISTICS - NON OPERATIONAL.
“Tidak operasional menurut sistem utama,” gumam Niki. vano mendekat, memeriksa panel disampingnya. “Manual override masih ada.”
Jay melihat sekeliling. “Cepat.” Niki langsung membuka penutup panel dengan pisau kecil, memperlihatkan kabel-kabel tua. Ia menarik satu kabel, menyambungkannya ke baterai kecil dari alat komunikasi yang mereka ambil sebelumnya.
Percikan kecil muncul, lift berdengung pelan. Arsya menoleh ke belakang lorong, waktu terus berjalan.
Lima menit…
Empat..
Lift terbuka dengan suara gesekan berat. Di dalamnya gelap, hanya lampu darurat kecil berkedip merah. “Masuk,” bisik Jay.
Mereka berempat masuk ke dalam lift logistik itu. Ruangannya cukup luas untuk barang besar, atau mungkin sesuatu yang lebih besar dari manusia.
Terima kasih sudah membaca jangan lupa beri tanda like dan votenya, kita lanjut besok lagi yaa