NovelToon NovelToon
Sendiri Di Tengah Ramai

Sendiri Di Tengah Ramai

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: frj_nyt

Kalau kamu pikir pertemanan itu selalu hangat, penuh tawa, dan saling ngerti, kamu salah. Kadang, yang paling dekat sama kita justru bikin capek. Kadang, kita tersenyum di tengah keramaian tapi tetap merasa sendiri.

Aku—Naya—sering berada di posisi itu. Selalu ada, selalu bergerak, tapi jarang disebut. Aku bantu semua orang, tapi yang diingat cuma orang lain. Aku ketawa supaya terlihat aman, padahal di dalam, capeknya nggak ketulungan.

Novel ini bukan tentang keajaiban atau penyelesaian dramatis. Ini cerita tentang hari-hari yang panjang, keputusan kecil yang bikin greget, dan hubungan yang tetap ada tapi nggak lagi sama. Tentang bagaimana rasanya ikut bergerak di tengah orang-orang yang nggak selalu peduli, dan belajar bertahan sambil menahan rasa bingung dan lelah.

Kalau kamu pernah merasa tersisih meski berada di tengah keramaian, atau tersenyum padahal capek banget, cerita ini mungkin bakal terasa familiar.

Selamat membaca. Jangan kaget kalau....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31 Komentar yang Menyalahkan

Aku datang agak siang hari itu. Bukan kesiangan, tapi nggak sepagi kemarin. Badanku masih pegal. Bahu kanan terasa berat kayak habis bawa karung beras. Di motor, aku sempat mikir buat putar balik, pura-pura sakit, pura-pura ada urusan. Tapi ujung-ujungnya aku tetap sampai di sekolah.

Begitu turun dari motor, suasananya sudah beda. Lebih rame. Lebih berisik. Orang-orang mondar-mandir, bawa barang, teriak manggil nama. Aku berdiri sebentar di dekat parkiran, lihat dari jauh. Rasanya kayak masuk ke tempat yang bukan punyaku, padahal aku tahu semua alurnya.

Aku jalan ke lokasi acara. Tara sudah di sana, lagi atur meja. Mukanya kelihatan tegang. “Kamu dari mana aja?” tanyanya begitu lihat aku.

“Baru nyampe.”

“Rara udah dateng dari tadi.”

“Oh.” Cuma itu reaksiku. Padahal jantungku langsung turun sedikit. Aku nggak tahu kenapa setiap denger namanya sekarang rasanya jadi waspada. Aku taruh tas, langsung bantu. Meja ditarik, kursi disusun. Tanganku gerak otomatis. Aku hafal semua urusan kayak gini. Sambil kerja, kupingku nangkap suara Rara di ujung ruangan. “Ini kok beda sama yang aku bayangin ya?” Nada suaranya datar, tapi jelas. Beberapa orang nengok ke arahnya.

“Apa yang beda?” tanya seseorang.

“Layout-nya. Harusnya lebih rapi. Ini keliatan sempit.”

Aku berhenti sebentar. Ngelirik ke arah Tara. Dia juga dengar. “Ini sesuai ukuran ruangan,” kata salah satu panitia lain. Rara menggeleng. “Iya, tapi kan bisa diatur lagi.”

Aku tarik napas. Panjang. Aku tahu ukuran ruangan. Aku yang ukur. Aku yang gambar sketsanya. Aku yang mikir alurnya. Tapi aku nggak langsung nyela. Aku lanjutin kerja. Beberapa menit kemudian, Rara mendekat ke meja konsumsi. Aku ada di situ.

“Ini snack-nya cuma segini?” tanyanya.

“Iya,” jawabku. “Sesuai jumlah peserta.”

“Harusnya ditambah. Takut kurang.”

“Kemarin sudah dihitung.”

Dia melipat tangan. “Pengalaman tahun lalu kurang.”

Aku ngelirik dia. “Tahun lalu pesertanya lebih banyak.”

Beberapa orang di sekitar kami mulai melambatkan gerakannya. Dengerin. Rara diem sebentar. “Tapi kesannya nanggung.” Kata nanggung itu jatuh berat. Kayak semua yang aku lakuin setengah-setengah. “Kita punya keterbatasan dana,” kataku. Suaraku masih dijaga.

“Iya, tapi kan bisa diakalin.”

Aku pengin nanya, diakalin gimana? Tapi aku tahan. Aku tahu kalau aku lanjut, nada suaraku bakal naik. Rara jalan menjauh sambil ngomel kecil, cukup keras buat kedengeran, “Banyak yang kurang, deh.” Itu aja. Kalimat pendek. Tapi rasanya kayak ditarik ke belakang. Aku berdiri di tempat, bengong sebentar. Tara nyamperin. Udah, Nay,” katanya pelan. Aku angguk. Tanganku dingin. Aku lanjut kerja lagi, tapi gerakanku jadi kaku. Satu per satu komentar muncul. Bukan cuma dari Rara langsung ke aku, tapi lewat orang lain. “Katanya ini kurang.”

“Kok mejanya cuma segini?”

“Snack-nya kayaknya dikit ya.” Aku jawab semuanya. Satu-satu. Dengan suara yang sama, datar, dijaga. Tapi di dalam kepalaku, capeknya numpuk. Aku ngerasa kayak lagi ujian, tapi soal-soalnya nggak jelas. Apa pun jawabanku, tetap salah. Siang makin panas. Aku belum makan. Perutku perih, tapi aku nggak peduli. Aku fokus ke satu hal: beresin acara. Sekitar jam dua, Rara manggil semua panitia buat kumpul sebentar. Kami berdiri melingkar. Aku di sisi agak belakang. Rara berdiri di tengah. “Oke, jadi aku mau evaluasi sedikit,” katanya. “Ini bukan nyalahin siapa-siapa, ya.” Kalimat klasik. Biasanya habis itu memang ada yang disalahin. “Pertama, soal konsumsi. Menurut aku, ini kurang. Harusnya ada cadangan.”

Beberapa orang melirik ke arahku. “Kedua, layout. Ini kurang lega. Harusnya dipikirin dari awal.” Aku nunduk. Bukan karena salah, tapi karena males adu mata. “Ketiga, koordinasi. Tadi ada beberapa yang bingung harus ngapain.” Aku angkat kepala. “Koordinasi sudah dibagi di grup.”

“Iya, tapi di lapangan beda,” jawabnya cepat.Aku pengin bilang, karena banyak yang datang telat. Tapi aku tahan. “Ke depan, kita harus lebih siap,” lanjutnya. “Jangan sampai acara kelihatan nggak keurus.” Kalimat itu bikin dadaku sesak. Nggak keurus. Setelah kumpulan bubar, suasana jadi canggung. Nggak ada yang ngomong keras-keras, tapi aku bisa ngerasain jarak.Aku duduk di kursi plastik, pegang botol minum yang isinya tinggal sedikit. Tanganku gemetar halus. Aku capek. Bukan cuma fisik.

Tara duduk di sebelahku. “Kamu nggak salah.” Aku senyum tipis. “Tapi aku yang disorot.” Dia diem. Beberapa menit kemudian, Sela datang bawa roti, nyodorin ke aku. “Makan dulu,” katanya. Aku terima. Roti itu rasanya hambar, tapi setidaknya perutku nggak kosong. Acara mulai jalan. Peserta datang. Musik dinyalain. Semua terlihat normal dari luar. Kalau orang luar lihat, mungkin mereka pikir ini acara yang rapi. Aku berdiri di pinggir, mantau. Setiap ada yang manggil, aku datang. Setiap ada yang nanya, aku jawab. Rara kelihatan sibuk juga. Dia mondar-mandir, senyum ke tamu, ngobrol sama guru. Di mata mereka, dia kelihatan memimpin. Aku? Aku kayak bayangan. Ada, tapi nggak kelihatan. Di satu titik, salah satu guru nyamperin aku.“Kamu yang ngatur konsumsi ya?” tanyanya.

“Iya, Bu.”

“Bagus. Tepat waktu semua.” Aku kaget. “Terima kasih, Bu.” Aku lihat ke arah Rara. Dia lagi ngobrol, ketawa kecil. Aku nggak tahu dia denger atau nggak.

Menjelang sore, kakiku mulai nyeri. Aku duduk sebentar, nyandar ke tembok. Suara acara masih rame, tapi kepalaku kosong. Aku mikir satu hal: capek banget ya, kerja keras tapi yang diinget cuma kurangnya.

HP-ku bunyi. Pesan pribadi dari seseorang di panitia. “Nay, maaf ya tadi. Aku tahu kamu udah maksimal.” Aku baca pelan. Nggak langsung bales. Pesan itu bikin aku pengin nangis, tapi juga pengin ketawa.

Sore menjelang malam, acara selesai. Tepuk tangan. Foto-foto. Orang-orang senyum. Aku ikut beres-beres lagi. Angkat kursi, lipat meja. Tanganku pegal, punggungku sakit. Tapi aku nggak berhenti. Rara lewat di dekatku. “Capek ya?” katanya.

“Iya.”

“Makasih ya udah bantu.” Aku nengok ke dia. Wajahnya biasa. Kayak nggak ada apa-apa. “Iya,” jawabku. Cuma itu. Nggak ada klarifikasi. Nggak ada pengakuan. Nggak ada maaf.

Malam itu, aku pulang dengan badan remuk. Di motor, lampu jalan kelihatan buram. Aku nggak marah. Aku juga nggak sedih banget. Aku cuma greget. Sama keadaan. Sama posisiku sendiri.

Aku mikir, sampai kapan aku mau terus jadi orang yang “yaudah nggak apa-apa”? Aku sampai rumah, rebahan. HP-ku kuletakkan di samping. Grup panitia rame lagi. Banyak yang bilang acara sukses.

Aku baca. Aku senyum tipis. Iya, acaranya sukses. Aku? Nggak tahu.

1
@fjr_nfs
makasih yaaa... kamu jugaa...
Zanahhan226
kamu merasa semuanya harus sempurna, tapi juga ogah ribet. mirip aku, pen ada di setiap detail spya gk ada yg kelewatan. tapi lama" emg kerasa capeknya. bukan krna kerjaannya, tp krna dianggap nggak ngaruh.
Zanahhan226
dulu juga ijut pramuka, tpi bukan siapa" dan bukan apa"..
hanya anggota biasa..
🙂🙂🙂
Zanahhan226
aku baca ini karna agak relate sama judulnya, entah ceritanya nanti ada yg relate juga atau enggak..
semoga authornya sehat selalu dan tetap semangat, ya..
Zanahhan226
tulisannya lebih rapi dari novel yg kubaca seblumnya..
semangat trs utk berkarya, yah..
Zanahhan226
aku tim datang mepet pokoknya..
🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!