NovelToon NovelToon
Cinta Yang Dikubur Bersama Dia

Cinta Yang Dikubur Bersama Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / CEO / Diam-Diam Cinta / Teman lama bertemu kembali / Cintapertama
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Pasaribu

Seorang laki-laki yang sudah lama mencintai seseorang dalam diam, berhasil menikahinya tapi bukan dengan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tak Sengaja Bertemu

"Naya.... "

Suara itu membuat tubuh Naya seketika menegang, suara yang sering ia dengar sejak dulu.

Ia menoleh perlahan.

Beberapa langkah di depan berdiri sepasang suami istri. Orangtua Damar.

"Mama.... " ucap Naya pelan.

CEO yang berdiri di samping Naya bingung mendengar panggilan itu, Ia menatap Naya dan suami istri itu bergantian.

Wajah ibu Damar langsung berbinar begitu melihatnya. Tanpa ragu Ia melangkah cepat mendekati Naya.

"Naya! Kamu di sini, Nak?" katanya dengan suara hangat.

Belum sempat Naya menjawab, wanita itu sudah menariknya ke dalam pelukan. Seperti biasanya.

"Naya... kamu apa kabar, Sayang?" tanyanya lirih, masih memeluknya erat.

Pelukan itu selalu sama. Hangat, penuh rindu, sekaligus membuat dada Naya terasa sesak oleh kenangan yang mungkin tak pernah ia lupakan.

"Naya... baik, Ma." Suara Naya sangat pelan.

Namun saat ibu Damar melepaskan pelukan itu dan hendak mengatakan sesuatu lagi, pandangannya berhenti.

Matanya beralih ke seseorang yang di samping Naya. CEO itu.

Senyum di wajah ibu Damar perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi terkejut yang tertahan.

Ia memandang pria itu, mencoba mengenalinya. Cukup lama. Tapi ibu Damar menyadari pria itu belum pernah dia temui.

"Ini si-siapa?" ucap Ibu Damar pelan tetap menatap CEO itu.

Naya langsung merasa gugup, "Ma.... i-ini..."

CEO itu lebih dulu menundukkan kepalanya dengan sopan."

"Malam, Bu." sapanya.

Nada suaranya tenang, namun kehadirannya terasa penuh tanda tanya.

Ayah Damar yang sejak tadi berdiri di samping istrinya juga memperhatikan mereka dengan rasa ingin tahu. Namun berusaha mencairkan suasana.

"Oh ya, Naya.... kamu sedang apa di sini?" tanyanya dengan ramah.

Naya tersentak dari pikirannya sendiri. Ia berusaha tersenyum sopan.

"Ada urusan pekerjaan, Om." jawabnya singkat.

Ayah Damar mengangguk pelan. Sementara istrinya kembali memandang Naya. Ekspresinya perlahan melunak seperti biasanya. Kehangatan yang tadi sempat hilang kembali terlihat di wajahnya.

"Kami juga sedang makan malam di sini, " Ayah Damar menunjuk ke salah satu sudut restoran.

Ibu Damar menatap Naya penuh harap, "kalau urusanmu sudah selesai, makan saja sama kami. Sudah lama sekali mama tidak makan bersama kamu."

Kalimat itu semakin membuat dada Naya terasa sesak.

Sejenak bayangan lain muncul di kepalanya, wajah ibunya di rumah.

Tatapan keras ibunya setiap kali nama keluarga Damar kembali disebut. Nada marah yang kemaren masih teringat jelas.

Kejadian kemaren itu membuat senyum Naya berubah menjadi lebih hati-hati.

"Terimakasih, Ma, Om.... " katanya pelan. "Tapi... tapi Naya sepertinya harus pulang. Ibu sudah menunggu." jelasnya.

Ibu Damar terlihat sedikit kecewa, namun ia tak memaksa.

"Maaf ya, Ma..." Lanjut Naya dengan lembut, menunduk sedikit.

Ibu Damar mengangguk pelan, mengusap bahu Naya lembut, "Kan masih bisa lain kali..."

Naya mengangkat wajahnya, menatap ibu Damar. Tersenyum tipis, mata berkaca-kaca penuh haru.

Naya menundukkan kepalanya sedikit.

"Kalau begitu... aku pamit dulu, Ma, Om," Ucap Naya.

Ibu Damar mengangguk, masih dengan senyum yang berusaha ia pertahankan.

"Iya, Hati-hati di jalan, Nak."

Naya melangkah diikuti CEO yang menganggukkan kepala dengan sopan kepada pasangan suami istri itu. Berjalan di belakang Naya menuju pintu keluar restoran.

Langkah mereka perlahan menjauh di tengah keramaian lantai satu. Ibu Damar masih berdiri tetap. Matanya mengikuti punggung Naya yang semakin jauh dan menghilang dari pandangannya.

Ia menghela napas pelan.

"Pah....." ucapnya lirih.

Suaminya menoleh.

"Papa, merasa tidak...?" kalimatnya menggantung sejenak. "Mama takut Naya perlahan melupakan kita."

Ayah Damar menatap istrinya dengan tenang.

"Mamah, terlalu jauh berpikir."

"Tapi lihat pas tadi, Naya seperti menjaga jarak," Kata ibu Damar pelan.

"Mah... Itu... "

Ibunya langsung memotong kalimat suaminya yang belum terucap, "Dulu setiap bertemu kita, dia selalu lama bicaranya."

Ayah Damar tersenyum tipis.

"Itu bukan karna Naya melupakan kita, Ma."

Ibu Damar menoleh, mendengar setiap ucapan suaminya.

"Karena dia sedang berusaha menjaga dirinya sendiri, " Jawabnya lembut. "Setiap bertemu kita, Naya pasti teringat putra kita, Damar."

Ibu Damar terdiam. Suaminya melanjutkan dengan suara yang lebih pelan, sambil menggenggam tangan istrinya.

"Dan mungkin..... itu tidak mudah untuknya."

Wanita itu menunduk sedikit, membalas genggaman suaminya.

Mereka berdiri diam di tengah restoran yang ramai itu.

"Papah yakin," Lanjutnya lagi, "Selama ini justru Naya yang paling tidak pernah melupakan Damar."

Naya naik ke mobil atasannya, diantar pulang sesuai pinta CEO.

Naya duduk di kursi depan bersama Adrian. Tangannya saling menggenggam di pangkuannya. Ia menatap keluar jendela, kali ini bukan karna canggung. Tapi pikiran yang masih tertinggal di dalam restoran tadi.

Adrian meliriknya sekilas, ada rasa khawatir di hatinya melihat Naya terdiam. Ia tetap berusaha fokus ke jalan.

Mobil terus melaju, tatapan Naya tetap sama.

"Naya, orang yang tadi.... Siapa?" tanya Adrian dengan nada tenang.

Pertanyaan itu didengar jelas oleh Naya, namun tak menjawabnya.

Tatapannya justru semakin jauh, pikirannya perlahan mundur ke waktu yang lain.

Beberapa tahun lalu. Sore sepulang sekolah.

Damar memarkirkan motornya, mereka berdiri di depan pintu masuk.

"Ayo masuk," ajak Damar santai.

Naya tetap diam, berdiri di samping Damar dengan ragu untuk melangkah. Tangan Naya memeluk buku pelajaran yang akan mereka pakai untuk diskusi sore itu.

Damar memang selalu cerita kepada Naya kalo mamanya ingin bertemu dia.

Namun Naya tetap merasa gugup.

"Nay, ayokkk," Damar menarik tangan Naya sambil membuka pintu lebih lebar.

Mereka masuk ke dalam rumah.

Ruang tengah saat itu hanya diisi oleh suara televisi.

Belum sempat mereka duduk, seorang wanita keluar dari dapur. Ibu Damar.

Ia berhenti begitu melihat Naya. Tatapannya langsung berubah hangat.

"Ini pasti Naya...." katanya dengan senyum lebar.

Damar mengangguk santai, "Iya, Ma."

Belum sempat Naya berkata apa-apa, wanita itu sudah berjalan mendekat.

"Benar, Kan? Naya?" tanyanya lembut.

Naya mengangguk sedikit gugup, "Iya, tante."

Tiba-tiba ibu Damar meraih tangan Naya dengan penuh kehangatan.

"Akhirnya Mama ketemu juga sama kamu," katanya senang.

"Ayok duduk dulu," Ibu Damar menarik lembut tangan Naya.

"Damar itu sering, bahkan seringgggg banget cerita tentang kamu,"

Wajah Naya langsung memerah. Ia melirik Damar cepat.

Damar hanya tersenyum kecil, sama sekali tidak terlihat canggung.

"Kami cuman mau diskusi kok tante, ma-maaf kalo mengganggu, ya." ucap Naya dengan nada gemetar.

Ibu Damar tersenyum, menepuk lembut punggung Naya.

"Damar sudah cerita kok, itu bagus. Diskusi belajar." jelasnya.

Naya kembali menatap Damar, tak mengerti harus bilang apa lagi.

Ibu Damar kembali meraih tangan Naya, "Boleh tidak, kalo Naya panggil Mama aja, jangan tante."

Naya terdiam, kaku sebentar.

Setiap kali Naya datang, ia selalu disambut dengan kehangatan yang sama.

"Naya?"

Suara CEO itu menariknya kembali ke dalam mobil.

Naya berkedip pelan. "I-itu orangtua Damar, Pak." suaranya lebih pelan dari sebelumnya.

Adrian terdiam, dia tau mengapa pandangan Naya berubah setelah pulang dari restoran itu.

1
kurniasih kurniasih
lanjut dong ceritanya bagus
Pasaribu: Ditunggu yaa
total 1 replies
kurniasih kurniasih
ceritanya bagus banget lanjut dong
Pasaribu: Ditunggu yaaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!