Lanjutan dari "Pesona Si Kembar (Ada Cerita Di Balik Gerbang Sekolah)"
Rachel dan Ronand menapaki jenjang pendidikan kuliah. Jurusan yang mereka ambil pun berbeda. Ronand dengan sifat serius dan sikap misteriusnya membuat banyak orang penasaran. Sedangkan Rachel, dengan gaya selengekannya namun selalu mencengangkan tentang prestasinya.
Di balik gerbang kampus, mereka mengukir cerita yang baru. Dimulai dari kekeluargaan, persahabatan, dan percintaan yang rumit. Semua akan menjadi satu padu dalam cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OSPEK 2
"Kenapa kamu bawa sepeda anak kecil? Ini kampus, bukan sekolah TK." sentak seorang panitia OSPEK, mahasiswa perempuan bernama Karinda Yunar. Dia terkenal seorang mahasiswi yang galak dan sangat disiplin.
Beberapa mahasiswa baru dan panitia di sana langsung mengalihkan perhatiannya pada Rachel yang tengah dibentak oleh seorang panitia bername tag Karinda Yunar. Bukannya takut, Rachel malah berkacak pinggang dan memelototkan matanya. Ia tak terima dibentak-bentak, padahal sudah membawa sepeda sesuai instruksi.
Sedangkan Susan dan Ronand, langsung saja berada di belakang Rachel. Khawatir jika nanti Rachel malah melabrak panitia OSPEK itu. Yang ada Rachel nanti malah terkena masalah di hari pertamanya masuk kampus ini. Untuk ke depannya, pasti Rachel juga akan disulitkan oleh panitia selama OSPEK berlangsung.
"Masih jaman ya OSPEK pakai bentak-bentak gini? Udah tahun 2026 ini lho. Bisa kok ngomongnya pelan dan lemah lembut, pasti bakalan nurut. Main bentak anak orang," seru Rachel tak terima. Bahkan tatapan Rachel begitu sinis pada Karin.
"Sama senior dan panitia itu harus nurut. Bukannya malah membantah. Baru juga jadi mahasiswa, udah ngeyel. Disuruh bawa sepeda untuk ke museum, bukan pajangan." seru Karin tak takut dengan tatapan Rachel.
Brakkk...
Brugh...
"Sepeda kaya gini tuh cocoknya dibuang ke rongsokan," lanjutnya sambil menendang dan menginjak sepeda kecil milik Mika.
Bugh...
Argh...
Tanpa disangka oleh Ronand dan Susan, Rachel langsung memukul lengan Karin dengan kencang. Bahkan Karin sampai berteriak kesakitan dan badannya sedikit oleng. Kejadian itu benar-benar membuat perhatian semua orang tertuju pada Rachel dan Karin. Ronand langsung menarik Rachel agar berdiri di belakangnya agar tak lagi menyerang Karin.
"Achel nggak terima, itu sepedanya kurcaci cadel masa diinjak begitu. Itu sepeda harganya seratus juta," seru Rachel dengan nafas memburu karena emosi.
"Mana ada sepeda harga seratus juta? Kalau seratus ribu, baru percaya." seru Karin yang masih tak terima karena dipukul oleh Rachel. Walaupun ia sedikit takut dengan tatapan tajam dari Ronand.
"Aku laporkan kamu ke ketua OSPEK biar nggak keluar sertifikatnya. Ini namanya kekerasan dan tidak disiplin. Rasakan..." serunya sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Laporkan saja sana. Mau lapor polisi, ketua panitia, atau Presiden sekali pun aku nggak takut." seru Rachel menantang Karin.
Rachel juga bisa melaporkan kejadian ini pada penanggungjawab OSPEK. Bisa-bisanya panitia OSPEK malah membully mahasiswa baru. Membentak dan merusak barang milik oranglain. Rachel menatap sepeda Mika yang tergeletak di tanah. Stang sepedanya sedikit bengkok karena diinjak kuat oleh Karin.
Dia harus tanggungjawab,
Sabar...
Aku laporkan dia sama kurcaci cadel. Biar diomelin,
Ayo kita ke kelompok, sebelum diomelin lagi.
Abang, ayo pulang aja. Achel nggak mau ikut OSPEK begini,
Kita harus tetap ikut, katanya wajib.
Kan kita bayar kampus ini buat kuliah, bukan untuk dibentak-bentak.
Udah ayo, nikmati saja masa-masa kaya gini. Tapi kalau keterlaluan, nanti kita balas.
***
"Ucan, Achel di kelompok apa ya?" tanya Rachel pada Susan yang sibuk mencari kelompoknya.
"Kita di kelompok ikan. Kamu nih harusnya lihat chat di grup dulu baru berangkat," ucap Susan sambil menggelengkan kepalanya karena Rachel sangat malas dengan urusan yang ribet.
"Ikan? Wah... Kita di kelompok ikan cupang, Ucan." seru Rachel membuat Susan menepuk dahinya pelan.
Padahal hanya ikan saja, tidak ada kata cupangnya. Namun dasarnya Rachel, suka menambahkan hal yang tidak ada. Rachel berada satu kelompok dengan Susan, Ronand, dan sahabat mereka saat SMA. Nicho dan Restu, berada di fakultas manajemen bisnis namun saat OSPEK Universitas bergabung satu kelompok dengan Rachel.
"Astaga... Satu kelompok sama Mpok Rachel. Ngalamat selalu kena terus ini kelompok ntar," Restu hanya bisa menghela nafasnya pelan. Ia yakin jika Rachel nanti pasti akan membuat huru-hara.
"Nggak papa, malah seru. Kita nikmati tiga hari OSPEK ini bersama. Setelahnya kan kita bakalan jarang bertemu karena beda fakultas dan gedung," ucap Nicho sambil menepuk bahu Restu.
"Halo... Babang Restu yang tidak tampan. Nggak ketemu beberapa bulan, tidak ada yang berubah dari wajahmu itu." ledek Rachel mendengus sebal.
"Belikan skincare dong, Mpok. Biar mukaku nih kinclong," ucap Restu meminta biaya agar wajahnya lebih bersih.
"Pakai sabun cuci piring aja sih, Restu. Bersih, bersinar, keset, dan kinclong."
Hahaha...
Semua anggota kelompok itu tertawa mendengar ucapan Rachel. Masa diminta memakai sabun cuci piring untuk merawat wajahnya. Mereka tak menyangka ada mahasiswa baru yang sifatnya sangat random. Bahkan terkesan santai, tidak ada perasaan tegang menghadapi kegiatan OSPEK ini.
Berbaris yang rapi,
Dia pikir ini mau upacara, pakai baris segala.
Achel, diam dulu. Jangan banyak protes dan buat keributan lagi,
***
"Bagi yang tidak membawa sepeda, maju ke depan." seru ketua BEM yang menjadi penanggungjawab kegiatan OSPEK ini. Ketua BEM yang katanya adalah mahasiswa paling tampan, kaya, dan pintar di kampus itu. Dia adalah Raditya Genta Alamaro.
Tidak ada yang maju karena semua memang membawa sepeda. Hari ini ada jadwal untuk kunjungan museum dan mereka akan diberikan tugas membuat laporan. Hal ini dimaksudkan agar para mahasiswa bisa mengetahui lebih dalam tentang sejarah dan barang peninggalan jaman dahulu.
"Tadi katanya ada yang bawa sepeda anak kecil. Tidak mungkin menaiki sepeda itu sampai ke museum. Maju ke depan bagi yang merasa," serunya lagi memanggil Rachel yang memang membawa sepeda kecil milik Mika.
"Maju sana, Mpok Rachel." suruh Restu agar mereka tak terlalu lama panas-panasan di lapangan begini.
"Ogah. Itu cowok pasti ngefans sama aku makanya ingin aku maju ke depan. Lagian apa salahnya sih? Yang penting bawa sepeda. Ribet amat orang-orang," gerutu Rachel yang berbalut dengan rasa percaya diri. Bahkan semua orang mencari keberadaan Rachel saat ini.
"Mendingan tadi nggak usah berangkat sekalian," lanjutnya saat semua orang mengintimidasinya agar segera maju ke depan.
"Maju itu yang lagi ngobrol di belakang sendiri. Jadi perempuan yang peka. Udah dipanggil kok tetap nggak nurut," seru Karin saat melihat keberadaan Rachel.
Rachel menghela nafasnya kasar. Ia bukan lah orang yang sabar dan rasanya ingin melabrak Karin. Sepertinya Rachel sudah menjadi target utama dari panitia OSPEK karena berani melawan. Akhirnya Rachel pun maju ke depan sambil menghentakkan kakinya berulangkali.
Apa lagi? Masalah sepeda? Aku nggak punya sepeda. Adanya mobil sport,
Masa iya aku harus pinjam tetangga cuma buat sepeda doang? Nggak semua orang punya sepeda.
Nanti aku ke museum pakai apa? Pakai kaki. Noh... Museum cuma tinggal nyeberang jalan doang, pakai sepeda segala. Repot amat hidup dibuat,
Krik... Krik...
Pada diam semua dong. Singanya lagi mengaum,