Terlahir kembali sebagai Riser Phenex—bangsawan iblis paling dibenci dengan reputasi sampah—bukanlah pilihan yang buruk bagi seorang pemuda dari dunia modern. Dengan sistem "Yui" yang bermulut tajam namun setia, serta kekuatan terlarang dari masa lalu yang terkubur (Meliodas), Riser memutuskan untuk berhenti mengejar wanita yang tidak menginginkannya. Di hari Rating Game yang seharusnya menjadi kehancurannya, dia justru membakar naskah takdir. Dia membatalkan pertunangan, melepaskan gelar "pecundang", dan mulai membangun "keluarga" sejatinya sendiri. Dari pedang Saeko Busujima hingga kesetiaan Yasaka, Riser tidak hanya ingin bertahan hidup; dia ingin mendominasi dunia supranatural dengan gaya yang elegan, sarkastik, dan tak terbantahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seni Pedang
Udara di lapangan latihan utama kastel Phenex terasa statis. Tanah yang terbuat dari batuan vulkanik hitam masih menyisakan hawa hangat dari latihan Riser sebelumnya, namun sejak Kamizato Ayaka melangkah ke tengah arena, kristal-kristal es tipis mulai terbentuk di setiap jejak kakinya.
Riser duduk di kursi pengamat yang ditinggikan, sementara Esdeath berdiri di pinggir arena dengan tangan bersedekap, matanya yang tajam tidak sedetik pun lepas dari gerak-gerik Ayaka. Di sisi lain, Saeko Busujima menyandarkan tubuhnya pada pilar batu, tangannya membelai gagang katananya, menunggu dengan sabar untuk melihat "seni" yang dibawa oleh putri dari dunia lain ini.
Ayaka berdiri tegak. Dia telah melepaskan pelindung bahu besinya agar bisa bergerak lebih leluasa, menyisakan busana birunya yang elegan. Tangan kanannya menggenggam kipas lipat, sementara tangan kirinya memegang gagang pedang tipis miliknya.
"Tuan Riser," Ayaka mendongak, menatap langsung ke arah Riser. "Anda menyelamatkan nyawa saya dan memberikan perlindungan di tempat yang asing ini. Sebagai bentuk rasa hormat dari klan Kamizato, izinkan saya menunjukkan teknik yang diwariskan oleh leluhur saya."
Riser mengangguk pelan. "Lakukanlah, Ayaka. Jangan menahan diri karena tempat ini. Arena ini telah diperkuat untuk menahan beban energi iblis kelas tinggi."
Ayaka menarik napas panjang. Matanya perlahan terpejam, dan seketika itu juga, suhu di seluruh lapangan latihan turun drastis. Kabut putih mulai keluar dari mulutnya saat dia membuang napas.
[ Inisialisasi Teknik: Kamisato Art - Senho. ]
Dalam sekejap, tubuh Ayaka seolah-olah meleleh ke dalam lantai arena, berubah menjadi aliran es yang bergerak sangat cepat. Dia meluncur di permukaan tanah seperti bayangan putih yang tak tertangkap mata. Saat dia muncul kembali di tengah arena, dia sudah berada dalam posisi kuda-kuda rendah.
"Hah!"
Ayaka mengayunkan kipas lipatnya. Bukannya angin biasa, sebuah ledakan kelopak bunga es berbentuk teratai mekar di udara, menciptakan gelombang kejut dingin yang membekukan udara di sekitarnya.
"Indah... tapi apakah itu mematikan?" gumam Esdeath, bibirnya membentuk senyum tipis.
Ayaka seolah mendengar komentar itu. Dia menarik pedangnya dari sarungnya dengan gerakan yang begitu halus hingga hampir tidak menimbulkan suara. Dia mulai bergerak, menari di antara bunga-bunga es yang dia ciptakan sendiri. Setiap tebasan pedangnya tidak hanya mengincar udara kosong; dia sedang membentuk sirkulasi energi yang sangat padat.
"Hadirilah!"
Ayaka memutar tubuhnya, dan dari ujung pedangnya, sebuah badai salju kecil mulai terbentuk. Badai itu semakin membesar, berputar dengan kecepatan tinggi, menciptakan suara desing angin yang tajam seperti ribuan pisau kecil yang saling beradu.
[ Sinkronisasi Jiwa: 76%. ]
[ Kemampuan Terdeteksi: Kamisato Art - Sougetsu. ]
[ Catatan Yui: Manipulasi esnya sangat berbeda dengan Esdeath. Jika Esdeath adalah palu godam yang menghancurkan, Ayaka adalah jarum bedah yang menusuk tepat ke titik saraf energi. Sangat efisien dan elegan. ]
Riser memperhatikan dengan seksama. Dia melihat bagaimana Ayaka mengontrol setiap butiran salju. Tidak ada energi yang terbuang sia-sia. Setiap gerakan kaki, setiap ayunan tangan, semuanya adalah bagian dari perhitungan yang matang. Ini adalah tipe kekuatan yang sangat dibutuhkan untuk melengkapi kekerasan mentah dari Esdeath dan kecepatan brutal dari Saeko.
Tiba-tiba, Ayaka berhenti di tengah badai yang dia ciptakan. Dia menyarungkan kembali pedangnya dengan bunyi klik yang tajam. Sesaat setelah pedang itu masuk sepenuhnya ke sarungnya, seluruh bunga es dan badai salju di arena itu meledak secara bersamaan menjadi butiran cahaya biru yang berkilauan, menciptakan hujan salju yang indah di tengah kegelapan Underworld.
Ayaka membungkuk dalam ke arah Riser, napasnya sedikit memburu, namun wajahnya tetap tenang. "Itulah seni dari klan Kamizato, Tuan Riser."
Saeko Busujima adalah yang pertama bertepuk tangan pelan. "Teknik yang luar biasa. Tidak ada gerakan tambahan yang tidak perlu. Aku ingin sekali mencoba beradu bilah denganmu suatu saat nanti."
Esdeath melangkah maju, menatap lantai arena yang retak karena suhu dingin yang ekstrem. "Kau punya bakat, Putri Kecil. Mungkin kau tidak selemah yang kupikirkan. Tapi di medan perang, estetika tidak akan menyelamatkan nyawamu jika musuhmu adalah monster yang tidak mengenal keindahan."
Riser turun dari podiumnya, berjalan mendekati Ayaka. Dia mengulurkan tangannya dan mengusap sisa butiran es yang menempel di bahu Ayaka. "Estetika adalah bentuk tertinggi dari kontrol, Esdeath. Dan Ayaka baru saja menunjukkan bahwa dia memiliki kontrol mutlak atas kekuatannya."
Ayaka menatap Riser, merasa tersanjung sekaligus lega. "Terima kasih, Tuan Riser."
"Istirahatlah sejenak," ucap Riser. "Karena setelah ini, aku ingin melihat bagaimana kau, Saeko, dan Esdeath bisa bekerja sama. Kita tidak punya banyak waktu sebelum faksi lain di dunia ini menyadari bahwa aku memiliki kepingan salju dari dimensi lain di tanganku."
Keheningan kembali menyelimuti arena setelah hujan partikel es Ayaka perlahan menyublim ke udara Underworld yang hangat. Riser masih berdiri di hadapan Ayaka, menatap lurus ke dalam mata abu-abu biru wanita itu yang kini tampak lebih stabil. Kehadiran Ayaka di tim ini bukan sekadar menambah kekuatan tempur, melainkan memberikan dimensi baru dalam strategi yang sedang disusun Riser.
"Istirahatlah sejenak, Ayaka. Shizuka akan membantumu memulihkan sisa energi rohmu," ucap Riser lembut namun tetap tegas.
Ayaka membungkuk hormat, lalu berjalan menuju pinggir arena di mana Shizuka sudah menunggu dengan botol ramuan pemulih dan handuk hangat. Sementara itu, Riser memberi isyarat kepada Yubelluna, Saeko, dan Esdeath untuk mendekat ke arah meja bundar dari batu yang terletak di sudut ruangan.
"Yui, aktifkan proyeksi peta Kota Kuoh. Fokus pada zona netral dan perbatasan wilayah Malaikat Jatuh," perintah Riser dalam hati.
[ Memproyeksikan Data Taktis. ]
[ Lokasi: Kota Kuoh. ]
[ Aktivitas Terdeteksi: Peningkatan pergerakan energi cahaya di sektor gereja terbengkalai. ]
[ Analisis: Malaikat Jatuh kelas menengah mulai melakukan patroli agresif. ]
Sebuah peta hologram biru muncul di atas meja batu, memperlihatkan titik-titik merah yang berkedip di beberapa sudut kota. Esdeath menatap peta itu dengan seringai lapar. Baginya, titik-titik merah itu bukanlah ancaman, melainkan mangsa yang menunggu untuk diburu.
"Malaikat Jatuh?" Saeko bertanya, tangannya masih setia berada di gagang katananya. "Apakah mereka menyadari apa yang terjadi saat retakan dimensi kemarin terbuka?"
"Sulit bagi mereka untuk tidak menyadarinya, Saeko," jawab Riser sambil menunjuk ke arah taman kota di peta. "Ledakan energi Ayaka kemarin terlalu besar untuk disembunyikan sepenuhnya. Meskipun Yubelluna sudah memasang penghalang, sisa-sisa hawa dingin itu pasti meninggalkan jejak yang bisa dilacak oleh sensor energi suci mereka."
Yubelluna mengangguk setuju. "Benar, Tuanku. Pagi ini aku menerima laporan dari mata-mata kita di dunia manusia. Kokabiel atau pengikutnya mungkin sedang mengirim unit pengintai untuk mencari tahu siapa 'pengguna es' baru ini. Mereka curiga bahwa faksi Iblis sedang menyembunyikan senjata rahasia."
Riser menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, matanya menatap tajam ke arah hologram. "Mereka benar. Kita memang punya senjata rahasia. Tapi aku tidak ingin mereka menemukannya dengan mudah. Aku ingin mereka terpancing keluar."
"Jadi, apa rencana kita, Tuanku?" Esdeath bertanya, suaranya terdengar tidak sabar. "Apakah aku boleh membekukan seluruh gereja itu beserta isinya?"
"Belum, Esdeath. Kita akan bermain sedikit lebih halus," Riser menatap Esdeath, lalu beralih ke Ayaka yang baru saja bergabung kembali dengan mereka setelah pemulihan singkat. "Ayaka, aku ingin kau kembali ke dunia manusia malam ini bersamaku. Kita akan berjalan-jalan di kota seolah-olah kau adalah warga biasa."
Ayaka sedikit terkejut. "Sebagai warga biasa? Tapi... aura saya..."
"Aku akan memberimu sebuah cincin penyegel aura khusus dari sistem," potong Riser. "Tujuannya adalah untuk memancing Malaikat Jatuh itu mendekat. Mereka akan mengira kau adalah manusia dengan Sacred Gear tipe es yang belum terbangun sepenuhnya. Saat mereka menyerang, itulah saatnya kita mengambil informasi dari mereka."
[ Sinkronisasi Jiwa: 78%. ]
[ Misi Sampingan Terbuka: Umpan Sang Putri Bangau. ]
[ Target: Menangkap pengintai Malaikat Jatuh hidup-hidup. ]
[ Catatan Yui: Ini adalah cara yang bagus untuk melatih ketenangan Ayaka di lingkungan modern yang asing. Tapi pastikan Esdeath tidak mengamuk jika dia melihatmu terlalu dekat dengan Ayaka. ]
Riser hanya tersenyum tipis menanggapi komentar Yui. Dia kemudian menoleh ke arah Saeko. "Saeko, kau akan mengawasi dari bayang-bayang. Esdeath dan Yubelluna, kalian tetap di sini dan siapkan tim cadangan. Jika ada intervensi dari faksi Gremory atau Sitri, kalian yang akan menangani negosiasinya."
"Dimengerti," jawab mereka serempak.
Ayaka menatap Riser, ada rasa gugup sekaligus rasa aman yang aneh di hatinya. Kembali ke tempat yang penuh bangunan asing itu terasa menakutkan, namun berjalan di samping pria ini membuatnya merasa seolah-olah dia bisa menghadapi apa pun, bahkan dewa sekalipun.
"Apakah saya harus mengenakan pakaian dari dunia ini lagi?" tanya Ayaka pelan.
"Shizuka sudah menyiapkan beberapa pakaian yang lebih... kasual untukmu," Riser berdiri, menandakan pertemuan taktis berakhir. "Kita berangkat dalam dua jam. Bersiaplah, karena malam ini kita akan menunjukkan pada dunia bawah bahwa wilayah ini bukan lagi milik Malaikat Jatuh."
Saat Riser berjalan keluar dari aula, dia merasakan aliran energinya semakin menyatu dengan kekuatan Meliodas. Setiap langkahnya terasa lebih berat, namun lebih terkontrol. Dia tahu bahwa ini bukan hanya tentang menangkap Malaikat Jatuh; ini adalah awal dari rencananya untuk menguasai seluruh Kota Kuoh sebelum faksi-faksi besar lainnya menyadari bahwa Riser Phenex bukan lagi pion dalam permainan catur mereka.