NovelToon NovelToon
Whispers Of The Ancestors

Whispers Of The Ancestors

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:788
Nilai: 5
Nama Author: treezz

Colette Winter adalah sebuah cangkang kosong. Sejak peristiwa kelam di masa kecilnya, ia mengunci jiwanya rapat-rapat di balik tembok trauma yang tak tertembus. Ia menjalani hidup layaknya robot—bekerja, makan, dan bernapas tanpa benar-benar "hidup". Baginya, laki-laki adalah ancaman, dan dunia adalah tempat yang terlalu bising untuk hati yang hancur. Ia tidak melawan saat ditindas, tidak menangis saat dimarahi; ia hanya diam, tenggelam dalam kesuraman yang abadi.

Khawatir melihat putri sulungnya yang kian kehilangan kemanusiaannya, sang Ibu—atas dorongan adik laki-laki Colette yang prihatin—memutuskan untuk mengambil langkah terakhir yang tak masuk akal. Mereka membawa Colette ke sebuah sudut tersembunyi di kota, menemui sosok yang namanya hanya beredar di antara bisikan orang-orang tertentu yang putus asa.

Di sanalah ia bertemu dengan Caspian Hawthorne Sinclair.

seorang dukun yang diminta untuk membantu nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Rutinitas yang Menipu

Tiga hari telah berlalu sejak pertemuan di gubuk jati dan makan malam dengan Luke. Colette menjalani hari-harinya seperti robot yang terprogram. Setiap pagi, ia berangkat dengan bus kota, menundukkan kepala di balik helaian rambutnya, dan segera menenggelamkan diri di depan layar komputer begitu sampai di kantor.

Sebagai staf di bagian Regulatory Compliance, tugas Colette sangat spesifik dan menuntut ketelitian tinggi. Jemarinya menari di atas keyboard, menyunting draf label kemasan mi instan dan bubur organik agar sesuai dengan aturan terbaru BPOM. Ia harus memastikan setiap miligram natrium dan daftar bahan alergen tercantum dengan benar. Sesekali, ia mendesah pelan saat memantau portal perubahan hukum pangan; regulasi baru tentang pewarna sintetis baru saja keluar dan itu berarti ia harus merevisi ratusan desain label.

"Fokus, Colette. Hanya ini yang bisa kau kendalikan," bisiknya pada diri sendiri.

Di kantor, suasana sudah jauh lebih kondusif. Tidak ada lagi Linda yang menumpahkan kopi di meja kerjanya atau Shinta yang menyembunyikan dokumen pentingnya. Kabar tentang mereka yang "sakit jiwa" secara mendadak perlahan menjadi mitos kantor yang ditakuti. Semua orang bekerja dengan tertib di bawah bayang-bayang manajemen baru Sinclair Group.

Namun, yang membuat Colette heran adalah Caspian.

Sejak pengumuman akuisisi itu, sosok sang CEO baru—yang Colette curigai sebagai dukun muda itu—tidak pernah menampakkan batang hidungnya di lantai staf. Dan tidak ada tanda-tanda dukun itu akan menagih janji untuk datang ke rumahnya. Bahkan, pesan misterius atau kejadian ganjil pun tidak ada.

Mungkin dia benar-benar hanya bercanda, pikir Colette sambil menyesap teh tawarnya. Mungkin dia sibuk dengan dunianya yang mewah dan sudah melupakan gadis aneh dari hutan jati.

Cahaya lampu neon di langit-langit kantor mulai meredup, berganti dengan pencahayaan otomatis yang lebih temaram untuk menghemat energi. Satu per satu rekan kerja Colette bangkit, merapikan tas, dan saling melempar ucapan "sampai jumpa besok" yang terdengar gema di lorong sepi.

Kini, hanya terdengar suara dengung AC yang monoton dan ketukan papan tik yang sporadis dari beberapa karyawan yang terpaksa lembur.

Colette masih terpaku di depan monitornya. Matanya mulai perih menatap deretan pasal-pasal baru mengenai ambang batas pengawet pada produk makanan instan. Sebagai staf Regulatory, ia tidak bisa ceroboh. Salah satu angka saja pada label kemasan, perusahaan bisa dituntut miliaran rupiah.

Ia melirik jam di sudut kanan bawah komputernya. 19.15.

"Colette, kau belum pulang?"

Itu suara Luke. Pria itu berdiri di dekat kubikelnya, sudah menyandang tas ranselnya. Wajahnya tampak khawatir melihat Colette yang masih berkutat dengan tumpukan berkas digital.

"Sebentar lagi, Luke. Masih ada satu draf label yang harus kupastikan kutipannya benar," jawab Colette tanpa menoleh, suaranya pelan dan serak.

"Jangan terlalu diforsir. Kantor ini sudah mulai sepi, tidak enak kalau kau sendirian di sini," Luke mendekat, suaranya merendah. "Mau kutunggu? Kita bisa cari makan malam ringan sebelum aku mengantarmu."

Colette menggeleng pelan, memberikan senyum tipis di balik rambutnya. "Tidak usah, Luke. Kasihan kau sudah lelah. Aku bisa naik bus terakhir nanti. Lagipula, aku hampir selesai."

Luke tampak ragu, namun akhirnya ia mengangguk. "Baiklah. Hati-hati, ya. Kalau ada apa-apa, telepon aku."

Cahaya dari monitor komputer adalah satu-satunya sumber penerangan yang menerpa wajah Colette di sudut ruangan itu. Pantulan teks-teks hukum pangan yang kaku terpampang di lensa matanya yang mulai lelah. Di sekelilingnya, deretan meja kerja rekan-rekannya sudah kosong melompong. Suasana kantor yang biasanya bising dengan suara telepon dan perdebatan antar divisi, kini hanya menyisakan dengung statis dari mesin pendingin ruangan.

Colette menghela napas panjang, jemarinya yang ramping bergerak lambat di atas keyboard. Ia sedang meneliti draf label untuk varian baru mi instan rasa soto. Setiap detail—mulai dari ukuran font komposisi hingga penempatan logo sertifikasi—harus presisi. Ia tahu, di bawah manajemen Sinclair Group yang baru, standar ketelitian naik berkali-kali lipat.

Pukul tujuh tepat. Colette mematikan komputernya. Ia merasa lega. Dan bersiap untuk pulang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!