Nara menjalin hubungan asmara dengan Dewa sejak duduk di bangku SMA. Lima tahun kemudian Nara dilamar sang kekasih. Tetapi, di hari pernikahan, Nara menikah dengan orang lain yaitu Rama.
Rama adalah tunangan sepupunya yang bernama Gita.
Hidup memang sebercanda itu. Dewa dan Gita diam-diam menjalin hubungan di belakang Nara. Hubungan itu hingga membuahkan kehidupan di rahim Gita.
Demi ayahnya, Nara menerima Rama. Menjadi istri dari lelaki yang tidak punya pekerjaan tetap.
Simak cerita selengkapnya 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_va, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
Nara melepas pelukannya. Agak kikuk sendiri setelahnya. Nara mundur selangkah seraya mengusap sisa air mata di pipi. Lalu diambilnya helm dari tangan Rama.
"Apa yang membuatmu menangis?" Rama mengulurkan kedua tangannya membantu Nara mengikat tali helm.
Kepala Nara agak mendongak. Merasakan punggung tangan Rama di lehernya.
"Boleh cerita di rumah saja?"
Rama mengangguk. Karena wajah Nara yang terlihat kelelahan.
"Pegangan yang bener." katanya saat Nara naik di boncengan belakang.
Nara hanya memegang jaket Rama. Padahal tadi main peluk-peluk dan nangis kejer di pundak suaminya. Nara juga merasakan lengan kekar itu memeluk pinggang.
Dari kaca spion, Rama melihat wajah Nara. Kemudian fokus melihat ke depan. Mereka sampai di kontrakan jam sepuluh malam.
Nara masuk duluan, sedangkan Rama mendorong masuk motornya. Terparkir di ruang tamu. Rama mengambil kantong plastik putih berisi lontong sate.
Rama menutup dan mengunci pintu utama. Kedua kakinya berayun menuju ruang paling belakang.
"Mau dimasakkan air dulu?" tanya Rama saat melihat Nara yang membawa handuk dan pakaian ganti ke kamar mandi.
"Nggak perlu, Mas. Aku udah terbiasa mandi air dingin, kok." sahut Nara.
Rama melepas jaketnya dan digantungkan di gantungan pakaian. Setelah mencuci tangan, Rama memindah lontong sate di piring.
Karena hawa terasa panas, Rama membuka pintu belakang. Angin malam cukup menyejukkan ruangan.
Rama berdiri di ambang pintu, menyalakan rokok, yang lantas dihisap dalam. Embusan asap putih keluar dari bibirnya.
Suara pintu kamar mandi terdengar, Rama menoleh. Melihat Nara dalam balutan daster hijau sage selutut wajahnya terlihat lebih segar.
"Kamu nggak keberatan aku merokok?"
Nara menggeleng pelan. "Nggak keberatan kok." jawabnya, walaupun ingin memberikan nasehat. Tapi malas saja. Karena Nara masih menganggap Rama bukan miliknya.
"Apa yang terjadi?" Rama membuang sisa rokok di asbak. Mencuci kedua telapak tangannya lagi sebelum bergabung dengan Nara di meja makan.
Nara menceritakan Gita yang mengalami keguguran dan tuduhan dirinya sengaja mencelakai sepupunya itu.
"Bude Yuni minta ganti rugi biaya rumah sakit."
"Sakit jiwa mereka." timpal Rama.
"Keluarga mereka menyalahkan aku...."
Nara memakan lontong sate. Makan malamnya yang kedua.
"Di dekat-dekat sini ada warung sayuran mentah nggak, Mas?"
"Ada, belok kiri. Lurus. Ada kios laundry. Di belakangnya kios laundry itu ada orang jualan." jelas Rama.
"Kalau nggak sempat masak, bisa pesan antar, Nara."
"Boros kalau tiap hari beli. Ngomong-ngomong Mas Rama kerja di kafe?" tanya Nara
"Siang ngojek, malam ngamen di kafe. Kalau ada proyek pembangunan, jadi tukang bangunan." Rama memperhatikan bibir Nara merah alami. Kulit yang mulus dan sehat.
"Oh, gitu... nggak ada keinginan bikin minimarket lagi?"
"Modalnya gede, Nara. Aku belum punya modal."
Nara mengangguk-anggukkan kepalanya seperti anak kecil.
"Malam ini kita tidur satu kasur. Aku belum sempat beli kasur lipat." ucap Rama.
"Nggak apa-apa kok." sahut Nara. Padahal ia lahi salah tingkah. Khawatir ia memeluk Rama kembali seperti semalam.
"Aku kalau tidur lasak, Mas. Maaf kalau ke tendang."
Rama mengatakan tidak keberatan, membuat Nara bersemu merah.
"Jika Gita wa lagi, abaikan. Nggak perlu dibalas. Kamu harus berani. Dan jangan bersedih, itu bukan salahmu." kata Rama.
"Atau teruskan ke aku, biar aku yang balas."
"Iya, Mas." Nara merasa tenang.
****************
Di rumah sakit, Gita terbangun di ruang yang serba putih. Dia di ruangan pemulihan paska kuret. Janinnya tidak bisa dipertahankan.
Karena kondisi stabil dan aman, Gita diantar kembali ke ruang rawat inap. Hanya Yuni yang menemaninya, karena Dewa kerja.
Lima jam kemudian, Gita diperbolehkan pulang. Hanya perlu periksa seminggu lagi. Gita yang duduk di pinggiran ranjang menelepon Dewa, tetapi tidak diangkat.
Waktu menunjukkan pukul tiga sore. Gita pun mengirim pesan.
Gita: [Aku tunggu di rumah.]
Semalam Dewa menunggui. Dan pulang sebelum subuh karena harus bekerja.
"Awas, kau Nara. Aku pastikan kamu nggak pernah bahagia." Gita geram sekali.
"Ya, nggak mungkin bahagia. Suaminya kere. Sekarang fokus pemulihan, setelah itu paksa Dewa segera melamar dan menikah resmi." sahut Yuni yang mengepak pakaian ke dalam tas.
"Nara akan mengalami hal yang sama. Dia akan kehilangan bayinya suatu hari nanti." ucap Gita berapi-api.
"Ayo, pulang. Papamu udah nunggu di depan lobi." kata Yuni.
Untung ada perawat yang membantu mendorong kursi roda. Gita mendengus karena Dewa belum membalas pesannya.
Gita: [Aku ingin makan bakso. Nanti tolong belikan kalau mau ke rumah.]
Mansyur membantu Gita masuk ke dalam mobil, duduk di jok belakang. Ketiganya tidak ada yang bicara selama perjalanan.
Muak sekali Gita melihat Yuda yang baru pulang sekolah saat mobil berhenti di depan rumah.
"Suruh Paklik Rahmat ganti rugi, Ma." pinta Gita.
"Iya, nanti...."
"Sudah, nggak perlu memperpanjang masalah. Dikira papamu ini nggak mampu bayar rumah sakit." cegah Mansyur memotong ucapan Yuni.
Gita berjalan pelan masuk rumah. Lagi-lagi dia mengecek ponselnya. Bahagia sekali karena Dewa membalas pesannya.
Dewa: [Aku ke rumahmu jam 5.]
"Dewa nggak akan ninggalin aku," gumam Gita pelan. Ia akan melakukan segala cara untuk mengikat lelaki itu. Karena keperawanannya telah dinikmati.
Sedangkan Yuni yang tidak terima perbuatan Nara, mengetuk pintu rumah Rahmat. Yang membuka pintu si Yuda.
"Ibumu mana?" tanya Yuni, galak.
"Ada apa cari-cari?!!" sahut Risna.
"Heh, si Nara dinasehati, udah punya suami jangan ganggu Gita!" tuduh Yuni.
Risna tertawa terbahak-bahak.
"Bukannya kebalik ya?"
"Ya nggak kebalik. Buat apa Gita mikirin Rama. Pekerjaan nggak tetap. Cuma bisa ngontrak rumah! Dewa sudah punya rumah sendiri." Yuni berkacak pinggang.
"Walaupun rumahnya masih sederhana."
"Yud, tutup pintunya. Ibu mau arisan." Risna keluar rumah.
"Kalau tetangga kanan rumah ngetuk pintu nggak perlu dibukain."
"Siiapp komandan!" Yuda memberikan hormat ala militer. Lantas menutup pintu cukup keras.
"Wooo, anak kurang ajar kamu, Yuda!" teriak Yuni.
"Lebih kurang ajar Mbak Gita. Rebut calon suami orang!" balas Yudha.
Yuni makin ngereog. Risna berjalan santai ke rumah Bu RT.
****************
Hari itu, Nara pulang jam dua siang karena masuk shift pagi. Tukar shift dengan teman sesama kasir. Rama tidak bisa menjemput karena ada pekerjaan.
Nara berpikir, mungkin sedang mengantar penumpang sampai ke tempat tujuan. Atau ada pekerjaan lain, karena Rama tidak menjelaskan detail. Nara memilih naik bus karena tidak diburu waktu. Ia tidak berani mengendarai motor disebabkan masih trauma kecelakaan setahun yang lalu.
Setiap kali mencoba, keringat dingin keluar. Tubuhnya gemetar. Hingga akhirnya memutuskan menggunakan kendaraan umum. Bisa-bisa saja ia membawa motor tapi susah fokus.
Nara turun di halte bus dan harus berjalan lagi lima ratus meter menuju rumah kontrakan. Ia menyempatkan mampir di warung. Membeli dada ayam, sawi pakcoy, dan satu papan tempe.
Dia melanjutkan langkah kakinya, kulitnya terasa panas karena sengatan matahari.
"Wih, belanja nih." sapa basa basi Rena.
"Iya, Mbak." Nara menyahut tanpa berhenti melangkah.
"Mari...."
Rena bekerja sebagai SPG kosmetik. Sesuai dengan orangnya yang agak ceriwis.
Untuk menghilang penat, Nara mandi dan keramas. Memakai kaus putih dan celana pendek sedengkul merah muda.
Sebelum masak, Nara mengambil jemuran. Tadi pagi, Rama yang mencuci semua pakaian. Termasuk daleman miliknya. Nara agak malu, tetapi suaminya terlihat datar-datar saja.
Semua pakaian kering di masukkan ke keranjang berbentuk kotak. Ditaruh di dekat lemari.
Menu untuk makan malam, Nara memasak ayam goreng tepung yang diiris-iris dadu. Kering tempe pedas, sambel terasi, dan pakcoy yang hanya direbus.
Nara mengirim pesan singkat, menanyakan kapan Rama pulang.
Panji: [Pulang jam 7. Kurang lebih jam segitu.]
Yara hanya menempelkan emot tanda jari jempol. Merasa seperti istri yang sebenarnya. Masak, nunggu suami pulang.
"Aku hanya menuruti pesan ibu." Nara bicara sendiri.
Sepersekian detik kemudian, Nara menerima pesan dari Ajeng yang bertanya di mana alamat rumah kontrakan dan kapan Nara libur kerja. Nara hanya memberitahu alamat rumah. Untuk libur belum tahu kapan pastinya.
Tubuh Nara berbaring di kasur. Mengantuk dan lelah setelah bekerja lanjut masak. Nara sempat tidur lima belas menit karena mendengar suara motor. Dia pikir suaminya pulang.
Nara beringsut turun. Melangkah terhuyung ke pintu. Tenyata bukan Rama, itu tamu rumah kontrakan depan.
Untuk mengisi waktu, Nara melihat-lihat tumpukan buku-buku Rama. Tidak ada yang menarik, bacaan berat semua.
Nara meletakkan ponselnya di meja, memilih menonton film sambil nunggu kepulangan suaminya. Beberapa kali Gita mengirim pesan, tetapi diabaikan.
Film laga yang ditonton ternyata ada adegan erotisnya. Sepasang kekasih yang berprofesi sebagai detektif bercinta di dalam mobil. Tubuh si perempuan bergerak cepat di atas pangkuan. Si lelaki memeluk dan mengisap puncak dada.
Suara desahan terdengar menggelitik telinga Nara. Karena volume sedang.
"Nonton apa?"
Refleks Nara menoleh ke belakang. Melihat lelaki tinggi berdiri di belakangnya.
"Fi... film laga, Mas." Sementara di layar ponsel memperlihatkan sepasang manusia bergumul di jok belakang mobil. Juga suara desah. Ah, ah, ah ....'
"Oh." Rama berjalan ke belakang, melewati Nara yang mendadak membeku.
"Beneran film laga itu." ucap Nara, nyaris tidak terdengar.
"Percaya kok, film luar memang terselip adegan ranjang. Eh, salah kalau itu adegan mobil bergoyang ...."
Nara rasanya ingin nyungsep saja ke inti bumi. Bisa-bisanya tidak mendengar suara motor dan pintu terbuka.
Org yg berpacaran kalau sudah menikah n tinggal brng akan ketahuan sifat nya
Nindy juga bukan anak radit kah 🤨🤨
Siapa dibelakang Bianca, yg pasti org penting yg bisa melindungi nya 👀
Selalu menilai diri perfect, pdhal etikamu 0 NOL, , , , pamer sana sini ciihh, , , ,
Org macam spt mu harus di panasi sama kemesraan Nara & Rama
nanggung kelanjutan nya 😬😬