NovelToon NovelToon
CINTA PERTAMA ANDREA

CINTA PERTAMA ANDREA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Konflik etika / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Kepulangan Andrea adalah hal yang paling Vhirel tunggu-tunggu. Hubungan mereka tidak pernah bisa di larang, selalu ada canda dan tawa meski kerap kali ada permusuhan yang pada akhirnya mereka saling mengerti bahwa sebuah perbedaan adalah sesuatu yang indah dalam sebuah hubungan. Namun sayangnya, status mereka hanyalah sebatas kakak beradik.

Lantas mengapa bisa mereka menganggapnya lebih dari sekedar itu?

Mereka bahkan tak pernah peduli jika keduanya telah menentang takdir Tuhan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SAINGAN KOTAK MAKAN SIANG

Udara dingin dari pendingin ruangan lobi kantor Vhirel menyambut Luna, namun hangatnya paper bag di genggaman tangannya memberikan sedikit rasa nyaman. Di dalamnya, sebuah kotak makan dari rumah makan favoritnya tersimpan rapi—masih menyebarkan aroma rempah samar yang sempat Luna hirup di mobil tadi.

"Mas ​Vhirel pasti suka dengan makanan ini." Gumamnya sambil membetulkan posisi tali tasnya, sesekali melirik jam dinding. Ia sengaja mampir sebelum ke sini, tahu betul kalau Vhirel pasti melewatkan jam makan siangnya lagi demi tumpukan berkas.

​Tak lama, seorang wanita dengan seragam karyawan yang rapi menghampirinya dengan senyum profesional. "Ibu Luna? Mari, saya antar langsung ke ruangan Pak Vhirel. Beliau sudah ada di ruangannya."

Luna mengangguk riang sambil beranjak dari badan sofa. Jika kemarin ia datang ke kantor Vhirel tak ada sosoknya, kali ini seolah dengan mudah ia menemukan keberadaan pria itu tanpa harus pulang lagi sambil berbekal rasa kecewa.

​Wanita itu melangkah dengan anggun, menuntun Luna menyusuri koridor kaca yang elegan setelah mereka keluar dari lift. Bunyi hak sepatu mereka yang beradu dengan lantai marmer menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan lantai itu.

Hingga akhirnya, langkah mereka terhenti tepat di depan sebuah pintu kayu jati ganda yang menjulang tinggi di lantai dua. Berbeda dengan suasana lantai utama yang sibuk, area ini terasa lebih privat dan eksklusif.

Wanita itu memberikan senyum tipis yang sopan sebelum mengetuk pintu sebanyak tiga kali. Tanpa menunggu lama, terdengar suara bariton yang berat dari dalam, mempersilakan mereka masuk.

​"Silakan, Buk. Pak Vhirel ada di dalam," ucap wanita itu sambil membukakan pintu untuknya.

"Makasih, ya." Tanggap Luna, menuntun wanita itu berbalik dan kembali pergi.

Luna menarik napas panjang, memastikan detak jantungnya kembali teratur. Ia merapikan sedikit pakaiannya yang terasa agak kusut, lalu dengan jemari yang sedikit dingin, ia memegang kenop pintu kuningan itu dan memutarnya perlahan.

Langkahnya mantap saat melangkah masuk ke dalam ruangan di lantai dua tersebut. Aroma kayu cendana dan wangi maskulin yang familiar langsung menyapa indranya. Di sana, di balik meja kerja kayu jati yang kokoh, sosok yang ia cari akhirnya menampakkan diri.

"Lu-Luna..." tergagap Vhirel, tersentak kecil.

"Hai!" sapa Luna melempar senyum termanisnya sambil menutup pintu di belakangnya. Tanpa permisi, ia melangkah mendekati Vhirel yang masih bingung oleh kehadirannya. "Aku tahu kamu kaget..."

Vhirel beranjak dari kursi kerjanya. "A-Ada perlu apa kamu datang ke kantorku?"

"Antar kotak makan siang ini buat kamu!" Jawab Luna sambil meletakkan paper bag beraroma khas lezat itu di atas meja kantor Vhirel. "Kebetulan... aku ada waktu senggang di kantor. Terus, aku inget kamu dan aku sengaja beliin kamu makanan kesukaan aku. cobain deh, kamu pasti ketagihan juga setelah ngerasain rasa makannya."

​"Makasih sebelumnya, tapi aku belum lapar," kata Vhirel datar, matanya kembali tertuju pada tumpukan berkas di depannya seolah kehadiran Luna hanyalah gangguan kecil.

​Luna tidak bergeming. Ia justru tersenyum tipis, sebuah lengkungan bibir yang tenang namun penuh tekad. Dengan gerakan santai, ia mulai mengeluarkan wadah makanan satu per satu dari tasnya. Aroma masakan rumah yang hangat segera memenuhi ruangan kantor yang dingin dan steril itu. ​Satu per satu tutup wadah itu ia buka, membiarkan uap tipisnya menggoda indra penciuman siapa pun di sana.

​"Gak apa-apa," sahut Luna ringan tanpa menoleh. "Makan sebelum lapar juga bagus, kan? Anggap saja ini—"

Krek!

"Mas Vhirel aku baw..."

Gerak Dea terhenti seketika. Kalimatnya menggantung di udara saat sepasang matanya menangkap pemandangan di dalam ruangan. Ia mematung di ambang pintu, menatap bergantian antara Vhirel yang mematung beku di tempatnya.

"Oalaaah... ada Mbak Luna juga, ternyata." seru Dea menutup pintu di belakang lalu bergerak mendekat. Matanya kemudian berpaling menatap ke atas meja Vhirel. "Mbak Luna bawa kotak makan siang buat siapa?"

Glek.

Luna menelan saliva. "Bu-Buat Mas Vhirel." jawabnya singkat, datar, setengah khawatir.

"Oh gitu, ya." Angguk Dea sembari meletakkan goodie bag di atas meja Vhirel. "Kebetulan banget, ya..."

Luna yang tadinya masih memegang tutup kotak makan siang, mendadak merasakan atmosfer di ruangan itu bergeser. Ia sempat menangkap perubahan drastis pada ekspresi pria di dekatnya.

​Mata Vhirel membelalak riang melihat kotak makan yang dibawa Dea. Kilat antusiasme yang jujur itu muncul begitu saja, seolah beban pekerjaannya menguap hanya dengan melihat bungkusan tersebut. Sebuah reaksi spontan yang jauh lebih hidup dibandingkan sambutan dingin yang ia berikan pada Luna beberapa detik lalu.

​Luna terdiam sejenak, melihat reaksi itu dengan jelas—binar di mata Vhirel yang tidak bisa dibohongi. Namun, ia tetap tersenyum, bertahan, meski kini terasa sedikit lebih berat untuk dipertahankan.

"Mas." Dea menatap lekat wajah Vhirel dihadapannya. "Aku bawain makanan kesukaan kamu!"

"Kamu yang masak?"

"Hu-um!" sahut Dea sambil membuka kotak makan yang dibawanya. Ia mengeluarkan isinya dengan gerakan yang sangat akrab. Aroma makanan sederhana—favorit Vhirel yang sudah ia hafal di luar kepala, seketika menyeruak, beradu dengan aroma masakan restoran favorit milik Luna. "Chicken katsu dengan saus barbeque. Cobain deh, Mas Vhirel pasti suka!"

Vhirel mendesis pelan. "Pinter masak juga, kamu."

Luna menelan saliva mendengar pujian datar itu. Terdengar sederhana, nyaris tanpa emosi, namun entah bagaimana justru mampu merubuhkan hatinya. Ada perih tipis yang menyelusup, seperti sadar bahwa kalimat sesingkat itu jelas bukan ditujukan untuknya.

"iya dong mas. Selama di Amerika aku selalu masak buat aku sendiri. Lama-lama... jadi terbiasa deh!"

Vhirel mengangguk dengan senyuman. "Cowok yang dapetin kamu pasti beruntung banget!"

Dea mengangguk. Aku tahu, Mas. Kamu pasti lagi ngomongin diri kamu sendiri, kan...

“Ya udah,” lanjut Dea ringan. Seakan tak ada beban maupun ketegangan yang tengah dirasakan bersama. "gimana kalau kita makan bersama?”

Dea menatap Luna lurus. " Mbak Luna makan bareng kita juga, kan?"

Luna tersentak halus, lalu cepat-cepat mengangkat wajah. “Boleh,” sahutnya, terlalu cepat, seolah takut tertinggal satu detik pun dari momen itu.

​"Oke..." gumam Dea pelan. Ia menarik beberapa kursi kosong, menyeretnya hingga merapat ke meja kantor dengan bunyi derit yang memecah keheningan.

​Melihat meja yang berantakan, Luna bergegas menumpuk dan membereskan lembaran berkas yang tercecer. Namun, gerakan tangannya terhenti saat Vhirel menahan lengannya tegas.

​"Biar aku saja," potong Vhirel cepat. Ada nada protektif sekaligus khawatir dalam suaranya. "Aku takut berkasnya tercampur dengan dokumen lain. Biar aku yang rapikan."

​Luna tertegun sejenak, lalu mengangguk patuh. "Baik, Mas."

​Mereka akhirnya duduk bersamaan. Vhirel dan Dea duduk saling berhadapan, menciptakan ruang sapa yang akrab namun intens. Sementara itu, Luna mengambil posisi di tengah—duduk diam seolah menjadi hakim yang sedang menonton pertunjukan keakraban kakak-beradik di depannya itu dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Biar aku yang ambilkan makanan untuk kamu ya, Mas..." Kata Luna sembari mendekatkan sebuah kotak makan siang berisi nasi putih hangat dengan potongan dadu daging ayam yang bumbunya nampak meresap sempurna. Aroma rempah yang kuat seketika memenuhi rongga paru-paru, kontras dengan bau kertas dan tinta di ruangan itu.

​"Kamu mau ini nggak, Mas?" sela Dea tiba-tiba.

​Tanpa menunggu jawaban, ia memotong irisan daging kecil dengan cekatan. Tangannya bergerak refleks mengarahkan garpu itu ke depan mulut Vhirel. Sebuah gerakan yang begitu intim, seakan ruang kantor itu mendadak menyempit dan hanya menyisakan mereka berdua.

​Vhirel awalnya mematung. Matanya sempat melirik garpu itu, lalu berpindah ke arah Luna yang duduk tepat di sampingnya. Suasana yang tadinya hangat karena aroma rendang, seketika berubah menjadi dingin dan kaku. Dan detik berikutnya, ia mengangguk lalu melahap daging itu dengan gigitan lembut dan penuh kehati-hatian.

Sementara ​Luna, yang baru saja selesai meletakkan sendok, hanya terdiam melihat pemandangan itu. Ia menatap ujung garpu Dea dengan pandangan yang sulit dibaca—antara terkejut, tersinggung, atau mungkin sedang menghitung seberapa besar keberanian Dea untuk melakukan hal seberani itu di hadapannya. Seakrab itukah hubungan kakak beradik di antara mereka?

"Gimana, Mas?" Tanya Dea penasaran dengan rasa masakannya di lidah Vhirel. Matanya berbinar penuh harap, menantikan testimoni langsung dari lidah Vhirel. Ia seolah mengabaikan eksistensi Luna yang duduk tepat di sebelah pria itu.

​Vhirel mengunyah pelan, mencoba memproses rasa masakan Dea sekaligus memproses situasi yang mendadak canggung ini. Ia bisa merasakan tatapan Luna yang tajam menusuk dari samping, meski wanita itu tidak mengucapkan sepatah kata pun. ​"Enak, De," jawabnya singkat, suaranya agak tertahan. Ia buru-buru menelan makanannya dan segera meraih gelas air putih di dekatnya. "Bumbunya pas. Aku suka."

Luna hanya tersenyum tipis—jenis senyuman yang lebih mirip sebuah formalitas daripada keramahan. Ia kemudian menggeser piring rendang buatannya sendiri sedikit lebih dekat ke arah jangkauan Vhirel, sebuah gerakan posesif yang halus namun sangat jelas pesannya.

​"Kalau yang ini, dagingnya lebih empuk lho, Mas. Aku tebak... kamu pasti paling suka bagian yang tidak banyak lemaknya," sahut Luna tenang, suaranya semanis madu tapi mengandung tantangan yang ditujukan langsung pada Dea.

Dea terkekeh dan setengah menunduk menatap makanannya. "Semua orang pasti menghindar dari yang namanya lemak." Gumamnya pelan.

Vhirel yang sedang menyesap kuah rendang itu, mendadak tersedak kecil. Ia buru-buru meletakkan gelasnya, berusaha keras menahan tawa yang hampir meledak di tenggorokannya. Sudut bibirnya berkedut, mencoba tetap netral di tengah peperangan kata-kata yang terselubung ini.

​"Ya ampun, Mas..." Luna berseru panik. Wajahnya menegang saat melihat Vhirel tersedak. Dengan gerakan cepat yang hampir menyenggol piring di depannya, ia segera meraih botol air putih miliknya yang masih tersegel.

​Tangannya sedikit gemetar saat memutar tutup botol itu hingga berbunyi krek yang tajam. Tanpa membuang waktu, ia menyodorkannya ke arah bibir Vhirel, seolah pria itu tidak punya tangan untuk memegang botolnya sendiri.

​"Minum dulu pelan-pelan, Mas. Makanya, kalau makan itu fokus, jangan sambil tertawa," tegur Luna dengan nada protektif yang kental, matanya melirik tajam ke arah Dea seolah menyalahkan gadis itu atas insiden kecil ini.

​Vhirel menerima botol itu dengan canggung. "Aku gak apa-apa. Cuma tersedak sedikit," gumamnya setelah meneguk air, mencoba meredakan suasana yang mendadak jadi terlalu dramatis.

​Sementara itu, Dea hanya memperhatikan adegan "penyelamatan" itu dengan satu alis terangkat. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, memutar-mutar garpunya dengan santai. Kesigapan Luna yang berlebihan justru terlihat lucu di matanya—seperti seseorang yang terlalu takut kehilangan kendali atas wilayah kekuasaannya.

****

1
falea sezi
heran liat ortunya ini egois bgt wong bukan saudara kandung sah saja lah jalin hubungan klo. ttep aja emak nya melarang pergi aja dea pergi jauh biar anak nya gila jd ibu koke egoiss amatt
falea sezi
virel g tegas maunya ma siapa Luna apa dea klo mau dea ya jauhin si ulet luna
Kar Genjreng
pokonya jangan ada cinta Antara kakak' Adek kesan nya yang anak angkat ga tau diri padahall namanya perasaan kan tapi jangan sampai itu memalukan keluarga
falea sezi
lanjut . emakk nya knp sih wong bukan inces aja kok hadeh
Kar Genjreng
jangan ada rasa cinta dong biar pun bukan satu kandung tetapi ,,di besarkan oleh orang tua yang sama kasih sayang yang sama jangan ada rasa cemburu layaknya
kekasih tetapi ingat sebagai kakak beradik,,,
Penulis🇰🇷Nuansa Korea: hai kak, salam kenal. jika berkenan saya penulis novel Chef seleb bergaya Korsel, kalau suka yg ada nuansa Korea, kuliner, dan budaya Korsel 😊 saya penulis pemula, masih banyak belajar, boleh dikasih saran & dukungannya ya💜terima kasih🙏
total 1 replies
Kar Genjreng
sapai dua bab belum tau
Kar Genjreng
mampir tapi masih kurang paham ,,, sebenarnya bayi siapa ,,dan Surya dan Oliv itu siapa nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!