NovelToon NovelToon
GERBANG YANG SAMA

GERBANG YANG SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ghuci Shintara

Semua bermula dari hari pertama menjadi siswa SMK Pariwisata, dimana takdir mempertemukan mereka didepan gerbang yang telah tertutup rapat, mereka terlambat. Mereka berkenalan dan mereka terkejut karena mereka sama-sama jurusan yang sama dan sama-sama dikelas yang sama bahkan karena mereka terlambat, mereka hanya mendapatkan kursi kosong dipaling belakang dan mereka kembali sama-sama duduk di meja kelas yang sama. Seiring berjalannya waktu mereka sudah menjalin pertemanan dan hingga waktunya tiba kegiatan Study Tour yang menjadi program penting sekolah SMK Pariwisata untuk kelas 1 dan dari sanalah sebuah kesepakatan di bawah langit Bali terjalin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 - Ujian Semester Genap

Waktu berlalu begitu cepat. Euforia study tour dan momen manis di Mall Central kini harus tergeser oleh tumpukan buku dan kertas latihan soal. Hari yang paling mendebarkan bagi seluruh siswa pun tiba: Ujian Semester Kedua.

Pagi itu, gerbang sekolah tidak lagi dipenuhi oleh siswa yang bersenda gurau. Semua tampak berjalan cepat dengan buku di tangan. Koridor kelas yang biasanya bising oleh tawa Reno, kini hanya terdengar gumaman rumus dan hafalan materi yang dilakukan secara masal.

Di dalam kelas PH2, suasananya jauh lebih tegang. Vanya, yang biasanya selalu tampil percaya diri dengan gaya "ratu sekolahnya", kini terlihat sangat serius. Rambutnya diikat asal-asalan ke belakang, kacamata bertengger di hidungnya, dan matanya tidak beralih dari buku catatan yang penuh dengan stabilo warna-warni.

Gery melangkah masuk, memanggul tasnya dengan santai meskipun ia sendiri sebenarnya sudah belajar mati-matian semalam. Begitu ia meletakkan tas di kursinya—tepat di samping Vanya—ia mendapati pemandangan yang jarang terjadi.

Vanya menoleh ke arah Gery. Tidak ada godaan "singa betina" atau senyum usil. Yang ada hanyalah wajah memelas dengan dahi yang berkerut lelah.

"Ger..." panggil Vanya lirih, suaranya terdengar seperti orang yang baru saja tersesat di tengah hutan rumus. "Bantuin gue ulas materi bab terakhir dong. Sumpah, gue baca berkali-kali tapi otak gue kayak nolak buat masukin ini semua."

Gery tersenyum tipis, melihat beberapa lembar catatan Vanya yang tampak sedikit berantakan. Ia mengeluarkan botol air mineral dari tasnya dan meletakkannya di meja Vanya.

"Tarik napas dulu, Van. Lo panik makanya nggak masuk-masuk," ucap Gery tenang. Ia mendekatkan kursinya, sedikit lebih rapat ke arah meja Vanya. "Bagian mana yang paling susah? Sini, gue jelasin pake bahasa yang lebih gampang biar lo nggak pusing."

Vanya menunjuk sebuah grafik manajemen perhotelan dan perhitungan akuntansi dasar yang menjadi momok bagi anak-anak jurusan PH. "Ini... bagian penyesuaian saldo. Gue selalu kebalik antara debet sama kreditnya."

Gery mulai menjelaskan dengan sabar, menggunakan perumpamaan sederhana seperti saat mereka menghitung uang saweran ngamen di bus dulu. Perlahan, wajah tegang Vanya mulai mengendur. Ia memperhatikan gerakan tangan Gery yang menunjuk angka-angka di bukunya, merasa bahwa penjelasan Gery jauh lebih menenangkan daripada suara guru di depan kelas.

Di tengah kesibukan itu, Gery sesekali melirik Vanya yang sedang serius mencatat penjelasannya. Ada rasa bangga melihat gadis ini berjuang keras untuk ujiannya. Di balik semua drama dan kemanjaannya, Vanya ternyata punya ambisi yang besar untuk nilainya.

"Gimana? Udah mulai nyambung?" tanya Gery memastikan.

Vanya mengangguk mantap, lalu memberikan senyum kecil yang tulus. "Nyambung banget. Makasih ya, Ger. Gue nggak tahu deh kalau nggak duduk sebelah lo, mungkin kertas ujian gue bakal gue gambar bunga doang nanti."

Tepat saat itu, bel pengawas berbunyi nyaring, menandakan ujian jam pertama akan segera dimulai. Seluruh buku harus masuk ke dalam tas, dan hanya menyisakan alat tulis di atas meja. Perjuangan yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Suasana kelas seketika berubah menjadi kaku saat seorang guru pengawas dengan wajah datar masuk ke ruangan. Bunyi gesekan kertas yang dibagikan secara estafet menjadi satu-satunya suara yang terdengar di kelas PH2.

"Jangan ada yang berani menyontek atau kerja sama," ucap pengawas itu dengan nada dingin yang menusuk tulang. "Jika mata saya menangkap ada yang melirik kiri-kanan, saya ambil lembar ujian kalian semua tanpa terkecuali. Waktu kalian sembilan puluh menit. Dimulai dari sekarang!"

Hening. Hanya suara detak jam dinding dan gesekan pena di atas kertas yang memenuhi ruangan.

Gery menarik napas dalam-dalam, membenarkan posisi duduknya agar nyaman. Saat matanya menyapu barisan soal pilihan ganda hingga esai, sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya. Semua materi yang ia pelajari semalam—termasuk poin-poin yang tadi ia jelaskan pada Vanya—muncul dengan jelas di lembar soal itu. Bagi Gery, soal-soal ini bukan lagi hambatan, melainkan tantangan yang sudah ia kuasai petanya.

Di sampingnya, Gery bisa merasakan kegelisahan Vanya. Gadis itu tampak memegang keningnya, sesekali meremas pulpennya dengan kuat. Gery ingin sekali menoleh untuk sekadar memberikan semangat lewat tatapan mata, namun peringatan keras dari pengawas tadi membuatnya tetap fokus pada lembar jawabannya sendiri. Ia tidak ingin mengambil risiko yang bisa merugikan mereka berdua.

Sret... sret... sret...

Gery mengisi kolom demi kolom jawaban dengan sangat lancar. Logikanya berjalan cepat, menghubungkan satu teori perhotelan ke teori lainnya. Di saat teman-teman di barisan belakang—seperti Reno—mulai berkeringat dingin dan sesekali mencoba melakukan kode tangan yang gagal, Gery justru sudah hampir menyelesaikan separuh soal dalam waktu kurang dari tiga puluh menit.

Sesekali Gery melirik ke arah pengawas yang sedang berkeliling. Saat pengawas itu berdiri di dekat mejanya, Gery tetap tenang, menunjukkan bahwa ia mengerjakan semuanya dengan jujur.

Tiba-tiba, ia mendengar suara gesekan sepatu yang ragu-ragu di bawah meja. Kaki Vanya tanpa sengaja menyentuh sepatu Gery. Gery tahu itu adalah tanda bahwa Vanya sedang sangat gugup. Tanpa menoleh, Gery sedikit menggeser kakinya, memberikan ruang agar Vanya merasa "hadirnya" di sana sebagai penyemangat diam-diam.

Gery kembali fokus pada soal terakhir. Ia bertekad menyelesaikan ini dengan sempurna, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga agar ia punya waktu untuk memeriksa kembali jawabannya sebelum bel berakhir—dan mungkin, memastikan Vanya tetap tenang sampai menit terakhir.

Gery kembali meneliti setiap butir jawaban di lembar LJK-nya. Setelah yakin tidak ada yang terlewat, ia melirik jam di pergelangan tangannya. Masih ada 20 menit tersisa.

Suara berat guru pengawas memecah keheningan, "Waktu tinggal 20 menit lagi. Bagi yang sudah selesai, silakan kumpulkan lembar ujian ke depan dan langsung menunggu di luar kelas. Jangan berisik di koridor."

Mendengar itu, Gery segera berdiri. Di saat yang hampir bersamaan, Sammy, Rini, dan beberapa siswa lainnya juga bangkit dari kursi mereka. Mereka berjalan menuju meja guru, menumpuk lembar jawaban dengan rapi, lalu melangkah keluar kelas dengan napas lega.

Begitu kakinya menginjak lantai koridor, Sammy langsung merangkul pundak Gery dengan semangat. "Gimana soalnya, Bro? Aman terkendali?" tanya Sammy sambil menyeka keringat di dahinya.

Gery menjawab dengan tenang, "Aman, Kawan. Semua yang gue ulas semalam sama tadi pagi keluar semua. Nggak ada yang meleset."

Sammy tertawa lebar, "Mantap! Otak gue butuh asupan yang manis-manis nih habis diperes buat mikir akuntansi. Ke kantin yuk, Ger!"

Gery mengangguk setuju. Mereka berdua berjalan menyusuri tangga menuju kantin sekolah yang mulai ramai oleh siswa yang sudah selesai ujian. Di stand jus, Gery memesan dua gelas: satu jus pisang mix buah naga—warna ungu kemerahannya terlihat segar—dan satu lagi jus alpukat kesukaannya. Sementara itu, Sammy memilih segelas es teh manis yang praktis.

Dengan tangan penuh membawa dua cup jus dingin, Gery kembali naik ke lantai dua menuju kelas mereka. Dari kejauhan, ia melihat sosok Vanya dan Nadia sudah berdiri di depan pintu kelas, tampak sedang mengobrolkan hasil ujian tadi.

Melihat kedatangan Gery yang membawa minuman segar, mata Vanya langsung berbinar. Tanpa basa-basi, tanpa bertanya "itu buat siapa", Vanya berlari kecil menghampiri Gery dan langsung menyambar jus pisang mix buah naga dari tangan kanan Gery. Ia seolah sudah punya ikatan batin bahwa apa pun yang dibeli Gery, pasti ada porsi untuknya.

Nadia yang melihat aksi Vanya, tidak mau ketinggalan. Dengan wajah polos namun gerakannya sangat cepat, ia merebut jus alpukat dari tangan kiri Gery.

"Eh!" Gery hanya bisa melongo menatap kedua tangannya yang kini kosong melompong.

"Makasih ya, Gery ganteng! Pas banget lagi haus," ucap Nadia sambil langsung menyeruput jus alpukat itu dengan nikmat.

Sammy yang menyaksikan kejadian kilat itu meledak dalam tawa geli. "Hahaha! Kasihan banget nasib lo, Ger. Baru juga niat mau minum, eh udah 'dirampok' duluan sama dua macan betina ini."

Gery hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua gadis itu. Vanya yang sudah asyik menyedot jusnya hanya menatap Gery dengan tatapan usil sambil mengerlingkan mata, seolah berkata, 'Gitu dong, jadi pacar yang pengertian.'

Bel panjang berdering, memecah kesunyian koridor lantai dua. Pintu kelas PH2 terbuka lebar, memuntahkan sisa-sisa siswa yang tertahan di dalam. Reno, Dion, dan Adrian keluar dengan langkah sempoyongan, wajah mereka pucat seolah baru saja melihat penampakan hantu di siang bolong.

"Gila... itu soal atau mantra santet? Otak gue berasa diperes sampe kering," keluh Reno sambil menyandarkan tubuhnya ke tembok koridor. Tak jauh di belakangnya, Feri berjalan berdampingan dengan Vivi, keduanya memasang wajah suram yang senada.

Melihat Gery yang tampak segar bugar sambil berdiri santai di dekat Vanya, Reno langsung menghampirinya dengan wajah memelas. Ia bahkan nyaris berlutut kalau saja tidak malu dilihat siswa kelas lain.

"Ger! Gery sahabatku, saudaraku yang paling ganteng!" rayu Reno dengan suara serak. "Tolongin gue di ujian kedua nanti, Ger. Lempar kek kertas kecil, atau kasih kode tangan. Kalau nggak, nilai gue bisa terjun bebas ke jurang!"

Gery menggelengkan kepala dengan tegas. "Gue nggak akan bantuin lo di dalam ruang ujian, No. Risiko kita semua kalau ketahuan pengawas galak kayak tadi."

"Ya elah, Ger! Masa lo tega liat sahabat lo ini tinggal kelas?" rengek Reno semakin menjadi-jadi.

Gery tersenyum tipis, lalu menepuk bahu Reno. "Gue nggak bantuin pas ujian, tapi gue bantuin lo semua mengulas materi sebelum bel masuk bunyi. Kita masih punya waktu 30 menit. Mau nggak?"

Dion yang tadi tampak layu, mendadak tegak kembali. Matanya berbinar. "Gue mau, Ger! Ayo, daripada kita bengong nggak jelas, mending kita bedah materi ujian kedua sekarang!"

Tanpa perlu komando kedua kali, rombongan "pasukan darurat" itu—Reno, Dion, Adrian, Feri, Vivi, ditemani Sammy, Nadia, dan Vanya—langsung berbondong-bondong masuk kembali ke dalam kelas. Mereka menggeser beberapa meja agar bisa melingkar mengelilingi Gery.

Gery mengambil spidol dan berdiri di depan papan tulis kecil di sudut kelas. Dengan cara penyampaiannya yang santai namun sistematis, ia mulai membedah poin-poin penting. Vanya memperhatikan dari samping dengan bangga; ia melihat bagaimana Gery dengan sabar melayani pertanyaan-pertanyaan konyol Reno dan menjelaskan rumus yang rumit menjadi logika yang masuk akal.

Suasana kelas yang tadinya penuh keluhan, kini berubah menjadi ruang diskusi yang penuh semangat. Gery bukan hanya sekadar pintar untuk dirinya sendiri, tapi ia menjadi sumbu yang menyalakan kembali harapan teman-temannya di tengah badai ujian semester.

"Oke, dengerin ya. Intinya di bab ini adalah..." suara Gery bergema, sementara teman-temannya mencatat dengan kecepatan penuh, seolah setiap kata yang keluar dari mulut Gery adalah kunci jawaban masa depan mereka.

Aura di dalam kelas PH2 mendadak berubah drastis. Yang tadinya hanya rombongan Reno dan kawan-kawan, kini perlahan-lahan hampir separuh penghuni kelas ikut merapat. Mereka yang tadinya belajar sendiri-sendiri atau sekadar melamun, merasa tertarik dengan cara Gery menjelaskan materi yang terdengar jauh lebih masuk akal daripada sekadar menghafal buku paket.

Gery berdiri di tengah kepungan teman-temannya, jemarinya lincah menuliskan poin-poin krusial di selembar kertas besar yang diletakkan di atas meja, sementara yang lain menyimak dengan saksama seolah sedang mendengarkan strategi perang.

Di tengah keseruan diskusi itu, sebuah bayangan melintas di koridor. Ibu Ratna, wali kelas PH2 yang dikenal penyayang namun disiplin, tengah melakukan pemantauan rutin di lantai dua. Langkah kakinya melambat saat melewati kelasnya sendiri. Beliau tertegun melihat pemandangan yang tidak biasa: sebuah kelas yang biasanya riuh dengan candaan, kini justru terlihat seperti sebuah seminar pendidikan yang dipimpin oleh seorang murid.

Ibu Ratna berjalan perlahan mendekati jendela kelas, berusaha tidak menimbulkan suara. Beliau mengintip dari balik kaca, memperhatikan bagaimana Gery dengan tenang menjawab pertanyaan bertubi-tubi dari teman-temannya. Beliau melihat Vanya yang sesekali membantu membagikan catatan, serta Reno yang—untuk pertama kalinya dalam sejarah sekolah—terlihat sangat serius mencatat.

Gery, yang memiliki insting cukup tajam, sempat menangkap bayangan Ibu Ratna dari sudut matanya. Ia sempat terhenti sejenak dan menoleh ke arah jendela, matanya beradu dengan mata Ibu Ratna. Gery baru saja hendak berdiri untuk menyapa atau menghentikan kegiatannya karena merasa tidak enak, namun Ibu Ratna dengan cepat memberikan kode tangan—sebuah gerakan telapak tangan yang ditekan ke bawah, lalu jempol yang terangkat.

“Lanjutkan,” begitulah pesan tanpa suara dari sang wali kelas.

Ibu Ratna tersenyum tipis di balik jendela. Ada rasa bangga yang menyelinap di hatinya melihat Gery mampu merangkul teman-temannya dalam hal positif. Beliau pun berlalu dengan langkah ringan, membiarkan momen berharga itu terus berlangsung.

"Ger, kok berhenti? Itu tadi yang bagian perhitungan diskon gimana lanjutannya?" tanya Dion membuyarkan lamunan Gery.

Gery kembali fokus pada kertas di depannya. "Oh, iya. Jadi gini, intinya jangan kejebak sama angka persentasenya, tapi lihat nilai nominal akhirnya..."

Vanya yang menyadari interaksi singkat antara Gery dan Ibu Ratna tadi hanya tersenyum bangga. Ia semakin yakin bahwa pilihannya menjadikan Gery "pacar kontrak"—yang kini mulai terasa sangat nyata—adalah keputusan terbaik yang pernah ia buat di sekolah ini.

Bel berdering panjang, membubarkan "kuliah singkat" di sudut kelas. Teman-teman Gery segera kembali ke bangku masing-masing dengan langkah yang jauh lebih mantap daripada jam pertama tadi. Aura pesimis yang tadi menyelimuti Reno dan Dion seolah menguap, berganti dengan binar kepercayaan diri yang baru.

Guru pengawas masuk ke kelas, membawa tumpukan kertas yang masih beraroma tinta segar. Prosedur estafet lembar ujian kembali dilakukan, namun kali ini suara gesekan kertas itu disambut dengan tatapan tajam nan siap tempur dari para siswa PH2.

"Waktu kalian sembilan puluh menit. Tetap jaga kejujuran. Silakan dikerjakan," ucap pengawas singkat sembari duduk di kursi depan.

Suasana kelas kembali hening, namun keheningan kali ini terasa berbeda. Jika pada ujian pertama banyak siswa yang sering menatap langit-langit kelas mencari jawaban yang tak kunjung turun, kini hampir semua kepala tertunduk fokus pada lembar soal.

Reno membuka lembar soalnya, dan matanya membelalak. Di soal nomor lima, ia menemukan pertanyaan tentang perhitungan Occupancy Ratio—materi yang baru saja dijelaskan Gery sepuluh menit lalu. Ia seolah bisa mendengar suara Gery yang bergema di kepalanya: "No, inget, bagi jumlah kamar yang terisi sama total kamar tersedia, baru kali seratus." Reno tersenyum lebar, jemarinya dengan cepat menghitamkan bulatan di lembar LJK.

Vanya pun merasakan hal yang sama. Setiap kali ia menemui soal yang menjebak, ia melirik sekilas ke arah Gery yang duduk tenang di sampingnya. Melihat ketenangan Gery, Vanya merasa ikut tenang. Ia menarik napas panjang, mengingat tips logika yang diberikan Gery, dan perlahan-lahan mengisi jawaban demi jawaban tanpa keraguan.

Gery sendiri mengerjakan soal itu dengan kecepatan yang stabil. Baginya, melihat teman-temannya serius bekerja adalah pemandangan yang lebih memuaskan daripada nilainya sendiri. Ia menyadari bahwa ilmu yang ia bagikan tidak membuat ilmunya berkurang, justru membuatnya semakin tajam.

Di sela-sela pengerjaan, pengawas sempat mengernyitkan dahi. Biasanya, di kelas ini selalu ada saja yang mencoba berbisik atau memberikan kode-kode aneh. Namun kali ini, semua tampak sangat mandiri. Pengawas itu tidak tahu, bahwa di balik ketenangan itu, ada "roh" pengajaran Gery yang sedang bekerja di pikiran masing-masing siswa.

Waktu terus berjalan. Suasana kelas PH2 yang biasanya dianggap sebagai kelas paling "berisik", kini menunjukkan kelas paling berprestasi yang sedang berjuang menembus batas kemampuan mereka.

Keajaiban terjadi di ruang ujian PH2. Biasanya, menit-menit terakhir ujian adalah waktu yang paling mencekam, penuh dengan suara hapusan dan bisik-bisik putus asa. Namun kali ini, jarum jam baru saja melewati angka 55 menit—artinya masih ada sisa waktu lebih dari setengah jam—tapi meja pengawas sudah mulai tertutup tumpukan lembar jawaban.

Satu per satu, mulai dari Gery, Vanya, Sammy, hingga Reno dan rombongannya, berdiri dengan percaya diri. Mereka melangkah ke depan, menyerahkan LJK, dan menyalami guru pengawas dengan wajah yang cerah.

Guru pengawas itu mengerutkan dahi, menatap tumpukan kertas di depannya, lalu beralih menatap wajah-wajah siswa yang tampak sangat santai. Beliau memeriksa beberapa lembar secara acak dan melihat bulatan-bulatan hitam yang terisi penuh, bukan sekadar asal isi.

"Kalian yakin sudah selesai? Waktu kalian masih banyak sekali," tanya sang pengawas dengan nada heran yang kental.

"Yakin, Pak! Kalau kelamaan di sini nanti jawabannya malah berubah jadi salah karena ragu," celetuk Reno yang langsung disambut tawa kecil dari teman-temannya.

Guru pengawas itu menggeleng-gelengkan kepala, lalu melirik jam dinding. "Baiklah, karena hampir keseluruhan kelas sudah selesai dan suasana sudah mulai tidak kondusif jika kalian tetap di sini, saya persilahkan yang sudah mengumpulkan untuk mengambil tas dan pulang lebih awal. Jangan berisik di koridor kelas lain!"

Bak mendapatkan instruksi memenangkan lotre, seluruh siswa PH2 serentak menyambar tas mereka. Suara ritsleting yang ditarik bersamaan menciptakan harmoni yang unik. Mereka keluar dari kelas dengan langkah ringan, meninggalkan ruang ujian yang biasanya terasa seperti penjara.

"Gila! Baru kali ini gue pulang ujian jam segini!" seru Dion saat mereka sudah berada di koridor jauh dari jangkauan kelas lain.

Reno langsung merangkul Gery dengan sangat erat, hampir membuat Gery tersedak. "Ger! Sumpah, lo sakti banget! Gara-gara ulasan lo tadi, otak gue kayak ada Yahoo-nya. Semua soal langsung ada jawabannya!"

Vanya berjalan di sisi lain Gery, tersenyum lebar sambil merapikan tasnya. "Nyokap gue pasti kaget kalau gue sampai rumah secepat ini. Dia bakal mikir gue diusir dari ruang ujian karena nggak bisa jawab."

Gery hanya tertawa melihat kegembiraan teman-temannya. "Ya syukurlah kalau berguna. Tapi inget, ini baru hari pertama. Besok masih ada jadwal yang lebih berat."

"Ah, aman! Kan ada Profesor Gery!" sahut Feri yang langsung disambut sorakan setuju dari rombongan itu.

Mereka berjalan menuju area parkir dengan semangat yang meluap-luap. Sore itu, sinar matahari terasa lebih bersahabat bagi penghuni PH2. Bagi mereka, Gery bukan lagi sekadar teman sekelas yang pendiam, tapi sudah menjadi pahlawan tanpa tanda jasa yang menyelamatkan hari pertama ujian mereka.

1
Shintara
iya 👍
only siskaa
pertama Thor jngn lupa mmpir ke karya aku juga yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!