Karina rela melepaskan identitas dan membuang kemewahan yang dimilikinya sebagai putri tunggal keluarga Wijaya hanya untuk bersama Agus, ia jatuh cinta pada Agus karena kebaikan dan kejujurannya.
Pernikahannya tampak begitu sempurna dan bahagia, hingga Agus pun sudah menjadi pria sukses berkat dukungan dan bantuan Karina. Sayangnya dengan kesuksesannya, Agus justru terlena dan mengkhianati pernikahan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun itu.
Bagaimana kisah selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada pernikahan Karina dan Agus? Apa yang akan dilakukan Karina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian Terbaiknya
"Nona, sepertinya Sabrina lebih licik dari yang kita duga. Dia sudah memutus jejak administratif antara perusahaan Agus dan Jake, jika Agus tidak terseret kasus korupsi ini, dia mungkin masih bisa mempertahankan perusahaannya dengan mencari investor baru," lapor Yessi.
Karina tidak marah, ia justru tertawa. Sebuah tawa yang renyah namun dingin keluar dari bibirnya, sebuah tawa yang tidak pernah Yessi dengar selama dua tahun.
"Nona?" Yessi mengernyit bingung.
"Oh, Yessi... Sabrina benar-benar gadis yang menarik," ucap Karina sambil menyeka sudut matanya yang sedikit berair karena tertawa.
"Maksud, Nona?" tanya Yessi.
"Dia pikir dia sedang menyelamatkan Agus, padahal dia baru saja menyerahkan leher Agus ke dalam jerat gantung yang sudah aku siapkan," ucap Karina.
Karina berdiri, jari-jarinya yang lentik menunjuk ke arah dokumen di layar. "Kamu lihat apa yang dilakukan Sabrina? Dia memindahkan dana perusahaan ke sebuah yayasan pendidikan dan menggunakan sub-kontraktor independen untuk menyamarkan aliran dananya. Dia pikir itu cara yang cerdas untuk menghindari hukum," ucap Karina.
"Memangnya tidak, Nona?" tanya Yessi yang belum mengerti dengan perkataan Karina.
"Secara hukum pidana korupsi, mungkin mereka aman untuk sementara. Tapi secara hukum korporasi dan pajak? Mereka baru saja melakukan bunuh diri," ucap Karina dengan tersenyum lebar.
"Agus baru saja membawa perusahaannya go public beberapa tahun. Setiap sen yang keluar harus dilaporkan dengan transparan, dengan memindahkan dana ke yayasan bodong itu, mereka telah melakukan penggelapan dana perusahaan dan penipuan terhadap pemegang saham publik, karena yayasan itu dikelola oleh orang suruhan Sabrina, itu adalah Transaksi Afiliasi yang tidak dilaporkan," ucap Karina.
Karina mengambil sebuah bolpoin perak dan melingkari nama yayasan tersebut, "Tujuan awalku adalah menyeret Agus ke penjara lewat Jake, tapi sekarang? Sabrina memberiku hadiah yang lebih besar, pailit Total. Aku tidak hanya akan membuat Agus dipenjara, tapi aku akan memastikan dia tidak punya sisa sepeser pun untuk membayar pengacara," ucap Karina.
Yessi mulai memahami arah pemikiran Karina. "Jadi, kita tidak perlu melaporkan kasus korupsinya?" tanya Yessi.
"Biarkan polisi mengurus Jake, kita? Kita akan bermain-main sebentar dengan Agus," ucap Karina.
"Bagaimana kita beramin dengan Agus?" tanya Yessi.
"Instruksikan tim keuangan kita untuk menekan bank-bank mitra Agus, berikan bocoran pada mereka bahwa laporan keuangan yang dia gunakan untuk mengambil kredit tahun lalu memiliki ketidaksinkronan dengan dana yang baru saja dialihkan Sabrina ke yayasan itu, buat semua bank komersial membekukan plafon kreditnya secara mendadak," ucap Karina.
"Lalu, bagaimana dengan Bank Artha Wijaya, Nona?" tanya Yessi, merujuk pada bank milik keluarga besar Wijaya yang selama ini dikelola secara tertutup.
"Itu adalah bagian terbaiknya, pastikan direktur kredit di Bank Artha Wijaya mendekati Agus besok. Berikan dia tawaran dana talangan darurat, dengan bunga yang terlihat kompetitif, tapi masukkan klausul cross default dan asset transfer di dalamnya. Katakan padanya bahwa ini adalah satu-satunya bank yang mau membantunya di saat bank lain menjauh karena kasus Jake," ucap Karina.
"Apa Agus akan terpancing Nona?" tanya Yessi.
"Tentu, Agus sedang panik dan merasa di atas angin karena Sabrina, dia pasti akan langsung menyambar umpan itu tanpa membaca detail kontraknya. Dia akan menggadaikan seluruh sisa sahamnya di perusahaan dan aset properti pribadinya sebagai jaminan," ucap Karina.
"Artinya... sekali dia gagal bayar dalam satu bulan pertama, seluruh kekayaannya secara otomatis akan jatuh ke tangan Bank Artha Wijaya?" tanya Yessi memastikan dengan nada takjub.
"Bukan satu bulan, Yessi. Satu minggu, karena setelah dia menandatangani pinjaman itu, aku akan memastikan proyek Mega City-nya dibatalkan secara sepihak oleh pemerintah karena audit integritas terkait kasus Jake, dia akan memegang utang triliunan tanpa ada pemasukan sepeser pun," ucap Karina.
Yessi terdiam sejenak, menatap Karina dengan tatapan yang bercampur antara kekaguman dan kengerian. Strategi ini jauh lebih kejam daripada sekadar melaporkannya ke polisi, Karina tidak hanya ingin menghukum Agus, dia ingin mencabut seluruh akar kehidupan yang telah Agus curi darinya selama dua puluh tahun.
"Nona benar-benar tidak menyisakan ruang bagi mereka untuk bernapas," ucap Yessi.
"Ruang bernapas?" Karina melirik ke arah jendela, di mana lampu-lampu kota Jakarta mulai menyala, menyerupai tumpukan emas yang dulu sangat ia banggakan namun kini terasa hambar.
"Agus tidak pernah memberiku ruang bernapas saat aku harus mengurus mertuaku yang cerewet sambil menyusui si kembar dan mengerjakan pembukuan bengkelnya yang berantakan, dia tidak memberiku ruang bernapas saat dia mengusirku dari rumah yang kubangun dengan keringatku sendiri. Jadi, kenapa aku harus memberinya oksigen sekarang?" ucap Karina.
Karina kembali duduk dan suaranya kembali ke nada profesional yang dingin, "Siapkan kontrak pinjaman itu, pastikan bahasanya sangat teknis sampai Agus butuh waktu berbulan-bulan untuk memahaminya, padahal dia hanya punya waktu beberapa hari sebelum kehancuran," perintah Karina.
"Baik, Nona," jawab Yessi.
.
Keesokan harinya, di kantor pusat Agus Materialindo, Agus duduk dengan kepala bersandar di meja. Haris terus memberikan laporan tentang harga saham perusahaan yang terus terjun bebas hingga menyentuh batas auto reject bawah.
"Pak, Bank A dan B sudah mengirimkan surat penangguhan kredit, mereka menuntut klarifikasi soal aliran dana ke Yayasan Cahaya Masa Depan yang terdeteksi mencurigakan," lapor Haris dengan suara gemetar.
"Sialan! Itu ide Sabrina untuk menyelamatkan uang kita!" bentak Agus sambil melempar asbak kristal ke dinding hingga hancur berkeping-keping.
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka. Sabrina masuk dengan wajah yang terlihat sedikit lebih tenang, diikuti oleh seorang pria paruh baya yang mengenakan setelan jas sangat mahal dan kacamata berbingkai emas.
"Mas, jangan panik dulu. Kenalkan, ini Pak Darmawan, Direktur Kredit dari Bank Artha Wijaya. Aku sudah bicara dengannya, mereka adalah bank swasta eksklusif yang tidak terpengaruh oleh sentimen pasar saat ini," ucap Sabrina dengan nada bangga.
Agus langsung berdiri, matanya berbinar seperti orang yang melihat pelampung di tengah lautan, "Bank Artha Wijaya? Saya pernah mendengar nama besar bank itu. Silakan duduk, Pak Darmawan," ucap Agus dengan sopan.
Pak Darmawan duduk dengan sangat tenang dan meletakkan sebuah map kulit berwarna hitam di atas meja, "Kami tahu kondisi perusahaan anda, Pak Agus. Secara fundamental, kami melihat potensi besar, namun anda hanya butuh likuiditas cepat untuk menutupi masalah ini dan kami siap mengucurkan dana talangan sebesar dua triliun untuk Agus Materialindo," ucap Pak Darmawan.
"Dua triliun?" Agus menelan ludah.
'Dua triliun? Itu lebih dari cukup untuk membayar vendor dan menyuap pejabat agar kontrak Mega City tetap berjalan,' batin Agus.
"Tentu saja, jaminannya hanya formalitas. Seluruh saham anda di perusahaan dan beberapa aset properti pribadi, selama proyek Mega City berjalan, bunga ini tidak akan terasa berat. Tapi, karena risiko pasar sedang tinggi, kami memasukkan klausul percepatan pelunasan jika terjadi pembatalan proyek strategis dalam skala besar," ucap Pak Darmawan dengan begitu meyakinkan.
Agus melirik Sabrina, Sabrina mengangguk mantap. "Mas, ini satu-satunya jalan. Paman Jake juga pernah bilang kalau Bank Artha Wijaya ini sangat solid, jadi tanda tangani saja daripada kita kehilangan semuanya," desak Sabrina.
.
.
.
Bersambung.....