NovelToon NovelToon
Obsesi Rahasia Pak Dosen

Obsesi Rahasia Pak Dosen

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Dosen / Pengganti / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: shadirazahran23

Lima tahun lalu, Zora hanyalah mahasiswi biasa di mata Dimas. Kini, ia adalah obsesi yang tak bisa ia lepaskan.

Dimas adalah dosen Ekonomi yang kaku dan dingin. Baginya, segala sesuatu harus terukur secara matematis. Namun, rumusnya berantakan saat sang ibu memboyong Zora,mantan mahasiswi yang kini sukses menjadi juragan kain untuk tinggal di rumah mereka setelah sebuah kecelakaan hebat.

Niat awal Dimas hanya ingin membalas budi karena Zora telah mempertaruhkan nyawa demi ibunya. Namun, melihat kedewasaan dan ketangguhan Zora setiap hari mulai merusak kontrol diri Dimas. Ia tidak lagi melihat Zora sebagai mahasiswi yang duduk di bangku kelasnya, melainkan seorang wanita yang ingin ia miliki seutuhnya.

Zora mengira Dimas masih dosen yang sama dingin dan formal. Ia tidak tahu, di balik sikap tenang itu, Dimas sedang merencanakan cara agar Zora tidak pernah keluar dari rumahnya.

"Kau satu-satunya yang tak bisa kulogikakan,Zora!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 Runtuhnya pertahanan sang Dosen

Sinar matahari pagi menerobos celah jendela, namun suasana di meja makan terasa lebih panas bagi Dimas. Di hadapannya, Bu Lastri duduk dengan wajah tegak, sementara sebuah mangkuk bubur ayam hangat sudah diletakkan tepat di depan Dimas.

"Ibu... Dimas harus segera ke kampus. Ada rapat dewan dosen," Dimas mencoba melakukan pembelaan terakhir.

"Rapat bisa menunggu, tapi perut Zora tidak bisa, Dimas. Kakinya sedang sakit, tangannya masih gemetar karena syok. Kamu tega membiarkan penyelamat nyawa ibumu kelaparan?" Suara Bu Lastri terdengar tenang, namun nadanya mutlak tak terbantah.

Dimas melirik ke arah Zora yang duduk di kursi roda pinjaman, tampak sangat tidak enak hati. "Bu, saya bisa makan sendiri kok. Tangan saya tidak apa-apa," sela Zora lirih.

"Tidak ada bantahan! Dimas, suapi Zora. Sekarang."

Dengan helaan napas panjang yang menyerah, Dimas meraih sendok. Ia menggeser kursinya mendekat ke arah Zora. Jarak mereka kembali menipis, membuat aroma sabun bayi yang segar dari tubuh Zora menusuk indra penciuman Dimas.

"Buka mulutmu," ucap Dimas kaku, namun tangannya bergerak sangat hati-hati meniup bubur panas itu sebelum diarahkan ke bibir Zora.

Zora menerima suapan itu dengan wajah semerah tomat. Di sela-sela momen canggung itu, Bu Lastri mulai melancarkan misinya.

"Zora, Ibu boleh tanya? Orang tuamu di mana? Kok dari kemarin Ibu belum lihat mereka menelepon?" tanya Bu Lastri lembut.

Gerakan sendok Dimas terhenti di udara. Zora terdiam sejenak, senyumnya sedikit memudar, digantikan oleh gurat kedewasaan yang getir.

"Saya sudah tidak punya siapa-siapa, Bu. Ayah dan Ibu sudah lama meninggal saat saya masih awal kuliah," jawab Zora tulus, suaranya tenang namun sarat akan ketabahan.

Deg.

Jantung Dimas mencelos. Ia menatap mahasiswinya itu dari jarak dekat. Selama ini ia hanya tahu Zora adalah mahasiswi yang pintar, tapi ia tak pernah tahu ada beban seberat itu yang dipikul bahu mungilnya.

"Ya Allah... jadi kamu selama ini sendiri, Nak?" Bu Lastri meraih tangan Zora, matanya mulai berkaca-kaca. Rasa simpati dan haru seketika menjalar di hatinya.

"Iya, Bu. Tapi Alhamdulillah, berkat beasiswa dan kerja sampingan, saya bisa lulus. Sekarang saya sedang fokus mengurus toko di Pasar kain. Ada beberapa cabang yang saya kelola sendiri bersama teman-teman," lanjut Zora dengan binar kebanggaan yang sederhana.

Bu Lastri tertegun. Di zaman sekarang, mencari gadis cantik itu mudah, tapi mencari gadis yatim piatu yang tidak mengeluh dan justru mampu membangun kerajaan bisnis kain di pasar terbesar di Bandung. Itu adalah permata langka.

"Kamu mengurus sendiri di pasar kain itu nak?"tanya bu Lastri.Pasar itu tempat keras lo."Lanjutnya

"Pasar memang keras, Bu. Tapi hidup jauh lebih keras kalau kita menyerah," balas Zora sambil menatap keduanya dengan keberanian yang tenang.

Bu Lastri tersenyum lebar dalam hati. Ia melihat cara Dimas menatap Zora,bukan lagi tatapan seorang dosen pada mahasiswi, tapi tatapan seorang pria yang baru saja menemukan sesuatu yang sangat berharga.

Gadis ini bukan sekadar kuat, dia adalah pelengkap yang sempurna untuk kekakuan Dimas, batin Bu Lastri mantap.

**

Perubahan itu terjadi secara halus, namun nyata. Dimas yang biasanya pulang dengan tangan hampa, kini mulai sering membawa kantong plastik berisi camilan favorit Zora atau buku-buku referensi bisnis terbaru. Ia tidak lagi menunggu perintah ibunya. Kaki Zora telah menjadi prioritasnya yang baru.

Malam itu, hujan gerimis membungkus rumah dengan hawa dingin. Dimas mengetuk pintu kamar Zora, membawa kotak P3K di tangannya.

"Pak Dimas? Ibu Lastri mana?" tanya Zora, sedikit terkejut melihat Dimas yang sudah berjongkok di samping ranjangnya tanpa diminta.

"Ibu sudah tidur. Sekarang jadwalmu ganti perban," jawab Dimas datar, namun gerakan tangannya sangat cekatan menyiapkan kapas dan alkohol.

Zora menelan ludah. Ia perlahan menaikkan sedikit celana panjang longgarnya hingga batas paha untuk memudahkan Dimas menjangkau area gips dan luka gores di atasnya.

Seketika, atmosfer di kamar itu terasa menipis.

Dimas terpaku sejenak. Di bawah pendar lampu tidur yang kekuningan, kulit paha Zora tampak begitu putih dan mulus, kontras dengan luka kemerahan yang sedang ia obati. Jemari Dimas yang biasanya stabil saat memegang mikroskop, mendadak gemetar halus saat ujung jarinya tak sengaja bersentuhan dengan kulit hangat Zora.

"P-Pak... pelan-pelan ya," bisik Zora, suaranya nyaris hilang di antara deru jantungnya sendiri.

"Diamlah. Jangan banyak bergerak," balas Dimas. Suaranya terdengar lebih rendah dan serak dari biasanya. Ia mencoba fokus, namun aroma lotion Zora yang manis bercampur bau obat membuatnya kehilangan konsentrasi.

Dimas mulai membersihkan luka itu dengan gerakan sangat lembut. Setiap kali kapas beralkohol itu menyentuh kulitnya, Zora meringis kecil dan tanpa sadar mencengkeram sprei tempat tidur.

"Sakit?" tanya Dimas, mendongak menatap Zora.

Pandangan mereka bertemu dalam jarak yang sangat dekat. Wajah Dimas hanya terpaut beberapa inci dari lutut Zora. Mata mereka terkunci selama beberapa detik,sebuah keheningan yang sarat akan ketegangan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.

"Sedikit, Pak," jawab Zora jujur, matanya tak lepas dari rahang tegas Dimas yang tampak mengeras.

Dimas menunduk kembali, dengan telaten melilitkan perban baru. "Lain kali, jangan bertindak bodoh. Nyawamu lebih berharga daripada hanya sekadar menjadi pahlawan di jalanan."

"Tapi itu kan Ibu Bapak..."

"Justru karena itu," potong Dimas cepat. Ia mengikat ujung perban, lalu dengan gerakan yang tidak terduga, ia mengusap pelan area di sekitar luka Zora sejenak sebelum menarik tangannya kembali. "Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan jika terjadi sesuatu yang lebih buruk padamu hari itu."

Zora terpana. Kalimat itu bukan sekadar ucapan dosen pada mahasiswinya. Itu adalah pengakuan yang tersirat.

Dimas segera bangkit, membereskan kotak obatnya dengan gerakan terburu-buru seolah ingin melarikan diri dari rasa canggung yang mencekik. "Tidurlah. Besok aku akan membawakan sarapan sebelum berangkat."

Tanpa menunggu balasan Zora, Dimas keluar dan menutup pintu dengan jantung yang berdentum keras di balik dadanya. Di balik pintu, ia menyandarkan punggungnya, merutuki dirinya sendiri kenapa pemandangan paha mulus dan wajah polos mahasiswinya tadi sanggup meruntuhkan pertahanan yang ia bangun bertahun-tahun.

Ketahuan emang Dimas dosen yang polos 🤣🤣🤣.Lanjut???

1
Marini Suhendar
Kanaya Kah...
Marini Suhendar
teka_teki silang ah thor😄
Ila Aisyah
kawinnnnn,,, ehhh,,, nikahhh ijab kabul😘🫰💪
Ila Aisyah
weleh,,, welehhh,,,, persiapan kondangan man temannnn,,, 🤣
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Sastri Dalila
👍👍👍👍
Eva Karmita
ya ampun pak dosen lihat sikon dong. kasihan Nurul yg polos ternodai matanya 🤣🤣🤣🤣
shadirazahran23: Maklum pak Dosen sudah lama menjomblo,jadi dia lagi kejar setoran
total 1 replies
suryani duriah
good job zora👍👍👍
shadirazahran23: Insya Allah sahabat Kanaya ini gak menye menye 😭
total 1 replies
suryani duriah
jgn petcaca tipuan pelakor lha pelakor zaman sekarang urat malunya udah putus lawaaan kita bantuin dah🤭😁😁👍
Acih Sukarsih
kamu perempuan berpendidikan jadi tahu mana yg asli/palsu
Eva Karmita
pasti ini si sepupu laknat yg kegatelan yg udah birahi 😤😏
shadirazahran23: OMG 😱😱😱
total 1 replies
Eva Karmita
ya ampun gagal lagi 😩😩😂😂😂
Eva Karmita
sabar tahan pak dosen masak unboxing nya di dalam mobil .... jangan atuh cari suasana yang romantis dong 🤣🤣🤣
Eva Karmita
makanya jangan encum otaknya pak dosen 🤣🤣🤣🤣
Eva Karmita
semangat upnya ya..❤️🥰
Eva Karmita
maaf otor aku Ndak tau itu di Garut mana karena aku asli orang Kalimantan 🤭😁
Wiwi Sukaesih
mira ulat bulu...
Wiwi Sukaesih: y Thor ksian amt pnganten baru bnyk halangan ny
dtmbh d ulet bulu mereka Lela
total 2 replies
Wiwi Sukaesih
haaaa
gagal maning 🤣🤣
shadirazahran23: tidak semudah itu furgoso🤭
total 1 replies
suryani duriah
siapa yg ngerusak moment yg ditunggu2🤣🤣
Wiwi Sukaesih
haaa
sabar pak dosen
mampir lh k hotel klw g Tahn 🤭
Wiwi Sukaesih: othor tega BKIN kepala dosen pening gara" g ad ritual mlm pengantin 🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!