Elena adalah seorang tunangan dari pria bernama Marcus Leonhardt, dia adalah asisten di perusahaan pria itu. Suatu ketika Marcus membawa seorang perempuan bernama Selena Vaughn yang seorang konsultan komunikasi. Di suatu malam mobil yang di kendarai Elena ada yang mengikuti dan terjadilah BRUUKKK , kecelakaan…dimana Elena akhirnya sadar dan dia membuat keputusan berpura - pura buta. Apakah semua akan terungkap? Siapakah yang mengikuti Elena? Dan bagaimanakah kisah Elena selanjutnya?
On going || Tayang setiap senin, rabu & jumat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Tanda Tangan yang Salah
Rapat itu dimulai tepat waktu.
Elena duduk di ujung meja panjang, tongkatnya bersandar rapi di sisi kursi. Ruangan dipenuhi suara kursi ditarik dan kertas dibuka. Marcus berdiri di depan layar presentasi, tenang di permukaan, tegang di balik rahang yang mengeras.
“Hari ini kita menyelesaikan restrukturisasi,” kata Marcus. “Hanya formalitas.”
Formalitas.
Itu kata yang selalu dipakai untuk menutup celah.
Elena menautkan jari di pangkuan. “Aku siap,” katanya datar.
Dokumen diedarkan. Elena menerima map terakhir. Kertas-kertas itu terasa familiar di ujung jarinya—jenis kertas, berat tinta, urutan halaman. Ia tahu persis di mana letak klausul tambahan yang semalam dibicarakan Selene dengan suara berbisik.
Ia tidak langsung menandatangani.
“Ada perubahan?” tanya Elena pelan.
Marcus menoleh cepat. “Tidak signifikan.”
Elena mengangguk. “Bacakan saja bagian keempat.”
Hening singkat menyapu ruangan.
Marcus tersenyum tipis. “Tidak perlu. Aku sudah—”
“Bacakan,” ulang Elena. Nadanya tetap lembut. Tak ada ruang untuk bantahan.
Marcus menarik napas, lalu membaca. Kata-kata mengalir. Sampai ia berhenti sepersekian detik terlalu lama di satu kalimat.
Kesalahan itu kecil. Tapi Elena menangkapnya.
“Lanjut,” katanya.
Marcus melanjutkan, kali ini lebih cepat. Terlalu cepat.
Elena menurunkan kepala, seolah menerima. “Baik.”
Ia menandatangani.
Di sudut ruangan, Selene menghela napas lega.
*****
Rapat berakhir tanpa insiden. Orang-orang keluar dengan wajah puas. Marcus menepuk bahu Elena. “Kau hebat hari ini.”
Elena tersenyum sopan. “Aku hanya melakukan tugasku.”
Ia tidak menyebutkan satu hal pun.
Di lift, ponselnya bergetar. Nomor lama.
Sudah masuk. Klausul aktif. Jejaknya jelas.
Elena menatap pantulan dirinya di dinding logam. Wajahnya tenang. Tidak ada kemenangan di sana. Hanya kepastian.
Ia membalas. Simpan. Jangan bergerak.
*****
Malam itu, Selene datang membawa sebotol anggur. “Kita berhasil,” katanya ceria.
Elena duduk di sofa. “Sementara.”
Selene tertawa. “Kau selalu pesimis.”
“Bukan,” jawab Elena. “Aku realistis.”
Selene menuang anggur, tangannya sedikit gemetar. Elena mendengarnya dari bunyi kaca yang beradu. Ketakutan mulai merayap—halus, nyaris tak terlihat.
“Marcus terlalu banyak berpikir,” lanjut Selene. “Dia butuh istirahat.”
Elena mengangguk. “Tekanan memang mengubah orang.”
Selene menatapnya. “Termasuk kau?”
Elena menoleh ke arah suara. “Terutama aku.”
****
Larut malam, Marcus berdiri di depan jendela kamar kerja. Elena berhenti di ambang pintu.
“Kau masih bekerja?” tanyanya.
Marcus berbalik. “Sedikit.”
“Marcus,” kata Elena pelan. “Jika suatu hari aku tahu kau berbohong… apa yang akan kau lakukan?”
Marcus membeku sepersekian detik. “Kenapa bertanya begitu?”
“Tidak apa-apa,” jawab Elena. “Hanya penasaran.”
Ia berbalik pergi, meninggalkan Marcus dalam diam yang menekan.
Di kamar, Elena duduk di tepi ranjang. Bukti pertama sudah terkunci rapi. Tidak diumumkan. Tidak digunakan.
Belum.
Karena jatuh paling menyakitkan bukan saat didorong—
melainkan saat seseorang sadar tanah sudah lama hilang di bawah kakinya.
Dan Marcus…
baru saja melangkah terlalu jauh.
Di balik pintu tertutup, Elena mengatur napasnya. Bukan karena ragu, melainkan karena ia sedang menahan langkah berikutnya. Bukti pertama bukan untuk dipamerkan, melainkan untuk menjerat. Ia tahu siapa yang akan berbicara lebih dulu saat tekanan meningkat—orang yang paling merasa aman.
Di kejauhan, ponsel Marcus kembali bergetar. Nada notifikasinya berbeda. Lebih pendek. Lebih mendesak.
Elena tersenyum tipis.
Rantai itu mulai menegang.
Dan ia tidak akan menariknya—
cukup membiarkannya putus dengan sendirinya.