NovelToon NovelToon
Kutukan Yang Ditulis Saat Hujan

Kutukan Yang Ditulis Saat Hujan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horror Thriller-Horror
Popularitas:666
Nilai: 5
Nama Author: Mawarhirang94

Malam itu hujan turun dengan derasnya, membasahi setiap sudut desa yang sepi dan terpencil. Di tengah derasnya air yang menembus tanah, seseorang menulis nama-nama di tanah basah—tanpa sadar, setiap huruf yang terbentuk membawa kutukan yang mengerikan.

Rina, seorang wanita muda yang baru pindah ke desa itu, menemukan catatan-catatan aneh yang tertinggal di halaman rumah barunya. Setiap malam hujan, suara bisikan menakutkan mulai terdengar, bayangan misterius muncul, dan orang-orang di sekitarnya mulai mengalami kejadian-kejadian mengerikan yang seolah dipandu oleh tulisan-tulisan itu.

Ketika Rina mencoba mengungkap misteri di balik kutukan tersebut, ia sadar bahwa tulisan-tulisan itu bukan sekadar simbol, melainkan catatan dendam dari arwah yang tak pernah tenang. Semakin ia menggali, semakin kuat kutukan itu menghantuinya—hingga akhirnya, ia harus menghadapi keputusan paling mengerikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 Ritual Penutup yang Terlarang

Rina duduk di tengah lingkaran baru yang ia buat sendiri. Notebook terbuka, pena di tangan, jantungnya berdebar. Ia tahu malam ini adalah malam terakhir: malam ritual penutup yang terlarang. Buku ritual yang menulis sendiri kini menempel di pangkuannya, halamannya terbuka di simbol terakhir yang menuntunnya untuk menghadapi arwah pertama yang memulai kutukan desa.

Angin malam menerobos masuk melalui jendela yang terbuka sedikit. Cahaya lilin bergetar, menimbulkan bayangan yang bergerak liar di dinding. Dari tanah basah di sekelilingnya, muncul arwah-arwah yang pernah ia tulis: anak-anak yang tidak pernah dikubur, wanita berambut panjang, pria muda, bahkan arwah pemilih dari malam sebelumnya. Mereka berdiri mengelilinginya, menatap, tanpa suara, menunggu satu hal.

Rina menarik napas panjang. Dalam hatinya terdengar suara pria tua dari toko ritual, kata-kata yang terus terulang:

"Ritual ini terlarang karena hanya satu yang bisa hidup… dan satu jiwa yang akan terikat selamanya."

Ia menatap buku ritual. Halaman terakhir menulis sendiri:

“Jika kau menulis akhir, kau akan mengikat dirimu dengan semua yang tertinggal. Jika kau mundur, desa akan hancur dan arwah akan bebas.”

Rina menunduk. Pena di tangannya gemetar, tapi ia tahu: ini satu-satunya cara untuk menutup siklus kutukan.

Dengan tangan gemetar, ia mulai menulis satu simbol demi satu simbol. Hujan di luar mulai menekan lebih deras, tanah di sekitarnya bergerak liar, dan arwah-arwah mulai mengangkat tangan mereka, seperti memaksa energi keluar dari dirinya.

Tiba-tiba, dari tengah lingkaran, muncul bayangan arwah pertama—pria yang memulai semua ini puluhan tahun lalu. Tubuhnya lebih besar, matanya merah menyala. Ia menatap Rina langsung:

"Kau bisa menutup semuanya… tapi kau harus memilih satu jiwa untuk tetap terikat—apakah itu dirimu atau arwah terakhir yang tersisa?"

Rina terhuyung. Ia tahu taruhannya: jika salah memilih, jiwanya akan terjebak selamanya di tanah basah desa, menjadi bagian dari kutukan yang ia coba hentikan.

Ia menutup mata, menarik napas panjang, dan menulis simbol terakhir… sekaligus menyebut nama arwah pertama dengan hati-hati. Seketika, tanah di sekelilingnya bergetar hebat, hujan terdengar seperti ribuan jeritan.

Arwah-arwah yang menunggu terdiam. Simbol yang ia tulis mulai bersinar merah dan perlahan memudar, tanah menjadi datar kembali, dan lilin berhenti bergetar.

Rina jatuh terduduk, napas tersengal, tubuh basah kuyup. Ia menatap buku ritual. Halaman terakhir kini kosong… dan seketika, sebuah bisikan lembut terdengar:

"Terima kasih… ritual selesai… kau yang memilih dengan benar… jiwa desa kini tenang… tapi kau… akan selalu menjadi penghubung…"

Rina menutup buku itu dengan tangan gemetar, menyadari satu hal yang menakutkan: kutukan memang tertutup, arwah tenang, tapi hatinya kini selamanya terikat dengan desa, hujan, dan tanah basah yang menulis sendiri.

Di luar, hujan mulai reda. Tanah kembali datar, tapi Rina tahu… malam pertama berikutnya, ketika hujan datang, nama-nama baru mungkin akan menunggu, dan ia harus siap menulis lagi.

Dan untuk pertama kalinya, ia tersenyum tipis—selama ia masih menulis, desa ini masih bisa selamat, dan arwah tetap bisa tenang.

***

Hujan yang Tidak Pernah Reda

Hujan turun tanpa henti, lebih deras dari malam-malam sebelumnya. Desa Rina kini tampak seperti tenggelam dalam tirai air abu-abu. Tanah basah kembali beriak, lumpur bergerak seperti ada makhluk yang hidup di bawahnya. Notebook di tangan Rina terasa berat—bukan karena kertas atau pena, tapi karena beban tanggung jawabnya.

Sejak ritual penutup, ia menyadari sesuatu yang menakutkan: kutukan desa tidak berhenti di desanya sendiri. Arwah yang ia tulis mulai “berpergian” ke desa-desa sekitar, meninggalkan jejak tanah basah yang sama, hujan yang tidak pernah reda, dan simbol yang sama di halaman rumah orang-orang yang tidak pernah mengetahui apa yang terjadi.

Rina duduk di teras rumah, menatap hujan. Ia mendengar suara bisikan baru, berbeda dari sebelumnya. Suara itu berasal dari arah hutan—lebih jauh dari pemakaman lama, dari desa lain.

"Kami menunggu… tuliskan kami…"

Tiba-tiba, tanah halaman rumahnya bergerak sendiri, membentuk simbol baru yang tidak ia kenal. Setiap simbol tampak hidup, seakan menuntut ia menulis lebih banyak nama arwah.

Rina tahu ia tidak bisa menunda lagi. Ia membuka notebook, tetapi halaman yang kosong kini mulai menulis sendiri—huruf-huruf muncul satu per satu, membentuk nama-nama baru dari desa lain.

Hujan deras menekan jendela, dan dari dalam rumah, bayangan arwah mulai muncul: anak-anak, wanita, pria muda, bahkan bayangan arwah pemilih dari ritual sebelumnya. Mereka menatap Rina, menunggu gerakannya.

Rina menulis dengan tangan gemetar, simbol demi simbol, nama demi nama, mengikuti apa yang buku ritual “perintahkan” padanya. Namun setiap kali satu nama selesai, muncul dua nama baru. Energi arwah terasa semakin kuat, tanah di sekeliling rumah mulai bergerak liar, dan hujan tidak kunjung reda.

Ia menyadari satu hal yang menakutkan: ia tidak menulis untuk menenangkan arwah—ia menulis untuk menahan hujan, menahan tanah, dan menahan kutukan agar tidak menyebar ke seluruh wilayah.

Di kejauhan, dari arah pemakaman lama, terdengar suara teriakan panjang yang bercampur dengan hujan. Rina menatap tanah basah halaman rumahnya: simbol yang ia tulis perlahan bersinar merah, seolah memberitahu bahwa arwah baru mulai memilihnya, menantang batas kemampuannya.

Ia menutup mata sejenak, menarik napas panjang. Dalam hatinya, satu pikiran muncul: selama hujan ini turun, selama tanah basah menulis sendiri, ia harus tetap menulis—menjadi penghubung antara dunia hidup dan mati, menjadi pengawas arwah yang tidak pernah dikubur, dan menjaga desa tetap selamat.

Malam itu, hujan tidak pernah reda. Dan Rina menyadari: perjuangannya baru saja dimulai—kutukan ini lebih luas dari desa, lebih dalam dari tanah, dan lebih berat dari jiwanya sendiri.

Hujan turun sepanjang hari, tak bersahut, seperti tirai abu-abu yang menutup seluruh desa Rina. Tanah basah kembali beriak, genangan air di halaman rumahnya bergerak sendiri. Namun malam ini berbeda: suara bisikan tidak hanya dari rumahnya, tapi juga dari arah desa tetangga.

Rina berdiri di tepi halaman, memegang notebook dan buku ritual. Ia bisa merasakan energi baru—lebih gelap, lebih tebal, dan penuh kemarahan. Tanah di depannya retak, membentuk simbol yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Dari retakan itu, muncul bayangan lebih besar dari semua arwah sebelumnya, tubuhnya tegap, matanya merah menyala, dan aura kematian memancar dari seluruh tubuhnya.

💚💚💚

Untukmu yang memilih membuka halaman demi halaman novel ini—terima kasih.

Setiap kata di sini lahir dari rasa, luka, dan harapan yang mungkin pernah singgah di hatimu.

Bacalah perlahan, resapi, dan biarkan ceritanya menemanimu.

Semoga kamu menemukan bagian dirimu sendiri di antara baris-barisnya.

1
anggita
woouu serem juga😯. like iklan👍☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!