Anggika Rosalia, gadis cantik berusia 27 tahun, baru kembali dari Jakarta dan harus menerima kenyataan dijodohkan dengan calon kepala desa. Luka hatinya belum sembuh setelah ditinggal menikah sang kekasih, ditambah gosip kejam yang melabelinya perawan tua. Demi kepentingan masing-masing, Rosalia akhirnya menikah kontrak dengan Mario Langit Pradana, pria tampan yang membutuhkan pasangan untuk maju sebagai lurah. Lalu, bagaimana kelanjutan rumah tangga mereka? Saksikan kisah selengkapnya hanya di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjaka
“Ngomong apa sih kamu? Udah ayo, jalan aja keburu sore!” Anggika memalingkan wajahnya, menatap jalanan di depan.
“Ya sudah, kalau kamu memang nggak mau cerita,” balas Mario santai sambil memutar gas motor dan mulai melaju.
Anggika mencengkeram ujung jaket Mario.
Kenapa dia tiba-tiba nanyain Rafly? Masa iya aku jawab kalau aku diselingkuhin… nanti dia malah ngejek aku lagi, gumamnya dalam hati.
Beberapa menit berlalu dalam diam. Hanya suara mesin motor dan angin sore yang menyapu wajah mereka.
“Besok kita ke KUA,” ucap Mario akhirnya.
Anggika refleks mencondongkan badan. “Ngapain ke sana?”
“Ngurus dokumen nikah. Surat-surat, berkas. Tepuk sakinah yang lagi viral di TikTok itu,” katanya santai.
“Masa calon istri calon lurah nggak tahu?”
“Oh… gitu,” jawab Anggika pelan.
“Maaf, aku kan belum pernah nikah.”
“Emangnya aku pernah?” Mario mendengus kecil.
“Aku masih perjaka begini.”
Anggika menyipitkan mata.
“Kalau belum nikah aku percaya. Tapi kalau perjaka? Kok kayaknya mustahil.”
Mario melirik lewat spion.
“Kamu mau tes drive?”
“Tes drive?” Anggika bingung.
“Nyoba mobil?”
Mario terkekeh.
“Katanya kamu nggak percaya aku masih perjaka. Jadi kamu bisa nyobain langsung.”
Wajah Anggika langsung panas.
“Eh jangan aneh-aneh ya! Aku bisa teriak. Kamu bisa gagal nyalon lurah gara-gara skandal pelecehan calon istri!”
“Tadi yang nantangin siapa,” Mario tertawa kecil.
“Sekarang malah parno.”
“Aku nggak mesum kayak kamu!” bentak Anggika.
“Aku mikirin pinggang pegal, bukan yang aneh-aneh!”
“Bohong,” goda Mario.
“Pipimu merah dari tadi kaya tomat busuk.”
“Karena kesel!” Anggika memeluk jaket Mario lebih erat, entah karena dingin atau karena gugup.
Motor melambat saat melewati bangunan hotel besar.
“Mumpung lewat hotel, mau mampir bentar?” goda Mario.
“Nggak ya!” Anggika langsung memukul bahunya pelan.
Mario tertawa.
“Bercanda doang. Kamu gampang panas.”
“Aku nggak panas, kamu aja bercandanya nggak lucu.”
“Iya, maaf,” ucap Mario, nadanya melembut.
Tak lama, motor berhenti di depan rumah Anggika. Mario mematikan mesin.
“Sebelum turun…” kata Mario santai,
“kiss dulu.”
Anggika mengernyit. “Kiss apaan? Permen?”
“Cium, sayang,” balas Mario jahil.
“Geli banget aku dengernya, Maryono!” Anggika cepat-cepat membuka pintu, turun sambil membawa paper bag belanjaannya.
“Sampai besok, istriku!” teriak Mario dari balik kemudi.
“Sana pulang sebelum kulempar sandal!” balas Anggika tanpa menoleh.
“Salam buat calon bapak dan ibu mertuaku ya!”
Mario melambaikan tangan sebelum mobilnya melaju pergi.
Anggika menghela napas panjang lalu masuk ke dalam rumah.
“Gila… tuh orang makin hari makin aneh,” gumamnya pelan.
Ibunya menoleh dari ruang tengah. “Kamu kenapa ngomel-ngomel sendiri? Mario nggak mampir?”
“Dia sibuk, Buk. Nggak mampir,” jawab Anggika singkat.
“Ya sudah, makan dulu sana.”
“Udah kenyang. Aku mau mandi terus tidur, capek,” ujar Anggika sambil berjalan ke kamarnya.
Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang.
Menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang entah kenapa terus berputar.
“Kenapa aku malah kepikiran Mario terus, sih?” desahnya pelan.
“Haduh… ini kenapa,” gumamnya lagi sambil menutup wajah dengan bantal.
Ia bangkit perlahan. “Udah, mandi dulu biar fresh.”
Anggika melangkah ke kamar mandi. Tak lama kemudian suara air mengalir terdengar. Setelah selesai, ia kembali ke kamar, mengganti pakaian, lalu merebahkan diri lagi di atas ranjang—berusaha memejamkan mata, meski bayangan senyum jahil Mario masih saja muncul di benaknya.
Tiba-tiba ponselnya berdering nyaring di atas nakas.
“Siapa, sih… nomor nggak dikenal lagi,” gumam Anggika sambil mengernyit.
Ia mengangkatnya ragu-ragu. “Halo siapa ini?”
Belum sempat ia bicara banyak, layar langsung berubah menjadi panggilan video.
“Eh—”
Wajah Mario muncul di layar, tersenyum santai.
“Mario?!” Anggika refleks duduk tegak.
“Iya, aku. Kamu gak kangen sama aku,” ucap Mario ringan seolah itu hal paling biasa di dunia.
Anggika memicingkan mata. “Kamu dapet dari mana nomor HP-ku?”
Mario mengangkat alis. “Apa, sih, yang nggak aku tahu soal kamu?”
“Kamu stalker, ya?” tuduh Anggika setengah bercanda setengah waspada.
Mario tertawa pelan. “Dapet dari ibu kamu. Lagian, masa takut ditelepon calon suami sendiri? Wajar kali.”
“Itu wajar buat orang pacaran. Kita kan nikah kontrak,” balas Anggika cepat.
Ekspresi Mario berubah sedikit. “Jadi kamu seenggak itu jadi istri aku?”
“Bukan gitu maksudku…” Anggika mulai panik.
Mario menarik napas pendek. “Ya sudah. Maaf udah ganggu kamu.”
Layar tiba-tiba gelap. Panggilan terputus.
Anggika terdiam beberapa detik. “Lho… kok dimatiin?”
Ia menatap ponselnya dengan perasaan tak enak.
“Mario marah sama aku?” gumamnya pelan.
Tanpa pikir panjang, ia menekan tombol panggil. Sekali. Tidak diangkat.
Ia mencoba lagi.
Masih tak ada jawaban.
“Angkat dong…” bisiknya cemas sambil terus menatap layar yang tak kunjung tersambung.
Anggika mondar-mandir di kamar sambil menggerutu.
“Duh, dia ngambek beneran… kenapa aku jadi nggak tenang ya,” gumamnya.
Akhirnya ia mengambil ponsel dan menelpon Aisyah, ibu Mario.
“Halo, Gi… assalamu’alaikum,” suara Aisyah terdengar hangat di speaker.
“Waalaikumsalam, Tante. Maaf, Mario ke mana ya? Aku telepon nggak diangkat,” tanya Anggika cemas.
“Mario lagi ada tamu, perempuan cantik,” jawab Aisyah ringan.
“Perempuan?!” Anggika kaget setengah panik.
“Iya… kayaknya temen kuliahnya,” jelas Aisyah.
Gi menunduk sebentar, bingung. “Gi… kenapa kamu diem ada masalah?” tanya Aisyah, menyadari keheningan.
“Gak apa-apa, Bu… nanti aku hubungi lagi dia kalau nggak sibuk,” jawab Anggika cepat sebelum menutup telepon.
Ia menatap ponselnya, napasnya agak berat.
“Perempuan cantik… siapa? Nessa? Kenapa aku jadi cemburu gini sih…” gumamnya dalam hati.
Anggika menepuk-nepuk wajahnya sendiri, berusaha menenangkan diri.
“Ah… dasar hati ini nggak karuan, kenapa gampang cemburu gini,” gumamnya sambil berjalan ke jendela, menatap jalan di bawah.
Ia menarik napas panjang. “Oke, Gi… santai. Mario cuma calon suami kontrak kamu, masa iya reaksi kamu berlebihan begini.”
Namun pikirannya tetap berputar-putar. “Tapi kalau dia sama perempuan itu… aduh, rasanya kayak ditusuk-tusuk gitu.”
Anggika lalu menoleh ke kamar, melihat paper bag belanjaannya masih di meja. Ia menghela napas lagi.
“Ya sudah… nanti aku hubungi dia lagi, tapi jangan terlalu kelihatan cemburu. Nanti dia malah ke gran.”
Ia duduk di ranjang, ponselnya di tangan, dan mulai membuka aplikasi chat.
“Hmm… pesan dulu, tapi apa yang aku tulis? Jangan sampai kesannya aku cemburu banget,” gumamnya sambil mengetik.
Setelah beberapa saat mengetik dan menghapus beberapa kata, akhirnya Anggika menekan tombol kirim.
“Semoga dia jawab cepat… dan semoga nggak lagi sama perempuan itu,” pikirnya sambil menatap layar ponsel dengan mata was-was.