Kinan tak pernah siap kehilangan, terlebih dalam satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Kecelakaan itu bukan hanya merenggut tunangannya, tetapi juga meninggalkan trauma yang perlahan hinggap dalam dirinya.
Alana hadir sebagai perawat—sekedar menjalankan tugas, tanpa tahu bahwa langkah kecilnya akan membawanya masuk ke dalam kisah yang rumit. Ketulusan yang ia berikan justru membuat keluarga Kinan memintanya bertahan… bahkan menikah.
Hubungan yang seharusnya sederhana itu berubah menjadi pertaruhan perasaan.
Sebab mencintai Kinan berarti bersedia berbagi ruang dengan masa lalu yang belum pergi.
Akankah Alana mampu bertahan, atau justru terluka oleh cinta yang belum selesai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amerta Nayanika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Aneh
"Kamu mau menikah dengan anak saya, Alana?"
Pertanyaan itu berhasil membuat Alana mematung di tempatnya. Kelopak matanya tak berkedip sekalipun udara dingin menyentuh bola matanya yang bersih. Alana bahkan juga lupa bagaimana cara bernafas dengan benar.
Secangkir teh panas yang baru saja dibuatkan Laksmi untuknya mengambang di udara bersama dengan pergerakan tangannya yang terhenti. Pandangannya terkunci pada satu titik, Ella yang kini tengah tersenyum di hadapannya.
Sementara, Laksmi yang mendengar pertanyaan itu tertuju pada anaknya hanya terdiam. Mereka sudah sempat membicarakan hal ini sembari menunggu Alana membersihkan diri tadi. Dia sangat mengerti alasan Ella ingin menikahkan Alana dengan Kinan.
Tangannya memegang pundak Alana yang duduk di sampingnya. "Ibu tahu, kamu pasti kaget. Tapi, nggak ada salahnya dipikir-pikir dulu, kan?"
Tak menjawab pertanyaan kedua wanita di hadapannya, Alana lebih memilih untuk menyesap teh panas di tangannya. Meski minuman itu masih cukup panas dan mampu membuat lidahnya kebas seketika. Alana tak masalah, setidaknya itu dapat menjadi alasannya untuk menjeda pembicaraan ini sejenak.
Mungkin memang benar adanya istilah ucapan adalah doa. Tak pernah dia sangka berbagai buah bibir yang tersebar di kalangan perawat ternyata akan terjadi padanya seperti ini. Mungkin sebaiknya Alana membantah gosip itu, seperti saran dari Betari.
"Kalau boleh tahu, kenapa saya, Bu?" tanya Alana sopan.
Alana tentu tak langsung menolak, dia masih tak enak hati untuk sekedar memberikan kalimat penolakan. Bukan karena memikirkan keputusannya untuk menerima. Alana hanya ingin menjaga perasaan setiap orang yang berhubungan dengan keluarganya, belum lagi fakta bahwa Ella dan Laksmi adalah teman dekat dari SMA.
"Karena, kamu yang paling mengerti kondisi Kinan sekarang, Lan," jawab Ella lembut.
Tampak Alana mengulum bibirnya sejenak. Dia masih mengingat jelas bagaimana Kinan dan Ella yang beradu mulut di kamar rawat inap sekitar lebih dari satu bulan yang lalu. Tentang Kinan yang ingin membatalkan seluruh persiapan pernikahan dan Ella yang menentangnya.
Dia juga masih mengingat cerita tentang perawat yang bekerja di poli kemarin, saat Kinan masih berada dalam ruangan Dokter Tifa. Perihal bagaimana kecelakaan itu terjadi dan apa yang menimpa Kinan dalam kejadian itu.
"Saya juga udah ngobrol sama ibu kamu soal ini, Alana," lanjut Ella.
Alana menoleh ke arah ibunya. "Terus, Ibu bilang apa?"
Laksmi menarik tangan anaknya ke dalam genggamannya. Dia tersenyum kecil seraya berkata, "Semua keputusan itu ada di kamu, Nak."
"Tapi, Ibu kan lagi sakit. Aku nggak bisa ninggalin Ibu gitu aja," sahut Alana.
"Kan, ada Mas Dipo yang nanti bakal sering ke sini, Lan."
Alana menundukkan kepalanya. Dia sembunyikan senyum getir di balik tirai rambutnya yang panjang. Bahkan di saat seperti ini pun ibunya masih memandang Dipo dengan cara yang baik. Sementara, Alana tak begitu.
"Aku titipin Ibu ke Mas Dipo tiap aku jaga malam di rumah sakit aja, Mas Dipo nggak datang kan, Bu?" timpal Alana.
Mendengar penuturan itu, Laksmi sontak terdiam. Semahir apapun dia menyembunyikan bangkai, pasti akan tercium juga. Sama seperti bagaimana dia berusaha menjaga agar Alana tetap menghargai Dipo sebagai kakaknya. Nyatanya keburukan laki-laki itu akhirnya diketahui juga oleh adiknya.
Melihat ibunya yang tak memaparkan jawaban apa pun, Alana kembali mengalah. "Ibu pasti capek kan? Istirahat di kamar aja, ya. Biar aku yang nemenin Bu Ella di sini."
Setelah mengatakan itu, Laksmi lantas berdiri dengan bantuan Alana. Dia sempat pamit pada Ella untuk beristirahat terlebih dahulu. Langkahnya tertatih bersama dengan Alana yang menuntunnya dengan perlahan.
Semua itu tak luput dari padangan Ella. Satu hal lain yang membuatnya semakin yakin akan pilihannya. Menjodohkan Kinan dengan Alana bukanlah ide yang buruk.
Setelah pintu kamar kembali tertutup dan Alana memastikan ibunya benar-benar beristirahat, dia kembali ke tempatnya. Kembali duduk di kursi yang masih terasa hangat.
Alana kembali menoleh pada Ella. "Maaf, kalau saya mungkin kesannya seperti menguping. Tapi saya sempat nggak sengaja dengar pembicaraan Bu Ella dan Pak Kinan di kamar rawat beberapa waktu yang lalu."
Setelah berpikir matang-matang dan menyusun beberapa kalimat agar tak terkesan tidak sopan, Alana akhirnya berani membuka suara. Meski sebenarnya hatinya sempat ragu untuk mengatakan ini.
"Pak Kinan sempat meminta buat pernikahannya dibatalkan saja karena tunangannya pergi dalam kecelakaan yang terjadi. Kenapa Ibu menentang permintaan itu?" tanya Alana.
Ella memandang lurus pada Alana. Mata yang berona kecokelatan, sama seperti milik Kinan yang sering bersinggungan dengan mata legamnya. Hanya saja, mata ini menatapnya dengan lembut, tak sedingin cara Kinan memandangnya.
"Soal uang, Bu?" tanya Alana pelan. Jemari di pangkuannya saling meremas satu sama lain.
Tak seperti dugaannya di mana Ella akan menyahut dengan nada tak terima, Alana malah melihat wanita itu tersenyum lembut. Setelahnya, terdengar tawa kecil dari Ella.
"Mungkin saya sempat mengatakan soal uang kala itu. Tapi, semua ini bukan sekedar perihal uang, Alana. Karena, uang bisa saja kita cari lagi," ujar Ella.
Mendengar jawaban itu, Alana berkerut bingung. "Lalu?"
Ella menghela nafasnya sejenak. Lalu, wanita itu berkata, "Saya masih ingat saat Kinan selalu menyempatkan diri di sela waktunya yang sangat sibuk untuk menyiapkan pernikahan ini. Saya tahu itu capek, saya cuma nggak mau usahanya sia-sia gitu aja."
"Tapi, apa ada orang yang mau menikah sama orang yang nggak mereka cintai?" timpal Alana.
Mendengar pertanyaan itu, Ella kembali tersenyum kecil. Pandangannya kini beralih pada pintu kamar Laksmi yang tertutup rapat. Tak ada suara apa pun di dalam sana, sudah pasti penghuninya tengah terlelap dengan nyaman.
"Mungkin ibu kamu akan marah ke saya kalau saya bilang ini."
Ella kembali melirik pada Alana yang tampak kebingungan. "Ibu dan mendiang ayahmu itu menikah dari hasil perjodohan. Mereka nggak pernah bertemu sebelumnya."
"Hah?" Alana menganga, dia tentu belum pernah mendengar hal ini sebelumnya.
Alana hanya tahu bahwa ibu dan ayahnya saling mencintai, meski bumbu-bumbu pertengkaran dalam pernikahan tentu selalu ada di setiap fasenya. Meski begitu, Alana selalu mendapati mereka saling memberi kecupan kecil penuh sayang di pipi masing-masing keesokan harinya.
Pemandangan yang seperti itu tentu membuat Alana berpikir bahwa cinta tumbuh bahkan sebelum pernikahan itu dimulai. Pernikahan itu dilakukan oleh kedua orang yang saling mencintai sebelum diikatkan oleh sebuah janji yang terucap di hari yang suci itu.
"Jadi, menurut saya tidak ada salahnya untuk menikahkan kamu dengan Kinan meski kalian baru saling mengenal sebagai pasien dan perawat, Alana," lanjut Ella.
Ella meraih tangan perempuan itu untuk berada dalam genggamannya. "Saya memilih kamu bukan secara acak, Alana. Saya punya alasan kuat untuk memilih kamu menjadi pendamping hidup Kinan."
Alana menundukkan pandangannya. Tatapannya kosong pada kaki meja kayu yang ada di hadapan mereka. Entah kemujuran atau kesialan yang menimpanya, tapi Alana masih belum siap untuk apa pun itu. Namun, ada satu hal yang terus berteriak dalam kepalanya. Penolakan.
"Saya--"
"Kamu nggak perlu buru-buru kasih jawaban, Alana. Saya menghargai kamu dan mempersilakan kamu untuk memikirkan keputusan hidupmu sendiri," potong Ella.
Bukan tanpa alasan dia berbicara demikian. Nyatanya, dia lebih tidak siap mendengar penolakan dari Alana. Ella pikir, mungkin sebaiknya Alana tak menjawab saat kondisinya masih cukup terkejut dengan permintaannya yang tiba-tiba ini.
Di sela hening itu, terdengar dering ponsel milik Ella yang menerima sebuah pesan. Setelahnya, wanita itu langsung berdiri dari tempatnya. Dia tenteng tasnya, hendak segera pulang karena supirnya sudah menunggu di depan gang.
"Tapi ingat ya, Alana.... Keputusan itu harus dari sini," Ella menunjuk dadanya, lalu beralih ke kepalanya, "bukan dari sini."