Rasa putus asa telah membawa jiwa murni yang rapuh pada kegelapan. Lunaris Skyler hanya ingin membalas semua rasa sakitnya dengan menerima tawaran bantuan dari Sirius. Yang tanpa Lunaris tau, jika dia telah terlibat dalam permainan takdir yang diciptakan oleh racun mematikan bernama dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucient Night, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Kontrak Yang Tidak Bisa Dibatalkan
Hutan di siang hari ternyata tidak seseram malam itu. Sinar matahari menerobos masuk melalui celah-celah dedaunan rimbun, menciptakan pola abstrak di atas tanah yang lembab.
Sangat jauh berbeda dengan cerita-cerita yang beredar.
Selain kuil kematian yang terdapat di sudut pusat kota yang sering dirumorkan sebagai tempat terlarang karena selalu dijadikan tempat orang-orang mengakhiri hidup. Hutan ini juga tidak ketinggalan dari rumor dan cerita-cerita kelam yang beredar.
Konon katanya di hutan ini ada sebuah portal yang menghubungkan dengan dunia lain yang membuat siapa saja yang datang dan masuk ke dalam hutan akan hilang tidak pernah kembali.
Tapi saat ini Lunaris sedang berjalan di hutan, ditemani semilir angin pagi yang sejuk dan deretan pepohonan rimbun yang menghalau sinar matahari. Meskipun tetap saja beberapa ada yang bisa menerobos celah-celah dedaunan.
Hutan ini benar-benar indah, terlepas dari semua rumor dan cerita-cerita kelamnya.
Namun, keindahan alam itu sama sekali tidak bisa dinikmati lebih lama oleh Lunaris.
Gadis itu berjalan tertatih-tatih di belakang Sirius, napasnya memburu karena berusaha menyamai langkah kaki jenjang pemuda itu yang berjalan santai namun sangat cepat.
"Kau berjalan lambat sekali," Komentar Sirius tanpa menoleh. Suaranya datar, namun nada mengejeknya begitu kental. "Kalau kau lomba lari sama keong, kurasa keongnya sudah sampai garis finis, sempat ngopi, dan membangun keluarga bahagia, sementara kau baru sampai di garis start."
Lunaris mendengus kasar, kekesalannya sudah mencapai ubun-ubun. Ia berhenti sejenak untuk memijat betis kanannya yang masih terasa nyeri.
"Heh! Ini gara-gara siapa coba?!" sembur Lunaris tidak terima. "Lo yang gak mau pake teleportasi biar cepet sampe rumah gue, malah milih jalan kaki kaya gini! Kaki gue masih sakit tolong walaupun semalam lo udah mijit kaki gue —yang rasanya kayak mau dipatahin itu— tetap aja belum sembuh total! Punya empati sedikit kenapa sih?!"
Sirius hanya menoleh sekilas, mengangkat sebelah alisnya dengan ekspresi tak berdosa yang menyebalkan. "Empati? Bukankah sudah kubilang, monster tidak punya perasaan? Cepat jalan, atau kutinggal kau di sini jadi santapan nyamuk hutan."
Lunaris menggerutu panjang pendek, menyumpah serapah dalam hati sambil kembali menyeret kakinya. Sembari menatap punggung tegap Sirius yang kini berbalut jaket bomber kekinian, pikiran Lunaris mulai berkecamuk.
Keraguan mulai merayap masuk ke dalam benaknya.
"Apa gue udah gila ya?" batin Lunaris. "Jalan di hutan horor kaya gini bareng sama makhluk gak jelas itu."
Ia memutar ulang kejadian semalam. Pertemuan di kuil, wujud mengerikan Sirius dengan taring vampir dan telinga serigala, lalu perjanjian kontrak jiwa itu.
Semuanya terasa begitu nyata saat terjadi dalam kegelapan malam dan di bawah tekanan rasa takut. Tapi sekarang, di bawah terik matahari dan melihat sosok Sirius yang terlihat seperti model majalah remaja, segalanya terasa... absurd.
Tunggu bukankah vampir tidak tahan dengan matahari, tapi kenapa Sirius bisa santai berjalan dibawah sinar matahari? Ah atau mungkin karena Sirius juga adalah setengah serigala, jadi matahari tidak mempengaruhinya?
Juga apa benar mereka sudah mengikat kontrak jiwa? Apa benar hidup dan matinya kini ada di tangan pemuda asing ini? Lunaris menatap telapak tangannya sendiri, mencari tanda atau bekas luka yang menandakan jika kontrak jiwa itu nyata, tapi tidak ada apa-apa. Bersih.
Jangan-jangan dia cuma berhalusinasi karena stres berat kehilangan ibu dan perundungan dari Bracia?
Juga pasti trauma dari pelecehan yang dia dapatkan kemarin mempengaruhi pikiran Lunaris.
Jangan-jangan dia baru saja setuju membawa pulang seorang psikopat yang pandai bermain trik sulap, bukan entitas kuno yang kuat? Keputusan impulsifnya semalam mulai terasa seperti kesalahan fatal.
Lamunan Lunaris buyar ketika mereka akhirnya keluar dari rimbunnya pepohonan dan menginjak trotoar beton pinggir jalan raya. Yang sebenarnya entah sejak kapan mereka berdua sudah keluar dari hutan.
Suara klakson dan deru mesin kendaraan langsung menyambut telinga mereka.
Di sinilah "kewibawaan" sang Karma mulai runtuh.
Begitu melihat jalan raya yang padat, langkah Sirius terhenti mendadak. Matanya yang tajam membelalak, menatap ngeri sekaligus takjub pada deretan mobil yang melaju kencang.
"Woah benda apa itu?" Tunjuk Sirius pada sebuah truk kontainer yang melintas dengan suara bising. "Kereta besi tanpa kuda? Bagaimana dia bisa bergerak? Apa ada roh budak yang dikurung di dalamnya untuk mendorongnya?"
Lunaris menepuk jidatnya. "Itu truk, Sirius. Tentu saja bisa bergerak karena pakai mesin dan juga bensin."
Belum sempat Lunaris menjelaskan lebih lanjut, Sirius sudah berputar, menatap gedung-gedung tinggi di kejauhan dengan mulut sedikit terbuka. "Dan itu... menara-menara kaca itu, tinggi sekali. Apa manusia zaman sekarang sudah tidak takut pada dewa langit sampai berani membangun sarang setinggi itu?"
"Itu gedung perkantoran..." Jawab Lunaris lemas.
Puncak kekonyolan terjadi saat mereka berpapasan dengan sekelompok remaja yang sedang asyik bermain ponsel sambil berjalan. Sirius memiringkan kepalanya, menatap benda pipih di tangan mereka dengan rasa ingin tahu yang meledak-ledak.
"Kenapa mereka semua menunduk? Apa mereka sedang melakukan ritual pemujaan pada lempengan kaca bercahaya itu?" Tanya Sirius serius, benar-benar bingung. "Apakah itu jimat pengendali pikiran? Lihat, jari mereka bergerak-gerak aneh di atasnya. Sihir macam apa itu?"
"Itu bukan jimat! Itu ponsel! Handphone! Buat komunikasi!" Lunaris mengerang frustrasi, Sirius memang benar-benar makhluk purba!
Lunaris buru-buru menarik lengan jaket Sirius karena orang-orang mulai menatap mereka aneh—seorang gadis dengan baju kaos kedodoran menarik-narik cowok ganteng yang bertingkah seperti orang udik yang baru keluar dari gua.
Lunaris menatap Sirius dengan pandangan tidak percaya. Mana? Mana aura vampir bangsawan yang agung dan menakutkan semalam? Mana sosok Pangeran Kegelapan yang tatapannya bisa membekukan darah?
Di hadapannya sekarang hanyalah seorang cowok kepo yang norak, yang kaget melihat lampu merah berubah warna.
Gue kena scam, batin Lunaris merana. Fix, gue ditipu. Ini bukan monster legendaris. Ini mah kakek-kakek pikun yang terperangkap di tubuh cogan.
Rasa penyesalan Lunaris makin menjadi-jadi. Ia merasa bodoh karena sudah ketakutan setengah mati dan menyerahkan "dendam"-nya pada sosok yang bahkan tidak tahu apa itu ponsel. Bagaimana makhluk norak ini bisa membantunya membalas Bracia yang licik?
Bah jangankan balas dendam, Lunaris sekarang bahkan ragu dengan pemuda yang sekarang asik melihat mesin minuman otomatis yang ada di pinggir jalan. Sirius terlihat seperti orang gila.
"Sirius," Panggil Lunaris dengan nada yang sudah kehilangan rasa takutnya, digantikan rasa skeptis. "Lo beneran monster kan? Soalnya lo lebih mirip turis nyasar yang ketinggalan zaman. Yakin lo bisa bales dendam gue? Jangan-jangan kontrak jiwa itu cuma akal-akalan lo aja biar dapet tumpangan gratis? Iya 'kan?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja, mewakili kekecewaan dan keraguan Lunaris.
Tapi yang tidak pernah Lunaris duga, ketika suasana dalam sekejap berubah.
Sirius yang tadinya sibuk mengamati tiang listrik, tiba-tiba berhenti. Punggungnya menegang.
Bahkan keriuhan dari orang-orang berlalu lalang diakhir pekan, kini menjadi hening.
Perlahan, ia menoleh ke arah Lunaris. Senyum konyol dan ekspresi takjubnya lenyap tak berbekas dalam sepersekian detik. Wajahnya berubah datar, dingin, dan tatapan matanya kembali menjadi kelam, seolah menyerap seluruh cahaya matahari di sekitar mereka.
Hembusan angin di sekitar mereka mendadak terasa dingin, membuat Lunaris merinding.
Sirius melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Lunaris terpaksa mendongak.
"Kau menyesal?" Bisik Sirius. Suaranya rendah, namun getarannya terasa sampai ke tulang sumsum Lunaris.
Lunaris menelan ludah, nyalinya menciut lagi. "B-bukan gitu... maksud gue..."
"Dengar, Gadis Kecil," potong Sirius dingin. "Aku bisa mendengar isi kepalamu yang berisik itu. Keraguanmu, rasa sesalmu, dan pikiran konyolmu yang menganggapku penipu."
Tangan Sirius terulur, mencengkram dagu Lunaris dengan lembut namun tegas, memaksanya menatap langsung ke dalam mata peraknya yang kini berkilat berbahaya.
"Meskipun kau merasa menyesal, atau merasa tertipu karena melihatku bersikap wajar di dunia barumu ini... camkan satu hal: Kau tidak bisa membatalkan apa yang sudah terjadi."
Sirius mendekatkan wajahnya, seringai tipis yang mengerikan kembali terukir di bibirnya.
"Kontrak jiwa bukan transaksi jual beli di pasar yang bisa kau batalkan seenaknya karena kau berubah pikiran. Jiwamu sudah terikat padaku. Dendammu adalah makananku. Jadi, berhentilah merengek dan nikmati saja pertunjukannya. Karena suka atau tidak, kau sudah milikku sekarang."
Sirius melepaskan cengkeramannya dan berbalik badan, kembali berjalan santai seolah ancaman mematikan barusan hanyalah obrolan cuaca.
Lunaris terpaku di tempatnya, kakinya gemetar. Jantungnya berpacu cepat. Tanpa Lunaris tau sebuah sinar kemerah terpancar dari lehernya.
Sebuah simbol aneh dan rumit merayap di sekeliling leher Lunaris, memancarkan sinar merah ruby yang kemudian redup kembali setelah beberapa detik, demikian juga dengan simbol itu yang juga ikut menghilang dari leher Lunaris tanpa Lunaris sadari.
Oke, dia tarik ucapannya. Dia tidak kena scam. Monster itu masih ada di sana, bersembunyi di balik wajah tampan dan tingkah udiknya, menunggu saat yang tepat untuk menunjukkan taringnya lagi. Dan Lunaris sadar, ia benar-benar sudah terjebak.
Sedangkan Sirius, dia berjalan tanpa menunggu Lunaris dengan senyum tipis penuh arti yang tidak sempat Lunaris lihat.