Seorang wanita yang dikhianati dan dihancurkan hidupnya kembali ke masa kuliah 6 tahun lalu. Berbekal ingatan masa depan, ia bertransformasi dari si "Memey" yang naif menjadi Odelyn yang predator, demi menghancurkan pria yang pernah menghamilinya dan meninggalkannya begitu saja. Memiliki misi Glow Up dan pola hidup sehat secara ekstrem buat balas dendam. Tapi dia malah terjebak di tengah konflik keluarga konglomerat yang misterius.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hancurnya Harapan Sang Bangsawan
Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Hediva terpaku. Ia menatap benda kecil di tangan Odelyn, lalu menatap Odelyn dengan tatapan yang penuh kepedihan. Harapannya untuk memenangkan hati Odelyn hancur berkeping-keping dalam satu kalimat.
"Jadi... selama ini saya cuma menjaga seorang ibu dan anak pria lain?" Hediva tertawa pahit, sebuah tawa yang sarat akan luka.
"Pantas saja kamu nggak pernah mau melihat saya, Odelyn. Karena di dalam diri kamu, ada dia yang sedang tumbuh."
Odelyn berdiri, mendekati Hediva dan menggenggam tangannya—bukan sebagai kekasih, tapi sebagai rekan yang memohon.
"Hediva, saya minta maaf. Saya nggak bermaksud memanfaatkan kamu sampai sejauh ini. Tapi saya butuh bantuan kamu sekarang. Bukan buat saya, tapi buat anak ini. Jangan biarkan Baron sampai ke Camden. Saya mohon... kirim tim kamu sekarang."
Hediva menarik tangannya perlahan. Ia berdiri, berjalan ke arah jendela, membelakangi Odelyn. Bahunya tampak tegang.
"Kamu tahu, Lyn? Secara bisnis, membiarkan Gavin tertangkap adalah keuntungan buat saya. Kamu akan sendirian, dan saya bisa jadi pahlawan untuk kamu dan anak itu," Hediva berbalik, matanya berkaca-kaca namun suaranya tegas.
"Tapi saya bukan Baron Vandermere. Dan saya bukan pria pengecut yang membiarkan seorang anak kehilangan ayahnya hanya karena ego saya."
Hediva mengeluarkan ponselnya, menekan satu tombol cepat yang terhubung ke tim taktisnya di London.
"Ini Vandermere Alpha. Aktifkan protokol extraction di Camden sekarang. Lindungi target dengan kode 'G-Corp'. Gunakan kekuatan penuh. Saya tidak mau ada kesalahan," perintah Hediva dengan dingin.
Ia menutup teleponnya, lalu menatap Odelyn.
"Tim saya sedang bergerak. Tapi ada satu hal yang harus kamu tahu, Odelyn. Begitu masalah ini selesai, sandiwara kita berakhir. Saya akan pergi. Saya nggak sanggup melihat kamu bersama dia, tapi saya juga nggak sanggup melihat kamu hancur."
Malam itu, Odelyn dan Hediva kembali ke ruang kendali sementara di vila Bali. Mereka memantau pergerakan tim taktis di layar. Titik merah (tim Baron) mulai mengepung koordinat titik biru (Gavin) di sebuah gudang tua di Camden.
Odelyn memegangi perutnya yang mual, matanya tak lepas dari monitor. Di telinganya, ia bisa mendengar suara baku tembak melalui radio komunikasi tim Hediva.
"Target terlokalisasi! Kami di bawah tekanan berat! Baron membawa tim elit!" suara dari London terdengar kacau.
Odelyn memejamkan mata, berdoa dalam hati.
"Gavin... tolong... satu kali lagi, tepati janji lo. Demi anak kita."Di layar monitor, Odelyn melihat titik merah Baron sudah mengepung gudang tua itu dari segala penjuru. Suara ledakan terdengar melalui radio komunikasi tim taktis Hediva.
"Dinding utara jebol! Baron meledakkan gedung!" teriak komandan tim di London.
Odelyn hampir berhenti bernapas. Namun, sedetik kemudian, asisten Hediva melaporkan bahwa Gavin sudah berhasil dilarikan melalui terowongan pembuangan air tua yang tembus ke dermaga kanal.
Gavin berhasil keluar tepat sebelum seluruh gedung itu runtuh menjadi puing. Baron hanya menemukan reruntuhan kosong, sementara Gavin sudah berada di dalam van evakuasi menuju bandara privat.
Dua puluh jam kemudian, sebuah jet pribadi mendarat di Singapura. Odelyn menunggu di hangar dengan jantung yang berdebu.
Begitu pintu pesawat terbuka, Gavin muncul. Dia terlihat sangat kurus, wajahnya pucat, dan matanya cekung, namun saat melihat Odelyn, dia memaksakan sebuah senyum.
Gavin berlari kecil dan langsung mendekap Odelyn.
"Gue balik, Lyn... sesuai janji gue," bisiknya parau.
Odelyn menangis sejadi-jadinya di pelukan Gavin, mengabaikan kehadiran Hediva yang berdiri jauh di belakang.
Namun, Odelyn menyadari sesuatu yang aneh. Tubuh Gavin terasa sangat panas, dan napasnya terdengar berat serta bergetar.
Hanya dalam waktu dua hari setelah kepulangannya, kondisi Gavin menurun drastis. Dia mulai batuk darah, sering kehilangan kesadaran, dan suhu tubuhnya tidak pernah turun dari 40 derajat. Dokter biasa di Singapura bingung mendiagnosis penyakitnya.