Daniel Rei Erwin, seorang siswa baru yang dapat melihat arwah orang yang sudah meninggal. Berteman dengan 3 orang siswa penghuni bangku belakang dan 2 orang siswi pandai yang penuh dengan logika.
Ia kira semua akan berjalan normal setelah ia pindah, namun tampaknya hari yang normal tidak akan pernah ada dalam hidupnya.
Semuanya berawal dari kasus kesurupan misterius dan menjalar ke kasus-kasus lainnya, hingga pada akhirnya ia tidak tahu kapan ini akan berakhir.
Jalani saja semuanya dengan sepenuh hati, mungkin akan ada satu hati lain yang akan ia temukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon humairoh anindita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KASUS 3 bagian 9
Pagi-pagi sekali Andi sudah menginjakkan kaki di rumah sakit. Ini bukan pertama kalinya ia datang sepagi ini, sejak bekerja bersama Bima ia harus semakin percaya diri dan siap ditugaskan kemana-mana. Tidak ada lagi Andi yang tidak tahu apa-apa dan pemalas. Padahal Bima terlihat seperti orang yang suka bermalas-malasan dan tidak taat aturan, namun pekerjaannya bisa selesai tanpa menimbulkan masalah lain. Tentu jika kasus terakhir tidak dihitung. Meski kasusnya selesai, mereka benar-benar hampir menghancurkan kepolisian setempat dan tentu itu bukan lah hal yang baik. Meski sudah jelas akar busuknya ada di dalam kepolisian itu sendiri.
Mungkin jika tidak bekerja dengan Bima, ia tidak akan tahu seberapa besar Rumah Sakit ini. Ada begitu banyak lorong membingungkan yang tidak pernah ia lewati, dan yang pasti ada begitu banyak ruangan yang bahkan ia tidak tahu apa fungsinya. Seperti kebanyakan Rumah Sakit, tempat ini cenderung dingin dan sedikit gelap. Ada begitu banyak lampu remang-remang di setiap sudutnya, membuat suasana terasa tidak menyenangkan.
Ia berjalan dengan langkah konstan, lorong rumah sakit yang masih sepi membuat suara langkah kakinya mengema. Seperti ada orang yang sedang mengikutinya. Jika ini masa lalu, ia pasti akan dengan segera berlari, namun saat ini dia adalah seorang polisi ia tidak boleh merasakan perasaan takut. Atau tidak akan ada penjahat yang akan ia tangkap.
Ia menaiki lift yang menghubungkan ke lantai 2 dan ia harus kembali berjalan ke ruangan yang terletak di ujung lorong. Mengapa semua orang yang ia kenal punya ruangan di ujung lorong? Apa mereka tidak tahu berapa banyak tenaga yang harus ia keluarkan hanya untuk mencapai ruangan itu? Belum lagi menyiapkan kata-kata untuk dilaporkan, rasanya tenaganya bisa habis begitu saja.
Ia mengetuk pintu kaca itu dengan sedikit tenaga, dan segera membukanya setelah mendengar kalimat “pintunya tidak dikunci”
“Selamat pagi Dokter Stevani” sapa Andi.
“Selamat pagi Pak Andi. Siapa yang akan menyangka kita akan bertemu dalam waktu yang dekat” jawab dokter itu. Ia tersenyum kecil dan mempersilahkan Andi duduk.
“Apa aku harus mengatakan kalau aku tidak suka tempat ini?” batin Andi.
“ Aku pun tidak menyangka akan berada di sini lagi. Pak Bima benar-benar orang yang bertanggung jawab. Ia bahkan mengerjakan tugas yang seharusnya bukan tugasnya” ucap Andi tanpa sadar.
“Ah benar. Kasus ini masih baru, seharusnya ini bukan tugas Pak Bima. Sepertinya dia juga punya kesabaran yang sangat tipis. Aku kira dia tidak akan ikut campur sebelum pihak yang berkewajiban menyerah dan melimpahkan kasusnya pada Pak Bima”jawab Stevani sambil menyimpan dokumen yang baru saja ia kerjakan. Ia mencari sesuatu di dalam rak dokumennya dan segera duduk kembali begitu menemukan apa yang ia cari.
Andi hanya tersenyum mendengar kalimat Stevani. Ia tidak tahu harus berkata apa, bagaiman jika jawabnya malah membuat suasana menjadi berat?
“Ia hanya secara kebetulan terlibat” ucap Andi akhirnya.
“Benarkah ia tidak sengaja terlibat?” ia menyerahkan sebuah dokumen yang belum dimasukkan ke amplop “ aku kira Pak Bima akan datang sendiri jadi aku tidak menyiakan dokumennya dengan baik. Ia biasanya datang agak siang” sambungnya.
“Sebenarnya bukan Pak Bima yang tidak sengaja terlibat, tapi ada seseorang yang menyerahkan barang itu padanya. Apa Anda ingat anak SMA yang membantu kami dalam kasus terakhir?” Tanya Andi setelah menerima dokumen itu.
Barang itu adalah sebuah anting semanggi 4 yang terlihat mahal. Tampaknya itu terlepas dari telinga korban, karena msih ada sisa daging yang hampir membusuk menempel pada anting itu. Andi tidak tahu apakah pihak forensik bisa mengidentifikasi barang itu atau tidak.
“Ya aku ingat, dia sangat pintar” puji Stevani.
“Hari Rabu kemarin dia menelfon Pak Bima dan menyuruhnya untuk datang ke TKP, dan dari situ lah benda itu berasal. Sebenarnya aku masih mencurigai anak ini terlibat, namun Pak Bima sangat mempercayainya” ucap Andi dengan ragu. Ia tidak tahu apakah Stevani punya pemikiran yang sama dengannya, yang pasti ia ingin suaranya terdengar. Bima mungkin selalu mendengarkan atau meminta pendapatnya, namun untuk saat ini kasusnya jelas berbeda.
“Aku juga pernah ada di posisimu saat pertama kali anak itu muncul, dia tahu terlalu banyak. Namun begitu aku tahu apa yang ia lakukan, aku tahu bukan dia pelakunya. Sebagai dokter forensik aku selalu berurusan dengan sesuatu yang mati, dan hal-hal seperti arwah bukanlah sesuatu yang asing bagiku” jawab Stevani tanpa melepas senyum kecilnya.
“Ah, kasus kesurupan itu ya?” gumam Andi.
“Ya, itu juga bukan kasus yang seharusnya ditangani oleh Pak Bima. Namun karena aduan dari siswa ini dan keponakannya, kasusnya selesai begitu saja. Mungkin jika tidak ada aduan, mayatnya tidak akan pernah ditemukan. Siapa yang akan menyangka mayatnya akan dikubur di sekolah yang se-elit itu” jawab Stevani penuh pertimbangan.
“Anak itu melakukan hal yang benar dengan tidak melakukan penyelidikan sendiri, ia bahkan tidak mau terlibat. Seharusnya aku berterimakasih tapi aku malah merasa curiga, seperti apa yang Anda katakan ia tampaknya mengetahui banyak hal yang bahkan tidak diketahui oleh penyidik. Olah TKP sudah dilakukan dan polisi tidak menemukan barang bukti apa pun, namun begitu anak itu mendekat ia langsung mendapatkan sesuatu” sahut Andi dengan rasa bersalah.
“Aku jadi penasaran seperti apa orangnya, aku belum pernah bertemu dengannya. Dan untuk barang bukti kali ini aku tidak menemukan kecurigaan, karena barang itu masih meninggalkan jejak DNA yang sama dengan korban. Tidak ada sidik jari orang dan tidak ditemukan tanda-tanda berpindah tempat, hanya ada tanah taman yang menempel pada anting itu” ucap Stevani.
“Sayangnya barang itu ditemukan belakangan”
“Ya, jika olah TKP pertama berhasil menemukan barang itu, mungkin masih ada petunjuk siapa orang yang melakukan kejahatan itu” jawab Stevani sambil merapikan beberapa dokumen di hadapannya.
“Sepertinya Dokter Stevani sangat sibuk, aku akan segera pergi. Maaf sudah menganggu waktu anda dan terimakasih atas data yang diberikan kepolisian akan berusaha untuk memecahkan kasus ini” ucap Andi sambil berdiri pergi. Ia hendak pergi sebelum teringat sesuatu,
“Pak Bima juga memberikan dokumen yang Anda pinjamkan pada anak itu. Sepertinya ia juga menumkan kecurigaan terhadap kasus 15 tahun yang lalu” ucapnya sambil berbalik.
“Dia juga mencurigai sesuatu? Padahal kasusnya terjadi saat dia masih balita, bagaimana ia bisa tahu?” ucap Stevani kaget. Ia melupakan bagian dimana dokumen pribadinya telah berpindah tangan tanpa seizinnya.
“Aku tidak terlalu mengerti, sepertinya ia menduga kalau kasus ini berkaitan dengan kasus yang terjadi 15 tahun yang lalu. Apa mungkin pelakunya juga orang yang sama?" tanya Andi ragu-ragu.
“Aku tidak berurusan dengan itu Pak Andi, itu urusan kepolisan. Tugasku hanya lah melaporkan temuan yang kalian kirim. Dan untuk dokumen yang aku pinjamkan padamu tempo hari, ingat aku ingin dokumennya kembali tanpa cacat”
Mendengar kalimat itu Andi segera mengambil langkah seribu untuk keluar. Ia hanya berharap dokumen itu baik-baik saja. Ia yang meminjam dokumen jadi ia juga yang harus bertanggung jawab atas itu. Dokumen itu sangat penting bagi Stevani karena itu adalah tugas pertamanya sebagai dokter forensik. Satu hal yang sangat disayangkan, mengapa kepolisian menutup begitu banyak kejanggalan?
Mungkin menerapkan residivis itu sebagai tersangka itu hal yang lebih mudah.
Andi mengendarai mobilnya dengan kecepatan konstan, lalu lalang kendaraan besar mulai terlihat di jam ini. Siapa yang menyangka ia tinggal lebih lama dari apa yang ia pikirkan. Padahal tempat itu adalah ruangan yang dingin dan tidak ia suka.
Mobil yang dikendarai Andi belum sepenuhnya masuk ke dalam lahan parkir kantor, Bima sudah menunggu di pintu masuk.
“Mengapa bapak menunggu di luar?” Tanya Andi setelah menurunkan kaca mobilnya.
“Karena kau terlalu lelet. Apa kau tahu TKP pembantaian 15 tahun yang lalu?” Tanya Bima begitu masuk ke dalam mobil.
“Ya pak, itu berdekatan dengan perumahan elit di pusat kota” jawab Andi gugup.
“Segera ke sana, aku ingin memastikan sesuatu!” perintah Bima.
Tanpa banyak pertanyaan Andi segera membelokan kembali mobil yang ia kendarai. Ia ingin bertanya apa yang ingin Bima pastikan, namun ia takut dimarahi karena tidak bisa membaca situasi dengan baik.
Andi memarkirkan mobilnya di sebrang sungai. Atas perintah Bima ia membuka kap mesin mobil dan memasang lambang segitiga merah. Ia tidak tahu apa maksudnya karena mobil mereka tidak mogok saat ini, namun ia menurut. Mungkin itu salah satu trik yang sedang dilakukan atasannya. Mereka duduk bersebelahan di bangku depan. Dari titik ini mereka dapat dengan mudah melihat rumah yang tidak terurus itu. Halamannya penuh dengan rumput liar dan ilalang, pagar besinya sudah berkarat dan lantainya penuh dengan lumut.
“Apa yang kita lakukan di sini pak?” tanya Andi akhirnya.
“Menunggu kepastian. Mana dokumen yang aku minta?” jawab Bima sambil mengulurkan tangan.
Andi membuka dashboard mobil dan menyerahkan dokumen itu.
“Potongan daging yang tertinggal di anting itu identik dengan korban. Sayangnya tidak ditemukan DNA atau petunjuk lain yang tertinggal. Mungkin jika polisi yang bertugas saat itu dapat mencari dengan teliti, peluang adanya petunjuk mungkin masih ada” jelas Andi. Hampir tidak ada petunjuk dalam kasus ini. Meski korbannya sudah berada di rumah sakit, belum ada sedikit pun tanda-tanda identitas.
“Benar-benar tidak pernah terdata ya, apa tidak ada kesamaan dengan data orang hilang yang ada di database kepolisian?” Tanya Bima sambil mengerutkan kening. Ia sebenarnya tidak ingin terlibat dalam kasus ini, tapi sepertinya kedua kasus ini saling berkaitan.
“Tidak ada pak, tidak ada kecocokan sama sekali dengan semua data orang hilang yang telah diterima selama beberapa tahun terakhir. Tidak ada laporan orang hilang juga baru-baru ini” jawab Andi. Ia masih mengamati rumah tua yang sudah lumutan itu berusaha menukan kejanggalan sekecil apa pun.
“Apa sudah benar-benar dicari?” tanya Bima lagi.
“Menurut devisi yang ditugaskan mereka sudah mencari dengan teliti. Apa kita perlu memposting apa yang kita temukan?” jawab Andi tanpa mengalihkan pandangannya.
“Jika mereka ingin seharusnya sudah ada postingan terbaru saat ini, aku yakin Stevani sudah melaporkan dokumen resminya pada Ridwan. Kita tunggu saja apakah ada tindak lanjut mengenai temuan baru ini” ucap Bima setelah membaca keseluruhan berkas yang terlampir. Ia menyandarkan badannya pada jok dan mengangkat kedua kakinya ke dashboard.
“Amati rumahnya, jika ada yang mencurigakan beri tahu aku!” perintah Bima. Kedua matanya sudah terpejam menandakan dia akan segera tidur.
“Apa ada laporan tentang rumah itu?” tanya Andi.
“Aku sudah datang ke tempat itu saat mengambil barang yang Daniel temukan, di bagian samping yang tidak terlihat ada sebuah jalan setapak kecil yang tampaknya sering digunakan. Meski tidak terlihat dari titik ini, pintu masuk samping masih terlihat, jadi jika ada yang masuk kamu pasti tahu.” jawab Bima malas.
“Baik pak, aku mengerti” jawab Andi. Bima pasti mendapat masukan dari Daniel untuk menyelidiki tempat ini. Mengapa anak itu tidak melakuakn penyelidikan sendiri? Tampaknya ia tahu lebih banyak dari pada siapa pun. Tapi karena dia adalah polisi yang baik maka ia akan mengikuti apa yang atasannya arahkan.
Namun setelah 2 jam menunggu tanpa hasil Andi hampir menyerah. Tidak ada satu orang pun yang datang ke rumah itu. Ini sudah jam makan siang dan dia lapar. Andai Bima masih bangun, ia pasti akan keluar dari mobil dan mencari makanan.
“Jam berapa ini?” Tanya Bima masih dengan mata yang terpejam.
“11.00” jawab Andi..
“Pasti ada orang yang masuk, perhatikan baik-baik” ucap Bima yang kini sudah membuka matanya.
Andi segera menengok ke samping dan benar-benar melihat apa yang Bima katakan. Ada beberapa orang asing yang masuk ke tempat itu lewat pintu samping. Andi tidak melihat jalan mana yang mereka lalui, yang pasti itu benar-benar manusia karena salah satu dari mereka sempat terjatuh.
“Apa kita perlu melakukan penyergapan?” tanya Andi bersemangat.
“Tidak, ambil barang bukti saja. Jangan mengejutkan ular yang bersembunyi di semak. Jika sudah selesai segera pergi dari sini, ini sudah jam 11.00, seharusnya para siswa sudah keluar dari sekolah.” jawab Bima. Ia membakar ujung rokoknya dan menghisapnya dalam-dalam. Seketika ruangan mobil yang sempit dipenuhi asap dari rokok itu.
“Baik pak” jawab Andi patuh. Ia segera mengeluarkan kamera yang selalu tersedia di mobil dan mengambil beberapa gambar.
‘Jagan-jagan Pak Bima sudah tahu orang-orang itu akan datang di jam 11.00, lalu untuk apa mereka datang lebih awal?” batin Andi resah.
Setelah mengambil beberapa gambar ia segera membereskan apa yang mereka pasang dan mengemudikan mobil itu ke sekolah. Ia tidak tahu apa yang ada dalam benak Bima, tapi ia yakin itu berkaitan dengan siswa bernama Daniel itu.
Begitu mereka sampai di kafe dekat sekolah, 2 orang siswa berseragam Pramuka sudah menanti dengan 2 gelas jus di meja mereka.
“Om, telatmu itu keterlaluan” ucap Andre begitu Bima duduk di kursi kosong di sebelahnya.
“Aku masih dalam ranah kerja” jawab Bima tanpa rasa bersalah.
“Paling Pak Bima hanya tidur dan Pak Andi yang melakukan pekerjaan. Lalu bagaimana hasilnya apakah cocok?” Tanya Daniel penasaran.
“Ya hasilnya identik. Anting semanggi 4 itu memang milik korban, tapi tetap saja tidak ada petunjuk siapa korban sebenarnya” jawab Bima sedikit kesal.
“Maka dapat dipastikan kalau korban adalah Danila” ucap Daniel tanpa ragu.
“Dan, kau bicara apa. Bagaimana mungkin itu Danila?” teriak Andre kaget.
“Danila hilang seminggu sebelum tahun baru dengan pesan terakhir ia akan pulang setelah malam tahun baru, tapi hingga saat ini ia belum ditemukan. Arwah yang Yulia lihat di balkon kamarnya itu adalah dia, dan arwah yang membimbingku sampai ke taman kota juga dia. Kau bisa lihat salah satu foto Danila, anting itu adalah miliknya” jawab Daniel
Andre yang penasaran segera melakukan apa yang Daniel katakan, Danila memang menggunakan sebuah anting semanggi 4.
“Ada banyak orang yang memiliki anting seperti ini” ucap Andre ngeyel.
“Tapi hanya Danila dan Yulia yang tidak memiliki identitas resmi. Mereka tidak punya data diri apa pun. Dan baru-baru ini aku tahu bahwa pekerjaan asli orang tua Yulia. Mereka adalah pemilik klinik aborsi yang diceritakan oleh Ida tempo hari. Dan jika perkiraanku benar, kemungkinan besar ibu Yulia menggunakan hipnotis untuk mengelabuhi semua orang, termasuk data diri mereka” jelas Daniel.
“Lalu untuk apa kau meminta dokumen kasus 15 tahun yang lalu?” Tanya Bima.
“Aku tidak dapat mengatakannya sekarang, jika aku salah itu akan menjadi fitnah” ucap Daniel tenang.
Ia melupakan Andre yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.