Ia dikenal sebagai dosen yang tenang, rasional, dan tak pernah melanggar batas.
Sampai suatu hari, satu tatapan membuat seluruh prinsipnya runtuh.
Di ruang kelas yang seharusnya netral, hasrat tumbuh diam-diam tak pernah diucapkan, tapi terasa menyesakkan. Setiap pertemuan menjadi ujian antara etika dan keinginan, antara nalar dan sisi manusia yang paling rapuh.
Ini bukan kisah cinta.
Ini adalah cerita tentang batas yang perlahan retak dan harga mahal yang harus dibayar ketika hasrat tak lagi bisa dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Benteng Tak Terlihat
Kesunyian di penthouse mewah itu terasa semakin menyesakkan bagi Airin. Meskipun setiap sudut ruangan dipenuhi dengan fasilitas kelas satu mulai dari perpustakaan pribadi dengan buku-buku langka hingga balkon yang menyuguhkan pemandangan seluruh Jakarta Airin merasa seperti seorang putri yang dikurung di puncak menara tinggi.
Jordan benar-benar menepati janjinya. Sejak kejadian di kampus, Airin tidak lagi diizinkan menginjakkan kaki di ruang kelas biasa. Segala urusan perkuliahan diselesaikan melalui tutor privat dan sistem online yang dipantau langsung oleh asisten Jordan. Statusnya di kampus masih terdaftar, namun keberadaannya kini menjadi mitos di kalangan mahasiswa.
Di sisi lain, Thea, Kriss, dan Dion didera rasa bersalah yang teramat dalam. Meskipun Jordan telah mencabut sanksi ekonomi terhadap keluarga mereka atas permohonan Airin, mereka tetap merasa kehilangan bagian dari jiwa mereka. Kehilangan Airin bukan hanya soal kehilangan teman belajar, tapi kehilangan sosok yang selama ini menjadi penyejuk di antara mereka.
Sore itu, hujan turun dengan derasnya. Thea, dengan mata yang sembab, berdiri di depan gerbang lobi Grand Signature bersama Kriss. Mereka membawa sekotak kecil kue stroberi kesukaan Airin dan beberapa catatan kuliah yang mereka rangkum sendiri, berharap bisa memberikannya secara langsung.
"Maaf, sudah saya katakan berkali-kali, Nona Rodriguez tidak menerima tamu," ucap satpam berbadan tegap itu dengan nada yang sama kakunya dengan pagar besi di belakangnya.
"Tolonglah, Pak. Kami hanya ingin bicara sebentar. Kami ingin minta maaf secara langsung. Kami ini sahabatnya!" seru Thea, suaranya parau karena menahan tangis.
"Perintah Tuan Abraham sudah jelas. Siapa pun yang bernama Thea, Kriss, atau Dion dilarang mendekat dalam radius seratus meter dari gedung ini," lanjut sang satpam tanpa kompromi.
Dari lantai 50, di balik jendela kaca yang besar, Airin sebenarnya melihat mereka. Ia mengenali mobil tua yang terparkir di seberang jalan. Ia melihat Thea yang tampak putus asa di bawah payung yang tertiup angin. Hati Airin mencelos. Ia merindukan tawa cempreng Thea, ia merindukan perdebatan sengit dengan Kriss soal teori ekonomi.
Airin meraih ponselnya, jemarinya bergetar saat mencari nama 'Thea' di daftar kontak. Ia ingin sekali menekan tombol panggil. Ia ingin bertanya, 'Kenapa kalian diam saja saat aku disakiti?', namun di saat yang sama ia hanya ingin mendengar suara sahabatnya itu.
Baru saja jemarinya menyentuh layar, sebuah tangan besar dengan urat-urat yang menonjol merebut ponsel itu dari genggamannya.
Airin tersentak dan berbalik. Jordan sudah berdiri di sana, masih mengenakan jas kantornya yang rapi. Wajahnya datar, namun matanya memancarkan kilat peringatan yang dingin.
"Sudah kubilang jangan pernah mencoba menghubungi mereka lagi, Airin," suara Jordan rendah, bergetar karena rasa tidak suka.
"Jordan, mereka ada di bawah... mereka kehujanan. Mereka hanya ingin minta maaf," lirih Airin, matanya mulai berkaca-kaca.
Jordan berjalan menuju jendela, melirik ke bawah dengan pandangan meremehkan seolah melihat semut kecil yang mengganggu. Ia kemudian menutup tirai otomatis, membuat ruangan itu seketika menjadi gelap dan hanya diterangi lampu interior yang temaram.
"Maaf tidak akan menghapus lebam di wajahmu, dan maaf tidak akan mengembalikan kepercayaan yang sudah mereka hancurkan," ucap Jordan tegas. Ia menekan sebuah tombol di dinding. "Keamanan, usir mereka sekarang juga. Jika mereka masih terlihat di sana dalam lima menit, panggil polisi atas tuduhan gangguan ketertiban."
"Jordan, jangan!" teriak Airin.
Jordan mengabaikan protes itu. Ia menarik Airin ke dalam pelukannya, melingkarkan lengannya di pinggang Airin dengan sangat erat, seolah-olah sedang mengunci gadis itu agar tidak bisa melarikan diri. Ia membenamkan wajahnya di leher Airin, menghirup aroma tubuhnya yang selalu menjadi candunya.
"Aku melakukan ini untukmu, sayang. Mereka adalah distraksi. Mereka adalah kelemahanmu. Kamu tidak butuh teman yang hanya ada saat kamu senang namun diam saat kamu tertindas," bisik Jordan posesif.
"Tapi aku kesepian, Jordan... aku merasa seperti di penjara," Airin terisak kecil di dada Jordan.
Jordan mengangkat dagu Airin, memaksa gadis itu menatap matanya yang intens. "Kamu tidak dipenjara. Kamu sedang dilindungi di dalam istanamu. Apa aku kurang bagimu? Apa cintaku tidak cukup untuk mengisi harimu?"
Jordan merunduk, mencium bibir Airin dengan tuntutan yang mendalam, sebuah ciuman yang menunjukkan kepemilikan mutlak. Airin tidak bisa melawan. Di satu sisi ia membenci kekakuan Jordan, namun di sisi lain, sentuhan tangan Jordan di pinggangnya selalu berhasil membuatnya merasa lemas dan tak berdaya.
Di bawah sana, di tengah hujan yang semakin lebat, Thea dan Kriss hanya bisa melihat mobil keamanan yang mendekat untuk mengusir mereka. Mereka pulang dengan tangan hampa, menyadari bahwa Airin kini berada di dunia yang tak lagi bisa mereka jangkau sebuah dunia mewah yang dibangun oleh Jordan Abraham sebagai benteng sekaligus sangkar emas bagi wanita yang dicintainya secara gila.