💻 ERROR 404: BOSS IN LOVE ⚠️
"Apa jadinya kalau CEO robot harus belajar jadi manusia dari staf paling kacau di kantornya?"
Arsenio adalah CEO Volt-Tech yang hidupnya hanya berisi angka, logika, dan efisiensi. Baginya, manusia hanyalah kumpulan data. Tapi bagi Alinea, staf baru yang hidupnya seberantakan kabel charger di dasar tas, Arsenio hanyalah sebuah robot dingin yang sensor perasaannya sudah expired.
Gara-gara insiden kopi susu dan mulut pedasnya, Alinea terjebak kontrak gila:
"Humanity Coaching".
Tugasnya? Mengajari Arsenio cara menjadi manusia normal demi meyakinkan neneknya bahwa sang cucu bukan mesin pencetak uang semata. Alinea pikir ini cuma soal akting sampai sang Bos mulai menunjukkan glitch aneh: detak jantung yang mendadak overclock tiap kali Alinea berada dekat dengannya.
Ternyata, mengajari robot cara mencintai itu lebih rumit daripada coding paling error sekalipun.
🚫 Warning: High tension, snarky comments, and a lot of heart-melting glitches.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aira Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 — TEKANAN PUBLIK
Notifikasi pertama masuk pukul 06.17 pagi.
Alinea masih terperangkap di antara mimpi dan realitas ketika layar ponselnya mulai menyala tanpa henti, berdenyut seperti alarm kiamat di atas nakas.
Grup kantor meledak. Email internal masuk beruntun. DM Instagram dan mention Twitter memenuhi layar kuncinya dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Dengan jantung berdebar, ia membuka satu tautan yang dikirimkan oleh tim PR perusahaan.
Di sana, di layar kecil itu, rahasia yang ia jaga dengan firewall berlapis-lapis semalam, kini telah menjadi konsumsi publik.
Judulnya langsung membuat matanya benar-benar melek.
“Volt-Tech Heir Finally Moves On? Arsenio Spotted With Mystery Woman at Private Family Dinner.”
Jantung Alinea rasanya turun satu lantai.
Alinea melakukan scrolling dengan jari yang mulai dingin. Di sana ada sebuah foto. Bukan foto dengan resolusi tinggi yang tajam, tapi cukup jelas untuk menghancurkan reputasinya dalam satu malam.
Foto itu menangkap momen saat mereka baru saja turun dari mobil. Dari sudut pandang kamera yang tersembunyi, tangan Alinea terlihat hampir menyentuh lengan Arsenio. Berkat angle yang diambil dengan sangat presisi, gerakan itu terlihat jauh lebih intim daripada kenyataannya—seolah mereka adalah sepasang kekasih yang baru saja menyelesaikan pertengkaran hebat, atau memulai sebuah rahasia besar.
Komentar sudah ribuan.
“Bukan Nadia lagi?”
“Siapa cewek ini?”
“Karyawan ya? 👀 ”
“Wah kelasnya beda jauh nggak sih?”
“Move on secepat itu?”
Alinea berhenti membaca.
Napasnya terasa pendek.
Ini baru pagi.
Dan ini baru satu portal.
Di sisi lain kota, di dalam apartemennya yang steril dan sunyi, Arsenio sudah membaca semuanya bahkan sebelum jarum jam menyentuh angka tujuh.
Arsenio tidak terlihat panik. Tidak ada guratan kecemasan atau amarah yang meledak-ledak di wajahnya. Sebaliknya, ia justru terlihat sedang... menghitung.
Matanya menatap layar tablet dengan tajam, membedah setiap narasi yang muncul di media sosial. Ia sedang menimbang setiap variabel kerugian saham Volt-Tech, reaksi dewan direksi, dan seberapa besar kerusakan yang akan menimpa Alinea. Bagi Arsenio, sebuah skandal bukan hanya masalah, melainkan sebuah teka-teki logika yang harus ia pecahkan dengan langkah yang paling efisien.
“Siapa yang bocor?” tanyanya pada kepala PR melalui sambungan telepon.
“Kemungkinan dari pihak vendor catering, Pak. Atau tamu.”
“Take down foto.”
“Kita bisa minta klarifikasi, tapi sudah di-screenshot banyak akun gosip.”
Tentu saja.
Internet tidak pernah lupa.
Arsenio menutup telepon.
Arsenio tahu satu berita receh seperti ini tidak akan menjatuhkan perusahaan sebesar Volt-Tech. Fondasi bisnisnya terlalu kuat untuk itu.
Tapi, framing bisa.
Dan framing itu sudah mulai terbentuk di internet. Narasi yang beredar bukan lagi tentang performa perusahaan, melainkan tentang moralitas sang CEO dan asistennya. Publik mulai menyusun cerita mereka sendiri: tentang asisten yang ambisius, atau bos yang memanfaatkan kekuasaannya. Jika dibiarkan satu jam saja tanpa kendali, narasi itu akan mengeras menjadi "kebenaran" di mata orang banyak.
Pukul 09.00.
Lobby Volt-Tech terasa lebih sesak, meski jumlah orangnya masih sama.
Beberapa staf mendadak sibuk menghindari tatapan Alinea, sementara yang lain justru menatapnya terlalu terang-terangan. Itu bukan tatapan benci, bukan juga kagum. Itu adalah tatapan yang sedang menimbang-nimbang: Seberapa kuat posisi perempuan ini sekarang?
Alinea tetap berjalan. Dagunya terangkat, langkahnya stabil—sebuah akting profesional yang sempurna. Namun, di dalam tasnya, ponsel itu terus bergetar tanpa henti, berdenyut seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja.
Di ruang meeting yang dingin, layar besar menampilkan grafik analisis media yang terus bergerak liar.
Nama Arsenio memuncaki tren. Nama Nadia ikut terseret sebagai pelengkap drama. Dan kini—di sana, di antara ribuan percakapan digital—nama Alinea muncul.
Tanpa latar belakang yang jelas. Tanpa konteks siapa dia sebenarnya. Ia hanya muncul sebagai sebuah nama tanpa wajah yang dipaksa masuk ke dalam narasi orang lain. Di dunia luar, Alinea bukan lagi seorang asisten yang kompeten, ia hanya sebuah variabel baru yang sedang dibedah oleh jutaan orang yang sama sekali tidak mengenalnya.
“Perusahaan sedang dalam tahap ekspansi besar,” kata CFO hati-hati.
“Investor luar negeri sensitif terhadap isu personal.”
Arsenio duduk tenang.
“Isu personal saya tidak memengaruhi performa kuartal ini.”
“Tidak secara langsung,” jawab tim legal, “tapi kalau muncul narasi konflik keluarga atau skandal relasi kerja—”
“Ini bukan skandal.”
Nadanya tegas.
Semua diam.
Arsenio berdiri.
“Rilis pernyataan netral. Tidak ada klarifikasi hubungan. Fokus pada proyek gala amal.”
Arsenio berhenti sejenak.
“Dan jangan ada satu pun staf yang dijadikan kambing hitam.”
Kalimat itu jelas.
Untuk Alinea.
Alinea akhirnya menyerah dan membuka DM-nya.
Pesan-pesan itu masuk seperti tetesan air yang tenang namun mematikan.
"Mbak, benar cuma karyawan?" "Dunia orang kaya itu beda, lho." "Jangan numpang pansos ya, Sis."
Hingga satu pertanyaan yang membuatnya terpaku: "Kontrak berapa lama tuh?"
Semuanya disampaikan dengan nada halus, tanpa kata kasar, namun cukup tajam untuk mengiris harga dirinya.
Alinea tersenyum tipis. Lucu sekali. Publik ternyata tidak marah karena Arsenio punya pasangan baru. Mereka hanya marah karena pasangan itu adalah seseorang seperti dirinya—seseorang yang dianggap tidak setara dalam hirarki yang mereka buat sendiri.
Tepat saat jam makan siang dimulai, Nadia mengunggah sebuah foto.
Bukan foto baru yang diambil secara sembunyi-sembunyi, melainkan foto lama dengan kualitas sempurna. Di sana, ia dan Arsenio berdiri berdampingan dalam sebuah acara formal yang glamor. Mereka tampak serasi, tenang, dan yang paling penting—mereka terlihat seperti pemilik dunia itu.
Tanpa perlu sepatah kata pun, unggahan itu adalah sebuah pesan tanpa suara: Aku punya sejarah di tempat yang tidak bisa kau jangkau.
Caption sederhana:
“Some memories don’t need explanation.”
Komentarnya langsung meledak.
Narasi berubah arah.
“Balikan?”
“Masih lebih cocok.”
“Levelnya seimbang.”
Alinea membaca itu tanpa ekspresi.
Tapi jari-jarinya sedikit gemetar.
Pintu ruangannya terbuka.
Arsenio masuk tanpa mengetuk.
Ia jarang melakukan itu.
“Kamu sudah lihat?” tanyanya langsung.
“Sudah, Pak.”
“Kamu baik-baik saja?”
Pertanyaan itu bukan formalitas.
Alinea menatapnya.
“Secara teknis? Ya.”
“Secara tidak teknis?”
Hening sebentar.
“Saya cuma kaget ternyata kelas sosial bisa trending.”
Arsenio mendekat satu langkah.
“Kamu tidak di bawah siapa pun.”
“Itu bukan yang internet pikir.”
“Saya tidak peduli internet.”
“Tapi investor peduli.”
Arsenio diam.
Nadia benar. Inilah jurang yang sebenarnya memisahkan dunia mereka.
Bagi Arsenio, opini publik hanyalah kumpulan data. Sebuah variabel dalam algoritma yang bisa dikelola, dialihkan, atau bahkan dihapus jika sudah tidak efisien. Dingin dan terukur.
Namun bagi Alinea, opini publik adalah suara-suara yang masuk ke dalam kepala. Suara yang membisikkan keraguan, yang menghakimi kasta, dan yang perlahan-lahan mulai mengikis kewarasannya. Di dunia Arsenio, serangan ini adalah statistik di dunia Alinea, serangan ini adalah luka yang nyata.
Menjelang sore, grafik saham Volt-Tech mulai menunjukkan kegelisahan.
Belum ada kejatuhan yang berarti, tapi grafiknya bergerak goyah—tipis, namun konstan. Cukup untuk membuat layar monitor di ruang manajemen berubah warna, dan cukup untuk membuat ponsel para petinggi bergetar karena telepon dari pemegang saham.
Isu utamanya bukan lagi tentang siapa yang dikencani Arsenio. Isunya telah bergeser pada stabilitas kepemimpinan. Di mata investor, CEO yang kehidupan pribadinya menjadi tontonan publik adalah CEO yang mulai kehilangan kendali atas sistemnya sendiri.
“Apakah Arsenio terdistraksi?”
“Apakah ada konflik keluarga internal?”
Narasi makin liar.
Di parkiran basement, Alinea berdiri sendiri.
Alinea membuka lagi satu komentar yang paling banyak di-like.
“Bukan soal cantik atau nggak. Tapi cocok nggak sih? Dunia mereka beda jauh.”
Alinea menatap layar cukup lama.
Dunia mereka beda.
Itu fakta.
Kontrak bisa menutupinya sementara.
Tapi gala amal nanti?
Publik.
Media.
Sorotan langsung.
Langkah kaki terdengar.
Arsenio.
“Kamu belum pulang.”
“Sedang berpikir.”
“Jangan baca komentar.”
“Sudah.”
Sunyi.
Lampu basement redup.
“Kalau tekanan ini terlalu berat,” kata Arsenio akhirnya,
“kita bisa batalkan gala.”
Alinea menoleh cepat.
“Bapak serius?”
“Saya tidak butuh pembuktian publik.”
Tapi keluarganya butuh.
Perusahaannya butuh.
Dan mungkin—
Egonya juga butuh.
Alinea menatapnya lama.
Lalu tersenyum tipis.
“Tidak usah dibatalkan.”
“Kamu yakin?”
“Kita sudah masuk sistemnya. Sekarang kita mainkan sampai selesai.”
Tatapan Arsenio berubah.
Ada sesuatu seperti… bangga.
Atau mungkin kagum.
“Baik,” katanya pelan.
Alinea mengangguk.
“Tapi satu hal, Pak.”
“Apa?”
“Kalau nanti saya dihancurkan di sana… jangan bela saya karena kasihan.”
Arsenio menatapnya lurus.
“Saya tidak pernah bergerak karena kasihan.”
Deg.
Jantungnya bergetar lagi.
Malam itu, di kediaman masing-masing, sunyi terasa begitu bising.
Alinea memilih mematikan notifikasi—memutus kabel yang menghubungkan kewarasannya dengan dunia luar. Di sisi lain, Arsenio justru semakin masuk ke dalam sistem, memanggil tim digital monitoring untuk membedah setiap pergerakan data. Sementara itu, Nadia menyesap minumannya sambil tersenyum puas melihat angka engagement yang terus meroket.
Gala amal resmi perusahaan bahkan belum dimulai. Namun di ruang digital, perang sudah berkobar. Dan internet, mesin yang tidak pernah tidur itu, terus berbicara tanpa henti.
Boleh minta tolong nggak, readers? Klik tombol Like dong! Tenang, klik Like itu 100% GRATIS, nggak dipungut biaya sepeser pun dan nggak bakal ngurangin kuota seblak kalian. Hehe. 🤭 Yuk, bantu Author yang lagi multitasking ini tetap semangat update dengan satu klik aja. Show some love, please? 🫶✨