Kayana Ardhanareswari adalah mahasiswi paling populer di kampus—cantik, cerdas, dan kaya raya—namun menyimpan luka karena keluarganya yang broken home. Hidupnya berubah saat ia tertarik pada Bima Wijaya, mahasiswa pendiam penerima beasiswa KIP-Kuliah yang tak pernah memandangnya seperti pria lain.
Di balik sikap cuek Bima, Kay menemukan ketulusan, kerja keras, dan perasaan yang diam-diam tumbuh sejak lama. Namun hubungan mereka diuji oleh perbedaan status sosial, tekanan keluarga, kehadiran pihak ketiga, serta ancaman hilangnya beasiswa Bima.
Di tengah badai gosip dan intrik, Kay dan Bima harus memilih: menyerah pada keadaan, atau memperjuangkan cinta yang tak sempurna, namun tulus apa adanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Cinta dan Luka
Minggu pertama pemulihan Bima di rumah Laras berjalan lambat. Setiap pagi, seorang perawat bernama Suster Dewi datang untuk memeriksa kondisinya—mengganti perban, memeriksa tekanan darah, dan memastikan tulang rusuknya mulai menyatu. Bima hanya bisa berbaring di dipan kamar tamu, menatap langit-langit dengan pikiran berkecamuk.
Hari itu, Suster Dewi baru saja pergi. Laras masuk dengan nampan berisi sup ayam hangat dan segelas jus jeruk. Ia tersenyum ramah, memakai kaos oblong longgar dan celana rumah, rambutnya diikat asal-asalan. Wajahnya sedikit lelah tapi tetap ceria.
"Bim, sarapan. Lo harus makan biar cepet sembuh."
Bima duduk perlahan, masih meringis menahan sakit. "Makasih, Laras. Lo nggak usah repot-repot."
"Udah, nggak repot. Gue libur kuliah seminggu buat jagain lo." Laras meletakkan nampan di meja samping dipan. "Papa mama juga nggak ada, jadi rumah sepi. Lumayan ada temen."
Bima menatapnya. "Lo nggak kuliah karena gue?"
Laras mengangkat bahu. "Iya. Tugas bisa nyusul. Lo lebih penting."
Bima diam. Rasa bersalah menggerogotinya. Laras terlalu baik. Dan ia tidak bisa membalas apa-apa.
"Laras," katanya pelan. "Gue harus bayar semua biaya ini. Perawat, obat, makan."
Laras menghela napas. "Bim, udah gue bilang nggak usah—"
"Gue gak terima penolakan." Bima meraih tas ransel di sudut kamar. Dengan susah payah, ia mengeluarkan sebuah amplop coklat tebal. "Ini tabungan gue. 6,5 juta. Buat bayar utang ke Kay." Ia menatap amplop itu dengan berat. "Tapi sekarang... gue pake dulu buat bayar perawat dan pengobatan."
Laras melihat amplop itu, lalu ke Bima. "Bim, gue nggak mau terima uang lo."
"Laras—"
"Gue punya uang. Ortu gue ninggalin cukup. Lo nggak perlu bayar apa-apa."
Bima menggeleng. "Gue nggak bisa. Lo udah nolongin gue, nyelametin gue dari maut. Minimal, biaya perawat dan obat—"
"Nggak." Laras tegas. "Gue terima uang lo kalo itu bikin lo tenang. Tapi ini buat lo, bukan buat gue. Lo simpan, nanti lo bayar utang ke Kay."
Bima terpukul. Nama Kay disebut. Ia menunduk.
"Kay... dia pasti nyari lo, Bim." Laras duduk di kursi. "Gue lihat iklan di kampus. Dia pasang di mana-mana. Dia nggak nyerah."
"Gue tahu."
"Terus lo nunggu apa?"
Bima menghela napas panjang. "Laras, gue harus selesaiin utang dulu. Ke dia, ke lo. Baru gue bisa hadapin dia dengan kepala tegak."
Laras diam. Lalu berkata lembut, "Bim, lo nggak ngerti. Kay mungkin nggak peduli utang. Dia cuma peduli lo ada."
"Tapi gue peduli. Harga diri gue." Bima menatapnya. "Lo nggak tahu rasanya jadi beban. Dibilang nggak pantas. Dicap cuma nyusahin. Gue harus buktiin kalo gue bisa mandiri."
Laras menghela napas. "Oke. Tapi jangan terlalu keras sama diri sendiri. Lo juga manusia."
---
Sepanjang minggu itu, Laras merawat Bima dengan penuh ketulusan. Ia memasak, membersihkan luka, menemani ngobrol, bahkan membantu mengerjakan tugas kuliah Bima yang dikirim Dr. Hartono lewat email. Perlahan, Bima mulai pulih. Ia sudah bisa berjalan pelan, meski masih sakit jika bergerak terlalu cepat.
Tapi di balik pemulihan fisik, pikirannya semakin berat. Setiap malam, ia membuka amplop coklat itu, menghitung uang yang tersisa. Tabungan 6,5 juta—kini tinggal 4 juta setelah bayar perawat. Utang ke Kay masih utuh. Artinya, setelah sembuh, ia harus kerja lebih keras lagi.
Malam itu, Laras masuk membawakan susu hangat. Ia melihat Bima menatap amplop itu dengan wajah sendu.
"Bim, lo mikirin utang lagi?"
Bima mengangguk. "Gue jadi ingat kata-kata ibunya Kay. 'Cinta saja tidak cukup.' Dulu gue marah dengar itu. Tapi sekarang..." Ia menghela napas. "Mungkin dia benar. Hidup butuh lebih dari sekadar sayang. Butuh uang, butuh stabilitas, butuh kemampuan."
Laras duduk di sampingnya. "Bim, menurut gue, cinta itu justru yang bikin semuanya berarti. Uang bisa dicari. Tapi cinta sejati? Langka."
Bima tersenyum getir. "Lo terlalu baik, Laras."
"Gue cuma jujur." Laras menatapnya. "Bim, gue tahu lo masih sayang Kay. Dan gue respect itu. Tapi gue juga... peduli sama lo. Bukan sebagai cinta, tapi sebagai teman. Lo boleh ngandelin gue."
Bima terharu. "Makasih, Laras. Lo... lo malaikat."
Laras tertawa. "Malaikat pake daster? Nggak banget."
Bima ikut tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam minggu itu, ada sedikit kehangatan di hatinya.
---
Sementara itu, di sebuah bar karaoke di kawasan Seturan, Rendra duduk dengan botol bir di tangan. Wajahnya merah, mata sayu. Dua temannya duduk di samping, ikut minum.
"Rendra, udah cukup, lo mabuk," kata salah satu temannya.
Rendra menggeleng. "Gue belum cukup! Gue udah susah-susah atur semuanya—Gerry, pengeroyokan, semuanya—tapi Bima masih hidup! MASIH HIDUP!"
Temannya terkejut. "Astaga, Ren, pelan-pelan—"
"GUE MAU DIA MATI!" bentak Rendra. "Biar dia nggak bisa rebut Kay lagi!"
Di meja sebelah, Tasya sedang duduk bersama teman-temannya. Ia baru saja selesai mengerjakan tugas kelompok dan mampir untuk minum. Mendengar suara Rendra, telinganya menangkap nama Bima dan Kay.
Ia menoleh perlahan. Rendra sedang mabuk berat, bicara tanpa kontrol.
"Gue bayar Gerry 5 juta buat hajar dia sampai sekarat! Tapi gagal! Ada aja yang datang nyelamatin! SIALAN!"
Tasya membeku. Pengeroyokan? Gerry? Jadi Bima dikeroyok? Dan Rendra dalangnya?
Ia diam-diam merekam percakapan itu dengan ponsel. Tangannya gemetar.
---
Setengah jam kemudian, Tasya keluar dari bar dan langsung menghubungi Kay. Telepon diangkat setelah beberapa kali.
"Halo?" suara Kay lelah.
"Kay, gue Tasya. Denger, jangan matiin dulu." Tasya berbicara cepat. "Gue baru dengar Rendra ngomong di bar. Dia mabuk dan ngaku jadi dalang pengeroyokan Bima. Dia bayar orang—Gerry namanya—buat hajar Bima."
Kay di seberang terdiam. Lalu suaranya bergetar. "Apa? Bima dikeroyok? Kapan?"
"Mungkin seminggu lalu. Itu yang bikin Bima masuk rumah sakit. Ada cewek di kampus Bima yang nyelametin."
Kay mengingat. Seminggu lalu ia pingsan, lalu dapat kabar Bima di RS. "Jadi... Rendra?"
"Iya. Kay, gue tahu dulu gue jahat sama lo. Tapi gue berubah. Dan ini kejahatan. Lo harus lapor polisi."
Kay menangis. "Makasih, Tasya. Makasih."
Setelah telepon berakhir, Kay langsung menghubungi ayahnya. Bapak Ardhana mengangkat dengan suara tenang.
"Nak, ada apa?"
"Pa, Rendra dalang pengeroyokan Bima. Tasya dengar dia ngaku."
Bapak Ardhana diam sejenak. "Kamu yakin?"
"Ada rekaman, Pa. Tasya ngirim."
"Baik. Papa urus. Rendra akan dapat pelajaran."
---
Dua hari kemudian, Rendra dipanggil polisi untuk dimintai keterangan. Bukti rekaman Tasya cukup kuat. Gerry juga ditangkap. Rendra membantah, tapi polisi menemukan bukti transfer uang ke rekening Gerry.
Di kantor polisi, Rendra masih bersikeras. "Saya nggak tahu apa-apa! Itu fitnah!"
Komisaris polisi yang menangani kasus itu tersenyum dingin. "Mas Rendra, ini bukti transfer dari rekening Anda ke Gerry. Juga rekaman suara. Masih mau membantah?"
Rendra pucat.
Sementara itu, Bapak Ardhana duduk di ruang tamu rumah Lydia. Ia baru saja menerima telepon dari polisi.
"Terima kasih, Pak. Ya, tolong proses sesuai hukum." Ia menutup telepon, lalu menatap Lydia yang duduk di sampingnya.
"Rendra diproses," katanya. "Dia akan dapat hukuman."
Lydia menghela napas. "Aku... aku nggak nyangka dia sejahat itu."
"Karena kamu sibuk main bisnis, lupa lihat sekeliling." Bapak Ardhana menatap istrinya. "Bu, kita harus perbaiki hubungan sama Kay. Dia butuh kita."
Lydia menunduk. "Aku tahu. Tapi dia masih marah."
"Kita coba. Perlahan."
---
Di kos Mika, Kay menerima telepon dari ayahnya. "Rendra sudah ditahan, Nak. Kasusnya jalan."
Kay menangis lega. "Makasih, Pa."
"Tapi Kay, Bima belum ketemu?"
Kay menghela napas. "Belum, Pa. Tapi aku yakin dia di Jogja. Mungkin dirawat seseorang."
"Papa bantu cari. Sabar ya, Nak."
Setelah telepon selesai, Kay menatap Mika. "Rendra ditahan, Mik."
Mika tersenyum. "Alhamdulillah. Karma itu ada."
Kay tersenyum tipis. Tapi matanya kosong. "Tapi Bima belum ketemu, Mik. Di mana dia?"
Mika memeluknya. "Lo percaya, Kay. Suatu hari nanti, lo akan ketemu."
---
Di rumah Laras, Bima baru saja selesai fisioterapi ringan. Ia duduk di teras, menatap taman belakang. Laras keluar membawakan teh hangat.
"Bim, kabar baik. Gw dapat info dikampus Gery ditangkap karena kasus pengeroyokan," kata Laras.
Bima menoleh. "Apa?"
"Iya. Ada orang yang ngerekam percakapan. Polisi tangkap Gerry dan satu lagi katanya dalang nya, namanya Rendra, Lo kenal?"
Bima diam. Rendra. Jadi itu dalangnya. Ia merasa campur aduk—marah, lega, sedih.
Bima menatap langit senja yang jingga. Di suatu tempat, Kay mungkin juga melihat langit yang sama. Dan berharap, suatu hari nanti, mereka bisa bersama lagi.