aku tak pernah menyangka memiliki kesempatan kedua untuk kembali hidup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWAR MUTAQIN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Volume I — The Day the World Fell Chapter 3 — Run or Die
Batang besi itu terasa berat di tangan Daniel. Terlalu berat untuk seseorang yang bahkan belum pernah berkelahi sungguhan seumur hidupnya.
Iblis itu berbalik sepenuhnya menghadapnya.
Udara di sekitar mereka terasa menegang, seperti tali yang ditarik sampai batas. Mata merah makhluk itu menyipit, bibirnya—jika bisa disebut begitu—terangkat memperlihatkan deretan taring yang masih basah oleh darah manusia lain.
Daniel menelan ludah.
Tubuhnya berteriak agar ia lari. Setiap sel dalam dirinya memahami satu kebenaran sederhana: ia tidak akan menang.
Namun kaki Daniel tetap tertanam di tempatnya.
Wanita di belakang iblis itu tersedu, mencoba merangkak mundur, tapi kakinya yang terluka hanya menyeret tubuhnya beberapa sentimeter sebelum ia terjatuh lagi. Suara nafasnya tersengal, tidak beraturan—suara seseorang yang tahu ajalnya sudah dekat.
Iblis itu melangkah maju satu langkah.
Tanah di bawah kakinya berderak.
Daniel mundur refleks. Satu langkah. Dua langkah.
Bodoh.
Ini bodoh.
Ia memutar tubuhnya tiba-tiba dan berlari.
Detik berikutnya, raungan menggema di belakangnya.
Suara cakar menghantam tanah, cepat—terlalu cepat. Daniel berlari menyusuri jalan sempit di antara gedung-gedung tua kampus, napasnya terengah, jantungnya terasa hendak meledak.
Ia tidak berani menoleh.
Puing-puing beterbangan ketika sesuatu menghantam dinding di sampingnya. Bata pecah, serpihannya menghujani bahu dan punggung Daniel. Rasa sakit menjalar, tapi adrenalin menenggelamkannya.
Ia berbelok tajam ke kiri, hampir menabrak bangku taman yang terbalik. Sepatunya tergelincir di atas tanah yang basah oleh darah dan air dari pipa pecah.
Daniel jatuh.
Dunia berputar.
Ia menghantam tanah dengan keras, udara terhempas keluar dari paru-parunya. Sebelum ia sempat bangkit, bayangan gelap melintas di atasnya.
Iblis itu mendarat di depannya.
Terlalu dekat.
Daniel menjerit—teriakan pendek, refleks—dan mengayunkan batang besi itu sekuat tenaga. Hantaman itu mengenai bahu makhluk tersebut, menghasilkan suara dentingan logam menghantam tulang.
Iblis itu terdorong setengah langkah.
Hanya setengah.
Makhluk itu menoleh ke bahunya, lalu kembali menatap Daniel. Tatapan itu bukan marah. Bukan juga terkejut.
Itu… terhibur.
Cakar itu terayun.
Daniel sempat mengangkat tangan, tapi dampaknya terlalu cepat. Rasa panas yang tajam menghantam lengannya, diikuti rasa sakit yang membuatnya berteriak. Batang besi terlepas dari genggamannya dan terpental jauh.
Ia merangkak mundur dengan panik, punggungnya menghantam dinding gedung.
“Tidak… tidak, tidak—” gumamnya tak jelas.
Iblis itu mendekat perlahan, seolah menikmati setiap detik ketakutan manusia di hadapannya. Cakarnya yang berlumuran darah terangkat lagi.
Lalu terdengar suara lain.
Jeritan.
Bukan dari Daniel.
Makhluk itu menoleh ke arah suara itu—arah wanita yang tadi ditinggalkan. Sesuatu dalam diri iblis itu berubah. Ketertarikannya berpindah.
Ia berbalik dan melompat pergi.
Daniel terdiam, terengah, tidak langsung memahami apa yang baru saja terjadi. Lengannya berdarah, gemetar tak terkendali. Ia menatap arah iblis itu pergi, dan baru saat itu kesadarannya menghantamnya seperti palu.
Wanita itu.
Daniel bangkit tertatih, mengabaikan rasa sakit di lengannya. Ia memaksa kakinya bergerak, berlari kembali ke persimpangan tempat ia pertama kali melihat wanita itu.
Ia tiba terlambat.
Iblis itu sudah berdiri di hadapannya, cakar terangkat tinggi. Wanita itu menangis tanpa suara, tubuhnya gemetar hebat.
Waktu terasa melambat.
Daniel tahu ia seharusnya berhenti.
Tahu ia seharusnya pergi.
Namun pikirannya kembali ke satu hal sederhana—tatapan wanita itu saat mata mereka bertemu.
Kalau aku pergi sekarang… aku akan hidup.
Pemikiran itu terasa menjijikkan.
Daniel berteriak.
Ia berlari ke depan, tanpa senjata, tanpa rencana. Ia mengambil pecahan beton dari tanah dan melemparkannya sekuat tenaga. Batu itu menghantam kepala iblis, membuatnya tersentak.
Tidak cukup untuk membunuh.
Cukup untuk mengalihkan.
Iblis itu berbalik, menggeram marah. Daniel berdiri di antara makhluk itu dan wanita tersebut, lututnya gemetar hebat.
“Ayo…” katanya, suaranya bergetar. “Aku di sini.”
Makhluk itu menerjang.
Daniel menutup mata dan mengangkat kedua lengannya.
Benturan itu datang seperti tabrakan kereta.
Tubuh Daniel terlempar ke belakang, menghantam dinding dengan keras. Sesuatu di dalam dadanya terasa retak. Napasnya terputus, dunia kembali berputar.
Ia jatuh ke tanah, darah memenuhi mulutnya.
Pandangan Daniel kabur, namun ia masih bisa melihat siluet iblis itu berjalan mendekat. Setiap langkahnya berat, pasti.
Dalam detik-detik terakhir kesadarannya, pikiran Daniel tidak dipenuhi penyesalan besar.
Ia hanya memikirkan satu hal kecil dan aneh:
Setidaknya… aku mencoba.
Cakar itu terangkat.
Dan dunia Daniel…
mulai menggelap.