Sekar memutuskan untuk pulang ke ibukota Jakarta setelah mendengar berita tentang pertunangan kakak angkatnya Rahman Hakim Wijaya. Ada gejolak rasa yang tidak bisa ia jelaskan timbul di hatinya. Entah itu rasa sayang, cinta, atau hanya sekedar rasa peduli sebagai keluarga yang berbahagia mendengar berita tersebut, tiada yang tahu.
Awalnya semuanya baik-baik saja. Sampai kabar lama itu menyebar luas, dan menghancurkan segalanya. Karirnya, harapannya, atau bahkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baby.Scorpio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.19 Harapan yang baru
"Nama?" tanya petugas sipir.
"Sekar," jawabnya singkat.
"Nama lengkap?"
"Sekar... tidak ada lagi Wijaya. Cukup Sekar."
Petugas sipir di penjara wanita khusus di pinggiran Berlin itu menatapnya dengan pandangan dingin yang sudah menjadi standar operasional.
Di depannya, wanita yang dulu menjadi tajuk utama berita internasional sebagai "Dokter Penculik" kini berdiri dengan bahu yang sedikit membungkuk, namun matanya tetap setajam silet.
Sekar menyerahkan seluruh barang pribadinya: jam tangan pemberian Rahman, cincin perak yang ia beli di Amsterdam, dan sebuah kalung berisi butiran pasir dari pegunungan Alpen tempat ia meninggalkan abu Lukas.
Satu per satu, identitas lamanya dilucuti. Ia diberikan seragam biru kusam yang kasar di kulit, sepasang sepatu kanvas murah, dan sebuah nomor identitas.
Baginya, ini bukan sekadar hukuman hukum. Ini adalah biara tempat ia akan melakukan ritual penyucian diri dari noda darah dan dendam yang selama ini ia bawa.
Langkah kakinya menggema di lorong beton yang lembap. Pintu besi berat berdentum di belakangnya, mengunci dunia luar yang baru saja ia hancurkan.
Di dalam sel berukuran tiga kali empat meter yang ia bagi dengan seorang narapidana tua, Sekar duduk di tepi ranjang besi yang keras. Ia menatap dinding yang dipenuhi coretan mantan penghuninya, namun yang ia lihat hanyalah wajah Lukas yang sedang tersenyum di ambang maut.
Informasi dari Alvin tentang keberadaan putri keduanya—Arini—ternyata bukan menjadi pelipur lara, melainkan racun baru yang mengalir di nadinya.
Setiap malam, saat lampu sel dimatikan dan keheningan penjara mulai terasa mencekik, Sekar membayangkan seorang anak perempuan di Bandung yang tumbuh tanpa tahu bahwa ibunya sedang mendekam di penjara Jerman dan kakaknya telah menjadi abu di Austria.
"Kau tidak bisa tidur?"
Suara serak itu berasal dari teman satu selnya, Greta, seorang wanita Jerman berusia enam puluh tahun yang dihukum karena pembunuhan suaminya yang abusif.
Sekar tidak menoleh. "Aku hanya berpikir tentang betapa mahalnya harga sebuah kebenaran."
Greta terkekeh, suara yang terdengar seperti gesekan kertas pasir. "Kebenaran adalah barang mewah di tempat ini, Nak. Kebanyakan dari kita ada di sini karena kita percaya pada kebohongan yang kita buat sendiri. Apa yang kau pikirkan? Tentang pria yang mengirimmu ke sini? Atau tentang anak yang kau tangisi setiap malam?"
Sekar mengepalkan tangannya di bawah selimut tipis. "Aku memikirkan seorang anak yang bahkan tidak tahu namaku. Dan aku memikirkan pria yang merahasiakannya dariku hanya untuk memberiku 'alasan' untuk hidup."
Rahman. Nama itu kini terasa seperti silet di lidahnya. Rahman telah melakukan pengorbanan terakhir dengan membiarkan dirinya membusuk di penjara keamanan maksimum Hamburg, namun tindakannya menyembunyikan Arini hingga detik terakhir adalah luka yang tak bisa dimaafkan oleh Sekar.
Rahman memberikan harapan, namun harapan itu adalah jenis yang paling menyiksa: harapan yang dibatasi oleh jeruji besi dan waktu tiga tahun yang terasa seperti selamanya.
Bulan-bulan pertama di penjara adalah neraka bagi kesehatan mental Sekar. Namun, takdir memiliki cara aneh untuk memaksanya kembali ke jati dirinya. Suatu siang di lapangan latihan, seorang narapidana muda pingsan dengan mulut berbusa.
Para sipir panik, namun Sekar bergerak lebih cepat dari prosedur protokol mana pun. Tanpa peralatan medis yang memadai, ia menggunakan tangannya untuk memastikan jalan napas wanita itu terbuka.
Ia mendiagnosis kejang karena putus obat secara instan. Sejak hari itu, otoritas penjara menyadari bahwa mereka memiliki aset berharga. Sekar dipindahkan untuk bekerja di klinik penjara—sebuah ruangan sempit dengan persediaan obat dasar dan peralatan yang sudah ketinggalan zaman.
Bekerja di klinik penjara menjadi satu-satunya cara bagi Sekar untuk tetap waras. Saat ia membalut luka karena perkelahian atau meresepkan obat flu bagi para narapidana, ia merasa seperti dr. Sekar yang dulu—sebelum ambisi Wijaya dan dendam pribadinya mengubahnya menjadi monster.
Namun, setiap kali ia menyentuh denyut nadi seseorang, ia teringat pada denyut Lukas yang perlahan menghilang di Amsterdam.
Ia sering kali terdiam di tengah pemeriksaan, jemarinya membeku, sementara air mata mulai menggenang.
"Dokter, Anda baik-baik saja?" tanya seorang pasien.
Sekar akan tersenyum hambar, menyeka matanya dengan punggung tangan, dan melanjutkan pekerjaannya. Ia adalah dokter bagi orang-orang yang terlupakan, karena ia sendiri merasa telah dilupakan oleh dunia.
Suatu pagi di tahun kedua masa hukumannya, seorang petugas membawakan sebuah amplop tanpa nama pengirim. Di dalamnya terdapat sebuah foto yang diambil dari jarak jauh.
Seorang anak perempuan berusia sekitar sembilan tahun, mengenakan seragam sekolah putih-merah, sedang berdiri di depan sebuah gerbang panti asuhan di Bandung.
Ia memegang sebuah buku gambar, rambutnya dikuncir dua, dan matanya... matanya adalah mata Sekar. Tajam, namun menyimpan kesedihan yang tak terucapkan.
Di belakang foto itu tertulis pesan pendek: "Dia sehat. Dia pintar menggambar. Tapi dia sering bertanya kenapa ibunya tidak pernah datang di hari ulang tahunnya."
Sekar merosot ke lantai klinik yang dingin. Foto itu gemetar di tangannya. Rasa sakitnya begitu hebat hingga ia sulit bernapas. Arini. Putri yang tidak pernah ia peluk. Putri yang menjadi bukti sisa cinta dan pengkhianatan Rahman yang paling dalam.
"Sekar, aku akan menjaganya untukmu. Aku berjanji," tulisan kecil di sudut foto membuat Arini sedikit merasakan ketenangan.
Alvin terus mengirimkan foto-foto itu secara berkala. Alvin, sang pengkhianat yang kini entah berada di mana, tampaknya menikmati peran sebagai pembawa kabar duka dan harapan sekaligus.
Bagi Sekar, ini mungkin hanyalah eksperimen sosial lainnya dari Alvin—melihat berapa lama seorang Sekar bisa bertahan sebelum benar-benar hancur.
Di saat Sekar berjuang dengan bayang-bayang Arini, sebuah kabar mengejutkan datang dari Hamburg.
Rahman Wijaya, yang sedang menjalani tahun keduanya di penjara, dilaporkan mengalami kondisi kesehatan yang memburuk secara drastis.
Penyakit genetik vaskular yang sama yang membunuh ayah Sekar dan menyiksa Lukas, kini mulai menyerang tubuh Rahman yang sudah lemah karena depresi.
Rahman mengirimkan sebuah surat melalui pengacaranya. Surat yang tadinya ingin Sekar bakar, namun akhirnya ia baca di bawah cahaya lampu koridor penjara yang redup.
"Sekar, aku tidak memintamu memaafkanku. Maaf adalah kata yang terlalu suci untuk pria sepertiku.
Aku menyembunyikan Arini bukan untuk menyakitimu, tapi karena aku tahu, setelah Lukas pergi, hatimu akan kosong.
Aku ingin kamu punya alasan untuk keluar dari penjara itu dengan kepala tegak. Aku ingin kamu punya tujuan untuk kembali ke Indonesia.
Kondisiku tidak lagi memungkinkan untuk bertahan hingga masa hukumanku usai. Aku sudah mengatur agar seluruh sisa hartaku yang tidak terdeteksi oleh negara dialihkan untuk pendidikan Arini. Dia anak yang cantik, Sekar. Dia sepertimu, keras kepala dan tidak suka menyerah.
Jangan beri tahu dia siapa aku. Biarkan aku mati sebagai orang asing di ingatannya. Tapi kumohon, kembalilah padanya. Jadilah ibu yang tidak pernah bisa aku berikan untuknya.
Ini adalah perpisahan terakhirku. Aku mencintaimu, dengan cara yang paling salah dan merusak yang pernah ada."
Sekar meremas surat itu hingga hancur. Ia tidak menangis untuk Rahman. Ia menangis untuk nasib mereka yang begitu tragis.
Mereka saling mencintai, mereka saling menghancurkan, dan sekarang mereka dipisahkan oleh kematian yang perlahan.
Tahun ketiga hampir berakhir. Salju kembali turun menyelimuti halaman penjara Berlin. Sekar berdiri di dekat pagar kawat berduri, menatap langit utara yang kelabu.
Ia telah menghabiskan tiga tahun hidupnya dalam kesunyian yang produktif. Ia telah menyelamatkan banyak nyawa di dalam penjara ini, namun ia tahu nyawanya sendiri belum sepenuhnya terselamatkan.
Ia akan segera bebas, namun kebebasan itu datang dengan beban yang sangat berat.
Viona dikabarkan telah meninggal dunia di panti jompo karena komplikasi overdosis jangka panjang.
Ibu Wijaya masih mendekam di penjara Jakarta, telah kehilangan segala kemegahannya. Dendam Sekar telah tuntas sepenuhnya. Musuh-musuhnya telah musnah atau hancur.
Tapi apa yang ia dapatkan?
Ia tidak punya rumah. Ia tidak punya karir yang diakui lagi. Ia hanya punya sebuah foto anak perempuan di Bandung dan sebuah guci abu di puncak gunung Austria.
"Kau akan keluar besok, kan?" Greta menghampirinya, memberikan sebuah selendang rajutan yang ia buat sendiri.
"Iya," jawab Sekar pelan.
"Apa yang akan kau lakukan pertama kali?"
Sekar menatap kawat berduri itu. "Aku akan membeli sebuah tiket pesawat. Aku akan pulang ke tempat di mana semuanya dimulai, bukan untuk membalas dendam, tapi untuk mencoba mencintai sekali lagi, jika sisa jantungku masih sanggup melakukannya."
Malam itu, Sekar mengemasi barang-barangnya yang sedikit. Di dasar tasnya, ia meletakkan foto Arini dan surat terakhir Rahman.
Ia menyadari bahwa hidupnya adalah sebuah tragedi yang ditulis dengan tinta darah, namun ia juga sadar bahwa bab terakhir belum selesai ditulis.
Ia mungkin seorang pecundang dalam drama keluarga Wijaya, namun bagi Arini, ia harus menjadi sesuatu yang lebih. Ia harus menjadi seorang ibu, meskipun ia adalah seorang ibu yang membawa luka yang tidak akan pernah sembuh.
Esok pagi, pintu gerbang itu akan terbuka. Dan Sekar akan melangkah keluar bukan sebagai pemenang, melainkan sebagai penyintas yang sedang mencari sisa-sisa dirinya di antara reruntuhan masa lalu.