Judul: White Dream With You
Sinopsis:
Sarendra selalu merasa dirinya tidak cukup menonjol. Dengan postur yang sedikit bungkuk dan rambut belah tengahnya yang rapi, ia lebih suka tenggelam dalam deretan angka di jurusan Akuntansi SMK Pamasta daripada harus berurusan dengan keramaian. Namun, sebuah insiden tali rafia yang putus di bawah terik matahari Surabaya mempertemukannya dengan Vema—gadis TKJ yang aromanya seperti sabun bayi dan keberaniannya setinggi langit.
Apa yang dimulai dari bantuan kecil di bawah pohon kersen, tumbuh menjadi rasa yang perlahan namun pasti. Butuh waktu tujuh bulan bagi Rendra untuk mengumpulkan keberanian, dan bagi Vema untuk membuka pintu hatinya. Mereka adalah dua kutub yang berbeda, namun saling menguatkan di tengah rintangan yang datang silih berganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cokocha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Simfoni Ruang Tak Terpakai
Gedung Akuntansi masih bergetar oleh sorak-sorai kemenangan yang tak terduga. Skor akhir di papan pengumuman digital menjadi tamparan keras bagi kebanggaan anak-anak teknik: X Akuntansi 1 berhasil menumbangkan XII TKJ 2. Kemenangan yang tidak masuk akal bagi sebagian besar orang, namun nyata terjadi. Namun, di lantai dua, di sebuah ruang kelas kosong yang dulunya digunakan untuk praktik manual yang kini berdebu, suasana justru mencekam dan sunyi senyap.
Riko dibiarkan di Lab TKJ. Mereka telah memastikan pintu lab terkunci dari dalam agar teman-teman Riko yang lain—yang saat ini sedang murka dan malu karena kekalahan timnya—tidak melihat kondisi kapten mereka yang mengenaskan. Riko tertidur dalam dekapan residu gaib yang mulai memudar, hingga kesadarannya pulih dan ia terbangun dengan ingatan yang kabur tentang bagaimana seorang "anak Akutansi" bisa menjatuhkannya.
Saat mereka berempat—Vema, Sarendra, Netta, dan Bagas—hendak menyeberang kembali ke koridor utama, sosok Nadin muncul dari balik pilar kelas. Wajahnya yang cantik tampak tegang, matanya yang tajam langsung tertuju pada Vema.
"Vema! Kamu ke mana aja sih? Anak-anak TKJ lagi ngamuk di bawah karena kita kalah, dan kamu malah hilang setelah tadi aku lihat kamu lari ke belakang lab," cecar Nadin. Suaranya yang melengking membuat Vema yang masih gemetar langsung menunduk. "Terus, kenapa kamu bareng anak-anak Akuntansi ini? Terutama kamu, Sarendra... kenapa kamu belakangan ini sering banget kelihatan di wilayah kami? Gara-gara taktikmu ya tim kami jadi berantakan?"
Netta, dengan insting pelindungnya yang tajam, langsung melangkah maju. Ia memasang senyum formal namun dingin, tipikal bendahara yang sedang menghadapi audit pajak. "Aduh, Nadin sayang, santai dulu. Vema tadi tiba-tiba pusing kena panas lapangan, dan kebetulan Rendra yang paling dekat jadi dia bantu bawa ke sini. Kami mau ke ruang kelas kosong di atas supaya dia bisa istirahat tenang. Ikut yuk, sekalian kita kenalan biar nggak salah paham soal kemenangan kami tadi."
Sebelum Nadin sempat protes, Netta sudah menarik lengan gadis TKJ itu, memaksa mereka semua masuk ke ruangan tak terpakai tersebut.
Di dalam ruangan itu, pintu dikunci rapat oleh Bagas menggunakan slot kayu tua. Mereka duduk melingkar di atas meja-meja yang disusun acak. Rendra duduk bersandar di dinding, napasnya mulai stabil meski memar di lehernya mulai membiru keunguan. Vema duduk di sebelahnya, masih mengenakan jaket Akuntansi milik Netta yang ukurannya terlalu besar untuk tubuh mungilnya, seolah jaket itu adalah benteng pelindung terakhirnya.
"Oke, sekarang jelasin tanpa sensor," tuntut Nadin, menatap satu per satu wajah di depannya. "Apa yang sebenarnya terjadi di belakang lab? Kenapa Riko nggak ada di lapangan pas penyerahan trofi? Dan kenapa Sarendra kelihatan habis dicekik?"
Rendra dan Vema saling berpandangan. Sebuah kesepakatan tanpa kata terjalin di antara mereka. Kejadian gaib tadi terlalu berbahaya untuk diceritakan secara gamblang, bahkan kepada Nadin.
"Riko... dia nggak terima kalah, Nadin," jawab Rendra akhirnya, suaranya masih sedikit serak. "Dia nggak terima reputasinya hancur di tangan anak Akuntansi. Pas aku mau samperin Vema buat tanya soal tugas, Riko tiba-tiba menyerang di belakang lab. Vema coba melerai, tapi Riko malah makin beringas sampai dia kolaps sendiri karena kelelahan emosi."
Bagas mengangguk cepat, mendukung kebohongan itu. "Iya, Din. Lu tahu sendiri kan Riko kalau sudah main basket kayak orang kerasukan. Tadi dia cuma burnout aja karena kalah saing."
Nadin mengerutkan kening, tidak sepenuhnya percaya. "Tapi Vema... kamu pucat banget. Dan tas kamu... kenapa robek begitu? Itu tas jahitan ibumu kan?"
Vema mencengkeram kain jaket Netta hingga kuku jarinya memutih. "Tersangkut pagar besi tadi, Din. Nggak apa-apa, nanti Ibu bisa jahit lagi."
Netta mengamati Vema dengan tatapan yang lebih dalam. Sejak kejadian jarum dan bayangan tadi, Netta tahu ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar "emosi atlet". Namun, ia memilih untuk mencairkan suasana. "Sudahlah, yang penting sekarang kita semua aman. Daripada bahas si Riko yang sekarang lagi tidur cantik di lab, mending kita kenalan beneran. Kita ini sudah kayak tim investigasi dari dua gedung berbeda."
"Aku Netta, bendahara paling galak yang pernah kamu temui," ucap Netta sambil mengulurkan tangan ke Nadin. "Ini Bagas, dia yang tadi bikin Riko lari zig-zag sampai pusing. Dan ini Rendra, si jenius akuntansi yang ternyata punya nyali buat masuk kandang macan demi temennya."
Nadin menyambut tangan Netta dengan ragu, lalu tersenyum tipis. "Nadin. Aku... aku sebenarnya nggak bermaksud ketus. Aku cuma bingung kenapa Vema selalu menutup diri, padahal di TKJ itu kita harus solid, apalagi ceweknya sedikit."
Percakapan mengalir perlahan, mencoba menjahit retakan ketegangan yang ada. Nadin, yang selama ini terlihat seperti gadis populer yang sombong, ternyata menyimpan rasa kesepian. Ia mengaku bahwa di jurusan yang didominasi cowok, ia merasa harus terlihat "dingin" agar tidak diremehkan oleh para senior seperti Riko.
"Aku selalu penasaran sama kalian anak Akuntansi," kata Nadin sambil menatap Rendra. "Kelihatannya kalian rapi, teratur, dan cuma mikirin angka. Kenapa kamu sampai berani ke gedung kami? Apa yang kamu cari dari Vema?"
Rendra membetulkan letak kacamatanya. "Aku cuma melihat sesuatu yang salah, Nadin. Dan aku nggak bisa diam aja."
"Vem," panggil Nadin lembut, beralih pada sahabatnya. "Kenapa kamu nggak pernah mau cerita soal rumahmu? Atau kenapa ibumu selalu kirim tas-tas aneh itu ke senior-senior tertentu? Aku temanmu, tapi aku ngerasa nggak tahu apa-apa tentang kamu."
Vema menatap ujung sepatunya. Suasana mendadak dingin kembali. "Ada hal-hal yang lebih baik tetap jadi rahasia, Nadin. Bukan karena aku nggak percaya kalian, tapi karena rahasia itu... mereka punya 'nyawa' sendiri. Aku nggak mau nyawa itu mengganggu kalian."
Vema menolak menjawab lebih dalam soal keluarganya. Setiap kali pertanyaan mengarah ke ibunya, ia akan mengalihkan pembicaraan atau terdiam seribu bahasa. Namun, kejujuran Rendra yang rela terluka demi dia, serta dukungan Netta dan Bagas, membuat pertahanan Vema sedikit luluh.
"Kita nggak perlu tahu rahasia keluargamu sekarang, Vem," sela Rendra, membuat semua mata menoleh padanya. "Tapi kamu harus tahu kalau sekarang ada lima orang di ruangan ini yang saling kenal. Ada Netta yang bisa bantu kamu kalau ada yang macam-macam, ada Bagas yang bisa jaga kamu, dan ada Nadin yang satu gedung sama kamu."
"Dan ada Rendra yang bakal jadi detektif pribadi kamu," goda Netta, mencoba menghilangkan suasana melankolis.
Vema tersenyum tipis—senyum tulus pertama yang ia tunjukkan. Meski ia tetap bungkam soal misteri mistis ibunya, ada sesuatu yang berubah. Mereka berlima, dari dua latar belakang yang sangat kontras—Akuntansi yang rapi dan TKJ yang keras—kini terikat oleh sebuah kesepahaman yang tak terucapkan.
Di ruangan yang tak terpakai itu, di antara debu dan sisa kengerian sore tadi, sebuah persahabatan rahasia terbentuk. Mereka sepakat untuk diam, membiarkan kejadian di lab tadi terkubur sebagai "kekalahan memalukan Riko". Namun, dalam hati masing-masing, mereka tahu bahwa kemenangan Akuntansi hari ini hanyalah awal dari perang yang lebih besar melawan sesuatu yang tidak kasat mata.
Saat mereka keluar dari ruangan itu secara bergantian, Rendra sempat berbisik pada Vema,
"Besok... kita hadapi sama-sama ya."
Vema hanya mengangguk kecil. Mereka berjalan menyusuri koridor Gedung Akuntansi yang mulai sepi, lima bayangan yang kini bergerak dalam irama yang sama, meninggalkan gedung yang menyimpan sejuta angka dan menuju masa depan yang penuh dengan misteri
ada apa dgn vema
lanjuuut...