Mentari sore di Pantai Santa Monica, California, mulai turun ke peraduan. Langit yang semula biru cerah kini berubah menjadi gradasi oranye dan ungu yang cantik. Di antara kerumunan turis dan peselancar, dua pria muda berjalan beriringan dengan langkah tenang. Salah satunya adalah Muhammad Hannan, atau yang akrab disapa Hannan, seorang ustadz muda yang sedang menempuh studi lanjut di Amerika.
"Hannan, lihatlah. Kadang aku berpikir, bumi Allah itu begitu luas. Di sini senjanya sama indahnya dengan di pesantren dulu, ya?" celetuk Gus Malik sambil membetulkan letak kacamata hitamnya.
Hannan tersenyum tipis. "Benar, Gus. Keindahan ini pengingat bahwa di mana pun kita berpijak, kita tetap berada di bawah langit yang sama."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Peristirahatan Terakhir dan Bayang-Bayang Kelam
Langit Jakarta masih berselimut warna abu-abu keunguan saat iring-iringan mobil jenazah perlahan meninggalkan rumah sakit menuju sebuah pemakaman di pinggiran kota. Udara subuh yang lembap terasa dingin menusuk tulang, namun bagi Amara, rasa dingin itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kehampaan yang ia rasakan. Ia duduk bersandar di bahu Hannan di dalam mobil ambulans, tepat di samping keranda ibundanya yang tertutup kain hijau bersulam ayat-ayat suci.
Hannan tak sedetik pun melepaskan genggaman tangannya. Ia terus merapal doa-doa pelindung, sesekali mencium kening Amara untuk memastikan istrinya tetap kuat. Di belakang mereka, mobil yang dikendarai Aisyah bersama Ummi Salamah mengikuti dengan setia.
Sesampainya di pemakaman, aroma tanah basah menyambut mereka. Hannan segera turun. Tanpa menunggu bantuan petugas pemakaman lebih banyak, ia sendiri yang menyingsingkan lengan baju kokonya, bersiap turun ke liang lahat yang masih tercium bau tanah segarnya.
"Mas..." bisik Amara saat melihat Hannan bersiap turun ke lubang yang akan menjadi rumah abadi bundanya.
"Biar Mas yang menyambut Bunda di bawah sana, Amara. Ini adalah bakti terakhirku sebagai menantunya," jawab Hannan dengan tatapan yang sangat meneduhkan.
Amara terpaku. Ia melihat suaminya, seorang putra kiai yang terhormat, tanpa ragu kotor terkena tanah demi menghormati ibunda yang bahkan belum pernah ditemuinya dalam keadaan hidup. Di bawah bimbingan Hannan, prosesi pemakaman berlangsung dengan sangat khidmat. Suara Hannan saat membacakan azan terakhir di telinga jenazah terdengar begitu merdu sekaligus menyayat hati, membuat siapa pun yang mendengar akan meneteskan air mata.
Setelah tanah menutupi liang lahat dan bunga-bunga ditaburkan, Amara bersimpuh di samping nisan kayu yang masih basah. "Bunda... sekarang Bunda sudah tenang. Tidak akan ada lagi Papa yang menyakiti Bunda. Amara sudah punya pelindung, Bunda jangan khawatir..."
Ummi Salamah mendekat, mengusap punggung Amara. "Sudah, Nak. Mari kita pulang. Bunda sudah tenang di sisi Allah. Kita harus menjaga diri kita sekarang."
Namun, ketenangan itu hanya bertahan sekejap. Saat mereka berjalan menuju area parkir yang masih sepi karena matahari baru saja akan terbit, sebuah mobil Jeep hitam besar meluncur cepat dan berhenti mendadak, menghalangi jalan keluar mereka.
Pintu mobil terbuka, dan empat orang pria berbadan tegap keluar dengan wajah beringas. Salah satunya adalah pria yang tadi malam mengancam Amara di rumah sakit.
"Cukup sandiwaranya!" teriak pria itu. "Ustadz, kau pikir bisa membawa lari wanita ini begitu saja? Serahkan tas yang dibawa Amara kemarin, atau pemakaman ini akan mendapatkan penghuni baru pagi ini!"
Hannan segera menarik Amara ke belakang tubuhnya. Ia merentangkan tangannya, melindungi Amara sekaligus Ummi Salamah dan Aisyah. "Kalian sudah melampaui batas. Ini tanah suci pemakaman, hormati orang yang sudah meninggal!"
"Persetan dengan kehormatan!" pria itu menghunuskan sebilah belati mengkilap. "Kami tahu dokumen itu ada padamu, Amara. Berikan sekarang!"
Aisyah gemetar, namun ia mencoba berteriak minta tolong. Sayangnya, pemakaman di jam sedini itu sangat sepi. Petugas pemakaman berada jauh di kantor depan.
"Mas Hannan, hati-hati!" teriak Amara saat salah satu preman itu menerjang ke arah Hannan.
Hannan, yang ternyata memiliki dasar bela diri pencak silat dari pesantren, dengan sigap menghindari serangan pertama. Ia menangkap pergelangan tangan pria itu, lalu dengan satu gerakan cepat, ia memelintirnya hingga belati itu terjatuh. Namun, tiga orang lainnya mulai mengepung.
"Aisyah! Bawa Ummi dan Amara ke mobil! Kunci pintunya!" perintah Hannan tegas sambil bersiap menghadapi serangan berikutnya.
"Tapi Mas—"
"Sekarang!" bentak Hannan.
Perkelahian tidak seimbang pun terjadi. Hannan berhasil menjatuhkan satu orang lagi dengan tendangan yang telak, namun punggungnya terkena pukulan balok kayu dari arah belakang hingga ia tersungkur mencium tanah.
"Mas Hannan!" Amara menjerit dari balik jendela mobil yang sudah dikunci Aisyah. Ia tidak bisa diam saja. Amara melihat sebuah payung besar di dalam mobil Aisyah. Tanpa pikir panjang, ia membuka pintu dan berlari keluar.
"Berhenti kalian!" Amara memukulkan payung itu sekuat tenaga ke arah pria yang hendak menginjak Hannan. Serangan nekat Amara memberikan celah bagi Hannan untuk bangkit.
Tepat saat situasi semakin kritis, suara sirine polisi terdengar mendekat. Rupanya, sebelum turun dari mobil tadi, Ummi Salamah yang cerdik sudah sempat menekan tombol darurat pada aplikasi ponselnya yang terhubung dengan layanan keamanan tokoh agama.
Melihat polisi datang, para preman itu langsung lari kocar-kacir menuju mobil Jeep mereka dan melesat pergi meninggalkan kepulan debu.
Hannan terduduk di tanah, napasnya memburu. Amara langsung memeluk suaminya, memeriksa setiap inci tubuh Hannan yang kotor dan memar. "Mas... Mas terluka... Maafkan aku, ini semua gara-gara aku..."
Hannan terbatuk sedikit, lalu tersenyum sambil mengusap air mata istrinya.
"Hanya memar kecil, Amara. Mas tidak apa-apa. Yang penting kalian selamat."
Ummi Salamah mendekat dengan wajah pucat namun penuh kebanggaan pada putranya. Namun, ekspresinya berubah saat ia melihat ke arah jalan raya. Beberapa mobil hitam lainnya—bukan milik preman, melainkan mobil mewah dengan plat nomor yang sangat ia kenal—berhenti di depan gerbang pemakaman.
Seorang pria tua dengan jubah kebesaran pesantren dan wajah yang sangat keras keluar dari mobil itu. Kiai Abdullah. Abah dari Hannan.
Suasana seketika menjadi jauh lebih tegang daripada serangan preman tadi. Hannan berdiri perlahan, membetulkan pakaiannya, lalu menundukkan kepala sedalam-dalamnya.
"Abah..." bisik Hannan dengan suara yang bergetar karena rasa hormat dan takut yang bercampur jadi satu.
Kiai Abdullah melangkah mendekat. Matanya menatap tajam ke arah Hannan, lalu ke arah Amara yang masih menggenggam tangan Hannan, dan terakhir ke arah istrinya, Ummi Salamah.
"Jadi ini caramu menghormati Abah, Hannan? Pulang diam-diam, membawa istri tanpa restu, dan melibatkan Ummi serta adikmu dalam urusan duniawimu yang kacau ini?" suara Kiai Abdullah terdengar seperti guntur di pagi yang sunyi itu.