Demi kebebasan sejati, Abimanyu, Sang Profesor, membakar masa lalunya dan meninggalkan peradaban "Manusia Kertas" di Lembah Nama. Dengan mendaki Gunung Kehendak, ia bertransformasi dari pemikul beban menjadi pencipta nilai dalam sebuah pencarian filosofis untuk melampaui batas kemanusiaan dan menjadi arsitek atas nasibnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUXDHIS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 ARSITEKTUR TANPA SEMEN
Abimanyu sampai pada ujung dari segala kepastian. Jalan setapak yang ia lalui, yang tadinya masih berupa cadas keras yang bisa dipijak, tiba-tiba terputus di depan sebuah jurang yang begitu lebar dan dalam hingga awan-awan tampak seperti kapas yang tersangkut di tenggorokan kegelapan. Tidak ada lagi tanah untuk berpijak. Tidak ada lagi dinding untuk bersandar. Hanya ada ketiadaan yang luas dan angin yang menderu dari kedalaman, membawa aroma dingin yang membekukan harapan.
Ia berdiri di tepian, menatap ke seberang di mana puncak Gunung Kehendak tampak melayang, terpisah oleh kekosongan yang tak terukur. Di Lembah Nama, jika seorang arsitek menghadapi jurang seperti ini, ia akan segera menyusun tim, menghitung anggaran, dan memesan semen berton-ton untuk membangun jembatan beton yang kaku dan aman. Mereka akan memasang jaring pengaman agar tidak ada satu pun nyawa yang terancam oleh risiko.
Tetapi Abimanyu tidak lagi memiliki semen. Ia tidak lagi memiliki birokrasi yang menjamin keselamatannya. Yang ia miliki hanyalah tas ransel yang berisi botol kaca kecil penuh abu dari masa lalunya—"Arsitektur Debu" yang ia kumpulkan di alun-alun universitas.
"Berhentilah," bisik Roh Gravitasi yang duduk di pundaknya, suaranya terdengar sangat logis, persis seperti suara penguji disertasi yang menunjukkan kesalahan metodologi. "Lihatlah jurang ini. Ini adalah hukum fisika yang tidak bisa kau lawan dengan puisi atau filsafat. Manusia membutuhkan fondasi yang nyata untuk menyeberang. Kau bukan Elang yang bisa terbang , kau hanyalah Manusia Kertas yang sudah basah oleh keringat dan mulai sobek."
Abimanyu merasakan lututnya gemetar. Akal kecilnya—otak yang selama puluhan tahun dilatih untuk mencari keamanan dalam struktur—berteriak agar ia mundur. Pikiran itu mengingatkannya pada "Rencana Pembelajaran Semester" (RPS) yang menjadwalkan setiap langkah hidupnya dalam kotak-kotak yang aman. Di sini, tidak ada kotak. Tidak ada jaminan outcome.
"Peti mati yang belum ditutup," gumam Abimanyu, mengingat khotbahnya sendiri tentang mereka yang menetap. Ia menyadari bahwa jika ia berhenti di sini, tempat ini akan menjadi makamnya. Ia harus membangun jembatan, tetapi bukan dengan bahan yang diberikan oleh sistem yang telah ia bakar.
Ia mengeluarkan botol abunya. Di bawah cahaya matahari yang tajam, abu hitam itu tampak tidak berarti. Namun, bagi Abimanyu, setiap butir debu ini adalah sisa-sisa dari ribuan argumen, teori, dan catatan kaki yang telah kehilangan beratnya. Jika ia ingin menyeberangi ketiadaan, ia harus menggunakan materi yang juga telah melampaui berat bumi.
"Kalian membangun dengan semen karena kalian takut pada keruntuhan," ucap Abimanyu pada bayangan-bayangan Manusia Kertas yang seolah muncul di kabut jurang. "Tetapi aku akan membangun dengan ketegangan. Aku akan membangun dengan kehendak yang menarik satu titik ketiadaan ke titik lainnya."
Ia mengambil satu langkah ke depan, tepat ke arah ruang kosong. Ia tidak melompat. Ia hanya memajukan kakinya seolah-olah ada lantai transparan yang menunggunya.
Krak.
Bukan suara batu yang pecah, melainkan suara udara yang memadat di bawah sol sepatunya yang robek. Abimanyu memejamkan mata, memusatkan seluruh daya hidupnya pada satu titik di bawah kakinya. Ia membayangkan "Langkah ke-101" yang ia ambil kemarin —langkah yang menyatakan perang terhadap rasa lelah.
Setiap langkah yang ia ambil di atas jurang itu terasa seperti menarik seutas kawat baja melalui dadanya sendiri. Jembatan itu tidak terlihat oleh mata Manusia Terakhir. Itu adalah jembatan yang hanya ada selama kehendaknya tetap tegang. Jika ia ragu sedetik saja, jika ia memikirkan tentang "keamanan" atau "apa kata orang di lembah," maka kepadatan di bawah kakinya akan lenyap dan ia akan ditelan oleh ketiadaan.
"Inilah arsitektur yang sesungguhnya!" teriak Abimanyu di tengah deru angin. "Arsitektur yang tidak butuh akreditasi dari pasar! Arsitektur yang tidak butuh izin dari negara monster dingin! Ini adalah bangunan yang hanya terdiri dari keberanian murni!"
Di tengah jurang, ia berhenti sejenak. Ia melihat ke bawah, ke arah kegelapan yang tak berujung. Roh Gravitasi mencoba menarik kepalanya agar ia melihat kejatuhannya sendiri. Namun Abimanyu justru tertawa. Ia teringat bagaimana universitas melumpuhkan otot eksistensinya dengan memberikan jembatan-jembatan beton agar ia lupa cara berenang dalam ketidakpastian.
"Kalian memberiku peta agar aku tidak pernah benar-benar melihat jalannya," pikirnya. "Sekarang, tanpa peta, aku adalah jalan itu sendiri."
Abimanyu menyadari bahwa ia tidak sedang menyeberangi jurang di luar dirinya. Ia sedang menyeberangi jurang di dalam dirinya—jarak antara "Manusia yang Menetap" dan "Manusia yang Melampaui". Setiap langkah di atas udara ini adalah tindakan penciptaan nilai yang baru. Ia tidak lagi mencari "Kebenaran" di seberang sana, ia adalah pencipta kebenaran di sini, di setiap detik ia tidak jatuh.
Tangannya yang gemetar kini mulai stabil. Keletihan fisik yang luar biasa di otot-otot pahanya justru menjadi semen yang mengikat kehendaknya. Rasa sakit adalah bukti bahwa jembatannya nyata.
Langkah demi langkah, ketiadaan di bawahnya mulai terasa sekeras granit. Ia telah memenangkan dunianya sendiri karena ia telah berani melepaskan dunia orang lain. Ia tidak lagi membutuhkan asisten yang membuatkannya kopi atau dana penelitian untuk membuktikan keberadaannya. Ia adalah organisme biologis yang berkehendak, membelah ruang dengan massa tubuhnya yang fana.
Saat tangan Abimanyu akhirnya menyentuh batu cadas di seberang jurang, ia merasakan hantaman realitas yang luar biasa. Ia menarik dirinya naik ke atas tanah padat, jatuh tersungkur dengan napas yang terputus-putus. Di belakangnya, jembatan yang ia bangun dengan kehendak tadi lenyap seketika, kembali menjadi udara kosong yang tak tertembus.
Ia menoleh ke belakang, menatap jurang yang baru saja ia seberangi. Tidak ada tanda-tanda bahwa di sana pernah ada sebuah konstruksi. Tidak ada semen, tidak ada kabel, tidak ada bekas tapak kaki di udara.
"Itulah kebebasan yang sesungguhnya," bisiknya pada tanah yang kasar. "Membangun sesuatu yang hanya kau yang tahu rahasianya. Membangun sesuatu yang tidak meninggalkan jejak untuk diikuti oleh mereka yang hanya ingin meniru."
Abimanyu berdiri, merasa lebih berat sekaligus lebih ringan. Berat karena tanggung jawab atas hidupnya kini sepenuhnya ada di pundaknya , dan ringan karena gravitasi batinnya telah lenyap. Ia telah melampaui arsitektur beton dan kertas untuk menjadi arsitek dari nasibnya sendiri, meskipun bahan bangunannya hanyalah debu dan langkah kaki.
Puncak Gunung Kehendak kini tidak lagi tertutup kabut. Ia tampak jelas, menantang di bawah cahaya matahari yang jujur. Abimanyu mengencangkan tali ranselnya, menatap ke depan dengan mata yang tidak lagi mencari perlindungan. Perjalanan ini bukan lagi tentang "sampai ke tujuan," melainkan tentang merayakan kekuatan untuk terus bergerak di atas ketiadaan.